
"Fred, mmmmhhh.. akkhhh.. mmhh.. kapan kamu akan menyelesaikan ini?" Tanyanya pada suaminya itu, masih memeluk lehernya bermanja-manja.
Fredian memagut bibirnya, menghentikan desahannya, menambah kecepatan permainannya. "Clak! clak! clak! clak! Akkkkhhhh! akkhhh! Irna... akkhhhh!"
Irna memeluk pinggangnya dengan kedua kakinya. Membuat senjata milik Fredian menghujam lebih dalam lagi. Menikmati semburan larva panasnya.
"Kamu benar-benar sangat menyenangkan! membuatku semakin menggila!" Bisiknya di telinga Irna. Irna mencium bibirnya, keningnya dan kedua pipinya. Lalu membiarkan pria itu mencabut senjatanya, dan merebahkan diri di sebelahnya.
Irna menarik selimutnya, menutupi tubuhnya dan tubuh suaminya, terlelap dalam pelukannya.
Keesokan harinya...
Irna terjaga dengan suara ketukan pintu, dia melihat tubuhnya di bawah selimut masih belum mengenakan apapun sama sekali.
"Siapa pagi-pagi sudah mengetuk pintu? ah aku lelah sekali." Gerutunya malas-malasan beranjak dari tempat tidurnya. Gadis itu menyambar baju kimono miliknya, lalu mengikatkan tali di pinggang.
"Krataaaakkk!" Irna membuka daun pintu kamarnya, dia melihat Derent sudah berdiri di sana. Pria itu membawa sekotak makanan untuknya.
"Apakah saya mengganggu istirahat Anda?" Tanyanya sambil mencermati wajah Irna dari ujung kepala sampai ujung kaki, betis mulus dengan kimono tidurnya.
Tatapan matanya jatuh pada area dadanya, ada sedikit celah di sana karena ukuran bongkahan yang terlampau sedikit besar dari ukuran yang seharusnya, terlihat ingin menerobos ke luar dari bajunya. Walaupun rambutnya acak-acakan tapi dia masih terlihat begitu manis sangat manis di pagi itu.
"Tuan?" Irna membangunkan pria itu dari lamunannya.
"Oh maaf, bolehkah saya masuk ke dalam?" Ujarnya pada Irna.
Di belakang sana di dalam kamar Irna, Fredian baru keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya.
"Apa ada tamu sayang?" Teriaknya sambil mengeringkan rambutnya, pria itu menahan tawanya agar tidak meluncur keluar dari bibirnya.
Irna menggembungkan pipinya, dia tahu suaminya melakukan itu pasti dengan sengaja! Dia ingin menunjukkan hubungannya dengan Irna.
"Oh anda sedang ada tamu?" Ujar Derent dengan wajah pucat. Dia mendengar suara pria yang berbeda dengan suara pria yang semalam hadir pada acara makan malam mereka berdua.
__ADS_1
"Ini, sarapan untuk anda nona, saya permisi dahulu. Jangan lupa nanti malam anda harus pergi ke kerajaan kami. Sopir saya akan menjemput anda pukul tujuh malam." Jelasnya pada Irna kemudian pergi dari tempat itu.
"Ah, iya terima kasih." Irna menerima bingkisan tersebut sambil menutup pintu. Fredian sudah mengurung dirinya dengan kedua tangannya pada daun pintu.
Irna perlahan membalik tubuhnya, "Apa kamu tidak ingin makan?" Irna mengangkat tangan kanannya menunjukkan makanan lada genggaman tangannya.
"Apakah ini alasanmu semalam kabur dari resortku? karena pria itu?" Desisnya dengan wajah geram. Irna bersandar pada daun pintu, gadis itu menutup kedua matanya rapat-rapat.
"Bukan dia, tapi ini!" Irna menunjuk dada bidangnya.
"Aku!? huh!?" Fredian mendengus sinis, menyibakkan rambutnya ke belakang hingga percikan air jatuh pada wajah Irna yang sedari tadi menutup matanya rapat-rapat.
"Memangnya aku kenapa? kenapa kamu berusaha menjauhiku? apa kamu bosan melihat wajah tampanku?! kamu lupa aku selalu berhasil memuaskan hasrat-mu?!" Ujarnya dengan sangat geram.
"Sebenarnya siapa yang melayani siapa?!" Irna memicingkan sebelah matanya, menatap wajah pria di depannya itu.
"Jadi kamu berpikir aku menjadikanmu sebagai pelayanku?" Fredian mengangkat satu alisnya, pura-pura menepis tuduhan Irna.
