Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Severed passion


__ADS_3

Rian kembali ke kediaman miliknya, Irna kembali ke Resort. Sekitar satu jam perjalanan gadis itu sampai di sana. Irna memarkirkan mobilnya, kemudian turun dari mobil menuju ruangan kerja Fredian.


Dia melihat orang sedang berada di dalam kolam renang, dia tahu itu Fredian. Irna menjinjing gaunnya, gadis itu melangkah ke tepi kolam renang.


Melihat kedatangan dirinya Fredian segera menepi, "Gaunmu bagus! selera Rian lumayan membuatmu cantik. Ah? dia juga yang memberikan perhiasan itu padamu? bagaimana acaranya? apa kalian bersenang-senang?" Tanyanya dengan nada mengejek, seraya keluar dari dalam kolam renang.


"Fredian? apa kamu hilang ingatan lagi?" Irna mendekatinya dan menyentuh kedua pipinya.


"Plaaakkk!" Fredian menepiskan tangannya, pergi meninggalkan dirinya mematung di tepi kolam.


"Fred! apa yang sebenarnya terjadi?" Irna berlari mengejarnya masuk ke dalam kantornya.


"Kamu tidak berpamitan padaku, pergi ke pesta berdua dengannya? kamu anggap aku ini apa Irna? kenapa kamu tidak memberiku muka sama sekali?" Penuh amarah menunjuk-nunjuk ke arah Irna.


"Fredian.. aku tadi terburu-buru, acaranya juga mendadak. Dan saat kamu menelepon aku segera pulang kemari." Jelasnya lagi sambil memegangi lengannya.


Fredian menarik tangannya dari genggaman Irna, "Jadi maksudmu, jika aku tidak menelepon maka kamu akan tetap tinggal di sana!? bersamanya?" Berkata dengan nada tinggi.


Irna mulai kehilangan batas kesabarannya. "Terserahlah apa maumu, aku mau kembali ke rumah sakit saja. Aku masih ada satu jadwal operasi. Ah, jangan meneleponku, jika hanya untuk marah-marah! kamu pikir aku bersamanya! bersenang-senang? maka aku akan melakukan apa yang kamu tuduhkan barusan! jangan menangis atau memintaku untuk pulang! braaaaak!" Irna geram sekali, dia pergi seraya membanting pintu ruangan Fredian.


"Irnaaaaaaaa! siapa yang membiarkanmu pergi!" Teriaknya kencang sekali. Pria itu masih memakai baju kimono mandinya, dia melesat secepat kilat muncul di depan Irna.


Irna terkejut setengah mati, melihat mata Fredian bersinar merah. "Aura pembunuh!" Bisik Irna dalam hatinya.


Irna melangkah mundur, dia ingat terakhir kali pernah dibuatnya muntah darah. "Kenapa? kamu takut melihatku seperti ini? kamu jijik padaku! sehingga mau mencari vampir dengan wujud manusia itu!!?" Yang dimaksud oleh Fredian adalah Rian, vampir bersegel manusia.


"Aku hanya akan melakukan operasi, tidak untuk menemuinya. Dia mungkin juga sudah pulang ke rumahnya. Jadwal operasi malam ini bukan dengan dia. Tapi dengan timku sendiri." Irna masih melangkah mundur menjauh hingga punggungnya menabrak dinding.

__ADS_1


Fredian mencengkeram lehernya dengan tangan kirinya. "Fred, lepaskan aku! sakit sekali!" Teriak Irna sambil memukul-mukul tangan Fredian yang mencekiknya.


"Jika aku berdiam diri, aku bisa mati ditangannya! pria ini selalu menakutkan saat sedang marah." Irna mencoba mengeluarkan kekuatan dirinya, hanya dengan satu pukulan ke perut Fredian, pria itu terpental jauh ke belakang.


Irna segera menjinjing gaunnya, dan pergi melarikan diri menuju mobilnya. Saat hendak melajukan mobilnya Fredian sudah berdiri di tengah-tengah. Menghadang jalannya.


Yang dipikirkan Irna sekarang adalah cara untuk melarikan diri darinya, karena Fredian masih dikuasai oleh amarahnya. Irna berfikir dia bisa mati karena kemarahan Fredian.


Irna tidak sampai hati menabrak pria yang sangat dicintainya itu, gadis itu memilih turun dari dalam mobilnya. Dia melangkah mendekat ke arah Fredian.


