
Irna kembali mengingat dimana masa-masa bahagianya bersama pria di sebelahnya itu. Yang kini telah menjadi orang lain.
"Kamu masih terlihat begitu canggung." Ujarnya sambil menatap wajah Irna di sebelahnya, yang mulai berkeringat dingin perlahan-lahan menelungkupkan wajahnya menghadap ke arah lain.
Pria itu masih terus tersenyum menatap Irna, masih tetap menopang kepalanya menghadap ke arahnya.
"Hahaha! mana mungkin aku seperti itu!" Irna memasang wajah tebal, mengangkat kedua alisnya beberapa kali. Memberanikan diri untuk menoleh ke arahnya.
"Lalu?" Kini Rian menumpuk kedua lengannya di atas meja, sebagai alas pipinya.
"Lalu apanya?!" Irna menggembungkan pipinya tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh pria itu.
"Lalu apa keputusanmu?" Masih tetap meletakkan kepalanya di atas kedua lengannya menatap wajah Irna di sebelahnya.
"Aku akan tetap bekerja di sini." Nyengir lebar menatap wajah putus asa Rian.
"Tuk, tuk, tuk, tuk, tuk, tuk." Rian memukul-mukul meja dengan ujung jari telunjuknya. Dia merasa meeting yang diatur oleh Nicolas Anelka tidak ada gunanya. Hanya membuang-buang waktu saja.
"Kamu kecewa dengan keputusanku? kamu lupa sudah memecatku, dokter berprestasi di rumah sakitmu?" Ujarnya lagi mencoba mengingatkan Rian dengan keputusan dirinya waktu itu.
"Apa raut wajahku sekarang tidak jelas sebagai jawaban atas pertanyaanmu itu?!" Rian bangkit berdiri dari kursinya, lalu menuju pintu melangkah keluar meninggalkan Irna sendirian di sana.
"Rian!"
Pria itu menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang dimana Irna sudah berdiri melangkah menuju ke arahnya.
"Apa?" Tanyanya, dia pikir gadis itu berubah pikiran.
"Aku duluan ya?" Tersenyum menatap wajah Rian yang semakin geram. Irna melenggang pergi sambil memegangi perutnya. Dia merasa Rian lucu sekali.
Rian ingin sekali mengobrak-abrik ruang meeting itu. Untungnya dia masih ingat wajah Nicolas Anelka. Jika tidak sudah hancur berantakan ruangan tersebut akibat kemarahan dirinya.
__ADS_1
"Dia menertawaiku! apa dia masih tetap berfikir aku yang memutuskan untuk memecatnya kemarin! padahal itu ide bodoh suaminya!" Gerutu Rian sambil melangkah lebar menuju area parkir.
Dia masuk ke dalam mobilnya, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil seraya memejamkan matanya.
"Tok! tok! tok!" Dia melihat Irna mengetuk kaca mobilnya. Wajah gadis itu terlihat marah, Irna menggembungkan pipinya sambil berkacak pinggang.
Rian terkejut, dia menurunkan kaca mobilnya sedikit. Dia takut Irna tiba-tiba menonjok hidungnya.
"Apa?" Tanya Rian padanya.
"Turunkan kaca mobilmu!" Teriak Irna sudah tidak sabar lagi.
Rian menggelengkan kepalanya, menolak permintaannya. Dia malah menaikkan kaca pintu mobilnya lebih tinggi dari sebelumnya.
"Cepat turunkan atau aku pukul!" Teriak Irna lagi padanya. Rian terpaksa membuka kunci pintu mobilnya.
"Apa? bukankah kamu sudah berpamitan padaku untuk pergi? Kenapa sekarang malah mencak-mencak padaku? apa aku belum menggajimu akhir bulan ini? aku sudah mentransfer penuh bulan ini ke rekeningmu. Apa kamu tidak mendapatkan pemberitahuan?" Tanya Rian bertubi-tubi, karena wajah Irna terlihat sangat marah sekali.
"Kenapa kamu memintanya untuk memecatku? bahkan rumah sakit lain menolakku sekarang?! apa maksudnya ini???" Irna menarik krah jas Rian dengan kedua tangannya. Dia benar-benar marah padanya.
"Irna! aku bisa jatuh! Duaaakkkk! akkhhh! keningku!" Kepala Rian membentur kening Irna. Gadis itu langsung melepaskan krah jas dokternya dari genggaman kedua tangannya.
