Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Thrown


__ADS_3

Di dalam Reshort..


"Kapan kamu sampai London?" Tanya Fredian saat Nira menghambur memeluknya.


Fredian sedang duduk di sofa membaca surat kabar.


"Sepekan yang lalu." Gadis itu tersenyum. Lalu pandangan matanya beralih pada seorang wanita yang sedang sibuk menata berkas di meja Fredian.


Roknya menampilkan sebagian pahanya yang mulus dan putih.


"Kek?" Bisik Nira pada daun telinganya. Tidak ada yang tahu jika Fredian memiliki cucu. Pria itu terlihat tampan seperti sediakala tanpa ada keriput sedikitpun di wajahnya.


"Hem." Gumam Fredian santai sambil membalik surat kabar di atas pangkuannya.


"Tuh!" Nira menunjuk paha di depan matanya melalui isyarat matanya.


"Kenapa?" Tanyanya santai.


"Siapa dia?"


"Sekretaris baru." Gumamnya sambil tersenyum.


"Selera kakek berubah?" Nira menunjuk wajah Fredian.


"Selera yang mana Nira?" Gumamnya sambil mencubit ujung hidungnya.


"Dari Antoni ke itu? hahahaha!" Kelakar Nira sambil tertawa terbahak-bahak.


"Yang penting kan pekerjaannya beres." Gumamnya sambil tersenyum.


"Kek, aku membawa nenek kemari!" Bisiknya lagi sambil menahan tawa, melihat wajah Fredian mendadak berubah pucat.


"Kenapa tidak bilang sejak tadi?! dia dimana sekarang?" Tanyanya buru-buru.


"Hemmm, mungkin sedang berjalan menuju kemari?" Nyengir menatap Fredian kelabakan.


Bagaimana jika Irna melihat penampilan sekretaris barunya. Fredian masih bingung apa yang harus dia lakukan.


Tak sampai dua detik suara denting langkah kaki khas terdengar menyapu seluruh ruangan.


Irna menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, pandangan matanya tertuju pada wanita seksi yang masih memamerkan tubuhnya di samping meja Fredian.


Irna tersenyum menatap Fredian, terlihat jelas isi hati pria itu. Agar dia tidak salah faham dengan pemandangan di depannya itu.


"Sepertinya aku salah masuk." Melenggang berbalik keluar dari dalam ruangan Fredian.


"Hahahhahha!" Gelak tawa Nira meledak seketika.


"Jadi begini kisah antara nenek dan kakek? hahahaha!" Kembali terpingkal-pingkal menatap Fredian bergegas berlari mengejar Irna.


"Hei kau!" Teriak Nira pada wanita yang menjadi sekretaris Fredian.


"Kamu memanggilku?" Tanyanya sambil tersenyum menatap wajah Nira mengejek, pandangan matanya seperti menilai dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Apa-apaan ini? dia pikir penampilan tomboyku ini mengerikan?! belum tahu saja dia saat aku memegang Reshort ini! aku sentil dia keluar dari sini!" Gerutunya di dalam hati.


"Iya kamu!"


"Kenapa?" Tanyanya dengan wajah sombong.


"Pekan depan aku akan mengambil alih Reshort ini, kamu perbaiki bajumu! lihat itu seperti telanjang? apa kamu tidak malu sama sekali berpenampilan seperti ini?"


Menunjuk ke arahnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kamu siapa? anak kecil kemarin sore mau mengambil alih? kamu pikir aku akan percaya pada ucapan konyolmu barusan?"


Memainkan rambutnya lalu melenggang santai membawa berkas keluar dari dalam ruangan kerja Fredian.


"Dasar penggoda!" Umpat Nira pada wanita itu.


Irna duduk di lobby Reshort, Fredian mendapatinya berada di sana hatinya merasa lega.


"Aku pikir kamu pergi!" Ujarnya sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


"Oh! apa aku memang harus kembali saja?" Bertanya sambil tersenyum manis.


"Tidak boleh!"


Memegangi lengannya lalu menariknya ke dalam pelukannya. Air matanya mengalir membasahi bahu Irna.


"Aku membuatmu menangis? sudah berapa lama?"


Fredian tidak menjawab pertanyaan darinya, pria itu sepertinya tidak mau melepaskan pelukannya.


Maya sekretaris Fredian melangkah mendekat ke arah Irna yang masih berada di pelukan hangat Fredian. Entah mendapat keberanian dari mana sehingga dia memanggil Presdirnya tersebut.


Padahal resepsionis di depannya sudah menghentikan langkahnya untuk memperingatkan, agar sementara tidak bertanya ataupun mengganggu ketika dokter Kaila Elzana datang ke sana.


"Presdir, ini berkas penting yang harus anda tanda tangani untuk meeting satu jam lagi." Ujarnya sambil menunduk memamerkan tubuh jenjangnya.


"Fredian tidak bergeming, dia tidak mau melepaskan pelukannya pada Irna."


Irna tersenyum lalu mengambil berkas tersebut dan sengaja menjatuhkan kertas tersebut di bawah kakinya kemudian menginjak dengan sepatu high heelsnya.

