Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Kau, kau.


__ADS_3

Mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Aku mencintaimu.." Bisiknya di telinga Irna sambil mencium pipinya.


Fredian mengangkat tubuh Irna masuk ke dalam kamar yang ada di sisi dalam kantornya.


Merebahkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur dan kembali menciumnya.


"Aku mencintaimu, aku ingin menikahimu kembali.." Memeluk tubuh Irna dan tidak ingin melepaskannya lagi.


Irna tenggelam di dalam pelukan pria yang selalu dia cintai itu. Fredian mulai memagut bibir tipisnya kembali.


Irna tidak menahan tangan Fredian lagi, dia membiarkan pria itu melakukannya malam itu. Irna menatap wajah pria yang ada di atasnya.


Keringat mengalir di kedua pelipis Fredian menetes di atas wajah Irna yang berada di bawah tubuhnya.


Dua jam berlalu, mereka sudah terlelap di balik selimut hangat. Lengan Fredian masih berada di atas pinggang Irna ketika gadis itu terjaga dari tidurnya.


Irna melihat jam di layar ponselnya menunjukkan pukul dua dini hari. Dia beranjak bangun dari tempat tidur bergegas memakai pakaiannya kembali.


"Kamu sudah bangun?" Fredian beranjak duduk di tepi tempat tidur dan menurunkan kakinya di lantai.


Masih menatap Irna, gadis itu masih terdiam dan belum menjawab pertanyaan darinya.


"Aku lupa jika harus mempelajari berkas kontrak dari perusahaan Jermy."


"Apakah kamu akan menyetujuinya?" Berjalan menuju lemari es mengambil sebotol air mineral.


"Hem, sepertinya begitu." Tersenyum menatap pria yang ikut nimbrung membaca surat kontrak.


"Kemarin dia memesan tempat meeting di sini, mungkinkah ini ada hubungannya denganmu?" Fredian melihat berkas yang ada di genggaman tangan Irna.


"Masa sih? sepertinya tidak. Sekretarisnya bilang aku harus pergi ke perusahaannya. Bukan pertemuan di sini." Jelasnya sambil terkekeh geli melihat wajah tidak senang di depannya.


"Kamu cemburu padaku? hai! dia pria berkeluarga Fred, apakah aku segila itu dan kenapa juga aku menggoda pria lain? Sedang kamu berada di sisiku."


"Bukan kamu yang menggoda, tapi mereka uang tergoda."


"Jangan terlalu berlebihan, tidak akan seperti itu. Aku cukup mengenalnya, walaupun kadang dia sedikit mengejutkan tapi tidak seperti seseorang yang akan repot-repot membuat masalah." Melirik ke arah Fredian sambil nyengir.


"Kamu sedang menyindirku?!" Mendelik sambil berkacak pinggang.


"Hahahaha mana ada?"


"Itu tadi coba ulangi sekali lagi?!" Mendekatkan wajahnya ke arah Irna.


"Tidak, mana mungkin aku menyindirmu? aku tidak akan berani kecuali mengatakan padamu secara langsung." Menahan tawa pura-pura santai.


Fredian memeluk pinggangnya dari belakang punggungnya lalu mencium pipinya, meletakkan dagunya di atas bahu Irna.


"Kita harus segera menikah!" Ujar Irna tiba-tiba melepaskan pelukannya.


"Kamu serius?" Tanya Fredian terkejut.


"Kamu tidak mau? ya sudah batal saja." Ujar Irna terkekeh melihat wajah tampan Fredian, dia terlihat bingung di depannya.


"Aku mau!" Sahutnya tiba-tiba.


"Minggu ini aku akan menyiapkan semuanya." Ujarnya lagi lalu berjalan memeluk Irna dengan sangat erat.


"Mimpiku waktu aku sedang koma, aku tidak ingin membuat pria yang memelukku ini meninggal tragis dan menderita. Aku akan mencoba merubah jalan itu... walaupun pada akhirnya yang hidup pasti akan mati." Bicara di dalam angannya.


"Segala sesuatu yang hidup dan bernafas pasti akan hilang, akan sirna dari bumi.."


"Setidaknya aku akan melaluinya dengan bahagia.. kita semua harus bahagia, dan pergi dengan wajah tersenyum." Bisik Irna dalam hatinya.


"Tidak perlu pesta, kita sudah pernah menikah.. cukup tanda tangan pernikahan saja."


