
"Fredd.. kamu nakal..." Irna memukul manja lengan suaminya seraya merajuk. Pria itu sudah memulai permainannya.
Meja kerja Fredian ikut berderit akibat guncangan permainan mereka berdua. "Kamu begitu menikmatinya..." Bisik Fredian di telinga Irna.
"Fred... mmmhhh.. akkhhh..ahhh.. " Irna menyelesaikan klimaksnya pagi itu. Fredian tersenyum, memagut bibir tipisnya dengan lembut.
"Irna.. akkkhhh!" Berikutnya disusul lenguhan panjang Fredian.
Irna merapikan pakaiannya kembali, gadis itu bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Fredian masih memeluknya erat dari belakang.
"Kenapa Fred? apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Irna sambil menoleh ke samping menunggunya bicara.
"Jangan membuatku cemburu, aku sangat mencintaimu." Bisiknya di telinga Irna.
"Fred, aku sudah mengatakan bahwa aku dan Rian tidak memiliki hubungan sama sekali kepada publik." Jelasnya pada Fredian.
"Kenapa kamu melakukannya? mereka akan berpikir kamu gadis lajang! dokter Kaila Elzana, gadis cantik itu sekarang tidak bersuami! menurutmu apa yang akan di lakukan pria ketika mendengar itu?" Fredian memutar tubuhnya menghadap ke arahnya.
"Aku tidak tahu. Aku pikir itu yang kamu inginkan, jadi aku mengatakan semuanya." Ujarnya sambil tersenyum.
"Kamu ingin aku memiliki saingan cinta lagi?!" Fredian berkacak pinggang menatap tajam ke arah Irna.
"Apa maksudmu? aku hanya akan melihatmu, aku tidak pernah menyukai pria lainnya." Ujarnya sambil memegangi pinggang Fredian.
"Ah ya sudahlah, terlanjur begini mau bagaimana lagi." Fredian melepaskan pelukannya lalu mengambil air minum di atas meja. Kemudian menenggaknya sampai habis.
"Fred, aku akan ke rumah sakit sekarang." Irna mengambil tasnya, menunggu jawaban dari Fredian.
"Apakah kamu akan lembur lagi malam ini?" Tanyanya pada Irna, mereka melangkah bersama-sama keluar dari dalam ruangan.
"Aku akan menelepon jika ada lembur." Ujarnya seraya tertawa ringan.
"Jangan marah lagi ya? ya?" Rajuknya sambil menggamit lengan suaminya.
"Hem." Fredian tersenyum melihat wajah Irna merajuk padanya. Wajah yang imut dan cantik sekali.
Di sisi lain..
Kania bersiap pergi menuju ke kampus, dia berpapasan dengan Royd ketika masuk di area parkiran apartemen.
"Kania!" Panggilnya untuk menghentikan langkahnya, selama tiga hari terakhir pria itu bersikap tenang. Kania juga sedikit lega karena ia tidak mengganggunya seperti sebelumnya.
Kania memandang wajahnya sekilas, kemudian membuka pintu mobilnya masuk ke dalam, diikuti oleh Royd. Pria itu duduk di kursi sebelah.
__ADS_1
"Ah, aku lupa belum mengembalikan ini." Menyodorkan kompas milik Royd, pria itu menerimanya kemudian mengantonginya.
"Ada apa kamu memanggilku? apa ada sesuatu yang penting?" Tanyanya pada pria di sebelahnya, karena Royd tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan memulai pembicaraan antara mereka berdua.
"Aku mencintaimu." Dua kata itu yang keluar dari bibirnya.
"Apakah aku punya pilihan lain selain menerimamu?" Kania bertanya sambil tersenyum tipis.
"Tidak boleh! kamu tidak boleh menolaknya." Sergahnya lagi sambil menggenggam jemari tangannya.
Kania mulai menyalakan mesin mobilnya, Royd masih memegangi tangan kirinya. Pria itu tidak ingin melepaskan Kania begitu saja.
"Tasku!" Ujar Royd saat mereka hampir sampai di pintu parkiran apartemen.
"Turunlah dari mobilku, pak dosen. Kembalilah atau akan ada rumor mengerikan di kampus tentang kita berdua nantinya." Kania menoleh ke arahnya, gadis itu terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Cium aku!" Perintahnya tiba-tiba. Kania mengeryitkan dahinya, dia merasa aneh dengan ucapan Royd yang begitu tidak masuk akal hinggap di telinganya saat itu.
"Ka, kamu bilang apa barusan?!" Tanyanya dengan suara sedikit tergagap bagai disambar petir di siang bolong. Otak Kania belum bisa mencerna kata-kata Royd barusan.
"Cium aku! atau aku akan membuatmu menggila di sini!"
"Kamu mengancamku?? kalau kamu melakukannya lagi, aku akan melaporkan pada polisi kalau kamu melakukan tindakan pidana!" Ujarnya sambil tersenyum manis.
"Jadi kamu sudah tidak peduli dengan nama keluarga Aditama? heh?" Mendekatkan wajahnya ke wajah Kania.
Kania mencekal erat kedua bahunya, mencoba mendorongnya untuk menjauh darinya.
