
Pagi itu, Irna duduk memandangi surat kabar yang berada di tangannya.
Seorang arsitektur ternama, Irna Damayanti terlibat dengan cinta terselubung, antara dua Presdir kaya raya. Entah apa yang di gunakan wanita ini hingga membuat dua Presdir tersebut jatuh bertekuk lutut di hadapannya. Tak lama setelah itu mereka terlibat kontrak kerja sama.
Di situ ada foto dirinya ketika hari ulang tahun Siska sahabatnya, pada saat itu Fredian menggendongnya masuk ke dalam kamar hotel.
Dan selanjutnya foto dirinya ketika berada satu mobil dengan Rian lalu masuk ke dalam rumah tidak keluar lagi hingga keesokan harinya.
Irna memijit pelipisnya kembali merasa pusing. Dia tidak tahu bagaimana menghadapi isu yang simpang siur seperti itu. Karena pernikahan mereka juga tidak dikabarkan kepada publik.
Ini bertentangan dengan hal yang terjadi sebenarnya, Irna sebenarnya ingin merayakan pernikahan dan menjadi mempelai wanita yang bahagia bersama orang yang dicintainya.
Tapi belum sempat duduk di pelaminan dirinya malah terlempar ke pelukan pria lain dan menjadi istrinya. Dan jika dia ingin mengadakan pesta bersamanya, maka pria yang sebelumnya itu tidak akan bisa menerimanya dan mengungkapkan hubungan asmara mereka ke depan publik.
Mereka menikah hanya dengan tanda tangan, sekalipun pernikahan mereka berdua syah. Tapi tetap saja di mata umum mereka sama-sama lajang dan tidak memiliki hubungan apapun sama sekali.
Rini masuk ke dalam ruangan Irna.
"Bu haruskah kita adakan konferensi Pers?"
Tanya Rini ketika melihat wajah Irna sedang dalam kondisi tidak baik. Dia melihat wajah Irna bersemburat sendu karena pernikahan terselebungnya itu.
Irna menundukkanmu kepalanya, dia masih memutar otaknya mencari solusi yang tepat untuk mereka bertiga. Bagaimanapun juga ini tidak hanya menyangkut namanya sendiri, tapi juga nama kedua Presdir yaitu Rian dan Fredian.
Jika tiba-tiba dia mengambil tindakan dan keputusan sepihak Irna sangat takut jika mereka berdua akan melakukan hal yang tidak diduganya.
Dia takut mereka akan melakukan adu jotos di depan publik. Dan itu sangat memalukan sekali untuk reputasi mereka berdua.
"Sebenarnya ini salah siapa sih? kenapa kepalaku pusing sekali memikirkanya? kenapa tidak mereka saja yang mencari solusinya!" Gerutu Irna sambil berjalan mondar-mandir di dalam kantornya.
Dan akibat dari pernikahan tersembunyi itu adalah berita yang terus datang simpang siur menimpa dirinya. Dia terus di kabarkan bersama pria yang tak lain adalah suami sendiri itu.
"Tidak, kita tidak bisa melakukannya sepihak tanpa persetujuan dari kedua Presdir itu." Ujar Irna menggigit bibir bawahnya merasa bingung sekali.
Dia bahkan tidak pernah memikirkan jika tiba-tiba dia terlibat dengan dua Presdir yang sama-sama kaya raya itu. Tidak pernah bermimpi ataupun berminat membina hubungan yang rumit di antara keduanya.
Baginya hidup dengan satu pria, dan bisa menjaga hubungan dengan baik itu sudah luar biasa sekali.
Tapi siapa sangka jika dia terlempar dari pelukan pria satu dan ke pria lainnya yang merupakan hasil dari kesepakatan para pria itu.
Dia sama sekali tidak tahu apa-apa tapi terkena imbas dari perbuatan konyol mereka berdua. Irna sakit hati, dan terus menerus tersakiti.
Dia tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan di sisi suaminya yang baru. Suami yang baru pertama kali dikenalnya.
Walaupun sikapnya selalu lembut dan menyayangi dirinya sepanjang waktu, tapi masih saja Irna merasakan dia itu pria asing yang baru saja bertemu dengan dirinya beberapa bulan lalu.
