
Fredian bukan tipe pria yang akan tahan melihat Irna sengaja memancing kemarahan di dalam hatinya.
Dengan senyum tipis pria itu menarik Irna ke tempat lain. Menjauh dari Rian.
"Aku pinjam istriku sebentar." Ujarnya pada Rian. Dia hanya tersenyum kemudian mengangguk melihat suami istri itu sedang bertengkar.
Rian pergi meninggalkan mereka berdua, agar menyelesaikan perselisihan di antara keduanya. Pria itu tersenyum dengan santai masuk ke dalam kantor yang berada di dalam lokasi konstruksi.
"Kenapa kamu memegang lengannya?" Tanya Fredian tidak sabar menahan cemburu.
"Oh, aku hanya ingin menunjukkannya padamu!" Ujar gadis itu santai sambil menata rambut menyisir dengan jari tangannya ke belakang telinga.
"Bagaimana rasanya melihat istrimu menyentuh lengan pria lain?" Tersenyum balik bertanya kepada Fredian.
"Sangat tidak nyaman." Ujar Fredian pendek.
"Lalu bagaimana perasaanku saat melihat suamiku dipeluk wanita lain dengan terang-terangan? ditambah dia bahkan tidak bisa menyingkirkan tangan wanita itu di depan istrinya. Dia membiarkan wanita itu menempel terus padanya."
Irna menyilangkan kedua tangannya di depan dada, masih tersenyum menatap wajah pria di depannya.
Fredian mengepalkan jemarinya merasa geram.
"Aku sudah bilang aku tadi salah kira!" Ujarnya dengan sedikit nada berteriak.
"Kamu tahu apa yang diinginkan gadis itu?!" Tanya Irna pada Fredian. Gadis itu melangkah santai mendekat, berdiri di samping memegang bahu kanan suaminya dengan tangan kanan.
"Yang di inginkan olehnya adalah kamu marah padaku, lalu meninggalkanku dan pergi berlari ke dalam pelukannya.." Ujar Irna menatap wajah Fredian yang sedang marah di sampingnya.
"Dia memang sangat mirip denganku, tapi aku pikir dia tidak akan berani melakukan hal sejauh itu. Apalagi langsung di depanku. Hanya karena Reynaldi mengganti model sekali. Gadis itu melakukan terlalu banyak hal yang akan mempersulit dirinya sendiri." Ujar Irna masih berdiri di dekat Fredian, menunggu suaminya bicara.
Fredian membalikkan badannya pergi menuju mobil tanpa berkata apa-apa. Meninggalkan Irna berdiri di sana. Fredian masih sangat marah.
"Aku sudah menjelaskan berkali-kali jika aku hanya salah kira. Tapi dia terus marah padaku seperti anak kecil!" Gerutunya kesal sambil memukul kemudi.
Sesampainya di Reshort Fredian mendapati Jesy masih menunggunya di lobby.
"Untuk apa dia menunggu di sini?!" Tanya Fredian dalam hatinya.
Gadis itu melihat Fredian datang, langsung berlari menghambur memeluknya.
Wajah gadis itu kembali mengingatkan dirinya pada Irna.
"Aku hanya mengingat istriku! tapi wanita ini bukan Istriku! wajah mereka begitu mirip. Dan kelakuan wanita ini sekarang seperti istriku yang sedang merajuk tidak ingin aku pergi!" Bisik Fredian dalam hatinya.
Fredian masih berdiri diam tanpa ekspresi. Pandangan matanya terlihat kosong.
"Apa yang terjadi padaku sebenarnya?"Tanyanya pada diri sendiri tidak mengerti.
Fredian menggenggam tangan Jesy menurunkan dari pinggangnya.
Pria itu berjalan menuju kantornya. Gadis itu mengikuti Fredian dari belakang, ikut masuk ke dalam kantor.
Matanya menyapu seluruh ruangan. Fredian masih diam saja dan mengabaikan wanita di depannya itu.
__ADS_1
"Jika dia berani masuk ke dalam ruangan Rian lalu merayunya tanpa tahu malu! padahal Rian adalah tipe pria yang sangat dingin dengan semua wanita. Dia hanya bersikap lembut pada Irna seorang. Wanita ini sudah tidak memikirkan rasa malunya sama sekali." Gerutu Fredian dalam hatinya.
Mata Jesy tertuju pada lemari di ruangan sebelah kantor Fredian, di sana banyak gaun milik Irna yang di hadiahkan pada Irna. Gadis itu melangkah ke sana mengambil gaun milik Irna lalu mematut dirinya di depan cermin.
"Kelihatannya ini sangat bagus!" Jesy segera melepaskan pakaiannya dan memakai gaun Irna.
Fredian yang sedari tadi sibuk menekuni berkasnya, melupakan wanita yang mengikutinya masuk ke dalam ruangan.
Jesy membuka pintu di sebelahnya, dia melihat tempat tidur di sana. Gadis itu dengan santai berbaring di atas tempat tidur.
Fredian masih menekuni berkasnya, ketika selesai waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dia berniat untuk mandi, pria itu terkejut melihat baju Jesy tergeletak di atas lantai, di ruang ganti milik Irna.
Lalu membuka pintu kamarnya, dilihatnya gadis itu tengah terlelap di atas tempat tidurnya.
Melihat dia mengenakan pakaian Irna, dia kembali teringat pada istrinya. Fredian melangkah mendekat, dia ingin membangunkan gadis itu.
Akan tetapi saat hendak menyentuh bahunya. Tiba-tiba Jesy meraih kepala Ferdian dan menciumnya. Yang ada di dalam pikirannya saat itu hanyalah Irna istrinya.
