Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Two brothers


__ADS_3

"Woi bangun sialan!" Teriaknya di telinga Javi Martinez. Pria itu mengerjapkan matanya menatap wajah Nira di depannya. "Apa aku sedang bermimpi?" Gumamnya seraya mengerjapkan matanya.


"Duak!" Nira dengan gemas memukul kepalanya dengan tangan kanannya.


"Akh! sakit Ra!" Pura-pura memekik saat kepalanya dipukul olehnya.


"Hari gini, manusia jadi-jadian juga bisa nyeri kalau dipukul?!" Geramnya karena Javi membiarkan tangannya tetap berada di pinggang Nira. Terlihat sangat jelas bahwa pria itu ingin Nira tetap berada di dalam pelukannya.


"Kamu sadar nggak sih! kamu itu sangat keterlaluan!" Teriaknya kencang sekali di telinga Javi. Jika dia manusia normal mungkin sudah pecah gendang telinga milik pria itu.


"Sudah nyelonong ke kamar orang! Tidur pula di sini! Singkirkan tanganmu cepat!" Mencoba menarik lengannya dari pinggangnya. "Sial! Kekuatannya! Tangannya seberat ini, seperti mengangkat besi!" Gerutunya kesal karena tidak berhasil mengangkat lengannya.


Javi tersenyum melihat Nira kesulitan menyingkirkan tangannya. "Apa kamu masih ingin menolak tawaranku?" Ujarnya dengan suara berbisik di telinganya.


"Tawaran apa?? Aku bilang sudah terlambat! Berhenti berceloteh cepat bangun! Aku harus bekerja!" Teriaknya lagi, terus memukulinya tanpa henti.


Kania masih tinggal di London, dia pagi itu datang ke Resort untuk menjenguk Nira. Kebiasaannya masuk tanpa mengetuk pintu. Gadis itu dari lobi menuju ke kamarnya. Dia mendengar suara berisik berasal dari dalam kamar Nira.


"Ni, Ra?" Membuka pintu, melongo melihat gadis itu dalam pelukan Javi Martinez. Baju piyamanya acak-acakan. Javi memeluk erat pinggangnya, sedang Nira menjambak rambut Javi.


Mereka berdua terkejut melihat Kania berdiri di pintu. Javi Martinez mencium aroma tubuh Kania, sinar matanya mendadak berubah merah mengandung.


Dia segera melepaskan pelukannya dari Nira. Ketika hendak melompat ke arah Kania, Nira dengan seluruh kekuatnya menahan tangannya.


Gadis itu lupa jika pria itu bukan lawannya. Dia memberikan isyarat pada Kania agar segera pergi. Tapi Kania terlanjur tahu, bahwa pria di depannya itulah yang telah membuat ibunya terluka parah.


Kania ingat suaranya saat memukuli ibunya. Gadis itu menutup pintu kemudian melangkah mendekat ke arahnya. Javi sudah menyalak-nyalak ingin menerjangnya.


Gadis itu penuh amarah menatap tajam ke arah Javi. Tatapan penuh dendam dan murka. Gadis itu bersiap mengayunkan tangan kanannya.


"Crashhh!" Kuku tajam Kania menebas ke arahnya, mengenai lengan pria itu. Darahnya mengucur membasahi seprei.


Nira melihat pemandangan baru di depannya itu segera turun dari atas tempat tidurnya. Baru kali ini dia menyaksikan pertempuran dua monster penghisap darah.


Dia sangat terkejut melihat perubahan besar pada Kania. Gadis yang terlihat lembut dan imut itu, kini telah berubah menjadi pembunuh kejam dan bengis.


Wajahnya terlihat sangat mengerikan. Javi terhuyung sambil memegangi lengannya yang terluka.


Tatapan matanya beralih ke arah Nira. "Aku akan menjemputmu lain waktu Ra!" Ujarnya sebelum menghilang menjadi asap.


Setelah kepergian Javi Martinez, mata Kania berubah normal kembali. Tubuhnya tiba-tiba ambruk lemas ke lantai.


Di sisi lain, Irna terbatuk-batuk dan memuntahkan darah segar di atas lantai kamarnya seraya memegangi dadanya.


Kania pingsan, sangat jelas sekali jika tubuhnya beberapa saat lalu berada di bawah kendali seseorang. Yaitu Irna, dialah yang menggunakan tubuh Kania untuk menghajar Javi Martinez beberapa saat yang lalu.