Gumam Irna sambil tersenyum, gadis itu melangkah ke ruang kerja Fredian duduk di sofa. Ada secercah semburat kesedihan terlukis di wajah gadis itu.


Irna meletakkan berkasnya di atas meja lalu bersandar di sandaran sofa, menyelonjorkan kakinya.


Semburat kesedihan yang dia ketahui melalui perjalanan mimpinya.


Keinginannya untuk kuliah di bidang kedokteran bukankah mimpi, tapi sebelum pergi ke pernikahan Reynaldi dia benar-benar sudah mendaftarkan diri.


Irna juga sudah memesan tiket, dan juga membeli apartemen di Perancis. Jika dia tidak bermimpi panjang mungkin saat ini gadis itu sudah tinggal di sana.


"Besok kita akan menikah!" Ujar Fredian sambil duduk di sampingnya.


"Jika aku pergi ke Perancis untuk kuliah di bidang kedokteran, bagaimana menurutmu?" Tanya Irna pada Fredian.


Pria itu sedikit bingung, memegang kedua bahu Irna. Dia menatap wajah Irna dengan sungguh-sungguh.


Masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba gadis itu bertanya demikian.


"Apakah kamu akan meninggalkan diriku lagi?" Tanyanya sambil menatap wajah Irna dengan sedih.


"Aku sedang meminta pendapat darimu. Bukan pergi sekarang untuk meninggalkanmu." Jelasnya pada pria di depannya.


Fredian tidak menjawab tapi mengecup keningnya.


"Kamu tidak setuju?" Irna tahu jawabannya dari sikap Fredian. Dia tidak ingin berpisah sedetikpun dengannya.


"Aku mencintaimu, kita akan menikah besok. Untuk kontrak iklan dengan Jermy bagaimana keputusanmu?"

__ADS_1


"Aku belum membicarakan tentang pekerjaan dengannya, mungkin setelah tanda tangan pernikahan aku baru akan pergi ke perusahaannya."


Mereka tertidur pulas di atas sofa, Irna berada di pelukan hangat Fredian.


Rian pagi itu sudah keluar dari dalam rumah sakit. Kondisinya semakin membaik. Pria itu mengurus pekerjaan yang tertunda selama dia sakit.


Arvina menemaninya, dan membantunya mengurus segalanya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya dia ingin melihat keadaan Irna.


Pria itu bergegas menuju mobilnya dan meluncur ke rumah Irna.


Satu jam kemudian mobilnya sudah tiba di halaman rumah Irna. Dia melihat mobil Fredian ada di sana.


"Apa mereka bersama sejak kemarin?" Tanyanya dalam hati.


Rian masuk ke dalam rumah Irna seperti biasanya, dia melihat para pelayan sedang sibuk menyiapkan makanan.


Seorang pelayan menghampirinya, membawakan tasnya seperti biasa.


"Kenapa sepi sekali? di mana nyonya?" Tanya Rian.


"Beliau sedang ada di kamarnya bersama tuan Fredian, tuan." Wajah pelayan itu terlihat sedikit cemas, dia hawatir mereka akan ada adu jotos di rumah Irna.


Pelayan itu tahu selama ini Rian yang selalu berada di rumah Irna dan mengurus segalanya untuk gadis itu. Dan mereka berpikir bahwa Rianlah yang akan menikah dengan Irna.


Tapi sekarang Irna sudah melakukan pernikahan lagi dengan Fredian. Fredian adalah suami gadis itu sekarang.


"Apakah tuan membutuhkan sesuatu?" Tanya pelayan itu, karena Rian diam termangu di tempatnya berdiri.


Dia ingin bicara dengan Irna, tapi dia sekarang sedang bersama dengan pria yang dicintainya di dalam kamarnya.


"Perasaan apa ini.. bukankah aku yang menginginkan dia bahagia? aku juga yang meminta Fredian agar mencarinya dan menemaninya.. mereka adalah pasangan yang sesungguhnya." Bisik Rian dalam hati kecilnya.


"Ah, bi, siapkan kopi panas dan satu porsi roti bakar untukku." Perintahnya.


Rian membatalkan niatnya untuk naik ke lantai atas, pria itu memilih duduk di meja makan menunggu sarapannya.


Dia membaca surat kabar sambil menunggu gadis itu turun ke lantai bawah.