"Bu pria tadi juga mengajukan kontrak." Tambah Rini sambil menyodorkan berkas surat kontrak kepada Irna, gadis itu terus memijit pelipisnya karena sangat pusing.
"Tolak saja!" jawab Irna tegas pada sekretarisnya itu.
"Tapi Bu dia sudah ada." Belum selesai Rini berkata Irna sudah menyahutnya dengan perkataan yang tidak ingin dibantah lagi.
"Pokoknya tolak saja, sementara ini jangan terima kerjasama apapun dengan pria!" Tambah Irna lagi merasa dunianya akan semakin pelik dan rumit karena terus menerus terlibat dengan pria.
"Wahhh! wahh! sejak kapan seorang Irna Damayanti menolak kontrak besar??" Pria di atas atap tadi masuk ke dalam ruangan Irna. Dia tersenyum mengejek melihat wajah Irna terlihat begitu kusut dan kesal.
Dia melangkah dengan sangat santai sambil tersenyum ke arah Irna. Pria tampan wajahnya mirip wajah artis ternama. Bajunya juga sangat rapi dan berkelas.
Melihat dari penampilannya pria ini juga bukanlah pria sembarangan yang bisa di anggap remeh.
Tapi Irna sudah sangat kesulitan mengatasi masalah dirinya sendiri dengan kedua pria yang mengerubunginya saat ini. Dia tidak ingin menambah masalah lagi dengan pria lainnya.
"Rin, kamu lanjutkan pekerjaanmu dulu." Perintah Irna agar Rini meninggalkan ruangannya. Irna tidak ingin sekretarisnya itu terlibat masalah dengan kliennya.
Rini segera undur diri dari ruangan Irna dan melangkah menuju kembali ke ruangan sekretarisnya.
"Siapa sebenarnya pria tampan itu? belakangan ini Bu Irna dikelilingi dua Presdir yang sangat tampan, dan kaya raya. Dan sepertinya akan bertambah lagi satu pria di sisinya Bu Irna." Gumam Rini sambil kembali menekuni pekerjaannya.
Gadis itu tersenyum kecil karena merasa lucu ketika melihat bos cantiknya itu sedang merasa kesal, wajah Irna bukan jadi menakutkan ketika marah. Tapi wajahnya semakin terlihat imut dan cantik.
Gadis itu sudah mengikuti Irna sejak awal perusahaan itu di dirikan.
__ADS_1
Pria asing itu duduk berhadapan dengan Irna, melihat Irna dengan tatapan seolah-olah hendak menelan bulat-bulat dirinya.
"Apakah dia sudah tidak waras? kenapa melihatku dengan tatapan menjijikkan seperti itu?!" Bisik Irna dalam hatinya.
"Ehm! ada keperluan apa anda ke sini? Jika untuk kontrak kerja untuk sementara saya tidak menerima tawaran apapun karena terkait rumor yang menimpa saya sekarang." Ujar Irna berterus terang sambil tersenyum sinis.
"Bukankah bagus jika kita bekerjasama untuk menghilangkan kedua rumor tersebut?!" Ujar pria itu dengan seringai misterius mendekatkan wajahnya di depan Irna.
"Kita kerjasama, dan kita buat sebuah hubungan palsu untuk mengubur rumor sebelumnya!" Jelas pria itu lagi.
"Apa yang dimaksud pria ini, dia akan masuk ikut campur dengan hubungan aku dan Rian juga Fredian??! kepalaku sudah ingin pecah karena berhubungan dengan mereka berdua, sekarang hendak di tambah satu pria lagi yang tidak kukenal."
"Salah aku dan Rian tidak mempublikasikan hubungan suami istri, dan juga Fredian yang terang-terangan mengejar tanpa peduli pandangan publik." Gerutu Irna dalam hatinya merasa kesal sekali dengan ulah mereka berdua.
Pria tersebut menyodorkan kartu nama. Di sana tertulis Dion Anggara, Direktur perusahaan Entertainment ternama di London.
Irna meremas kartu nama tersebut.
"Boleh saya tahu alasannya, kenapa anda mengikat kerjasama dengan saya?"