Javi terluka lumayan parah, kuku Kania sudah diolesi ramuan oleh Rian sejak gadis itu berusia lima tahun. Saat dia mengeluarkan kekuatan fisiknya, maka kuku beracun itu akan muncul karena sudah siap bertempur.


"Nia?! bangun!" Nira memeluknya di dalam kamarnya. Gadis itu masih pingsan, dan belum sadarkan diri. Irna membuka pintu kamar Nira. Gadis itu melihat putrinya tergeletak di lantai berada dipangkuan Nira.


Gaun tipis warna putihnya terlihat sedikit menakutkan, Irna melangkah mendekati mereka berdua. Saat jari telunjuknya menyentuh kening Kania, gadis itu kemudian perlahan membuka kelopak matanya.


Seperti hilang ingatan sesaat, gadis itu celingukan mencari seseorang yang tadi hampir menerjangnya. Jika Irna tidak cepat mengambil alih jiwanya. Mungkin putrinya sekarang sudah terbaring di ruang medis.


Irna memeluknya seraya melelehkan air matanya. "Kenapa mama menangis?" Tanyanya tidak mengerti apa yang telah membuat ibunya begitu sedih.

__ADS_1


Nira menatap mereka berdua penuh rasa bersalah, Irna melihat itu kemudian berkata, "Nira, jangan salahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu. Tapi salahku, jika aku tidak datang pada acara pesta waktu itu, mungkin dia tidak akan terus mencari keluarga kita. Semuanya salahku." Irna memeluk dua gadis kecil itu. Gadis itu merengkuh mereka berdua penuh rasa sesal.


"Tunggu sampai aku pulih, aku akan datang padamu.. Javi Martinez, kamu harus membayar semua yang kamu lakukan pada keluargaku!" Bisik lirih dalam hatinya.


Fredian melihat istrinya di dalam kamar Nira, pria itu sudah berdiri di ambang pintu.


Beberapa saat yang lalu..


Dia terkejut saat Irna memuntahkan darah, kemudian melepaskan pelukannya. Gadis itu tiba-tiba berlari menuju kamar Nira, tanpa berkata apapun padanya.


Fredian takut terjadi sesuatu lagi, dia segera menyusulnya setelah memakai bajunya.


"Apa yang terjadi?" Dia ikut berjongkok di sebelah mereka bertiga. Fredian melihat wajah Irna semakin pucat. Dia tahu Irna terluka lagi.


"Javi hampir saja melukai Kania." Ujar Nira sambil menundukkan kepalanya. Mendengar itu Fredian segera mengajak Irna keluar dari dalam kamar Nira.


Fredian tahu kenapa Javi berada di dalam kamar cucunya malam itu. Dia melihat pria itu mengikuti Nira berdasarkan laporan dari penjaga lobi Resort nya.


"Irna, Nira sudah dewasa." Ujarnya seraya memegang kedua bahu istrinya. Irna terkejut mendengar ucapan suaminya itu, gadis itu mendongakan kepalanya mencermati wajah di depannya. Kedua matanya berkaca-kaca, gadis itu memejamkan matanya sesaat demi menahan air mata yang sebentar lagi jatuh membasahi kedua pipinya.


"Apa maksudmu? Javi Martinez menginginkan Nira?" Tanyanya sambil melelehkan air matanya. Banyak rasa ketakutan menghantui jiwanya. Takut gadis itu kenapa-kenapa jika bersama dengan Javi. Mengingat Javi bukan manusia.


Melihat Fredian menganggukkan kepalanya, Irna benar-benar melelehkan air matanya. "Bisakah aku membuat perjanjian dengan pria licik itu?!" Ucapnya kemudian, Fredian masih memegangi kedua bahunya. Pria itu tersenyum menatap wajah Irna.


Mereka berempat duduk di sebuah ruangan, Irna, Fredian, Kania, dan Nira. Mereka menikmati sarapan pagi bersama.


"Nira.." Irna menggenggam jemari tangannya sambil tersenyum.


"Oma jangan salah faham! aku dan Javi Martinez tidak memiliki hubungan apapun. Pria menjengkelkan itu menyelinap masuk ke dalam kamarku. Aku tidak pernah mengundang dia kemari. Dan juga aku melakukan hal ini karena aku tidak ingin kakek dan nenek bertengkar." Jelasnya segera saat melihat Irna tersenyum sambil memegang tangannya.


