
Irna melihat di ujung syal tersebut tertulis nama Wiliam. "Apakah ini miliknya saat dia masih kecil?" Irna tersenyum mengingat wajah Rian. Pasti sangat imut sekali saat pria itu masih anak-anak.
Dia baru sadar kalau itu sebenarnya adalah milik Rian. Dan Irna mencermati tulisan yang tertera pada bagian dalam cincin tersebut.
"Queen & King" Gumam Irna, gadis itu masih belum bisa memecahkan teka-teki tersebut. Dia masih termenung di duduk di kursi ruang kerja Fredian. "Kenapa dia tidak memberikan kabar padaku, kalau tidak pulang hari ini?" Gumamnya seraya merebahkan kepalanya di atas meja.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tapi Fredian tak kunjung mengirimkan pesan, atau meneleponnya. Masih kemelut seribu tanya melintas di dalam pikirannya.
Irna sedikit khawatir jika terjadi sesuatu pada Fredian. Gadis itu kembali meletakkan syal dan cincin tersebut ke dalam kotaknya, kemudian memasukkan ke dalam laci, lalu melangkah keluar rumah.
Irna berdiri di sana menunggu kedatangan suaminya. Keresahan di dalam hatinya mengguncang perasaannya. Menusuk relung-relung jiwa. Berguncah tiada henti menari dalam benaknya.
"Dia tidak mungkin lembur kan? bukankah ada Nira di sana membantunya?" Gumam Irna lagi.
Irna melihat ke layar ponselnya, masih tidak ada pesan masuk darinya. Dia sudah tidak bisa menunggu lagi, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Gadis itu mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak diangkat olehnya, dia takut terjadi hal buruk padanya. Sampai lima kali dia meneleponnya.
Dan telepon yang keenam kalinya barulah dijawab. Tapi bukan oleh suaminya, melainkan suara desahan wanita.
"Halo?" Irna mendengar suara wanita dari seberang, dia menjawab telepon Fredian.
"Bisakah saya bicara dengan Presdir Resort Fredian?" Irna berusaha menekan emosinya, agar tidak meluapkan amarahnya begitu saja pada wanita di seberang sana.
Bisa saja suaminya masih meeting saat itu, atau sibuk dengan klien yang merepotkan. Atau mungkin ponselnya tertinggal di suatu tempat lalu seseorang menemukannya.
"Fredian masih berada di dalam kamar mandi. Maaf bolehkah saya tahu anda siapa?" Tanyanya balik pada Irna.
"Kurang ajar! dia memanggil nama suamiku dengan nama telanjang!" Geram Irna dalam hatinya.
"Huffttt!" Irna menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan bicara. "Saya istri simpanannya." Ujarnya sambil menunggu jawaban dari seberang.
"Ah! aku lupa di ponsel Fredian tertera namamu, Kaila Elzana! bukannya ini namamu? istri dari Presdir Rian Aditama?!"
Mengejek Irna dengan nada suara tajam.
"Jleg!" Jantung Irna mendadak hancur berkeping-keping terasa sangat sakit sekali. Irna tidak bisa menjawab pertanyaan dari wanita itu.
"Nyonya Aditama? apakah suamimu tahu kamu mengejar Presdir Fredian? sepertinya dia akan marah padamu ketika mengetahui istrinya diam-diam menghubungi pria lain di tengah malam begini! tuuuut! tuuuut! halo! Kaila! Sialan! dia memutuskan panggilan!" Gerutu wanita itu sambil meremas jemari tangannya.
Irna tidak tahan dengan ejekannya, dia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi.
"Akh! situasi rumit ini! kapan akan berakhir!?" Meremas rambutnya lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Irna melangkah menuju kamarnya, dia mencari kunci mobilnya lalu meraih mantel untuk menutupi pakaian tipisnya.
"Nyonya mau kemana malam-malam begini? sebaiknya Nyonya menunggu tuan pulang." Ujar salah seorang pelayan sambil tergopoh-gopoh membantu Irna mengancingkan mantelnya.