Satu jam kemudian Irna turun ke lantai bawah seorang diri. Gadis sudah berpakaian rapi, melongokkan kepalanya ke meja makan.


Ada Rian dengan sangat santai menyeruput kopinya sambil mengulum senyum.


Irna berlari kecil ke arah Rian wajah cerah sumringah.


"Wah pak dokter! sudah baikan kah?"


Gadis itu merebut cangkir dari genggaman tangan Rian dan mulai meneguk cairan hitam pahit itu.


"Di mana Fredian? bukankah kalian berdua bersama?" Tanya Rian bingung.


Mata Rian terpaku pada jari Irna, ada sebuah cincin pernikahan melingkar pada jari manisnya.


"Apa ini?" Meraih jarinya dan menarik tangannya hingga mendekat berdiri di sebelah Rian duduk.


"Ah, aku menikah dengan Fredian pagi ini." Rian terdiam mendengar ucapan gadis itu, dia tidak berkomentar sama sekali.


Pria itu terus mengunyah makanan sambil melihat surat kabar di atas meja.


Irna duduk di kursi bersebelahan dengan Rian, dia melihat pria itu seolah-olah yang dikatakannya bukankah hal penting dan perlu untuk di bahas.


"Ya tentu saja dia tidak akan peduli, lagi pula kita sudah menikah ketiga kalinya sekarang." Gumamnya sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya di atas meja.


Rian tersenyum melihat Irna cemberut, dia ikut menopang kepalanya dengan tangan kirinya di sebelahnya.


"Apa?" Tanya Irna padanya


Rian terkekeh geli melihat wajah muram itu.


"Kenapa kamu begitu sedih? harusnya kalian berdua berbulan madu."


Pria itu meneguk kembali kopinya, menahan senyum.


"Duk! ah!" Irna sengaja menyodok perutnya dengan siku kirinya hingga air kopi di genggaman Rian terguncang dan menumpahi bajunya.


"Astaga! setelah kecelakaan kenapa kamu jadi pedendam sih?!" Rian mengambil tissue untuk membersihkan pakaiannya yang basah.


"Kamu menertawaiku?" Tanyanya dengan wajah muram.


"Apa salahnya bercanda."


Pria itu berdiri lalu naik ke lantai atas masuk ke dalam kamar Irna, dia membersihkan badannya di kamar mandi dan mengganti bajunya dengan baju mandi yang diikat di pinggang.


Irna masih duduk di kursi meja makan, dia menghabiskan sarapan Rian.


Rian tersenyum melihat Irna dari lantai atas sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Apakah aku harus ke perusahaan Jermy hari ini? galau sekali, malas sekali. Setidaknya aku akan mengembalikan jasnya pada pria itu."


Irna segera beranjak berdiri, mengambil tasnya dan bergegas keluar. Dia lupa jika mobilnya sedang di bawa Fredian.


Rian menuruni tangga, menghampirinya. Tersenyum melihat Irna menepukan telapak tangan pada keningnya sendiri.


"Apa?" Tanya Irna melihat pria itu tersenyum.


"Kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Perusahaan berlian Jermy Erlando."


"Ka, kamu mengikat kontrak dengan perusahaan dia?" Tanya Rian terkejut.


"Mau mengembalikan ini." Mengancungkan tas berisi jas milik Jermy.


"Aku akan mengantarkan kamu ke sana" Ujarnya bergegas mengambil kunci mobil lalu berjalan kembali menuju Irna.


"Dengan pakaian seperti itu?!" Irna berteriak seraya menutupi wajahnya.


Penampilan Rian dengan baju mandi, rambutnya masih basah, dadanya setengah terbuka menampilkan lekukan atletis tubuhnya.


"Apanya yang salah?" Tersenyum menarik tangan Irna menuju mobilnya.


Rian membuka pintu mobil mendorong tubuh gadis itu masuk ke dalam lalu dia masuk dan duduk di belakang kemudi.


Irna memijit pelipisnya merasa pusing melihat penampilan pria di sebelahnya.


Rian tidak henti-hentinya melepas senyumnya. Satu jam kemudian mobil Rian sudah tiba di halaman perusahaan Jermy.


"Kamu diam saja di sini! jangan berani-berani menunjukkan batang hidungmu!" Ancam Irna sambil melotot ke arahnya.


"Kenapa? apa kamu akan berkencan dengannya?" Tanyanya sambil tertawa.