"Aku? dan dia?!" Nira menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia segera meneguk air di atas meja dengan sedikit gugup. "Oma, aku tidak mau menerima dia! pria monster! mimpi apa aku kemarin!" Gerutunya seraya mengaduk makanan di atas piringnya dengan penuh amarah.


Saat melihat ke arah mereka bertiga, Nira sedikit terkejut. Dia hampir lupa jika ketiga orang yang makan bersama dengannya itu bukan manusia. "Maksudku pria licik!" Meralat kembali ucapannya.


"Hahahaha! lihat mimik wajah Nira ma! dia lucu sekali!" Ujar Kania sambil tertawa terpingkal-pingkal menatap wajah pucat Nira. Gadis itu kemudian menggeser tempat duduknya, lebih mendekat ke arah Nira. "Ra? kamu mau jadi sama seperti kami?" Tanyanya sambil nyengir berbisik di telinga Nira.


Nira tercekat mendengar tawaran Kania, mendadak dia tidak bisa menelan nasinya. "Aku kayaknya, mending jadi manusia saja deh." Gumamnya seraya menatap wajah mereka bertiga.


"Aneh, kamu takut dengan monster. Padahal diam-diam kamu mengagumi kami para manusia genius." Celoteh Kania kembali memancing Nira.


"Jangan menggodaku terus-menerus!" Merengut seraya mencomot makanan di atas meja.


Javi berada di dalam kamarnya, dia ingat saat melihat kedatangan Kania. Wajah mengerikan, dan kejam. "Tubuhnya di bawah kendali seseorang! hahaha Kaila! Kamu masih hidup!" Tertawa renyah, lalu menenggak anggur di dalam genggaman tangannya. Seseorang pelayan datang membawa obat di atas nampan, membalut luka pada lengannya.


"Aku pasti akan menemukanmu!" Geramnya penuh amarah. Beberapa detik kemudian dia mengingat bayangan Nira. Gadis tomboy secara perlahan telah masuk ke dalam relung-relung hatinya, menanam benih di sana.


"Apa hubungan Kaila dengan mereka? kenapa dia terus-menerus ikut campur ketika aku bersama dengannya." Masih tidak mengerti kenapa Irna selalu datang di sekitar mereka.


Pagi itu Irna pergi ke rumah sakit seperti biasanya. Padahal Fredian sudah wanti-wanti agar dia tidak masuk bekerja hari itu. Akan tetapi Irna terus meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.


Akhirnya gadis itu meluncur bersama mobilnya menuju ke rumah sakit.


Dia berpapasan dengan Rian di depan ruang kerjanya. "Wajahmu masih seperti mayat, kenapa malah datang bekerja?" Tanyanya, pria itu berdiri sekitar tiga meter di depannya. Kedua tangannya berada di dalam saku jas dokternya.


Irna mengukir sebuah senyuman, lalu melangkah mendekat ke arahnya. "Sampai kapan kamu akan hibernasi seperti beruang kutub! bersembunyi di dalam gua!" Sindiran pedas itu membuatnya tidak tahan untuk tidak melepaskan tawanya.

__ADS_1


"Aku ingin tinggal di sini, keluarga Aditama lebih membutuhkanku." Jelasnya pada Irna yang sudah berdiri di sampingnya berlawanan arah.


Gadis itu tersenyum menoleh ke kanan menatap wajah Rian di sebelahnya, begitu juga sebaliknya Rian menoleh ke kiri mengukir sebuah senyuman misterius. Dan hanya dua orang itu yang tahu apa arti dari sebuah senyuman itu.


Irna melanjutkan langkahnya menuju ke dalam ruangan kerjanya. Begitu halnya dengan Rian, melanjutkan melangkah menuju lobi.


Asisten yang sedang berdiri agak jauh dari tempat mereka sedikit terkejut melihat tingkah mereka berdua. Bukan seperti suami istri sebelumnya, tapi lebih terlihat seperti partner kerja yang kompak.


Irna mengisi laporan di atas meja kerjanya, beberapa menit kemudian asistennya datang memintanya untuk melihat kondisi pasien di dalam ruangan ICU.


Gadis itu segera meraih stetoskop miliknya dari atas meja, kemudian mengikutinya menuju ruangan ICU.


Frans asistennya segera meninggalkannya setelah memberikan data rekam medis pasien tersebut padanya. Irna segera memeriksa keadaannya.


