
"Cinta omong kosong!" Gerutu Irna sambil mendorong tubuh Rian ke samping.
"Kamu tidak percaya aku mencintaimu? bruuuk!" Menarik lengan Irna hingga jatuh menindih tubuh atletisnya.
Gadis itu meronta-ronta, tapi Rian menggenggam kedua tangannya. Ia mulai mencium bibirnya.
"Rian, lepaskan tanganku!"
"Tidak mau!"
"Lepas!"
"Tidak akan pernah!"
"Aku sudah terlambat.." Irna mulai merajuk, melihat wajah Irna seperti itu Rian mulai tidak tahan dan memutar posisi gadis itu menjadi di bawah tubuhnya.
"Aku sudah bilang kalau kamu cuti." Desahnya pada daun telinganya, membuat sekujur bulu kuduknya meremang.
"Rian, aku, aku, aku.." Mulai tergagap, mendadak suhu tubuhnya naik seketika.
"Kenapa? apa kamu tidak tahan melihatku sedekat ini?" Tersenyum sengaja mempererat himpitan tubuhnya.
"Maksudku kita jangan seperti ini, mari kita buat kesepakatan."
Irna berusaha memasang wajah senetral mungkin, masih berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
"Aku tidak mau, pasti kesepakatan yang kamu maksud itu akan lebih banyak merugikanku." Seringainya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Kita bukan anak kecil lagi, jangan seperti ini."
"Aku tahu kita bukan anak kecil."
"Apakah kamu berencana untuk tetap bertahan bersamaku tanpa bisa memilki keturunan?"
Irna mempertanyakan hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak pria itu. Rian menatap wajah Irna lekat-lekat, Irna berfikir pria itu akan marah dan melepaskan pelukannya.
Tapi ternyata tidak, pria itu malah menempelkan ujung hidungnya di daun telinganya.
"Rian! kamu tidak mau menjawab pertanyaaan dariku?"
Pria itu tidak bergeming sama sekali. Irna mendengar suara desah nafasnya terdengar teratur.
"Rian! jika kamu ingin tidur seharusnya tidak menindihku seperti ini! menyebalkan sekali!" Gerutu Irna seraya menggeser posisi Rian perlahan-lahan.
"Bagaimana mungkin dia bisa terlelap seperti mayat begini? sebenarnya berapa lama kamu tidak tidur?"
Bayangan Irna kembali terlintas pada satu bulan terakhir, Rian setiap hari pulang pagi dan tidak pernah tidur di rumah.
Dia terus lembur di kantor NGM sepanjang malam. Pria itu pulang hanya untuk mandi serta berganti pakaian.
Terkadang hanya mengambil barang sambil mencari Irna. Ketika sudah mendapati Irna dia kembali ke kantor.
Irna menyelimuti tubuhnya, gadis itu menggelung rambutnya ke atas kemudian merangkak turun dari tempat tidurnya.
"Akhhh! bruuuk! kamu mau kemana?"
Rian mendadak membuka matanya dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Temani aku, dan jangan pernah berfikir untuk pergi lagi.."
Air matanya meleleh dari kedua sudut matanya.
"Aku hanya ingin berganti baju." Sahut Irna padanya.
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku, ketika kamu mengingatnya kembali, maka cintamu padanya juga pasti kembali seperti semula." Bisiknya pada Irna, masih tetap memeluk tubuhnya.
"Kamu hanya akan terus terluka ketika melihatku. Duniaku berada di antara pria tampan juga kaya raya. Kamu akan terus menemukanku berada di sekitar mereka. Karena begitulah takdirku."
"Bukan aku yang merayunya, tapi mereka datang dan menghampiriku."
Irna ingat darah pemikat yang mengalir dalam tubuhnya selama ini.
"Dan itu juga terjadi padamu saat pertama kali melihatku bersama Fredian."
Irna memutar badannya menghadap ke arahnya.
"Kamu benar, kamu sangat memikat. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi."
"Hei apa yang kamu lakukan?!"
Teriak Irna saat Rian menarik gaunnya.
"Melepaskan bajumu, apa lagi?" Ujarnya seraya memasang wajah tidak bersalah sama sekali.
"Kenapa? kenapa kamu melakukannya?!"
Irna buru-buru mengambil selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Kamu tadi bukannya bilang ingin berganti baju? kenapa sekarang malah marah-marah padaku sih?!"