"Saya ingin kabur dari pernikahan!" Jawab Dion langsung tanpa malu sama sekali.
Irna menganga tidak percaya mendengar penjelasan dari pria tersebut.
"Apa?! lalu kenapa harus saya?!" Sergah Irna dengan sangat emosional.
"Anda ini mengajukan kontrak kerja apa? saya ini arsitek bukan menyewakan diri sebagai orang yang akan menutupi masalah pribadi anda tuan Dion Anggara!" Ujar Irna sambil menekankan suaranya.
Irna kesal sekali, bagaimana tidak? tiba-tiba muncul satu orang lagi pria yang tidak dia kenal sama sekali. Dan pria itu dengan langsung meminta dirinya untuk membantunya kabur dari sebuah pernikahan.
"Karena anda terlibat masalah yang rumit, jadi kita bisa menyelesaikan masalah keduanya dengan sekaligus, seperti membunuh dua burung dengan satu batu!" Mengedipkan sebelah matanya kepada Irna.
"Maaf saya tidak tertarik, silahkan pak Dion keluar dari ruangan saya!" Usir Irna tanpa ingin memperburuk keadaan di sekitarnya.
"Oke, kalau begitu saya akan membuat anda memohon untuk bekerja sama dengan saya kurang lebih dalam waktu satu minggu!" Ujar Dion dengan wajah serius.
"Dan saya akan membuat anda tidak punya pilihan lain, kecuali menyetujuinya!" Kembali menyodorkan kartu namanya dengan tatapan membunuh, lalu keluar ruangan.
"Jika aku mempublikasikan hubungan pernikahan dengan Rian maka Fredian juga akan membenarkan hubungan antara aku dan dia, kenapa aku tidak mati saja? daripada terlempar ke dalam mulut para buayaaaaa!"
"Rini kemarilah.."
"Ada apa Bu?"
"Untuk sementara waktu saya akan menyewa apartemen, dan tidak akan pulang ke rumah. Jika ada sesuatu yang penting hubungi saya."
"Baik Bu." Ujar Rini kemudian meninggalkan ruangan.
"Astaga ponselku!!! tertinggal di rumah"
Ujar Irna menepuk jidatnya.
Rini kembali masuk ke dalam ruangan Irna,
"Bu ada seseorang yang mencari anda.."
"Siapa Rin?"
"Saya!" Rian masuk ke dalam ruangan Irna. Rini segera pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aku mendengar berita hari ini." Berdiri di hadapan Irna.
"Aku berpapasan dengan pria tadi, dia bukan seseorang yang bisa kamu sentuh." Tambah Rian.
"Dia tidak akan melunak, bahkan jika kamu memohon-mohon!" Ujar Rian menghawatirkan Irna.
"Ha ha ha, memangnya siapa sebelumnya yang membuat segalanya jadi rumit???!" Tanya Irna sambil menyalahkan Rian.
"Bukan hanya aku." Jawab Rian mengalihkan pandangannya tidak mau jadi satu-satunya pria tertuduh.
"Lalu, apa kamu punya jalan keluarnya? ini bukan masalah pria barusan tapi masalah kita bertiga!" Teriak Irna sambil mendelik kepada Rian yang sudah jadi suaminya itu.
__ADS_1
"Mungkin Fredian akan menggunakan Siska sebagai tameng." Ujar Irna sambil memijit keningnya.
"Sepertinya tidak, dia lebih memilih memamerkan hubungan kalian berdua. Ketimbang menggamit Siska ke depan kalayak, dia sangat marah karena kejadian terakhir itu." Ujar Rian dengan wajah serius melihat reaksi dari Irna.
"Oh ya, aku sudah memutuskan untuk menyewa apartemen." Ujar Irna kembali bicara dengan nada serius pada Rian.
"Kamu sebaiknya tetap tinggal denganku, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi di luar sana." Rian sangat berharap Irna tetap tinggal di sisinya.
Dia tidak ingin Irna terluka lagi, dia tidak ingin wanita yang dia cintai jauh darinya.
