Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
The wound


__ADS_3

"Kenapa aku jadi sesial ini??" Gerutu Irna sambil menyambar jas dokternya, lalu melangkah keluar menuju ruangan operasi.


Gadis itu mulai menangani proses operasi, beberapa jam berlalu. Irna melihat ke arah jam dinding ini adalah proses operasi ke lima-nya. Setelah itu baru dia bisa pulang.


Pukul tiga dini hari, "Apakah Fredian akan memarahiku lagi? aku harus lembur satu bulan penuh gara-gara gaji tiga kali lipat itu!" Irna meregangkan otot bahunya beberapa kali setelah operasi tersebut berakhir.


Beberapa asistennya terlihat puas karena operasi kelima kalinya pun berlangsung lancar tanpa hambatan yang serius sama sekali.


Julukan Irna sebagai seorang dokter yang hebat dalam ahli bedah, tidak diragukan lagi oleh seluruh pasien VIP rumah sakit tersebut.


Setelah beberapa hari berlalu, nama Kaila Elzana kembali melejit di dunia kedokteran. Menambah popularitasnya.


Sudah satu bulan berlalu,


Hari ini adalah hari terakhir Irna bekerja lembur. Gadis itu meneguk sebotol minuman ringan seraya meluruskan kakinya di kursi lorong rumah sakit.


Dia menyandarkan kepalanya di dinding, mengatur nafasnya. "Begitu lelah?" Rian berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Hah! kamu keterlaluan sekali!" Hanya itu yang bisa dikatakan Irna, gadis itu masih memejamkan matanya karena lelah sekali.


"Triiing! triiing!" Suara dering ponsel Rian terdengar nyaring sekali.


"Halo?" Rian mengangkat ponselnya. Pria itu melihat ke arah Irna, dia segera merubah panggilan ke video call untuk menunjukkan di mana Irna sekarang.


"Kamu antar dia pulang nanti. Kenapa kamu membuatnya kelelahan seperti itu?" Fredian terhenyak dari tempat duduknya melihat Irna sedang meluruskan kakinya, mendengar suara suaminya dia segera berdiri di sebelah Rian melambaikan tangannya.


"Halo sayang!" Wajahnya mendadak berubah cerah.


"Irna! kalian terlalu dekat!" Teriak Fredian sambil memijit keningnya sendiri melihat Irna memegangi bahu Rian.


"Kamu cemburu? lagi? sama pria ini?!" Irna menunjuk wajah Rian di sebelahnya lalu mencolek pipinya dengan sengaja sambil nyengir ke arah Fredian.


Rian melotot menoleh ke samping kanan melihat Irna cengar-cengir tanpa beban sama sekali, "Apa dia pikir pipiku ini sabun colek?!" Geramnya kemudian mendorong kepala Irna menjauh dari wajahnya.


"Aku akan mengantarkan dia pulang, seperti maumu." Ujar Rian pada Fredian.

__ADS_1


"Oke cepat antar dia pulang sekarang." Ujar Fredian masih mengusap wajahnya sendiri melihat kelakuan Irna yang tidak berubah sama sekali sejak dulu hingga kini.


"Kamu mau mengantarku pulang?" Tanya Irna sambil menyambar tasnya setengah berlari mengikuti Rian dari belakang punggungnya. Pria itu melangkah lebar menuju parkiran mobil.


Sepuluh langkah lagi mereka sampai dimana mobil Rian diparkir.


"Tunggu!" Irna sekejap merubah penampilannya. Gadis itu mengeluarkan sabit bulan miliknya lalu melemparkan ke arah mobil Rian.


"Kamu ingin menghancurkan mobilku?!" Teriak Rian pada Irna, gadis itu menggeleng cepat. Sambil menunggu, sabit bulan miliknya terus berputar-putar mengelilingi mobil Rian.


Irna menyeret tubuh Rian menjauh mundur ke belakang dengan gerakan cepat, lima detik kemudian terdengar suara ledakan.


"Duarrrrr! booomm!" Mobil Rian meledak, Irna menarik Rian hingga posisi tiarap. Untungnya malam itu parkiran rumah sakit sedikit sepi. Karena parkiran tersebut khusus untuk dokter yang memiliki jabatan tinggi di rumah sakit. Termasuk Irna.


Irna segera membuat pilar di seluruh area tersebut, agar tidak ada manusia yang tiba-tiba masuk ke area berbahaya itu. Juga untuk meredam suara ledakan di sana.


"Kamu tidak apa-apa?!" Tanya Irna sambil menarik tangan mantan suaminya itu berdiri.