Melangkah menuju lemari mengambil baju santai untuknya.
"Dasar! pria sialan! mengagetkanku saja!" Gerutu Irna lagi, segera merebut baju dari tangannya.
"Bukankah aku seorang suami tampan dan juga idaman semua orang? aku juga sangat memperhatikanmu istriku yang manis." Merundukkan badan mencubit pipi Irna.
Irna mengusap pipinya bekas cubitan Rian.
"Aku bukan anak kecil, jangan memperlakukanmu seperti itu."
"Sekarang kamu begitu percaya diri kalau kamu pria tampan dan sebagainya, kenapa kemarin-kemarin malah murung satu bulan pulang pergi, seperti manusia tanpa jiwa??!"
Irna menggelengkan kepalanya, memakai pakaiannya satu persatu.
"Karena waktu itu hatiku sakit sekali."
Memeluk Irna dari belakang punggungnya.
"Tapi aku yakin tidak lama lagi kamu akan kembali meragukanku!" Gerutu Irna sambil melepaskan pelukan tangannya dari pinggangnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Rian tidak mengerti maksud Irna mengatakan itu padanya.
"Pria ini memintaku membuatkan skema bangunan lagi."
Menunjukkan layar ponselnya pada Rian.
"Arya? dia sudah tahu kamu Irna?" Rian berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah terkejut.
"Hem. Dia akan kemari setiap hari, dan jam tidak menentu."
"Kamu menerimanya begitu saja?" Rian memicingkan matanya tidak mengerti.
"Dia tipe orang yang akan terus mengganggu tanpa peduli."
Gadis itu melangkah ke belakang punggungnya seraya berkata.
"Arya Ardiansyah adalah pria yang unik, keunikannya akan menimbulkan salah faham pada orang yang melihatnya."
"Aku tidak akan membiarkan kamu dekat dengannya lagi!" Geramnya sambil mengepalkan tangannya.
"Ya sepertinya aku harus melihat tontonan yang menjengkelkan tidak lama lagi."
Ujarnya santai mengambil gelas, kemudian menuangkan air minum.
"Tok! tok! tok" Terdengar suara ketukan pintu.
Rian melayangkan pandangan ke arah Irna.
"Kamu memesan sesuatu?"
Irna hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Rian membuka pintu, dia melihat Arya mememeluk tas kerjanya sudah berdiri di depan pintu, pria itu tersenyum menatap Rian yang telah membukakan pintu untuknya.
Tanpa menunggu, Arya masuk ke dalam apartemen Irna, dia melihat sekelilingnya.
Ketika menemukan Irna sedang menikmati segelas air putih, pria itu segera melangkah ke arahnya menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
"Astaga apa ini? bahkan dia tidak menganggapku ada di sini?" Rian mengusap keningnya.
Dia ikut duduk di sebelah Irna. Irna duduk di tengah-tengah mereka.
"Apa yang kamu lakukan?" Arya tidak mengerti kenapa Rian ikut duduk di sebelahnya Irna.
"Apa kamu bertanya aku kenapa? tentu saja aku akan duduk di sebelah istriku!" Menekankan kata istri agar Arya tahu serta mengambil jarak untuk tidak terlalu dekat dengan Irna.
"Wahhh! kamu menikah dengannya juga? aku tidak mengerti kenapa begitu banyak pria yang tertarik padamu kecuali aku!" Mendengar ucapan Arya, Rian mengepalkan jemari tangannya.
Arya tetap santai, nyengir sambil membuka tasnya mengeluarkan rincian lokasi yang akan di bangun.
"Jika kamu tidak tertarik, kenapa mengejarnya? kamu juga memberikan hadiah padanya sebulan yang lalu!" Rian berteriak sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Hahahaha! hadiah apa? itu adalah barang-barang Irna yang tertinggal. Gadis ini bekerja denganku sudah bertahun-tahun. Kami bekerja berdua di kantorku untuk mengurus proyek."
"Aku pikir waktu itu, aku tidak akan pernah melihatnya lagi. Waktu aku melihat mobilnya terjun ke dalam jurang dan meledak di depan mataku. Perasaanku sangat hancur, aku tidak mencintainya tapi kedekatan kita sangat dekat seperti sesuatu yang tidak bisa dilipat!"
"Apa maksudmu dilipat?!" Irna mengunyah giginya sambil menatap Arya.