"Kita tidak bisa mengungkapkan hubungan, juga tidak bisa menampik bahwa kita tidak memiliki hubungan sama sekali." Terang Irna pada Rian sambil menatap wajah pria di depannya itu lekat-lekat.
"Aku tidak bisa mengambil keputusan yang lain, selain ini sekarang. Aku harap kamu tidak keberatan." Ucap gadis itu dengan wajah memohon.
Dia memiringkan kepalanya mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba tampil imut di hadapan Rian. Pria itu tidak tahan jika Irna melakukan itu padanya.
Segala hal yang ada hubungannya dengan Irna selalu menyita perhatiannya.
"Kenapa gadis ini begitu imut, dan membuatku selalu tidak tahan saat berada di sekitarnya." Desah Rian dalam sudut hatinya.
"Tapi aku tidak janji, akan bisa bertahan berapa lama. Jika tiba-tiba aku menyusulmu, kamu tidak boleh mengusirku!" Ujar Rian tidak bisa menolak permintaan gadis yang sangat dicintainya itu.
"Oke!" Ujar Irna tersenyum.
Rian mendekat ke arah Irna mengangkat tubuh Irna menaikkan ke atas meja.
"Apa yang kamu lakukan, ini di kantor!" Mencoba mendorong Rian menjauh.
"Aku hanya ingin memeluk istriku, dia merajuk sejak kemarin dan dia menelantarkanku!" Merengkuh tubuh Irna dengan lembut. Pria itu mencium keningnya dengan lembut.
Tiba-tiba Fredian masuk ke dalam ruangan.
"Plak! plak! plak! tontonan yang menarik!" Ujarnya sembari bertepuk tangan, pada mereka berdua.
"Tidak puas melakukannya sepanjang hari di rumah, lalu menambah waktu di kantor." Sindiran pedas Fredian membuat Irna menahan marah.
Rian hanya diam saja mendapat sindiran dari Fredian, karena dia merasa dialah yang dengan sengaja merebut wanita yang sangat dicintainya itu.
"Irna aku kembali dulu, ini ponselmu kemarin tertinggal di rumah." Rian melangkah cepat berjalan keluar ruangan, meninggalkan Irna dengan Fredian.
"Angin apa yang membawa Presdir Angel Reshort kemari?!" Menghardik dan mendelik ke arah Fredian.
Fredian merasa kedoknya terbongkar diam seribu bahasa.
Dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, melihat Irna dengan wajah sedikit takut.
"Kenapa diam, kamu tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?" Sergah gadis itu lagi sambil berkacak pinggang.
"Apa kamu sengaja ingin bersaing dengan Rian karena kontraknya denganku?" Tanya Irna lagi semakin marah karena tidak tahu jika Reshort Angel adalah milik Fredian.
"Aku hanya ingin lebih banyak bisa bersamamu Irna, tetapi sepertinya kamu lebih tertarik dengannya." Jawab Fredian lirih menundukkan wajahnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan dengannya di belakangku??" Ungkap Fredian tak bisa menahan nyeri hatinya lagi.
"Aku sudah menjadi miliknya, jadi menurutmu apa yang aku lakukan dengannya? haruskah aku setiap waktu melaporkan segalanya padamu?" Tanya Irna sambil menatap wajah Fredian.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaamu, aku minta maaf." Irna turun dari meja dan kembali duduk di kursi kerjanya, wajahnya menunduk.
"Semakin lama kamu bersamanya kamu semakin melupakanku." Ucap Fredian sedih.
Dia sekarang tahu jika Irna mulai menaruh simpati pada suaminya itu. Perlahan tapi pasti Fredian mulai merasa kehilangan cintanya sedikit demi sedikit.
Gadis yang dia cintai sepertinya tidak lama lagi akan meninggalkan dirinya.
"Aku tetap mencintaimu! dan aku akan mengadakan konferensi pers besok, untuk menyatakan segalanya. Segalanya tentang kita!" Ujar Fredian sembari memegang bahu Irna.
"Lalu kamu tidak memikirkan perasaan Siska?" Tanya Irna pada Fredian sambil menatap wajahnya dengan tatapan serius.
"Dia bukan tunanganku, dia tidak layak mendapatkan cinta dariku!"
bersambung...
__ADS_1