
"Hei tunggu Aku! Aku bukan pria ingusan!"
Teriaknya saat Irna bergegas meninggalkannya. Wanita itu melenggang pergi meninggalkan ruangan yang berisi tempat tidur tersebut.
"Siapa yang akan tahan berlama-lama bersamamu? Ini sama saja hanya membuang waktuku dengan percuma." Ucap Irna, dia berjalan sambil menyeret ujung pedangnya di lantai.
Menimbulkan suara berderit di sepanjang langkahnya.
"Aku sendiri mulai ragu! Bagaimana mungkin aku telah jatuh cinta kepada wanita mengerikan seperti itu?" Dia tidak habis pikir karena tiba-tiba Irna telah berubah total! Sangat berbeda dengan Irna yang dikenalnya selama ini.
"Aku bilang kamu harus berhenti! Jika kamu melangkah lebih jauh lagi aku tidak akan segan-segan!" Fredian mengepalkan tangannya.
Mendengar ancamannya Irna segera menoleh. Menatap tajam dengan pandangan mata siap membunuh.
Gadis itu secepat kilat melesat menghampirinya. "Apa kamu bilang? Coba katakan sekali lagi! Dasar pria bodoh! Aku menyelamatkan nyawamu bukan untuk ini!"
"Aku tidak akan segan-segan untuk melakukannya." Tahan Fredian sambil menghardik pada Irna.
Dia segera menyeret lengannya kembali masuk ke dalam kamarnya.
Fredian berhasil merebut pedangnya dari genggaman tangannya. Dia menghujami wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi.
Fredian menarik seluruh pakaian Irna dengan kasar, lalu melemparkan ke lantai.
"Apa yang kamu lakukan! Tunggu dulu! Kau pria kurang ajar! Pria tidak tahu malu!"
Irna kebingungan menutupi tubuhnya dengan bantal, karena sekarang tubuhnya tidak terbalut seutas benang sama sekali.
Fredian kemudian membuka sendiri seluruh pakaian yang dipakai olehnya.
Bersiap mencumbui tubuh Irna, dia meraih bantal yang menutupi tubuh wanita itu, membuang semuanya ke bawah tempat tidurnya berserakan di atas lantai.
"Kamu sudah gila? Lepaskan aku!" Teriakan Irna tidak digubris olehnya. Pria itu terus melanjutkan aksinya tanpa henti.
"Kamu pria asing! Aku tidak mengenalmu! Apa yang kau lakukan!" Teriak Irna ketika Fredian membuka paha mulusnya lebar-lebar lalu dengan gencar memagutnya, memagut area sensitif Irna.
"Akkkkkhhhh. Hentikan.. akkkhhh... Akkhhh..." Irna belingsatan meremas-remas kepala Fredian yang sedang sibuk mencumbuinya.
Fredian sengaja menggigit benjolan kecil yang ada di belahan bibir terlarangnya. Menari-nariknya sambil masukkan lidahnya pada lubang yang telah basah di sana.
"Akkkhhh, hentikan.. akkhhh.. aku bukan wanita murahan.. akkhh.. aku istri raja Eroine..."
Teriakan Ira membuat Fredian semakin gila! Semakin gencar memagut area tersebut. Dia sakit hati sekali karena Irna terus-menerus menyebut namanya.
Membuat Irna semakin belingsatan menahan semua ulahnya.
"Kamu istriku!" Desisnya di telinga Irna sambil menancapkan tonggak senjata miliknya ke dalam bibir di antara kedua paha mulusnya dan mengocoknya menghentak-hentakkan pinggulnya ke depan.
__ADS_1
"Akkh! Akkkkh! Akkkh! Ahhhhh.. ahh!" Drama untuk 11 orang Irna mendesah merasakan kocokan kasarnya, dia tidak bisa menguasai dirinya.
Membiarkannya pria itu menikmati area sensitifnya.
"Kamu pria nakal... Akkhhh. Uuhhh.. mmmmhhhh.. "
"Clak! Clak! Clak! Clak!" Suara lendir bercampur gesekan kedua organ intim tersebut memenuhi ruangan kamarnya.
Fredian memagut bibir Irna, untuk menghentikan jeritan desahannya.
Sampai hampir enam jam Fredian terus menerus bergumul dengannya tanpa henti. Karena setiap selesai klimaks Irna berniat untuk kabur darinya.
"Biarkan aku pergi!" Pintanya untuk ke sekian kalinya, dia sudah mengucapkan itu berkali-kali pada Fredian untuk melepaskan ciumannya.
Kesepuluh kalinya juga pria itu terus menerjang yang mengajaknya kembali bermain.
"Kamu benar-benar pria nakal!" Jerit Irna manja memukuli lengannya.
Fredian tersenyum manis sambil mengigit bahu kanan Irna, lalu mengangkat satu kakinya ke atas, pinggulnya menghentak-hentak dari belakang tubuhnya.
"Ahhhhh... Emmmhhh... Ssshhh....ooouuhhh.."
"Kapan kamu akan melepaskan pelukanmu... Akkhhhh.... Mhhh.. "
"Tidak akan pernah!"
"Kamu menikmatinya... Hmmm?" Bisiknya di telinga Irna.
"Geli sekali... Akkhhhh.... Akkh.. kamu hebat sekali memainkan-ku di atas ranjang..."
