Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
King of Eroine


__ADS_3

"Kita jangan terburu-buru!" Ujar Fredian pada Rian. Dia masih belum yakin kalau Irna benar-benar telah pergi ke Belanda saat marah dengannya pagi ini.


"Apa maksudmu?" Rian menghentikan langkahnya, dia menatap wajah Fredian.


"Kamu tahu, aku bisa mendengar suara Irna dari jarak bermil-mil? Aku akan mengetahui keberadaan dirinya tidak lama lagi. Hanya saja pagi ini aku terlalu marah pada kalian berdua. Jadi instingku sedikit tidak berjalan dengan normal."


Fredian melepaskan lengan Rian, pria itu melangkah keluar. "Aku akan kembali, dan melacak keberadaan dirinya. Nanti aku kabari jika aku sudah menemukan keberadaan dirinya."


Rian hanya menganggukkan kepalanya. Dia berharap Fredian segera memberikan kabar padanya tentang keberadaan Irna sekarang.


Fredian akhirnya meninggalkan rumah sakit menuju ke tempat parkiran. Di mana mobilnya berada sekarang.


Setelah menaiki mobilnya, pria itu melajukan kendaraannya menuju ke sebuah tebing. Dia kembali merasakan getaran-getaran halus mengenai keberadaan Irna tak jauh dari tempatnya sekarang berdiri.


Instingnya benar, pria itu melihat seorang gadis berdiri di ujung tebing membawa sebuah sabit bulan di genggaman tangan kanannya.


Dia tahu itu adalah Irna melihat dari penampilannya, gaun warna biru jernih melambai-lambai tertiup angin senja.


Gadis itu berdiri memunggunginya menghadap ke arah hutan, yang berada di bawah tebing. Tepatnya di dasar jurang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Irna bisa mendengarkan suara derap langkah kaki mendekat ke arahnya. Gadis itu tersenyum dengan menarik salah satu ujung sudut bibirnya.


Seakan-akan dia mengetahui kegelisahan perasaan pria itu yang kini penuh rasa sesal, begitu sibuk mencari dirinya untuk meminta maaf.


Irna sengaja tidak membalikkan badannya. Gadis itu tidak ingin menyambut kedatangannya, dia tetap pura-pura tidak mengetahui jika pria itu telah menemukan dirinya.


"Untuk apa kamu kesini? bukankah kamu tengah sibuk untuk menerka-nerka perasaanku terhadap Rian?" Bisik Irna pelan sekali, dia tahu Fredian bisa mendengarkan suaranya nggak jarak sejauh itu.


"Irna maafkan aku, bisakah kita kembali sekarang bersama ke rumah?" Rengeknya sambil terus mendekat ke arahnya. Irna tersenyum getir mendengar ucapan bibirnya.


Dia tahu suatu saat nanti pria itu akan cemburu lagi padanya dan kembali memarahinya.


"Irna, apa kamu masih marah padaku sekarang? Mohon maafkanlah aku, Aku janji tidak akan mengulanginya!" Ujarnya dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Irna kembali tersenyum tipis mendengar ucapan tersebut dia masih tidak yakin jika Fredian tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


"Seandainya kamu tahu bahwa aku tidak pernah berpaling sekalipun dari cintamu. Aku selalu menginginkan kebersamaan kita berdua." Ungkap Irna seraya menundukkan kepalanya melihat ke dasar jurang yang berada tepat di depan kakinya. Gadis itu tersenyum memainkan kakinya di bibir jurang.


Satu langkah saja, kakinya akan siap terjun sampai ke dasar jurang.


"Aku tahu dan aku menyesal telah menuduhmu yang bukan-bukan! Ayo kita pulang sekarang?" Ajaknya pada Irna. Akan tetapi gadis itu masih tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


Dia tetap tegak berdiri di ujung tebing, masih tetap membelakanginya. Dia bahkan tidak memiliki niat membalikan badannya, untuk menatap kembali wajah Fredian.


"Pulanglah duluan!" Bentak Irna padanya. Irna mendengar derap langkah segerombolan monster mendekat ke arahnya. Irna memicingkan matanya, dia melihat semak-semak bergerak semakin lama semakin mendekat ke arahnya.


