Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Satu Simpul Terlepas


__ADS_3

"Uhmm! umm! hah hah, kamu membuatku kesulitan bernafas.." Ujar Irna setelah Fredian melepaskan ciumannya. Masih merengkuhnya dalam pelukan hangat.


Fredian tersenyum lembut menatap wajah Irna, mengangkat tubuhnya masuk ke dalam, menurunkan perlahan di atas tempat tidur.


Irna masih berpegang pada lengan Fredian, terus menatap ke arahnya.


"Apakah ada yang salah dengan wajahku?" Tanyanya kemudian.


Irna hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Ada apa?" Tanyanya lagi karena Irna tidak bicara apapun.


Kemudian dia ingat dengan gadis yang barusan pergi dari ruangannya.


"Apa kamu cemburu dengan Ruina?" Tanyanya lagi sambil tersenyum.


"Tidak" Jawab Irna singkat.


Fredian menunggu penjelasan Irna.


"Kamu menciumku di depannya itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan, jika kamu bertanya kenapa aku tidak cemburu padamu." Ujarnya membuat cerah senyuman Fredian.


"Kamu tadi di mana sepanjang sore?" Tanya Fredian.


"Tadi pagi sampai siang aku di kantor, dan sorenya aku berada di proyek mengawasi proses awal konstruksi." Jelas Irna sambil menatap mata Fredian.


"Ponselku sengaja aku mode hening, jadi aku tidak mengangkat telepon darimu." Jelas gadis itu kembali.


"Di mana?" Tanya Fredian membuat dada Irna mendadak berubah tidak enak.


"NGM, aku mengawasi konstruksi cabang NGM.." Irna melepas kata, menarik nafas dalam-dalam. Menunggu reaksi dari Fredian.


Tidak ada ekspresi, tidak ada komentar, pria itu diam menatap dinding.


"Apakah dia akan marah dan bertengkar lagi denganku?!" Bisiknya dalam hati.


"Apakah kamu kekurangan uang?!" Tanya Fredian sambil menatap mata Irna lekat-lekat.


"Huh!" Irna menarik nafas berat mendengar Fredian berbicara tentang uang.


Dia sangat membenci satu kata itu.


"Apakah kamu tidak sungguh-sungguh mengenalku?" Irna balik bertanya.


"Tentu aku mengenalmu dengan sangat baik!" Ujarnya menjawab pertanyaan dari Irna.


"Lalu, kamu berfikir aku pergi ke sana karena uang?" Tanya Irna kembali.


"Kalau bukan itu, apa karena Rian Aditama?" Pertanyaan terakhir Fredian membuat dada Irna mendadak semakin terasa sempit.


Gadis itu menatap ke langit-langit kamar, menahan air matanya.


"Jika dia masih berfikir aku pergi ke sana untuk Rian, kenapa di saat tubuhku remuk setelah bekerja masih terburu-buru datang ke sini...." Jerit hatinya.


Irna diam tidak menjawab, dia hanya tersenyum pahit seraya menatap lekat-lekat mata Fredian.


Gadis itu bangkit dan turun dari tempat tidur, berjalan dengan langkah lemas menuju kamar mandi.


Memungut bajunya yang tadi dipakainya ketika bekerja.


Melepaskan baju mandi mengganti dengan bajunya sendiri.


Saat Irna hendak memakai baju kerjanya Fredian menerobos masuk memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku.. maafkan aku Irna! jangan pergi, jangan pergi dariku..."


"Ini sudah malam, aku harus pulang." Ujarnya perlahan melepaskan pelukan Fredian. Kembali memakai bajunya.

__ADS_1


Gadis itu berbalik, melihat wajah Fredian.Tatapan matanya mengisyaratkan pada pria itu.


"Ketika kamu masih menyimpan keraguan dalam hatimu, maka selamanya aku tidak akan pernah ingin kembali ke sisimu.." Ujar gadis itu dalam hatinya.