"Kenapa kamu tidak menabrakku dan pergi?" Tanyanya pada Irna.


"Apakah aku tipe seorang wanita yang akan membunuh suamiku sendiri?" Irna mengusap air matanya, dia menatap ke arah Fredian, leher gadis itu masih lebam membiru akibat cekikan dari tangannya.


"Aku tidak akan pernah melukaimu." Ujar Irna lagi.


Irna tanpa bicara apapun segera menyeret lengan suaminya masuk kembali ke dalam ruang kerjanya. Dia membiarkan Fredian mematung di tengah ruangan, Irna segera menghubungi pihak rumah sakit untuk membatalkan jadwalnya, dan meminta dokter lain untuk menggantikannya.


Irna menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, pikirannya benar-benar lelah sekali.


Fredian melangkah masuk ke dalam kamar, dia melihat Irna sudah tertidur pulas. Dia masih marah padanya, jadi dia tidur memunggunginya.


Irna tahu hal itu, dia memilih diam dan tidak menyentuhnya sekarang. Dia hanya menatap punggung Fredian di depan wajahnya.


Entah sudah berapa lama dia tertidur, saat membuka matanya dia tidak mendapati Irna di sebelahnya. Fredian sedikit terkejut karena Irna pergi tanpa berpamitan lagi dengannya. Padahal dia sudah bicara semalam mengenai hal tersebut.


Pria itu melangkah menuju kamar mandi, dan ketika membuka pintunya dia melihat punggung Irna tanpa selembar benangpun. Gadis itu melangkah masuk ke dalam bath up sambil mengangkat rambut panjangnya ke atas.

__ADS_1


Irna merebahkan tubuhnya di dalam bak mandi. Fredian melihat tubuh mulusnya, dan segala yang ada terpampang begitu jelas di depan matanya.


Fredian mendekati bath up dimana Irna sedang berendam sekarang. Irna membuka matanya saat menyadari dadanya diremas-remas. Melihat Fredian yang sudah berhasrat Irna segera menyambutnya, sengaja di bukanya pahanya lebar-lebar kemudian menarik tubuh suaminya masuk ke dalam bak mandi.


Pagutan bibirnya terasa hangat, di sekujur lehernya. Fredian menggelitik belahan pahanya dengan jemarinya, penuh hasrat, karena Irna membukanya lebar-lebar untuknya.


"Freddd... akkkhhh, akkkkhhhh.. mmmhh.."


Tangan kanan Fredian memilin-milin benjolan kecil di area sensitifnya, membuat tubuh Irna berguncang hebat, merasakan kenikmatan dalam permainan jemari tangannya.


Irna memagut bibirnya, dan memintanya untuk segera memulai aksinya. Dia sudah tidak tahan lagi, merasakan jemari Fredian yang terus menerus memilin menusuk-nusuk di area sensitifnya.


"Freeedddd, akkkhhhh, aku tak tahan lagi..."


Fredian tersenyum melihat Irna sudah tidak sabar untuk memulainya, wajahnya terlihat sayu berharap dia akan segera memulainya.


Sesuatu diluar dugaan terjadi, Fredian keluar dari dalam bak mandinya. Lalu pergi keluar meninggalkan dirinya, di tengah-tengah hasratnya.


"Pria yang kejaaaamm!!!" Teriak Irna penuh amarah.


Irna kesal sekali, dia segera keluar dari dalam kamar mandi, menyambar pakaiannya. Gadis itu melihat Fredian sudah memakai pakaian rapi. Dia tidak mau memasangkan dasinya atau apapun. Dia benar-benar marah padanya, Irna cemberut sepanjang waktu.


Fredian sendiri terlihat begitu santai, Irna benar-benar dibuatnya kacau balau pagi itu. Saking geramnya Irna pergi ke rumah sakit tanpa bicara apapun atau berpamitan dengannya.


"Priaaa siaallllaanannn!" Teriaknya ketika mobilnya sudah melaju di perjalanan menuju ke rumah sakit.


Fredian merasa sangat puas melihat Irna marah dan kesal. Membuat gairahnya hilang di tengah jalan benar-benar sangat kejam dan melukai hatinya.

__ADS_1


Saat tiba di rumah sakit Irna segera menuju ruangan kerjanya, dia melihat jadwal operasi pagi itu. Hanya ada satu operasi untuk dia tangani.


Bersambung...


__ADS_2