Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Adelia yang manis


__ADS_3

"Kamu selalu penuh misteri!" Ujar Rian terkekeh melihat Irna mengangkat kedua alisnya.


"Bagaimana keadaan kakakmu, apakah dia baik-baik saja?" Tanya Irna mengganti topik pembicaraan.


"Hem, lebih baik dari sebelumnya." Jawab Rian seraya tersenyum.


"Oh aku akan pulang setelah mengembalikan berkas ini ke dalam." Sambil menunjuk lift.


"Aku juga ingin pulang, setelah dari sini apa mau aku antar sekalian?" Menawarkan tumpangan pada Irna.


"Aku membawa mobil sendiri hari ini." Ujar Irna sambil mengedipkan matanya beberapa kali.


"Tapi aku tidak." Ujar Rian sambil tersenyum memelas.


"Pria kaya raya sepertimu, punya lebih dari sepuluh mobil mewah. Tapi malah tampil seperti gelandangan minta tumpangan?! ha ha ha! lucu sekali!" Ujar Irna tanpa menahan ucapannya.


"Ya ya aku akan mengantarmu nanti, tenang saja!" Ujar Irna sambil tersenyum mengembalikan berkasnya ke dalam kantor.


Irna hanya mengingat jika Rian selalu membantunya selama ini, walaupun awalnya hubungan antara keduanya begitu rumit.


Setelah menaruh berkas Irna kembali, melemparkan kunci mobilnya pada Rian. Pria itu segera menangkapnya dan naik ke atas mobilnya.


"Kamu akan pulang ke mana hari ini?" Tanya Irna setelah mereka berada di jalan.


"Ke rumahku." Ujarnya pendek.


Setelah sampai di rumah Rian gadis itu bergeser duduk di belakang kemudi.


Melambaikan tangannya ke arah Rian, membalikkan arah kemudi kembali pulang ke rumah.


Irna sampai di rumahnya jam empat sore.


"Rumah ini terlalu luas." Ujar Irna sambil melepaskan sepatu kemudian menenteng ke lantai atas.


Irna segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, lalu keluar dengan baju tidur.


"Sepertinya ada orang yang sedang berenang di kolam samping." Ujar Irna sambil berjalan melihat melalui tangga samping yang langsung menuju ke kolam renang.


Ternyata benar dan itu adalah suaminya. Fredian tersenyum melihat Irna duduk di tangga melihat ke arahnya.


Pria itu segera keluar dari kolam mengibaskan rambutnya, berjalan menuju ke arah istrinya. Lalu mengangkat tubuhnya masuk bersamanya ke dalam kamar mandi di dekat kolam.


"Aku sudah mandi tadi." Ujar Irna mencoba turun dari gendongan.


"Aku ingin mandi bersamamu." Ujarnya sambil mengecup keningnya.


Irna hanya tersenyum bergelayut di leher Fredian.


Fredian menurunkan Irna dari gendongannya seraya ******* bibirnya. Irna masih mengalungkan kedua tangannya di belakang leher suaminya itu.


Di bawah guyuran air hangat, Irna memekik dan meremas, karena ulah Fredian. Pria itu menelusuri tubuh Irna dengan jemarinya di balik gaun tidurnya.


Kemudian melemparkan gaunnya ke atas lantai.


"Sudah dua jam! aku tidak bisa berdiri lagi!" Teriak Irna membuat Fredian mengulum senyum, pria itu mengangkat tubuh Irna naik ke lantai dua, melanjutkan kembali di atas tempat tidurnya.


"Akhirnya selesai juga.. lima jam!" Desah Irna kembali mengatur nafasnya.

__ADS_1


Fredian tersenyum memeluk Irna di sebelahnya. Irna memainkan rambut yang terjatuh di kening Fredian.


"Entah kenapa aku selalu senang melihat wajahmu, melihat senyumanmu yang manis, melihatmu menatap wajahku setiap hari, aku tidak pernah merasa bosan sama sekali."


"Sejak usia kita sepuluh tahun, ataupun sekarang, tidak ada yang berbeda, bagiku kamu selalu menyenangkan." Ungkap Irna sambil menggosokkan kepalanya di dada Fredian.


"Kamu terlalu banyak tersenyum, itu terlalu manis! aku tidak akan bisa melepaskan pelukanku!" Tambah Irna lagi sambil memeluk erat tubuh atletis suaminya yang terbaring di sebelahnya.


"Kamu begitu manja belakangan ini apa ada sesuatu yang menyenangkan?" Tanya Fredian pada istrinya.


"Iya ada."


"Apa itu?!" Fredian terkejut langsung bangkit duduk.


"Bersamamu setiap hari, setiap waktu membuatku sangat senang!" Ujar Irna padanya.


"He he he." Gadis itu kembali terkekeh melihat wajah terkejut Fredian.


"Apa yang terjadi di kantor hari ini?" Tanya Fredian sambil mencium bibir Irna.


"Tidak ada yang spesial, hanya ada satu klien yang sedikit tidak normal." Ujar Irna pada suaminya.


"Maksudnya? tidak normal bagaimana?"


"Dia adalah pria yang kamu lihat kemarin, he he he." Irna mencoba tertawa tapi wajah Fredian tiba-tiba berubah masam.


"Aku mencium aroma yang tidak asing, melihat sinar di wajah suamiku sekarang adalah aroma cemburu." Ujar Irna masih memeluk pinggang Fredian.