"Bagaimana mungkin aku melepaskan istriku demi wanita yang hanya memiliki wajah mirip dengannya!" Begitu teriak Fredian dalam hatinya.
Fredian mendorong gadis itu menjauh.
"Apa yang kamu lakukan? kamu menolakku? lihat baik-baik bukankah wajahku lebih cantik dari Irna.." Tanya Jesy masih terus berusaha mendekat.
Jesy menarik dasi Fredian hingga membuatnya jatuh menimpa tubuhnya.
"Kenapa aku tidak bisa mengahadapi wanita yang mengejarku? dan selalu Irna yang membantuku melepaskan mereka?!" Bisik Fredian.
Dia tahu Irna sudah sangat lelah jika dia terus bergantung padanya. Kali ini dia berinisiatif untuk mengatasi masalah ini sendiri.
Fredian segera keluar dari kamarnya, menuju kantor di sebelahnya.
"Pengawal! kalian cepat kemari!" Perintah Fredian pada para pengawalnya melalui ponselnya.
Mereka semua masuk ke dalam ruangan Fredian.
"Bawa wanita di dalam kamarku keluar! dan jangan biarkan wanita itu masuk ke dalam Reshort!"
Para pengawal itu masuk ke dalam kamar, lalu keluar lagi.
"Kenapa tidak membawanya keluar?!" Teriaknya pada para pengawalnya.
"Itu bukannya nyonya?" Tanya salah seorang dengan wajah ketakutan.
"Mulai saat ini kalian harus bisa membedakan mana Nyonya dan mana yang bukan! cepat bawa dia keluar dari sini!" Bentak Fredian tidak sabar.
Para pengawal itu masuk kembali ke dalam kamar. Menyeret Jesy keluar.
"Kalian buang ini juga!" Teriaknya pada para pengawalnya. Fredian segera mengambil baju Jesy dan melemparkannya ke luar dari kantornya.
"Bagaimana mungkin aku bisa seperti ini!? aku begitu frustasi! kenapa wajah Irna dimiliki gadis lain! dan dia terus mengganggu kami!"
Fredian ingat pada Reynaldi, dan wanita itu sangat mirip dengan istrinya.
__ADS_1
"Pasti ini ada hubungannya dengan dia!" Ujarnya kemudian menghubungi Reynaldi.
"Halo!" Reynaldi menjawab telepon.
"Kenapa modelmu begitu mirip dengan Istriku?!" Tanya Fredian sudah tidak sabar.
"Ah, aku tidak sengaja bertemu dengannya dan aku melihatnya mirip dengan Irna. Lalu memperkerjakan dia sebagai modelku." Jawab Reynaldi santai.
"Apa kamu tahu apa yang diperbuatnya?! dia merayuku di depan Irna dengan terang-terangan, dia bahkan memakai baju Irna dan naik ke tempat tidurku! Dia juga merayu Rian Aditama! dan entah apa lagi kerusuhan yang dilakukan oleh modelmu itu!!"
"Apa kamu tertarik padanya? karena dia sangat mirip dengan Irna?! awalnya aku juga begitu, tapi mereka sangat berbeda! hanya wajahnya saja yang di milikinya bukan sifatnya!" Ujar Reynaldi lagi.
"Jika kamu tidak bisa menjaga modelmu itu, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu padanya!" Ujar Fredian kembali.
"Aku sudah memperingatkan untuk tidak mengusik Irna, tapi Jesy sangat keras kepala. Aku sudah bilang tidak akan membantu apapun jika dia terlibat masalah. Jadi terserah apa yang kamu lakukan aku tidak akan ikut campur."
Fredian mengakhiri panggilan teleponnya. Dia segera mengambil kunci mobil hendak pergi menjemput Irna.
Dia melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul lima lebih.
Fredian berusaha menghubungi Irna, namun istrinya itu tidak menjawab panggilan telepon darinya.
"Apa yang terjadi? kenapa dia tidak mengangkat telepon dariku? apakah dia masih marah denganku?" Fredian mengusap keningnya.
Lalu dia mencoba untuk menghubungi Rian. Mengingat pria itu yang tadi bekerja dengan istrinya.
"Rian juga tidak menjawab telepon dariku?!" Fredian sangat panik dan bingung. Berjalan mondar-mandir di depan kantornya.
Akhirnya dia memutuskan pergi ke lokasi konstruksi mencari Irna di sana.
Sesampainya di sana tempat itu sudah kosong dan kantor Irna di sana sudah terkunci.
Fredian melarikan mobilnya menuju kantor Irna, dia juga tidak menemukan Irna di sana.
Fredian menghubungi rumah besar miliknya sendiri, tapi para pelayan bilang Irna tidak kembali ke sana.
Begitu juga rumah besar yang dihadiahkan oleh kedua orang tuanya. Irna juga tidak ada di sana.
Fredian menghubungi kantor Rian, resepsionis bilang Irna tidak ada di sana, begitu juga Rian.
Dengan laju Fredian pergi menuju rumah besar Rian. Saat itu Rian sedang berada di ruang tengah membaca surat kabar.
Dia mendengar suara Fredian, lalu berjalan menuju ruang depan untuk menemuinya.
"Ada apa kamu kemari?" Tanya Rian dengan tatapan tidak mengerti.
Fredian bertanya padanya.
"Apa kamu tadi mengantarkan Irna pulang?"
Rian menggelengkan kepalanya.
"Tadinya aku ingin mengantar, tapi dia bilang dia akan menunggumu.."
__ADS_1
bersambung....