"Apa aku gila! braaakkkk!" Irna keluar dari mobil Rian dan membanting pintunya.


"Bisakah saya bertemu dengan Presdir Jermy?" Tanya Irna pada seseorang yang bertugas sebagai resepsionis.


"Anda nona Irna Damayanti kan?!" Teriak resepsionis tersebut sambil tersenyum gembira.


Irna membalas dengan senyuman manis, lalu mengangguk kecil.


"Mari saya antar ke ruangan Presdir." Gadis itu membawa Irna ke ruangan lantai atas untuk menemui Jermy Erlando.


"Tok! tok! tok!" Erlita mengetuk pintu ruangan Jermy.


"Masuk." Sahut Jermy dari dalam ruangan kerjanya.


Erlita membuka pintu dan mempersilahkan Irna untuk masuk ke dalam ruangan.


"Silahkan masuk nona, saya akan kembali ke meja resepsionis. Permisi.."


Gadis itu dengan sopan menaruh hormat pada Irna dan bergegas kembali keluar dan menutup pintu.


Irna melangkah masuk ke dalam, dilihatnya ruangan yang sangat luas. Dia menuju meja kerja Jermy.


"Tak, tak, tak!" Suara langkah kaki Irna memenuhi seluruh ruangan luas tersebut, selain suara sepatunya ada suara lembaran kertas yang dibuka satu-persatu untuk ditanda tangani oleh Jermy.


Pria itu terlihat sibuk dan tidak mengangkat kepalanya sama sekali untuk melihat ke arah Irna.


"Aku ingin mengembalikan ini." Irna meletakkan tas tersebut di atas meja Jermy lalu bergegas pergi keluar dari dalam ruangan dan menutup pintunya.


Jermy tersenyum meletakkan bolpoin di atas meja, masih tidak percaya melihat Irna pergi begitu saja setelah jauh-jauh datang.


Bahkan dia tidak berniat untuk membicarakan kontrak kerja dengan dirinya sama sekali.


"Dia menolaknya." Gumam Jermy sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.


Setelah berjalan agak jauh dari ruangan Jermy dia baru ingat jika dia ingin menanyakan hal pekerjaan.


Irna buru-buru berlari tanpa mengetuk pintu menerobos masuk kembali ke dalam ruangan pria itu.


"Aku.. ingin.. menanyakan ini!" Ucapnya dengan nafas terengah-engah mengancungkan berkas kontrak kerja di tangannya.


Jermy tersenyum, mengambil air dari dalam lemari es. Dan meletakkan di atas meja.


"Duduklah."


Irna mengambil air di atas meja tanpa sungkan langsung meneguknya di depan Jermy lalu duduk di seberang meja.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Kenapa pemotretan di lakukan setiap minggunya, itu akan menambah biaya yang tidak sedikit."


"Dan selama bekerja sebagai model aku tidak pernah bekerja rodi. Kita mengikat kontrak kerja selama sekian tahun tapi kamu mengajukan syarat untuk pemotretan ulang setiap minggunya.." Jelas Irna berterus terang.


"Itu, karena, aku ingin semua mode produk berlianku adalah Irna Damayanti yang memakainya pertama kali." Ujarnya dengan wajah serius.


"Kamu lihat saja produk yang kamu sponsori, bukankah sangat luar biasa di pasaran." Terangnya lagi.


"Aku juga tahu jika produk berlianmu, sudah sangat marak dan selalu laris di pasaran karena kualitasnya." Sanggah Irna, dia tahu jika itu hanya alasan pria itu saja.


Wajah Jermy mendadak berubah, dia mengusap keningnya. Merasa usahanya akan gagal untuk mengikat kontrak kerja sama dengan gadis di depannya itu.


Irna dengan sangat santai kembali mengambil botol air mineral dan meneguknya.


Bersambung...


Author bicara


View judul lainnya Reader, ada judul baru yang unik, cerita tak kalah menarik,


"Cinta Bersemi Dalam Kabut" dengan genre romantis, kampus, komedi. Menceritakan sosok gadis cantik dan sangat jenaka, dari keluarga kaya raya, terlibat kisah rumit dengan saudaranya.


"Menembus Lorong Waktu" dengan genre misteri, horor, menceritakan kisah seorang gadis yang akan melintasi waktu karena menolong seseorang.

__ADS_1


Terima kasih Readers.. I Love you so much Readers!


__ADS_2