Fredian mengusap kepala Irna, pria itu kembali tersenyum.


"Tidak perlu, aku percaya padamu, untuk lagi, dan lagi, dan lagi." Kembali merengkuhnya.


"Huaaaaaaa! huaaaaa!" Irna menangis sangat kencang.


"Eh, kenapa malah menangis?" Fredian kebingungan melihat Irna tiba-tiba menangis sangat kencang.


"Aku sangat terharu, dan semakin tidak ingin melepaskan pelukanku. Bagaimana ini, aku tidak tahan jika tidak melihat wajahmu sehari saja!" Ujar Irna sangat manja.


"Aku akan mengirimkan fotoku setiap dua jam sekali? atau satu jam sekali ketika aku berada di kantor."


"Hem eh." Gadis itu tersenyum mengusap air matanya dan kembali memeluk suaminya.


"Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, aku selalu bisa menghadapi segala hal sendirian. Kini aku merasakan sangat takut, ketakutan kehilangan pria di sebelahku saat ini."


"Dia selalu membuatku berada di tempat yang tinggi, tempat yang tidak bisa di jangkau oleh wanita lainnya. Aku sangat bahagia dan bahkan terlalu bahagia."


"Dia pria yang terlalu sempurna untukku dan dalam hatiku. Hanyalah dia satu-satunya. Takkan bisa tergantikan dengan yang lain." Bisik Irna di dalam hatinya.


Pagi itu Irna pergi langsung menuju kantor Arya Ardiansyah, pria itu mengelola beberapa perusahaan di bidang pembuatan besi dan baja.


Irna memarkirkan mobilnya di halaman perusahaan tersebut. Mereka berjanji bertemu jam delapan pagi. Dan sekarang jam delapan kurang lima menit.


Irna mengetuk pintu kantornya.


"Apa saya boleh masuk?" Tanya Irna pada seorang gadis yang saat itu berada di sana.


"Iya silahkan, apakah anda adalah Irna Damayanti?!" Ujar gadis itu dengan senyum renyah terukir di wajahnya.

__ADS_1


"Iya benar itu saya." Irna membalas senyumannya.


"Perkenalkan saya Adelia saya adik Arya, dan saya adalah penggemar berat anda!" Ujarnya sambil mengulurkan tangannya.


"Iya." Irna menjabat tangan Adelia.


"Oh kemarin kakak anda, ah maksudku Presdir Arya meminta saya untuk segera melihat lokasi." Ujar Irna pada Adelia.


"Mari saya antar." Tawar Adelia sambil menggandeng tangan Irna agar ikut bersamanya.


Irna melihat lahan sangat luas, di sana Arya sedang berbicara pada pekerja untuk menebang pohon membersihkannya lokasi.


Melihat Irna berdiri di sana dia segera melangkah mendekat.


"Kamu terlambat dua puluh menit!" Ujarnya sambil menunjuk arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Inikah caramu menyambut seseorang yang akan membuat tanah kosong menjadi sebuah kerajaan untukmu!" Ujar Irna tidak kalah sinis.


Irna mengulurkan gambar skema yang dibuatnya kemarin, gambar itu dibuatnya menurut analisanya dari mendengar seberapa luas lokasi yang akan dibangunnya itu.


"Wah kamu luar biasa!" Arya terkejut melihat skema yang ada di tangannya itu.


Adelia juga ikut tersenyum cerah melihat Irna begitu hebat.


Irna menunjukkan gambar dan lokasi yang sesuai, menjelaskan satu persatu pada Arya dengan sangat profesional.


Pria itu menanyakan beberapa hal yang tidak dia mengerti dan Irna kembali menjelaskan padanya.


Jawaban dan pengarahan dari Irna sangat disukainya. Itu terlihat dari wajahnya yang terus tersenyum tanpa henti karena merasa puas sekali.


Adelia sampai bingung, kakaknya bisa berubah sedrastis itu ketika bersama dengan Irna. Pria yang bahkan tidak pernah tersenyum sama sekali bisa berubah secepat itu.


"Bagaimana? apa ada yang masih ditanyakan?" Ujar Irna melihat wajah Arya menunggu jawaban.


Pria itu memegang dagunya sendiri masih berfikir.


"Hem, tidak ada, semuanya sudah sangat jelas!"


Arya sendiri tidak mengira jika gadis yang adu mulut beberapa hari terakhir dengannya adalah seorang gadis yang hebat.


"Dan desas desus tentang Irna Damayanti adalah benar, wanita ini selalu membuat takjub pria manapun. Dari kecerdasan, kecantikan, keluwesan, dan sikap profesional dalam segala hal yang rumit bisa dia atasi dengan cepat." Bisik Arya dalam hatinya.


"Kalau begitu saya permisi, dan kapan proses konstruksi akan dimulai?" Tanya Irna pada Arya.


"Setelah pembersihan lahan selesai." Ujar Arya.


Adelia senang sekali bisa bertemu dengan Irna hari itu.


"Baiklah saya akan menunggu anda menghubungi kantor saya." Gadis itu melambaikan tangannya pergi meninggalkan mereka berdua.


"Biarkan aku mengantarkanmu ke mobil!" Ujar Adelia sambil berlari kecil mengejar Irna.


Irna tersenyum, ketika Adelia menggamit lengannya.


"Irna Damayanti, dia langsung akrab dengan adikku? padahal mereka baru bertemu pertama kali." Arya menggelengkan kepalanya tidak mengerti.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2