"Dasar pria aneh!" Gerutu Irna.
Rian terdiam mendengar penjelasan Arya, jika pria itu peluk sana-sini, nyatanya dia menganggap bahwa Irna bukan orang lain. Dia menganggap Irna seperti saudara perempuannya sendiri.
"Apa yang terjadi? hidupmu benar-benar miris sekarang. Menikah dengan pria seposesif dia!" Gumam Arya di sebelahnya.
Irna hanya melebarkan kelopak matanya sambil menarik nafas panjang, kemudian mulai melukis ringkasan desain.
Gadis itu kemudian menjelaskan secara rinci mengenai desainnya. Arya mencermati dengan sepenuh hati.
Memang benar mereka sangat dekat tapi Arya bukan pria yang tergila-gila pada Irna. Walaupun dia sering muncul setiap waktu yang tak terduga.
"Ya, ini adalah rancangan yang aku nanti-nantikan!" Serunya seraya tersenyum lebar.
"Untuk pembangunannya bisakah kamu mengawasi pelaksanaannya?"
"Tidak bisa, minta pada Rini." Ujarnya sambil melirik ke arah Rian.
Setelah selesai menyelesaikan pekerjaannya Arya berpamitan pada Irna.
"Ya sudah aku pergi dulu, aku tidak yakin jika suamimu ini akan bertahan denganmu melewati waktu setahun lagi!" Gumamnya saat melangkah keluar dari dalam ruangan.
Irna kembali duduk di kursi sebelah Rian.
"Apa yang terjadi? dia bahkan menantikan perceraian aku denganmu?"
Irna tersenyum mendengar pertanyaan Rian.
"Dia tahu bagaimana cara bertahan." Sahut Irna pendek.
Rian tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan Irna barusan.
Irna melangkah mengambil tasnya.
"Kamu mau kemana? bukankah aku sudah bilang kalau kamu cuti."
Segera berdiri mengikuti langkah kakinya. Rian benar-benar tidak membiarkan gadis itu memiliki jarak dengannya sedikitpun.
"Aku ingin membeli makanan. Brakk!"
Irna keluar kemudian menutup pintu.
Rian sudah berjalan di sebelahnya sambil menggamit pinggangnya.
Irna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pria itu memperlakukannya seperti bocah umur lima tahun yang bisa tersesat kehilangan arah pulang.
"Kamu tidak suka aku bersamamu sepanjang waktu?"
Ujarnya saat melihatnya menggelengkan kepalanya.
"Bukan."
__ADS_1
Berjalan santai, tanpa perduli apa yang dilakukan Rian.
"Kenapa wajahmu terlihat sangat tidak senang?"
Masih tidak puas mendengar jawaban Irna di sebelahnya.
"Kamu terlalu jauh berfikir."
Ucapnya santai, Irna membelok ke arah restoran terdekat. Gadis itu menarik kursi pada salah satu meja yang berjajar rapi di sana.
Jemari tangannya meraih lembaran menu yang beradab di atas meja, mulai membaca satu-persatu. Setelah mencatat pesanan Irna memanggil pelayan lalu menyerahkan note kecil di tangannya.
"Sejak kapan vampir bisa makan nasi?"
Gumam Rian sambil menggaruk kepalanya.
Jika dulu Irna hilang ingatan serta jati dirinya, dia hanya makan seperti manusia pada umumnya makan tiga kali sehari.
Perubahan terjadi berangsur-angsur setelah gadis itu mendapatkan ingatannya kembali. Irna tidak makan kecuali dalam situasi terdesak.
Segalanya pulih seperti sedia kala, itu selalu membuat Rian was-was lebih takut kehilangan seperti sebelumnya.
Gadis yang sangat dia harapkan kini telah berada di sisinya. Ketakutannya semakin menggila ketika Fredian mulai hadir dan menampakkan dirinya secara berkala saat Irna sedang tidak berada bersamanya.
Selain itu Fredian adalah vampir murni yang menjadi pasangan Irna sejak awal. Pasangan vampir berdarah murni.
Rian hanya bisa berharap Irna terus menemaninya. Tidak menepisnya, dia tahu Irna begitu menghargai sebuah ikatan pernikahan.
Gadis itu hanya dengan menjentikan jarinya bisa pergi sejauh mungkin dari genggaman tangan Rian saat itu juga.
