
Setelah selesai mandi Irna bergegas masuk ke dalam ruang ganti. Dia bersiap-siap kemudian memakai jas dokternya.
Irna melangkah mendekat ke arah suaminya membetulkan letak dasinya. "Kamu mau berangkat sendiri atau aku antar?" Ujarnya sambil membelai rambut panjang Irna.
"Antar aku, turunkan di kafe dekat rumah sakit. Cup!" Mencium pipinya, bergelayut mesra di leher suaminya.
"Kamu manis sekali, aku jadi malas pergi ke kantor." Memijit ujung hidung Irna.
"Akh! Singkirkan tanganmu." Keluhnya sambil mengusap ujung hidungnya, kemudian memeluknya erat seraya menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
"Kalau begini, aku yakin meetingku bisa batal." Ujarnya sambil tersenyum menatap wajah manja Irna.
"I Love You!" Bisiknya di telinga suaminya, kemudian melangkah mendahuluinya keluar dari dalam kamar. Fredian tersenyum manis mengikuti langkah kakinya dari belakang.
Mereka berangkat bersama menuju ke rumah sakit. Selama perjalanan Irna terus menciumi pipinya. "Ini sudah yang ke seratus kalinya Irna.." Nyengir, menatap wajah cemberut di sebelahnya.
"Ah, turunkan aku di sana." Menunjuk kafe di sekitar rumah sakit. Fredian menghentikan mobilnya, "Ini yang ke seratus satu kalinya." Memagut bibirnya kemudian menggigitnya. "Akkh!" Fredian memekik kemudian mengusap bibirnya sendiri. Dia bercermin di kaca mobilnya, bibirnya sedikit terluka.
Dia semakin terkejut ketika melihat bekas kemerahan di lehernya, dia membuka kancing bajunya untuk melihat lebih jauh. "Astaga Irna, di bahkan meninggalkan tanda kepemilikan begitu banyak pada tubuhku. Apa yang sebenarnya dia khawatirkan?" Gumamnya sambil tersenyum mengingat begitu manis istrinya.
Fredian sampai di Resort sekitar pukul delapan pagi. Dia tidak terkejut melihat para petugas tersenyum saat menyapanya.
Dia melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya. Maya masuk mengikutinya membawakan berkas untuk acara meetingnya.
Maya melotot menatap bibir mungil Fredian agak bengkak. Juga lehernya penuh noda kemerahan.
"Hahahaha." Tertawa tiba-tiba, kemudian mendadak berhenti melihat Fredian mendelik ke arahnya. "Maaf Presdir, saya mau menyiapkan ruang rapat dulu." Berlari terburu-buru keluar dari dalam ruangan kerjanya.
"Bagaimana aku bisa menghadiri rapat kalau tubuhku penuh lebam begini? Irna, Irna..." Tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mengingat sikap kekanakannya.
Fredian keluar dari dalam ruangannya, dia menemukan Nira di lobi Resort. "Nira, kamu bisa menggantikan rapat hari ini?" Tanyanya pada gadis itu.
"Mana bisa, itu kan klien penting kek, dari Kanada juga datang kan?" Ujarnya seraya mengunyah permen karet kemudian menggembungkan di depan wajah kakeknya. "Pluk!" Permen karetnya meletus tepat mengenai hidung kakeknya.
Karin terkejut melihat gadis cantik, tomboy sangat dekat dekat dengan Fredian. Usia mereka berdua terlihat tidak terlampau jauh.
Melihat Fredian tersenyum hangat bersamanya, dia berpikir mereka adalah pasangan kekasih. Nira tahu, diam-diam wanita bernama Karin itu sedang mencuri perhatian Fredian.
Gadis itu selalu tahu dan peka terhadap lingkungan di sekitar mereka, apalagi aroma-aroma cinta. Nira sengaja menggamit lengan kakeknya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fredian.
"Nira apa yang kamu lakukan?" Fredian terkejut saat cucunya mencium pipinya. Gadis itu hanya tersenyum sambil berbisik. "Aku sedang membantumu kakek." Pura-pura membetulkan letak dasi Fredian.
Fredian sedang menyambut kedatangan para tamu dan klien untuk acara meetingnya. Nira ikut membantunya, dia sengaja tidak ingin jauh-jauh dari Fredian.
Sama sekali tidak mau memberikan kesempatan pada Karin. Wajah Karin terlihat tidak senang karena Fredian sepanjang waktu berada di dekat gadis itu.
Apalagi saat dia mengambil lembaran berkas materi, yang akan dibahas untuk meeting hari ini, dia melihat bekas-bekas ciuman di leher pria tampan itu.
Nira bahkan terlambat mengetahuinya, Karin spontan meremas berkasnya saat menatap ke arah leher pria tampan yang sangat dikaguminya itu.
Dari situ Nira tahu, dia hampir saja meledakkan tawanya jika Fredian tidak buru-buru membekap mulutnya. "Mmmm! mmmm!" Memukuli lengan kakeknya sambil menunjuk bibirnya, tangan Fredian masih bertengger di sana.