__ADS_1


"Ah maaf tanganku licin." Tersenyum dingin menatap wajah Maya.


"Kamu dengan sengaja menjatuhkannya! Presdir wanita ini sengaja membuang berkas penting untuk rapat satu jam lagi."


Memasang wajah memelas pura-pura tertindas.


"Batalkan meeting, atau undur sampai nanti sore. Berkasnya kamu cetak lagi yang baru!" Ujarnya pada Maya.


Mata Fredian masih terus menatap wajah Irna tanpa menoleh ke arah Maya sekretaris barunya itu.


"Tapi Presdir ini rapat penting!" Serunya lagi.


"Wanitaku lebih penting!" Sahutnya segera.


Mau tidak mau Maya segera pergi mencetak berkasnya kembali.


"Fred lepaskan pelukanmu." Sudah berapa banyak karyawan berlalu lalang melihat mereka berdua di lobby Reshort.


"Aku malas melepaskannya." Bisiknya di telinga Irna.


Irna merasakan suhu tubuh pria itu sudah tidak terkendali Irna tidak ingin terjadi hal seperti waktu bertahun-tahun lalu.


"Aku sampai lupa untuk memberikan ini."


Irna mengeluarkan berkas dari dalam tasnya kepada Fredian.


"Apa ini?" Fredian membuka amplop tersebut kemudian membaca isinya.


"Berikan ini kembali padanya." Mendadak wajah Fredian berubah tidak senang.


"Dia yang menyuruhmu untuk memberikan ini padaku? apa kamu tahu apa isinya?!" Berteriak di depan Irna.


Irna kemudian melihat isinya dan mulai membacanya.


"Surat cerai.." Irna membungkam bibirnya sendiri.


Gadis itu berlari menuju mobilnya, kemudian kembali ke rumah Rian.


"Lihat! kamu bahkan berlari seperti itu... pergi kembali padanya." Gumam Fredian sambil tersenyum getir melihat gadis yang dicintainya menghilang dari pandangannya.


Di rumah Rian..


"Rian! Rian?" Irna mencarinya kesana-kemari, tapi tidak menemukan keberadaan dirinya.


"Kemana perginya?"


Irna bertanya pada para pelayan tapi tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan darinya.


Gadis itu kemudian masuk ke dalam kamarnya dengan langkah lesu.


"Kamu mencariku?" Rian masuk ke dalam kamar, pria itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Apa ini?" Irna mengangkat amplop tersebut di depan wajah suaminya.


"Bukankah seharusnya kamu sudah tahu?" Ujarnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


"Rian! ini bukan permainan. Aku tidak akan menandatangani surat ini." Ujar Irna sambil melemparkan tasnya ke arah kepala Rian, pria itu dengan sangat cekatan menangkapnya.


"Ah kamu hampir saya menggores wajah tampanku!" Serunya seraya mencermati wajahnya di depan cermin.


"Aku memiliki batas waktu, tapi kalian tidak. Aku hanya membuat itu untuk berjaga-jaga jika suatu saat aku tiba-tiba pergi."


Ujarnya seraya mengoleskan krim pada wajahnya.


Irna duduk di tepi tempat tidurnya sambil cemberut. Dia masih kesal atas tindakan Rian barusan. Bisa-bisanya dia mengirim dirinya agar pergi menemui Fredian sambil membawa surat cerai di tangannya.


"Kenapa kamu marah? seharusnya kamu bahagia bisa bersama dengannya seperti awal semula."


"Bolehkah aku masuk?" Fredian sudah berada di ambang pintu.


Rian berbalik sambil tersenyum.


"Masuklah.. "


"Aku ingin dia pergi padaku atas kemauannya sendiri, bukan atas perintahmu." Ujar Fredian terang-terangan.


"Dia keras kepala, dia tidak mencintaiku! tapi dia tidak akan pernah pergi kecuali dengan membawa surat itu." Tandas Rian sambil berkacak pinggang.


"Astaga! kalian masih saja meributkan ini seolah-olah aku tidak berada di sini?" Irna berdiri sambil berkacak pinggang menatap mereka berdua bergantian.


"Lalu bagaimana sekarang?" Fredian masih mengacuhkan Irna.


"Bawa dia." Rian memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Rian! apa kamu sudah gila? apa kamu pikir aku mesin? yang bisa kamu pakai lalu kamu lempar ke tempat lain?!"


"Kamu mencintainya sampai sekarang. Kamu masih mencintainya. Apa kamu pernah memberikan hatimu padaku selain menganggapku sebagai teman?"


Irna terdiam mendengar pria itu berkata demikian. Rian mengeluarkan seluruh isi hatinya.


"Kamu yakin? kamu yakin membiarkan aku pergi bersamanya? bagaimana denganmu? bagaimana dengan Kania?"


Teriak Irna, Irna jatuh terduduk di lantai, kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya. Tak lama setelah itu gadis itu terhuyung-huyung pingsan.

__ADS_1


Melihat Irna terjatuh Rian spontan berlari mengangkat tubuhnya. Kemudian melangkah mendekat ke arah Fredian.


"Apa?" Fredian tidak mengerti kenapa Rian menggendong Irna lalu berdiri di depannya.