Rian tidak menyadarinya, pria itu terkadang melukainya tanpa memikirkan hal itu. Irna memilih menjadi manusia normal hanya demi status pernikahan mereka berdua.
Jika dia ingin, dia bisa berada di dalam pelukan Fredian untuk memenuhi perasaan cintanya yang telah kembali dalam ingatannya.
Tapi hatinya selalu menentang, karena ada ikatan pernikahan.
"Kamu tidak makan?"
Irna menyendok makanan dan menyuap pada bibirnya menatap wajah Rian.
"Kenapa kamu tetap berada di sisiku?"
Pertanyaan Rian membuat Irna meletakkan sendoknya dari tangannya.
"Apakah kamu baru sadar sekarang? jika akulah yang bertahan tetap berada di sekitarmu?"
Irna menyeringai menatap Rian, sesaat matanya berkilau merah satu detik kemudian kembali seperti semula.
"Karena pernikahan." Irna menatap wajah Rian tanpa berkedip. Rian tahu Irna begitu menghargai setatus pernikahannya.
"Hanya itu?" Rian merasa tidak puas dengan jawaban dari Irna.
"Lalu apa lagi? apa karena kamu tampan? memangnya sudah berapa puluh tahun aku melihat wajahmu tetap seperti itu? apa karena kamu kaya? banyak orang kaya di luar sana."
Irna kembali menikmati makanan di atas meja sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak bertahan karena mencintaiku?!" Rian tersenyum dengan wajah putus asa.
"Aku ada di nomor urutan ke berapa dam hatimu?" Tanyanya lagi pada Irna.
"Ke tiga."
"Fredian pasti yang pertama, yang kedua siapa?" Mulai mendesak.
"Cucuku! hahahaha! lihat wajahmu itu, kenapa kamu tegang sekali. Kalau kamu terus menerus seperti itu, yang dikatakan Arya akan segera terbukti tidak lama lagi."
"Tidak kurang dari satu tahun. Dan kamu? kenapa tetap memilih bertahan dalam situasi seperti ini?" Gadis itu balik bertanya, seraya meneguk air dari dalam gelasnya.
"Aku sangat mencintaimu."
"Yang lainnya?"
"Tidak ada, aku hanya butuh kamu di sisiku."
"Tapi aku tidak bisa memberikan keturunan padamu, kakakmu juga belum laku-laku! keluarga Aditama bukan keluarga yang bisa dianggap remeh. Orang tuamu pasti ingin putranya memiliki keturunan."
Jelas Irna dengan wajah serius.
"Braaakkkk! siapa yang kamu sebut tidak laku?" Reyfarno menggebrak meja di depan Irna.
"Astaga! bagaimana bisa kamu muncul tiba-tiba di sini?" Irna melirik Rian, suaminya segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Seakan-akan menyembunyikan sesuatu.
"Oh! aku tahu! kamu yang memintanya untuk melacak keberadaanku bukan???" Irna melotot ke arah Rian.
"Pantas saja kamu terus mengetahui dimana tempat tinggalku!" Irna tidak sabar segera menghabiskan air di dalam gelasnya.
"Adik ipar, aku sebentar lagi akan menikah. Jadi jangan kamu pikir aku tidak laku." Menyodorkan undangan di atas meja. Merapikan rambutnya juga jas hitam yang dia kenakan.
"Anita?" Irna terbelalak melihat foto gadis itu, selembar foto prewedding bersama Reyfarno.
"Kenapa? aku pikir dia gadis yang sangat imut."
Reyfarno tersenyum lalu keluar dari dalam restoran sambil memakai kacamata hitamnya kembali.
"Wah ini luar biasa!" Irna tersenyum lepas penuh semangat.
"Kenapa kamu begitu bahagia melihat kakakku menikah? tapi kamu tidak pernah sebahagia itu saat bersamaku!"
Mengeluh sambil menopang dagunya.
"Hahahaha, karena kamu selalu ribut dengan hal-hal kecil."
Irna tidak bisa menahan tawanya, pria yang sudah berusia hampir enam puluh tahun merajuk di depannya.
Darah Irna membuatnya terlihat tidak sesuai dengan usianya. Lebih muda dua puluh tahun.
"Bagiku itu normal-normal saja, sepasang suami istri salah satu dari mereka cemburu ketika dekat dengan orang lain."
Masih mengelak, tidak terima perasaannya dianggap sepele.
__ADS_1
Bersambung....