Irna melangkah mengambil tasnya. Gadis itu pergi keluar dari dalam kamar Fredian, meninggalkannya jatuh terduduk lemas di lantai kamarnya.


Irna berjalan keluar dari Reshort, dia tidak ingin naik taksi. Dia ingin berlari melepaskan amarahnya, melepaskan tangisannya.


Akan tetapi dia ingat terakhir kalinya, jika Reyfarno menemukannya lagi, hal buruk akan menimpanya, tak bisa terelakkan.


Namun setelah berjalan beberapa lama dia juga tidak kunjung menemukan taksi.


"Apakah aku akan sial lagi malam ini??" Bisiknya dalam hati.


Tiba-tiba langkahnya terhenti. Sebuah mobil mendadak menghadangnya.


Seorang pria keluar dari dalam mobil menghampirinya.


Fredian menyusul Irna, menghentikan mobilnya tepat di depan gadis itu. Tanpa banyak bicara langsung menghampiri gadis itu, mengangkat tubuhnya membawanya masuk ke dalam mobil.


Fredian segera memasangkan sabuk pengaman ke pinggang gadis itu, memutar balik kemudi kembali menuju Reshort.


"Fred?" Panggil Irna dari sebelahnya.


Fredian diam saja tidak ingin menjawabnya.


Melihat wajah pria itu Irna tahu, dia sedang tidak ingin diajak bicara.


Akhirnya gadis itu juga diam saja dan tidak ingin bertanya lagi.


Sampai di Reshort Fredian kembali menggendong tubuh Irna masuk ke dalam kamar.


Fredian mengunci pintu dan menyimpannya di tempat yang tinggi. Agar Irna tidak bisa mengambil lalu pergi lagi meninggalkannya.


Melihat itu Irna tahu, jika dia tidak ingin dirinya pergi malam itu.


Begitu juga Fredian menatap ke langit-langit kamarnya, tanpa ingin bicara apapun.


Irna tidur membelakanginya, Fredian hanya menghela nafas panjang.


"Dia masih marah padaku? dia tidak suka aku mencurigainya dan terus menyalahkan segala hal padanya." Ujarnya di dalam hati.


Dia tahu Irna selalu keras kepala dan tidak ingin dipandang sebelah mata! dia tahu dia telah salah bertanya padanya! hingga membuat harga diri gadis itu terluka.


Ketika hatinya terluka gadis itu tidak akan bisa disentuh atau diajak bicara. Gadis itu hanya akan diam menikmati seribu lukanya seorang diri.


Bahkan dia tidak akan membiarkan seorangpun melihat seberapa besar luka di dalam hatinya. Dia akan mengunci hatinya rapat-rapat takkan dibiarkan seorangpun mengetuk atau berniat mencuri kuncinya.


Begitulah sosok Irna Damayanti yang dikenal Fredian.


Fredian menoleh menatap punggung Irna, nafas gadis itu terdengar teratur menandakan dia telah terlelap.


Fredian mengambil selimut, menyelimuti tubuh langsing Irna. Kemudian merengkuhnya.


Irna terjaga kembali melihat lengan Fredian berada di atas tubuhnya.


Irna mencoba menurunkan tangannya, tapi pria itu malah sengaja menariknya hingga berbalik berhadapan dengannya.


Hembusan nafas hangat Fredian menyapu wajah Irna.


Irna menatap dada Fredian. Pria itu kembali membuka matanya menyentuh dagu Irna hingga mendongak menatap ke arahnya.


Perlahan mencium bibirnya dengan lembut. Fredian merengkuhnya dengan hangat.


"Apakah sakit sekali...?" Desah Fredian di sela nafasnya. Melirik darah Irna kembali mengalir.


Gadis itu memejamkan matanya, sambil menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikannya Fredian mengangkat tubuh Irna ke dalam bath up, dibiarkan air hangat terus mengalir, merendam tubuh keduanya.


Fredian kembali mencium bibirnya,


Gadis itu kembali memekik seraya meremas lengan Fredian.


