Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Nosy


__ADS_3

"Kalian ini benar-benar!" Teriak Irna lagi pada dua pria tersebut. Karena tak satupun dari mereka berdua yang mau mendengarkan Irna, akhirnya Irna ikut terseret keluar dari dalam kamar tersebut.


Gadis itu berdiri di antara dua pria tampan seraya memegangi lengan mereka berdua.


Karin terbengong menatap wajah dua pria tampan dalam genggaman Irna sekaligus.


"Kalian? Kalian bertiga?! Melakukannya bersama-sama?!" Karin menutupi bibirnya sendiri. Dia tidak habis pikir Irna seorang dokter hebat ternyata terlibat skandal bersama dengan dua pria sekaligus di dalam kamarnya.


Irna hanya bisa tersenyum garing, Fredian menuang bensin di atas api dengan mencium pipi kiri Irna. Dan Rian refleks ikut mencium pipi kanan Irna. Rian melotot menatap Fredian yang juga mencium pipi kiri Irna, begitu sebaliknya. Alhasil Rian dan Fredian saling dorong kepala satu sama lain.


Ulah mereka membuat Irna terhuyung-huyung ke sisi Fredian dan ke sisi Rian bergantian.


"Minggir kamu!" Perintah Fredian pada Rian, sambil meraih Irna.


"Kamu yang minggir!" Merebut Irna.


"Memangnya dia istri siapa?!" Fredian tidak mau kalah.


"Dia istriku sebelum menjadi istrimu!" Desak Rian ikut marah, memperkeruh suasana. Pria itu menarik krah baju Fredian mendekat ke arahnya.


"Sampai kapan kita akan bermain sekenario seperti ini?" Bisik Rian pada Fredian.


Irna sekarang berkacak pinggang menatap mereka berdua bergantian.


"Entahlah, setelah tidak ada yang curiga kenapa kita bisa muncul dari dalam kamar yang sama bertiga." Balas Fredian ikut berbisik.


"Aku haus sekali!" Bisik Rian pada Fredian lagi.


"Ayo ke restoran, kita minum sambil makan malam di sana."


Akhirnya mereka berdua malah berangkulan keluar dari dalam ruangan kerja tersebut.


"Kalian jangan bawa aku, biarkan aku lewat dulu!"


Irna menerobos di antara mereka berdua, melangkah menuju ke arah Nira.


"Secantik apa sih kamu?! Sampai-sampai mereka memperebutkan-mu!" Karin merasa tidak terima karena Irna mendapatkan cinta dari dua pria kaya raya itu sekaligus.


"Kenapa tidak kamu tanya saja kepada mereka berdua, kenapa mereka memperebutkan diriku?" Ujar Irna santai. Dia duduk di sebelah Nira.

__ADS_1


"Wajah kalian berdua bagaimana bisa mirip sekali?" Karin kembali terheran melihat dua wajah hampir sama bagai pinang dibelah dua.


Irna hanya terkekeh geli menatap wajah Karin. Nira cuma menggelengkan kepalanya berkali-kali menatap Karin mundur menjauh dan keluar dari dalam ruangan kerja tersebut.


Karin melihat Fredian dan Rian sedang menikmati sarapan paginya di restoran. Mereka tiba di resort sudah pukul tujuh pagi.


"Aku lelah sekali!" Rian meluruskan pinggangnya dengan cara mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya.


Fredian malah menguap beberapa kali. Melihat Karin mendekati meja mereka berdua, Fredian buru-buru menutup bibirnya batal menguap.


Rian melihatnya, pria itu menahan tawanya. "Apa kamu takut sekali dengan wanita cantik sepertinya?!" Tanyanya pada Fredian.


"Dia bukan wanita, dia adalah ular berbisa berkepala dua." Gumamnya pada Rian.


"Halo presdir, bolehkah aku ikut bergabung bersama kalian?" Tanyanya tanpa sungkan-sungkan pada Rian dan Fredian.


Karin sengaja membuka dua kancing bajunya bagian atas demi memamerkan bongkahan mulus miliknya pada dua pria tampan itu.


Karin memberlakukan mereka berdua seperti itu, karena dia melihat Irna bersama dengan Fredian terang-terangan bercumbu di depan umum. Dia mengambil kesimpulan bahwa mereka menyukai sesuatu yang mengundang gairah mereka berdua.


Rian tersenyum lebar melihat wanita itu memamerkan tubuhnya di depannya. Pria yang mendapat julukan gunung es itu hanya meneguk minumannya sambil melirik ke arah Fredian.