Beralih mengusap keningnya sendiri yang memar. "Kenapa aku harus mengulang kejadian yang sudah lama berlalu!" Gerutu Irna sambil meletakkan tangannya di depan keningnya sendiri.
Dia menatap wajah Rian, pria itu kini terlihat sangat canggung. "Aku tidak pernah memecatmu." Hanya itu yang meluncur dari bibirnya lalu menutup pintu mobilnya, kemudian menyalahkan mesin mobil. Tanpa bicara apapun segera melaju meninggalkan Irna berdiri mematung menatap kepergiannya.
"Jadi maksudnya aku harus kembali ke rumah sakitnya?" Irna menggigit ujung kuku jarinya. Dia mondar-mandir kesana-kemari masih memikirkanya.
Dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Rian kembali. Nicolas Anelka tersenyum manis, dengan senang hati dia mengantar gadis itu keluar dari rumah sakitnya.
Nicolas Anelka yang menghubungi para presdir rumah sakit lain, hingga tidak ada yang berani untuk merekrut Irna menjadi dokter di rumah sakit mereka.
__ADS_1
"Siang dokter Kaila.." Sapa karyawan rumah sakit Rian, mereka senang sekali melihat Irna membawa barang-barang miliknya kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Irna hanya mengangguk tersenyum menjawab sapaan para karyawan yang sudah akrab dengannya itu.
Mendengar Irna sudah kembali ke rumah sakitnya, pria itu segera menyuruh asistennya untuk mentransfer uang tiga kali lipat dari gajinya sebelumnya. Seperti permintaan gadis itu sewaktu masih berada di dalam ruangan meeting Nicolas Anelka.
Irna mendengar suara ponselnya saat menata kembali barang-barang miliknya. Gadis itu melihat pesan masuk dan membelalakkan matanya menatap jumlah nominal yang tertera di sana.
"Apa dia sungguh mempercayai kata-kataku?! aku hanya membual untuk mengerjainya! pria ini tidak pernah berubah! terlalu serius! hah, sudahlah nanti saja aku bicarakan dengannya." Gumam Irna sambil berjongkok memasukkan beberapa barang ke laci bawah.
"Siapa yang kamu bilang terlalu serius?!" Sahut Rian sambil bersandar di ambang pintu menatap Irna yang masih berjongkok di sebelah mejanya.
"Kamu! memangnya siapa lagi pria serius dan seperti gunung es di rumah sakit ini?" Keluh Irna padanya.
"Kamu bilang tadi hanya membual tentang gaji tiga kali lipatmu, besok kembalikan sisanya ke rekening milikku." Kelakar Rian padanya dengan sengaja.
"Dasar menyebalkan! Duak!" Irna spontan melemparkan sepatu high heelsnya ke arah pintu. Untung saja mengenai daun pintu karena Rian memiringkan kepalanya ke samping menghindari lemparannya.
"Aku cuma bercanda, kenapa kamu marah sekali?" Tanyanya pada Irna, sambil mengembalikan sepatu miliknya.
"Apa wajah serius ku ini terlihat sedang bercanda? sudah pergilah ke ruanganmu sendiri sana! kamu hanya akan membuat mood ku semakin buruk." Ujarnya pada Rian sambil mengambil sepatunya dari tangan pria itu kemudian kembali memakainya.
"Ya aku akan kembali ke ruanganku, setelah memberikan data ini." Meletakkan di atas meja.
"Daftar operasi hari ini? lima jadwal operasi??! Tunggu! kenapa jadi sebanyak ini? kamu memintaku kerja lembur??" Irna berdiri di ambang pintu, mengejar Rian.
"Ya, bukankah itu sesuai dengan gajimu?" Meringis sambil melambaikan tangannya, melanjutkan langkahnya, pergi.
"Ini sama saja! untuk apa dia menaikkan gajiku! jika pada akhirnya menambah jam kerja lembur???! berapa hari! tunggu! ini? astaga?! satu bulan penuh???" Irna meremas data tersebut sambil menopang tubuhnya di tepi meja dengan kedua telapak tangannya.
Irna tidak bisa membantah, dia hanya bisa mengikuti jadwal operasi tersebut tanpa protes lagi.
__ADS_1
*Bersambung...
Tinggalkan like sebelum pergi+ Vote juga ya untuk dukung author? terima kasih sudah membaca.. tunggu episode selanjutnya ya? i love you Readers*...