Fredian tersenyum melihatnya, menunggu darah berhenti mengalir. Kemudian membawa tubuh Irna kembali ke atas tempat tidur.


Fredian merengkuh kembali tubuh Irna,


"Aku, aku lelah sekali, aku rasa kakiku sudah tidak bisa berjalan." Ujar Irna berusaha menghentikan Fredian.


Fredian tidak mau berhenti, hingga entah berapa jam berlalu. Mereka sama-sama terlelap.


Ketika Irna membuka matanya pagi itu sudah pukul sembilan.


Irna tidak bisa bangkit dari tempat tidur.


"Akh tubuhku sakit sekali! padahal kemarin aku yang mengancam akan meremukkan tulangnya, tapi hari ini tulangku sendiri yang remuk dibuatnya!" Gerutunya dengan susah payah bangun.


"Fredian! bangun! kamu ada rapat tidak pagi ini?" Tanya Irna masih belum memakai bajunya. Tubuh keduanya masih berada di bawah selimut.


"Jam berapa?" Tanyanya pada Irna perlahan membuka mata.


"Sembilan!" Ujar Irna di telinga Fredian.


Fredian perlahan bangkit duduk, melihat tubuh mereka berdua tidak memakai sehelai benangpun berada di bawah selimut yang sama.


Terus menatap wajah Irna di sebelahnya. Tatapan yang aneh dan sulit diterka. Tapi tetap saja terlihat menyebalkan.


"Kenapa melihatku seperti itu? jangan bilang kamu jadi hilang ingatan setelah melakukannya semalam?! atau marah lagi karena aku terlambat membangunkanmu!?"


Ujar Irna mencoba menebak ekspresi dari wajah pria di depannya itu, sudah berkali-kali dia disalahkan karena sesuatu yang sepele dan di luar akalnya.


"Aku ingin lagi." Bisiknya perlahan di telinga Irna.


Gadis itu buru-buru menutup rapat seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Kakiku sudah gemetar, dan pinggulku rasanya akan patah!" Teriak Irna menolak Fredian. Irna segera beringsut menjauh darinya, dia tidak ingin pria itu kembali mendekatinya.


Irna segera mencari cara agar dia bisa selamat dari pria di depannya itu.


"Bagaimana caranya aku turun dari sini?" Bisik Irna, wajahnya nampak kebingungan menoleh kesana-kemari mencari sesuatu untuk berpegangan.


Mendengar itu Fredian tersenyum kecil melangkah ke kamar mandi menyiapkan air hangat.


"Kita mandi sama-sama, aku akan membantumu." Ujar Fredian mengangkat tubuh Irna ke dalam kamar mandi.


Beberapa jam kemudian Irna memegangi pinggulnya berjalan sambil berpegangan pada dinding.


"Pria itu sangat tidak bisa dipercaya! dia bilang akan membantuku mandi, tapi malah melakukannya lagi!!"


"Kamu tidak akan ke kantor hari ini kan?" Bisik Fredian di telinga Irna.


"Suruh sopirmu mengantarkan aku ke kantor jika kamu sibuk." Ujarnya mendelik ke arah Fredian.


"Akh pinggangku!" Jerit Irna dengan kencang sekali tidak peduli pelayan sedang tertawa di luar pintu mendengar jeritannya.


Membuat Fredian kembali mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Iya sebelah sana! agak turun! bukan yang itu tapi sebelahnya!" Teriak Irna menunjuk pinggangnya yang sakit pada Fredian agar dia terus memijitnya.


"Akh kenapa menarik daun telingaku!? perasaan sudah benar yang itu tadi?" Teriak Fredian mengusap telinganya.


Irna dengan sengaja membuatnya menuruti kemauannya hari itu untuk membalasnya. Sudah semalaman dia habis dikerjai olehnya.


"Naik lagi ke atas! iya sebelah kanan! ah nyamannyaaaaaa!" Irna tertawa melihat wajah masam Fredian.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2