"Kamu puas dengan pelayananku?" Fredian tersenyum merasa dirinya mendapat penghargaan sebagai pria tangguh.
"Iya. Tapi.."
"Tapi apa?"
"Tapi aku tidak ingin menjadikanmu sebagai simpananku! Aku punya suami...akkkhh, akkhh.. kenapa aakkhh.. Uhhhhh...!" Fredian gemas sekali, lagi-lagi Irna berkata kalau dia bukan pria satu-satunya.
"Aku satu-satunya yang akan selalu berada di atas ranjang-mu!" Geramnya sambil terus menghentak-hentak pinggangnya ke depan, kembali bermain di atas tubuh Irna dengan kasar.
"Akkkhhhh.. mhhhh.. " Irna bergelayut mesra mengalungkan tangannya di belakang leher pria itu. Menikmati setiap hujaman bertubi-tubi sambil memagut bibir tipis Fredian.
"Akkkhhhh... Kamu sangat tampan.. mmmhhhh.. mmhhh.. awhhh. Kamu juga hebat.." Irna mengangkat pinggulnya naik turun menikmati tusukan-tusukan lembut senjata milik Fredian.
"Aku senang sekali bisa membuatmu puas sayang. Akkkkkhhhhhhh ooohhh!" Fredian akhirnya roboh menimpa tubuh Irna yang ada di bawah tubuhnya.
"Hei jangn menindih-ku seperti ini!" Teriak Irna padanya, sambil mendorong tubuh Fredian ke samping kiri.
__ADS_1
"Kau mau kemana? Ini sudah petang Irna?" Fredian masih terengah-engah mengatur nafasnya. Pria itu menggenggam kedua tangannya.
"Aku adalah kelelawar malam, kamu tidak mengenalku? Mulai saat ini aku akan datang padamu! Untuk ini, tapi aku bukan tahananmu. Aku ratu Vertose, penguasa alam vampir." Irna meraba senjata milik Fredian menciuminya bertubi-tubi.
"Tetaplah bersamaku, aku akan melayanimu sampai kamu puas!" Fredian meraba bongkahan kenyal yang tengah bergelayut di depan wajahnya.
"Akkkhhh.. mmhhh!" Irna mendesah karena Fredian kini menarik pinggangnya agar duduk di atas pangkuannya. Memagut bibirnya dengan lembut.
"Tidak sekarang, aku harus pergi pangeran Welrent." Irna melepaskan ciumannya beranjak dari atas pangkuan Fredian, menarik pinggulnya turun.
"Kenapa kamu pergi? Apa kamu kurang puas dengan pelayananku hari ini sayang?" Fredian memeluknya erat dari belakang, mengusap area sensitifnya di antara kedua pahanya.
Irna sedang merundukkan badannya mengambil bajunya dari atas lantai. Fredian sengaja memasukkan jemari tangannya mengocok-ngocok area sensitif Irna perlahan.
"Kamu akkkhhh. .. mmmhhhh.. Irna terhuyung-huyung bersandar ke belakang, pada dada Fredian. Memegangi lengan Fredian yang masih sibuk memainkan jemarinya di sana.
"Kenapa kamu tidak membiarkan aku berpakaian.. aaakkkhhh.. mmmhhh" Irna terus mendesis, Fredian mengangkat satu kaki mulusnya agar bertumpu pada tepi tempat tidurnya. Hingga dia leluasa untuk terus menusukkan jemari tangannya.
Lendir Irna mulai membanjir, hingga turun ke pangkal pahanya. Fredian bersiap memangsa kembali, senjata miliknya telah tegak berdiri ingin menghujam ke dalam area yang sudah basah dengan lendir.
"Tetaplah di sini oke?" Pintanya sambil menciumi lehernya.
"Aku tidak bisa aaaakkkkhhhh... aku janji akan ke sini lagi, untuk mencarimu tapi aku hari ini harus pergi."
"Kemana? Bawalah aku pergi bersamamu!" Mengocok semakin kuat.
"Tidak bisa, kamu tidak boleh mengikutiku, itu sangat berbahaya! Aku tidak ingin melihat kamu terluka lagi."
"Kenapa aku tidak boleh terluka? Fredian penasaran dengan ucapannya barusan.
"Karena kamu sangat penting bagiku sekarang! Untuk melayaniku.. uuuhhhh!"
"Aaaakk.. mmmhhh.... Ahh..."
Irna benar-benar menikmati permainannya, gadis itu meremas-remas punggung Fredian.
"Aku tahu kamu pasti menyukainya." Bisiknya di telinga Irna lagi.
"Akkkhhh mmmhhh. Akkkkkhhh... Aku klimaks lagi... Aakkhhhh.." Irna memekik sambil menggigit leher Fredian, hingga membekas merah di sana.
"Kamu benar-benar membuatku puas hari ini!" Desis Irna di telinga Fredian.
Pria itu masih bertumpu dengan kedua tangannya di tepi tempat tidurnya, menghujami area sensitif Irna bertubi-tubi.
Gadis itu setengah duduk menyangga tubuhnya kebelakang dengan kedua sikunya, dia membuka kedua pahanya lebar-lebar untuknya.
Bersambung...
__ADS_1
Tinggalkan like sebelum pergi vote juga ya untuk dukung author terus berkarya, sampai jumpa di episode selanjutnya...