Gigitan kecil Royd hinggap di sana, membuat darah Kania kembali berdesir. "Ahhhh.. jangan sekarang..mmmhh Royd..." Meremas-remas kepala pria itu, yang sudah membenamkan wajahnya di atas gundukan kenyal dadanya.
"Lalu kapan?" Bisiknya di telinga Kania jemari tangannya masih bermain di dalam shirt Kania.
"Nanti sepulang dari kampus.. akkkhh..ahhh." Ujarnya sambil megap-megap karena Royd tidak segera menarik tangannya dari dalam shirt-nya.
"Cium aku.." Bisiknya lagi. Mau tidak mau Kania mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Royd. Sekitar satu menit bibir mereka bertautan di dalam mobil.
"Oke, aku pegang janjimu. Jika kamu mengingkarinya awas saja, aku tidak akan melepaskanmu semalaman! braaakk!" Ujarnya seraya melompat turun dari mobil Kania.
Kania mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya, "Dasar pria gila! dia memaksakan cintanya sekeras itu! bagaimana caranya aku bisa kabur darinya! aku pikir dia sudah tenang selama tiga hari terakhir! tapi rupanya dia sengaja menungguku! aaaakkkkhhhh!" Gerutu Kania seraya membenturkan kepalanya di atas stang mobilnya.
Kania segera melajukan mobilnya menuju ke kampus, gadis itu bercermin dan memperbaiki makeup nya sebelum turun dari mobilnya.
Seluruh lipstiknya sudah habis akibat berciuman dengan dosennya itu. Kania menyambar tasnya dan melangkah santai menuju kelasnya. Diikuti oleh Royd dari belakang punggungnya.
__ADS_1
Pria itu melangkah santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa pagi ini. "Dia benar-benar pandai bermain sandiwara." Gumam Kania lirih seraya tersenyum tipis.
"Ah, apa kamu ingin aku menunjukkan bahwa kita berpacaran?" Sahutnya pada gadis di sebelahnya itu.
"Jangan konyol!" Tandasnya tegas. Kania mempercepat langkah kakinya naik ke lantai dua menuju kelasnya. Royd tidak mau mengambil jarak sejengkalpun darinya, membuat gadis itu menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa di kampus kedokteran tersebut.
"Pak dosen!" Kania membalikkan badannya menatap ke arah Royd yang menempel di belakang punggungnya sejak dari parkiran tadi. Wajahnya terlihat sangat kesal, tapi juga merajuk padanya.
Kania memberanikan diri untuk memegang dadanya, "Jangan seperti ini." Bisiknya pelan sekali membuat Royd berdebar-debar. Pria itu mematung di tempatnya, menunggu Kania naik duluan.
"Dasar sialan! apakah aku harus terus berpura-pura merajuk, juga merayunya?? agar pria itu mau melepaskanku??!" Gerutunya seraya terus meniti tangga naik ke lantai dua.
"Dia sedang berpura-pura, tapi dadaku berdebar kencang sekali!" Gumam Royd Carney sambil tersenyum menatap punggung Kania yang semakin jauh.
Mira sudah duduk di kursinya, gadis itu segera melambaikan tangannya melihat Kania masuk ke dalam kelas.
"Kania sini!" Kania tersenyum lebar menghampiri sahabat terdekatnya itu. Gadis itu menghenyakkan tubuhnya di kursi sebelahnya.
Lima menit yang Royd masuk ke dalam kelas.
"Pagi anak-anak."
"Pagi pak dosen!" Jawab seluruh mahasiswa serempak.
"Keluarkan tugas kemarin, kita bahas satu-persatu. Apakah ada yang mendapat kesulitan untuk mengerjakannya?" Tanyanya seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh mahasiswa di kelasnya.
"Sepertinya tidak ada, Kania kamu kerjakan soal pertama di depan kelas." Perintahnya pada Kania, seraya mengangkat kedua alisnya tersenyum penuh misteri.
Mau tidak mau Kania segera beranjak berdiri dari kursinya, dan mulai mengerjakan soal tersebut di depan kelas. Kemudian duduk kembali.
"Nia, kamu tidak dengar gosip belakangan ini?" Bisik Mira saat murid lain sedang maju ke depan kelas mengerjakan soal berikutnya.
"Gosip apa memangnya?" Tanya Kania padanya, gadis itu memang tidak mengerti sama sekali.
"Tari dan Eva mereka masuk ke dalam kamar apartemen milik pak Royd!" Ujarnya dengan wajah serius.
"Ah, itu." Timpalnya singkat, dan terlalu singkat untuk menanggapi pernyataan panjang lebar sahabatnya itu.
"Kamu tidak terkejut?"
"Biasa saja, mungkin mereka berdua ingin membahas tugas atau yang lainnya." Kania tersenyum simpul seraya menatap wajah Mira.
"Bagaimana jika Mira tahu aku sudah tidur dua kali dengannya! kira-kira pasti dia akan memukuliku habis-habisan." Bisik hati kecilnya sambil memalingkan wajahnya dan menutup matanya rapat-rapat.
__ADS_1
Bersambung...
Tinggalkan like sebelum pergi.. thanks for reading...