Sabit bulan miliknya terus berputar-putar hingga mengenai sesuatu yang tidak bisa dilihat olehnya.


"Apa itu?" Rian segera melangkah ke arah mahluk tersebut.


"Rian tidak! jangan!!" Sabit bulan milik Irna belum kembali, itu artinya masih banyak mahluk mengerikan yang mengincar nyawanya sekarang.


Gadis itu segera melesat ke hadapan Rian merentangkan kedua tangannya.


"Jleb! craaasshhhhh! Uhk! ukh! byuuur!" Darah segar menyembur keluar dari bibirnya. Gadis itu jatuh ke belakang, sabit miliknya terus terbang menebas makhluk-makhluk yang ingin melukai mereka berdua.


Perut Irna robek, terkoyak akibat terjangan para monster tersebut. Di tengah malam pukul satu dini hari Irna jatuh berlumuran darah di pelukan Rian.


"Irna! tidaaaaaaaak! bangun Irna!" Rian mengguncang bahunya, sambil menangis.


"Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja! kenapa kamu melindungiku!? kenapa Irna!?" Teriak pria itu histeris.


"Bagaimana caranya aku mengembalikan nyawamu! Irna bangunlah! kamu tidak boleh pergi! tidak boleh!" Air matanya terus jatuh bercucuran membasahi wajah Irna, kulit wajah Irna semakin pucat.

__ADS_1


Rian teringat sesuatu, darahnya telah bercampur dengan darah Irna, dia segera menggigit pergelangan tangannya sendiri meneteskan darahnya ke bibir Irna. Tapi gadis itu seperti tidak bernyawa. Dia tidak bisa menelan darahnya.


Rian kemudian mengisap darahnya dan memberikannya kepada Irna melalui ciuman bibirnya untuk menyelamatkan nyawanya.


Fredian berdiri di depan mobil Rian yang telah meledak, pria itu tadinya mendengar sinyal dari teriakan Irna. Dan segera melesat ke sana. Kini dia melihat tubuh istrinya berlumuran darah. Dan suara tangisan Rian yang sangat putus asa.


Dia melihat bagaimana Rian begitu menggila melihat Irna di antara keadaan hidup dan mati. Fredian melelehkan air matanya.


Padahal baru beberapa menit tadi wajah istrinya itu begitu cerah, begitu menyenangkan. Tapi sekarang tubuhnya tercabik-cabik penuh luka berlumuran darah.


Perlahan baju biru bunga kristal es miliknya, berubah kembali menjadi pakaian jas dokter putih miliknya, jas putihnya berubah merah karena darahnya. Juga sabit bulan miliknya telah kembali masuk ke dalam tubuhnya.


"Apakah dia masih hidup?" Fredian terus meneteskan air matanya tanpa henti, pria itu melangkah gontai menuju ke arah mereka berdua.


Rian terus terisak-isak, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Fredian. Fredian jatuh terduduk lemas di sebelahnya.


Pria itu hendak membuka kata, "Jangan katakan apapun jika kamu ingin mempertaruhkan dirinya lagi padaku, karena ingin menyelamatkan nyawanya!" Sahut Rian segera pada pria itu.


Rian tahu sekalipun Irna berada di sisinya, dia pasti akan kembali kepada Fredian. Pria yang menggenggam hatinya sejak awal.


"Syuuuuttt! jlak!" Kania mendarat di tengah area parkiran tersebut, diikuti Royd. Gadis itu mengenakan jubah hitam.


"Apakah ini ulah pemburu?" Tanya Royd pada mereka berdua. Rian dan Fredian menggelengkan kepalanya.


Fredian tahu dari mana para monster tersebut berasal. "Aku akan mengobrak-abrik kastilnya!" Geram Fredian penuh amarah.


"Kamu mau kemana?" Rian menyerahkan Irna ke pangkuan Kania putrinya satu-satunya. Kemudian Rian berdiri menyusul Fredian.


Fredian dan Rian menatap ke arah Kania. Gadis itu menganggukkan kepalanya, tanda dia setuju untuk merawat ibunya.


Dia dan Royd Carney sama-sama ahli medis, dunia manusia dan vampir. Gadis itu menggenggam tangan Royd Carney, lalu menjentikkan jarinya. Dalam sekejap tubuh mereka bertiga telah lenyap dari pandangan Rian dan Fredian.


*Bersambung...


Tinggalkan like sebelum pergi+vote juga ya?

__ADS_1


Tunggu episode selanjutnya.. thanks for reading.. i love you Readers..❤️❤️❤️*


__ADS_2