"Wah nenek hebat, dia sudah membuat pembatas untuk gadis lain. Artinya dia semakin jeli belakangan ini." Bisiknya pada Fredian yang duduk di sebelahnya di dalam ruang meeting.
"Dia bahkan hampir tidak mengijinkanku datang ke kantor pagi ini." Balasnya pada cucunya.
Sekitar lima menit mereka berdua berbisik-bisik, dan wajah Nira berkali-kali tersenyum sumringah.
__ADS_1
Wajah Karin semakin kesal, hatinya terasa meledak-ledak melihat kebersamaan itu.
Acara meeting berlangsung dengan lancar tanpa hambatan. Para tamu dan klien keluar satu persatu dari ruangan meeting tersebut. Nira pun berpamitan pada Fredian untuk keluar dari dalam Resort
Dan tertinggal Karin, gadis itu keluar paling akhir. Saat melangkah menuju pintu keluar tiba-tiba gadis itu terjatuh. "Akh! kakiku!" Pekiknya seraya menjatuhkan tubuhnya di lantai di depan pintu. Menghalangi langkah kaki Fredian.
Fredian menggaruk kepalanya, tidak langsung membantunya. Dia celingukan ke kanan dan ke kiri mencari seseorang.
"Akh, Presdir Fredian.. kakiku sakit sekali. Bisakah kamu mengangkat tubuhku? sepertinya aku kesulitan berjalan." Ujarnya sambil meringis kesakitan.
Karena tidak ada orang lewat, Fredian terpaksa membantunya berdiri. Karin tersenyum saat Fredian memegangi pinggangnya untuk membantunya berdiri.
Saat memapahnya berjalan, Karin menjatuhkan tubuhnya. "Kakiku sakit sekali, sepertinya aku tidak bisa berjalan." Keluhnya lagi, bergelayut berlama-lama di leher Fredian.
Tidak butuh waktu lama, reporter yang disewa oleh Karin segera mengekspos berita tersebut. Dari makan malam mereka di kafe kemudian di Resort Fredian.
"Triiing!" Rian melihat berita ekslusif melaluinya ponselnya. "Triiing!" Alfred juga sama halnya Kania dan Nira.
Javi terbelalak melihat pria yang sebelumnya bernama Ronal ternyata Presdir Resort yang kemarin dikunjunginya terlibat dengan gadis Italia.
Sebelumnya yang dia tahu, Fredian adalah kekasih simpanan Irna. "Apa yang dilakukan pria bodoh ini?!" Serunya terpingkal-pingkal melihat foto Fredian dengan Karin di layar ponselnya.
Rian tidak segera menghubungi Irna, gadis itu sedang sibuk menangani operasi sekarang. Setelah selesai operasi gadis itu membersihkan tangannya, lalu kembali berganti pakaian dengan jas putihnya.
Irna melangkah santai menuju kantin rumah sakit. Pagi tadi dia belum makan sama sekali, karena terlambat datang.
Rian melihat ruang kerjanya kosong, lalu menghubunginya melalui ponselnya. "Kamu di mana?" Rian memijit pelipisnya, dia khawatir Irna terluka lagi saat melihat berita itu.
"Aku lapar sekali, operasiku berlangsung lebih lama dari biasanya karena kamu menyita asisten hebatku!" Geramnya pada Rian.
Rian tersenyum lalu menghampirinya, Rian melihat layar kaca yang terpampang di dinding tepat di hadapan mereka berdua. Dan berita itu mengulas foto-foto Fredian bersama wanita lain.
Tanpa menunggu lagi, Rian meraih kepalanya dan terlihat sedang mencium bibirnya demi menghalanginya agar tidak melihat ke layar kaca di tengah kantin tersebut.
Begitu banyak karyawan yang mengambil foto mereka berdua. Sebagian juga mengeksposnya pada sosial media. Tak butuh waktu lama berita kemesraan mereka berdua menggeser posisi berita utama Fredian.
Dan itu adalah rencana Rian, untuk menjatuhkan Karin, menghancurkan usaha wanita itu. Rian mengeluarkan biaya cukup banyak untuk meledakkan berita kemesraan dirinya dengan Irna.
"Apa yang kamu lakukan?" Irna meremas lengannya. Sebenarnya mereka tidak berciuman, Rian hanya mengambil jarak terdekat hingga terlihat sedang bermesraan.
"Aku ingin berita kita memenuhi seluruh media hari ini. Bekerjasamalah denganku!" Masih menahan kepala Irna di depan wajahnya.
"Apa yang terjadi? kenapa tiba-tiba sekali?" Tanya Irna lagi, kali ini Irna meletakkan kedua tangannya di belakang leher Rian, pura-pura meresponnya.
"Kamu harus mempercayai Fredian apapun yang terjadi! ingat pria itu tidak akan pernah manghianatimu." Rian ingat bagaimana hancurnya Irna saat rasa percayanya hancur beberapa minggu lalu.
Irna menganggukkan kepalanya, dan dia tersenyum saat Rian mengangkat tubuhnya dalam gendongannya menuju ruangan Presdir. Suara riuh seluruh karyawan memenuhi kantin dan lorong rumah sakit.