Fredian tahu Irna tengah menunggu sesuatu, pria itu segera melesat meraih pinggangnya. Membawanya terjun ke dasar jurang. "Diamlah!" Perintahnya pada istrinya itu ketika Irna meronta mencoba melepaskan diri darinya.


Fredian melesat turun, mereka berdua mendarat di dasar jurang dengan selamat.


"Kenapa kamu membawaku turun!" Sergah Irna kesal sekali,


"Apa aku akan membiarkan wanita yang aku cintai mati kesekian kalinya?! Di depan mataku! Aku hampir gila karenanya!" Fredian tidak habis pikir jika Irna malah menyalahkan dirinya karena telah menyelematkan dirinya.


Meninggalkan Fredian yang masih berada di bawah tebing. Pria itu kesal sekali, lalu dia kembali naik ke atas. Dia tidak mendapati Irna berada di sana.


Irna menyerahkan dirinya pada para monster itu. Irna ingin tahu kemana mereka akan membawa dirinya pergi.


Hanya itu jalan satu-satunya untuk mengetahui dalang di balik kejadian tersebut.


Mereka membawa Irna ke dalam sebuah kastil tersembunyi di tengah hutan. Di sana ada seorang memakai pakaian mewah, seperti pangeran.


Awalnya Irna pikir monster tersebut berasal dari negara Holland, dan mantra-mantra itu berasal dari sana.


Tapi dugaannya benar-benar keliru, para monster itu sengaja ingin membawanya ke kastil. Untuk menolong seseorang yang sedang berbaring di sana. "Kenapa kalian membawaku kemari?"


"Selamatkan Raja Eroine, Ratu." Monster tersebut berlutut di bawah kakinya.

__ADS_1


"Astaga! Kalian datang bukan untuk membunuhku?" Tanya Irna pada mereka.


Dia melihat seluruh monster tersebut bertekuk lutut padanya. Seakan-akan tunduk dan patuh dengan perintahnya. "Apa ini? Aku pikir Derent yang melakukan semuanya untuk membalas dendam. Tapi malah murni monster klan lain!"


"Apa yang kalian berikan padaku? Jika aku berhasil membuatnya bangun?" Tanya Irna pada para monster itu.


"Kami akan menjadi pengikut anda! Kami siap membawa pasukan kami jika anda mengibarkan bendera perang!" Ucapnya sambil menatap wajah Irna dengan tatapan mata serius.


Irna perlahan melangkah mendekat ke arah peti mayat tersebut. Dia mulai melihat mayat yang terbaring tak bernyawa di sana.


Gadis itu meletakkan tangannya di atas peti kaca tersebut, peti tersebut bergerak, tutupnya bergeser perlahan ke samping.


Mayat itu bangkit, mayat monster yang berwujud tulang kerangka. Matanya merah menyala.


Mayat tersebut sudah berupa kerangka karena telah beristirahat lebih dari seribu tahun. Dia menatap ke arah Irna dengan tatapan tajam.


Setelah bangkit tubuhnya perlahan-lahan pulih, dagingnya kembali utuh tanpa luka sama sekali.


Dia melihat ke arah para pasukannya, lalu beralih ke arah Irna.


"Siapa kamu? Pemilik bunga kristal es?"


"Dia ratu Vertose raja!" Ucap salah seorang pengawal kastil, padanya.


"Kenapa kamu membangkitkan mayatku?" Tanyanya pada Irna, karena dia dahulu adalah musuh kerjaan Vertose.


Raja vampir itu binasa dan beribu-ribu tahun berada di kondisi tersebut karena bertempur dengan pemilik kerajaan Vertose pemilik bunga kristal es.


Dan dia bisa bangkit juga karena Irna merupakan generasi penerus bunga kristal tersebut. Tanpa itu dia akan selama-lamanya terbaring menjadi tulang belulang.


Irna mengeluarkan catatan mantra yang dibawanya kemarin. Dia menunjukkan kertas tersebut pada raja Eroine.


"Kerajaan Holland?!" Ujarnya sambil menatap wajah Irna. Gadis itu segera menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung...


Tinggalkan like sebelum pergi+Vote juga ya untuk dukung author terus berkarya? Terima kasih Readers...


__ADS_2