"Kemarikan kedua tanganmu!"


Fredian kemudian mengulurkan tangannya,


"Bawa dia pergi!" Perintahnya pada Fredian.


Fredian menerima tubuh Irna, tapi dia tidak membawanya pergi. Fredian meletakkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


"Bawa dia pergi!" Teriak Rian pada Fredian.


"Dia akan membunuhku saat bangun nanti! kamu pikir semudah itu membawanya pulang seperti membawa gadis biasa ke rumah?!" Teriak Fredian sambil berkacak pinggang.


"Lalu harus bagaimana?" Tanya Rian bingung.


"Biarkan saja dia tetap di sini." Ujar Fredian santai.


"Tapi aku sudah menceraikannya!" Teriak Rian tidak sabar.


"Itu urusanmu! jadilah temannya seperti dulu kalau kamu tidak mau menyentuhnya. Seharusnya kamu tanyakan dulu padanya saat memutuskan hubungan. Bukan semaumu sendiri."


Sergah Fredian sambil menggelengkan kepalanya.


Dua jam kemudian Irna terjaga dari pingsannya. Dia tidak melihat Rian dan Fredian. Mereka sudah pergi.


"Apa dia memasukkan obat pada sarapanku pagi ini? pria itu benar-benar ingin melemparku kembali. Apa dia menganggap pernikahan adalah permainan? dasar sialan!"


Irna kembali memakai jas dokternya, lalu mengambil kunci mobilnya. Gadis itu mengendarai mobilnya menuju ke Rumah sakit untuk bekerja seperti biasa.


"Selamat pagi dokter Kaila..." Sapa seorang pria muda yang baru masuk bekerja pada rumah sakit tersebut.


"Hem." Irna tersenyum membalas sapaan anak muda tersebut.


Rian baru saja keluar dari dalam ruangan operasi. Dia melihat wajah Andi tersenyum sangat manis sedang berbicara dengan Irna. Irna juga tertawa terpingkal-pingkal mendengar pria itu berkelakar


Rian berjalan melalui mereka berdua tanpa menegur sama sekali.


"Ada apa dengan dokter Rian?" Andi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Irna hanya mengangkat kedua bahunya menjawab pertanyaan dari Andi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Irna padanya.


"Kantin, saya belum sarapan tadi." Ujarnya sambil menunjuk arah menuju kantin.


"Kalau begitu sekalian kita ke sana sama-sama."


"Ah, iya mari dokter.." Andi mempersilakan Irna.


Bagi Irna Andi seperti cucunya, dia berniat memperkenalkannya kepada Nira.


Belum sampai sepuluh menit Irna menikmati makanan ponselnya sudah berdering nyaring.


"Bukankah aku memintamu agar menerima Fredian? kenapa malah mencari pria muda yang tidak berpengalaman!"


Mendengar itu Irna sangat geram, dengan kasar dia menancapkan garpu di atas makanannya.


"Hahahaha! tuan Presdir! kamu lucu sekali! Tut! Tut! Tut!" Irna tertawa lebar kemudian langsung mematikan ponselnya.


"Ah, apa itu tadi suami anda? sepertinya saya harus kembali Dokter." Andi segera berdiri dari kursinya karena dia melihat Rian melotot di belakang punggung Irna.


"Kamu mau kemana? aku belum selesai bicara!" Irna berdiri menahan tangannya.


"Maaf dokter, saya buru-buru."


Andi segera melepaskan tangan Irna dan berlari membawa piringnya.


Rian menyentuh kedua bahunya dan menekannya kembali duduk di kursi.


"Pantas saja dia kabur! ternyata mantan suamiku berada di sini! jraak!" Geram Irna kembali menancapkan garpunya di atas makanannya kemudian menyumpal bibir Rian dengan makanan tersebut.


"Aku mencari calon cucu menantu! jangan berfikir yang tidak masuk akal Presdir! hup!"


Kembali menyumpal mulut Rian dengan makanan. Irna tidak membiarkan pria itu berbicara sama sekali.


Irna kemudian bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju ruangan kerjanya.


Rian mengejarnya, mengikutinya masuk ke dalam ruangan.


"Sraak! sraaak!" Irna membalik berkas di atas mejanya lembaran demi lembaran.


Rian ingin mengatakan sesuatu tapi dia menahannya. Tiga jam berlalu, Irna mengambil tasnya kemudian keluar dari dalam ruangan menuju mobilnya.


"Kaila! tunggu!" Irna berlalu dari hadapannya. Dia mengabaikan teriakan Rian.


Gadis itu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah sakit.


Irna juga tidak berniat pulang ke rumah Rian. Dia pergi ke rumah lamanya, Irna turun dari dalam mobilnya merasa nyaman melihat rumah mungil itu.


Irna membuka kunci rumahnya kemudian melangkah masuk ke dalam.


Gadis itu membereskan beberapa barang yang sudah tidak bisa dipakai lagi menggantinya dengan perabotan baru.

__ADS_1


"Pada akhirnya aku kembali ke sini." Irna menjatuhkan tubuhnya di atas sofa kemudian tertidur.


Bersambung..


__ADS_2