"Presdir Fredian.." Panggil Karin sambil memegang lengan Fredian di samping mejanya.


"Uhk! Uhk! Byuuur!" Rian pura-pura tersedak melihat pemandangan itu hingga menyemburkan minuman dari mulutnya ke arah Karin membuatnya basah kuyup.


"Uhk! Hooeeeekk! Hoeekk! Byuuur!" Fredian pura-pura muntah, menumpahkan makanan yang baru saja dikunyah-nya ke arah baju Karin yang memamerkan sisi gundukan mulusnya.


"Kalian jahat sekali!" Teriaknya sambil mengambil tisu membersihkan tubuhnya yang penuh makanan dan basah kuyup dengan minuman.


Gadis itu kemudian berdiri sambil berjalan menghentak-hentak keluar dari dalam restoran tersebut.


Setelah Karin keluar dari dalam restoran suara tawa mereka berdua terpecah memenuhi keheningan restoran tersebut.


Di luar restoran Irna dan Nira terkejut melihat Karin cemberut dengan rambut juga pakaian sangat kotor penuh makanan.


"Apa yang terjadi?" Tanya Nira sambil menarik lengan baju neneknya. Irna hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Aku rasa kedua kakekmu sangat jahil pagi ini." Irna menahan tawanya, menarik tangan Nira masuk ke dalam restoran tersebut.

__ADS_1


"Kita duduk di sana saja, jangan dekat-dekat dengan mereka berdua. Jika tidak mau ketimpa sial seperti Karin!"


"Ada kalanya para pria ingin membicarakan sesuatu yang penting sendiri. Jadi kita para wanita mengambil tempat sendiri untuk menikmati waktu kita sendiri." Jelas Irna pada Nira.


"Triing!" Suara dering pesan berbunyi pada ponsel Nira, tanpa sengaja Irna melihat gambar yang tertera pada layar ponsel cucunya tersebut.


Dia melihat foto Nira bersama Javi Martinez. Pria itu sedang mencium kening Nira.


"Kapan kalian akan menikah?" Irna melontarkan pertanyaan tersebut kepada cucunya.


Nira tersedak mendengar pertanyaan dari neneknya yang sama sekali tidak pernah dia juga sebelumnya.


"Kenapa nenek menanyakan hal itu padaku?" Ujarnya pura-pura tidak tahu.


"Ah! Apakah aku sudah salah menduga?" Irna menahan tawanya menatap wajah merah Nira. Gadis itu terlihat sangat malu sekali sampai-sampai menyembunyikan wajahnya ke arah lain.


"Apa kamu takut nenek tidak merestui hubungan kalian?" Irna tersenyum cucunya tersebut meraih kebahagiaan bersama orang yang dia cintai.


"Bukan itu, kami hanya menentukan kejelasan hubungan di antara kami berdua." Ucapnya sambil mengunyah makanannya.


Kehidupan yang benar-benar rumit, cucu perempuannya jatuh cinta kepada adik mantan suaminya yang tak lain adalah kakek Nira.


Dan seharusnya gadis itu memanggil memanggil Javi Martinez dengan panggilan kakek.


Karena wajah pria itu terlihat muda dan hampir sebaya dengan Nira, Mereka terlihat serasi ketika bersama. Irna sengaja tidak ambil pusing dengan masalah hubungan asmara mereka berdua.


Baginya cukup dengan melihat mereka bahagia dia sudah sangat senang, tidak jadi soal dengan siapa mereka membina hubungan asmara.


"Nira, ingatlah satu hal, apapun yang membuatmu bahagia nenek pasti akan mendukungmu!" Ujarnya sambil tersenyum menggenggam tangan Nira.


Mendengar ucapan itu, gadis itu merasa lega dan tidak bimbang seperti sebelumnya. Awalnya dia takut karena Javi Martinez pernah ingin melukai keluarganya.


Rian dan Fredian melihat Irna dan Nira tengah berbicara serius.


"Menurutmu apa yang mereka sedang bicarakan sekarang?" Tanya Rian pada Fredian.


"Entahlah, Kamu pikir aku pernah nimbrung ikut bicara bersama mereka?" Sahut Fredian, dia masih menikmati secangkir kopinya. Tidak memperdulikan Irna dan Nira para wanita itu.


Bersambung...

__ADS_1


Tinggalkan like sebelum pergi, vote juga ya untuk dukung author? Jangan lupa tunggu episode selanjutnya ya?.. I love you Readers ❤️


__ADS_2