"Fred, kamu terlalu berlebihan tentang itu.. aku, anu, dan, akh! sudahlah pokoknya bukan dia alasannya aku pergi semalam." Jelasnya pada pria itu.
"Aku kelelahan! aku tidak ingin melakukan hubungan intim denganmu!" Ujarnya terang-terangan pada Fredian.
"Tidak ingin?! kamu bilang tidak ingin? lalu apa ini?!" Meraba pahanya mengelus lembut bulu-bulu halus di sekitar area sensitifnya.
"Aku.. aku.. akkhhh! hentikan!" Teriaknya seraya mendorong agar tubuh Fredian menjauh. Tapi tubuh kokoh itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.
"Fred.. akkkkhhhhh... mmmhh... akkkkh!" Pekiknya ketika pria itu berhasil membuat area sensitifnya basah lagi.
"Lihat desahanmu.. kamu sudah tidak bisa menahannya.. masih bilang tidak ingin..?" Bisiknya di telinga Irna, wajah Irna memanas menjatuhkan bingkisan makanan di sebelah kakinya.
Dia tidak menolak ketika Fredian mengangkat satu kakinya, dan bermain kembali. Tubuhnya masih bersandar pada daun pintu. Kimono tidurnya sudah turun di kedua lengannya membuat bibir Fredian bebas bermain mencumbui dada kenyalnya. Sembari menghentak-hentakan pinggulnya ke depan.
"Fredd.. kamu sialan! kurang ajar! akkkhhhh... mmmhh.. akkkhhh. !"
__ADS_1
"Kamu menikmatinya Irna, apakah kamu sangat malu mengakuinya hingga terus mengumpatku? aku sangat hebat dalam hal ini.. aku ingin kamu tetap berada dalam genggamanku.. merindukan cumbuanku.. dan terus menginginkanku!" Desisnya seraya mengigit kecil leher jenjangnya.
Fredian terus mengayun lebih cepat dari sebelumnya, membuat Irna memukul lengannya dengan manja. "Fredd.. mmhhh.. akkhhhh.. akkhhhh... akkhhh.. kamu nakal..."
Fredian tersenyum puas melihat wajah sayu di dalam pelukannya, pria itu mengangkat tubuhnya dalam pangkuannya, menaik-turunkan pinggul Irna.
"Akkhhh. akkkhhh.. akkhhh.. akkhh.." Pekikan Irna kembali terdengar, menikmati permainan pria itu.
Sekitar tiga jam Fredian bermain, hingga dia merebahkan tubuh mulus istrinya di atas tempat tidurnya, Irna tidur terlentang. Fredian menyelimutinya.
Fredian tersenyum melihat wajah lemas Irna, karena gadis itu merasa puas, meraih klimaks sampai tiga kali pagi itu dengan permainan hebat Fredian.
"Fred?"
"Hem.."
"Aku lelah sekali."
"Aku tahu, tidurlah oke?" Bisiknya lembut di telinga Irna.
Pria itu menyambar pakaiannya yang ada di gantungan, lalu memakainya. Kemudian keluar dari dalam kamar Irna sekitar pukul sebelas siang.
"Kamu tampan! tapi menyebalkan!" Umpatnya lagi setelah pria itu keluar dari dalam kamarnya. Fredian tersenyum mendengar umpatannya melalui indera pendengaran istimewa miliknya, pria itu sudah hampir sampai di lobby hotel.
"Tunggu aku akan menemukanmu lagi istriku! aku tidak akan membiarkanmu tidak menyebut namaku sehari-pun! sehari-pun! kamu akan terus menyebut namaku! dalam rintihan! dalam marah! dalam hasrat! dalam teriakan! karena aku ingin mendengarkan suaramu!"
"Suara desahan-mu begitu merdu! begitu memikat-ku untuk membuatmu terus menjerit lagi dan lagi! membuatku ingin terus merengkuh tubuhmu ke dalam dekapanku!"
"Aku akan membuatmu terus mengingatku, hingga tidak dapat mengingat yang lain selain diriku! membuatmu terus menatap ke arahku! mengalihkan pandangan matamu dari menatap yang lain! dan hanya menatap diriku! diriku! hanya diriku!"
"Dirimu tidak akan kubiarkan lepas dari genggaman tanganku! karena kamu sejak awal adalah wanitaku! wanitaku satu-satunya, Irna Damayanti! Kaulah cintaku satu-satunya! Belahan jiwaku!"
*Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa untuk like sebelum pergi+vote juga ya? author akan update setiap hari.. thanks for reading.. i love you Readers... ❤️❤️❤️*