Tiba-tiba seseorang muncul dari balik tirai menyeringai lebar menatapnya. Irna melangkah mundur menjauhinya. "Bagaimana mungkin kamu tiba-tiba berada di sini?" Irna menghindari tatapan mata nyalang dari pria di depannya itu. Tubuhnya sedikit mengginggil karena Javi melangkah semakin mendekatinya.


"Ini ruang gawat darurat, kamu tidak boleh mengganggu pasien di sini." Irna terkejut saat melihat pasien yang tadinya berada di atas tempat tidur itu tiba-tiba menghilang entah kemana.


Dia baru sadar jika itu adalah ulah Javi Martinez. "Kita bicara di ruanganku saja." Irna menyentuh pergelangan tangannya, mencoba bersikap senormal mungkin. Dia tidak ingin membuat masalah di dalam rumah sakit.


Javi terkejut melihat sikap baik Irna padanya, dia mengikuti langkah kakinya menuju ke ruangan kerjanya. "Aromamu, sangat menawan." Bisiknya di telinga Irna saat melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Jaga sikapmu." Hanya dua patah kata itu yang meluncur dari bibir tipisnya. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan. Javi tak henti-hentinya melihat Irna dari ujung kaki sampai ujung kepala. Wajahnya yang masih terlihat pucat, tidak menghalangi kecantikannya yang begitu khas.


Rambut panjang hitam bergelombang meriap meliuk-liuk ketika gadis itu melangkah, membuat sensasi manis menjadi ciri khas seorang dokter Kaila Elzana.


Javi berdiri di belakang punggungnya dengan jarak sangat dekat, sejak tadi pria itu memainkan rambut panjangnya kemudian meraih beberapa helai lalu menciumnya.


Irna menyeduh kopi, dia membuat dua gelas. "Jangan terlalu dekat, jika air panas ini tumpah kamu akan menyalahkanku lagi karena melukaimu." Gumamnya sambil meletakkan dua cangkir kopi di atas meja.


"Duduklah." Perintahnya pada Javi Martinez. Pria itu duduk, bukan di hadapannya tapi di sebelahnya. Irna terpaksa menyingkir ke samping sedikit memberi jarak antara mereka berdua.


"Kenapa kamu mencariku?" Tanya Irna sambil meneguk kopi di dalam cangkirnya.


"Apa hubunganmu dengan Nira?" Tanyanya sambil tersenyum menatap wajah Irna lekat-lekat. Hidung mancung dan wajah mungilnya begitu mirip dengan Nira. Dan hanya gadis itu yang bisa mengalihkan pandangannya dari Irna.


"Aku sarankan kamu menjauhinya." Jawabnya santai seraya tersenyum. Javi terkejut melihat bibir manisnya tersenyum begitu menawan. Pria itu segera mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. Gemuruh di dalam hatinya membuatnya takut tidak bisa mengendalikan perasaannya lagi.


Rian sedang membawa berkasnya, dia siap-siap masuk ke dalam ruangan kerja Irna. Dia mendengar Irna sedang bercakap-cakap dengan seseorang.


Beberapa kali terdengar pria di dalam ruangan kerjanya melepaskan tawanya karena mendengar kelakar dari Irna. Sedikit rasa pahit kembali hinggap di dalam benaknya. Padahal dia tahu Irna bukan lagi siapa-siapa di sisinya.


Akan tetapi dia masih bisa menggunakan statusnya sebagai suaminya dan hanya di depan publik. Rian memberanikan dirinya masuk ke dalam ruangan Irna.


Irna tidak mengerti kenapa Rian sengaja menunjukan dirinya di depan Javi.


"Siapa dia?" Tanya Javi Martinez sambil mencolek bahunya, seakan-akan mereka berdua adalah teman akrab.


"Suamiku." Ujar Irna seraya menatap wajah Rian. Dia dengan sengaja memberikan tempat untuknya, karena sudah menunjukkan dirinya.


Tentu saja Javi tidak mengenali kakak kandungnya itu, Rian pergi saat Javi Martinez masih berusia tiga bulan. Sama dengan dua bayi kembar yang ditemui oleh Rian, dua bayi kembar Wilson dan Welrent.


Bersambung....


Note: Jangan pelit kasih like bikin aku rajin update, thanks for reading.. 😍😘😁

__ADS_1


__ADS_2