Fredian memanggil sopir panggilan untuk Karin, karena gadis itu bilang tidak bisa menyetir. Pikirnya Fredian yang akan mengantarkan dirinya ke rumah sakit. Tapi dia malah memanggil sopir panggilan.
Fredian tersenyum melihat sopir membawa wanita itu pergi dari Resort miliknya. Tak lama setelah itu Nira yang tadinya pergi, tiba-tiba kembali ke sana.
Gadis itu terlihat tergesa-gesa, "Apa ini kek? padahal aku sudah bicara soal ini, tapi tetap juga kecolongan!" Mengancungkan layar ponselnya di depan wajah Fredian.
"Presdir Resort angel dengan Karin gadis Italia sedang mengungkapkan hubungan antara mereka berdua di depan publik. Ada yang bilang bahwa mereka akan bertunangan tahun ini!"
Fredian tersenyum melihat berita itu, lalu saat menggeser layar ponselnya, dia melihat berita lebih panas dari pada berita skandal dirinya.
__ADS_1
"Pasangan dokter, Kaila Elzana dengan Presdir Rian Aditama. Bermesraan di kantin rumah sakit. Ikatan suami istri yang sangat romantis, hingga membuat karyawan iri dan gigit jari."
"Apa ini?!" Fredian menelan ludahnya melihat video otomatis putar ulang di depan wajah cucunya.
"Hahahhahaha!" Nira terpingkal-pingkal melihat berita yang sudah melindas habis berita utama Fredian.
"Sepertinya kakek Rian sedang membantumu deh?" Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lihatlah hasil rekaman ini? bukankah ini terlalu bagus dan jelas jika hanya direkam menggunakan kamera ponsel? ini seperti film pendek di era modern! wah keren sekali mereka berdua." Mengancungkan jempol ibu jarinya pada Fredian.
"Jangan bilang kakek cemburu karena ini?" Menunjukkan video itu kembali padanya.
"Tidak. Bukankah seharusnya aku berterima kasih atas sekenario suami istri mereka berdua?" Berkacak pinggang lalu masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Fredian tidak tahan lagi, dia segera menghubungi Irna melalui telepon di atas meja kerjanya.
Irna masih berada di ruangan Rian, dia melihat nama Fredian di layar ponselnya. "Halo Fred?" Tanyanya pada suaminya.
"Irna, ini sedikit.."
"Sedikit membuatmu tidak nyaman? dan ini terjadi karena skandal sebelumnya. Jika skandal sebelumnya tidak ada, maka seharusnya acara drama ini juga tidak akan ada." Tuturnya tanpa emosi sama sekali. Rian menarik nafas lega melihat Irna tidak marah-marah.
"Tapi kalian berciuman di depan orang banyak? dan bermesraan seperti itu.." Fredian kembali protes karena video tersebut terlihat begitu jelas.
"Dia bahkan tidak menyentuh bibirku, selain menghalanginya dengan ibu jarinya. Rian mencium ibu jarinya sendiri yang ditempelkan pada bibirku. Apakah kamu puas dengan jawabanku?" Fredian tercekat mendengar penjelasan Irna, dia tidak mungkin meragukannya lagi.
Selama ini Irna bersama dengan sahabatnya itu, juga tetap menyimpan perasaan yang sama terhadap dirinya.
"Baiklah aku mempercayainya, apakah kamu akan pulang bersamaku hari ini?" Tanyanya lagi.
"Aku akan mengantarkan Irna padamu." Rian merebut ponsel Irna dan segera bicara dengan Fredian.
"Ada masalah yang harus kamu ketahui, terutama tentang berita hari ini." Jelasnya lagi pada sahabatnya itu.
"Antar saja ke resort, mungkin aku tidak akan pulang hari ini." Sahutnya menjawab Rian.
"Baiklah." Rian memutuskan pangilan telepon darinya.
Setelah dua jam, Rian segera mengantarkan Irna kembali ke Resort Fredian. Mereka melangkah bersama menuju ruangan kerjanya.
"Karin, sengaja menyewa reporter untuk meliput berita kalian berdua. Dia bahkan menyebarkan kalian berdua adalah pasangan kekasih." Rian menunjukkan isi berita tersebut padanya.
"Dan kalian menggunakan romansa kalian untuk menutup habis berita ini kan?" Sahut Fredian sambil melirik ke arah Irna.
Irna tersenyum lembut sambil melambaikan tangannya, tanda tidak terjadi apapun antara mereka berdua.
"Ya benar. Aku menyewa seseorang untuk membuat film pendek antara kami berdua." Tuturnya pada Fredian.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya Fredian pada mereka berdua.
"Kita tunggu saja apa yang akan dilakukan gadis ini selanjutnya, setelah berita utamanya gagal." Sahut Irna sambil nyengir menatap ke arah mereka berdua.
Karin meledak-ledak karena berita miliknya terblokir habis di media sosial. Bahkan sekarang berita kisah romantis antara Kaila Elzana dan Rian tengah menguasai publik.
Saat melihat wajah cantik Irna di layar ponselnya, Karin mengingat wajah Nira. Dia pikir wanita dalam video itu adalah Nira.
Bersambung...
__ADS_1