"Gak apa-apa bi, cuma ingin menghirup udara malam sebentar. Jika nanti tuan pulang, minta dia untuk meneleponku." Irna mencoba untuk tersenyum menatap wajah pelayan itu.
"Baik nyonya, hati-hati di jalan." Ucap pembantu tersebut di samping mobil Irna untuk membukakan pintu untuknya.
Irna masih tersenyum manis menatap pembantunya itu.
"Aku harus menghubungi Resort." Gumamnya sambil memencet tombol ponselnya.
"Halo Karin?"
"Iya nona?" Tanyanya, dia sudah hafal dengan suara Irna. Seringkali Irna menghubungi telepon di atas meja resepsionis hotel Fredian. Sekedar menanyakan keberadaan suaminya.
"Apakah Presdir ada di resort?" Irna menahan nafasnya, berharap suaminya baik-baik saja dan standby di ruang kerjanya.
Karin ingat pesan Fredian, bahwa Irna tidak boleh pergi ke resort kurang lebih selama tiga hari. Demi mencegah pertemuan Irna dengan Javi Martinez.
"Saya akan menanyakan pada Bu Maya nona, mungkin dia tahu jadwal Presdir malam ini. Hari ini kebetulan saya sedang jaga malam, jadi belum tahu apakah Presdir ada di resort."
Jelasnya pada Irna sambil menggigit kuku jarinya. Gadis itu kebingungan, dia sangat takut melihat kemarahan Irna. Jika sampai ketahuan berbohong.
Saat itu Irna tanpa sengaja mobilnya sedang melintasi sebuah restoran mewah, dia sedikit terkejut karena melihat mobil suaminya terparkir di sana.
"Apa dia masih meeting? kenapa mobilnya ada di sini?" Gumamnya sambil menatap tajam ke arah mobil suaminya.
Irna segera mematikan mesin mobilnya di tepi jalan, dia melangkah menuju mobil Fredian. "Jika meeting, kenapa hanya mobilnya yang berada di sini?" Irna memberanikan dirinya melangkah masuk ke dalam restoran mewah tersebut.
Di sana terdengar sayup-sayup suara alunan musik jazz menyeruak menyapa daun telinganya. Gadis itu melangkah masuk ke dalam. Dan dia menghentikan langkahnya di ambang pintu.
Mendadak dadanya terasa terbakar saat melihat wanita muda berpakaian setengah terbuka. Sedang menggamit pinggang suaminya. Berdansa di bawah alunan musik.
Wanita itu tersenyum sinis menatap kedatangan Irna, dia mencium bibir suaminya dengan mesra. Wanita itu melambaikan tangannya meminta pada pelayan untuk mengusir Irna.
__ADS_1
Melihat pemandangan itu Irna semakin jijik.
"Maaf nona, restoran ini sudah dipesan oleh nona di sana."
"Aku sudah tahu!" Irna tersenyum melihat pemandangan di depan matanya itu. Hatinya kembali hancur berkeping-keping.
"Ternyata semudah inikah Fred? semudah inikah kamu melupakanku? kamu pergi dan kembali sesuka hatimu. Jika memang saat ini aku tidak berada di dalam ingatanmu, aku berharap kamu tidak akan pernah mengingatku lagi setelah ini.."
"Berapa banyak luka yang sudah tertabur menghancurkan jiwa kita bersama, kita selalu melalui semuanya bersama."
"Akankah kamu kembali mengingatku? mengingat air mataku saat ini?"
"Aku berharap kamu tidak akan pernah mengingatnya lagi. Jadi jangan pernah gapai tanganku, aku tidak akan melihat kearahmu."
"Aku seribu tahun tetap mencintaimu, tapi tidak untuk menerima kehancuran. Atau untuk menjemput luka."
Seribu rasa sakit menyatu dalam jiwanya, menguras kekuatan fisiknya sedikit demi sedikit. Bahkan langkahnya terasa lunglai tanpa tenaga.
"Jadi ini alasanmu tidak menerima telepon dariku?" Bisik Irna dalam hatinya.
Hatinya benar-benar bergolak menahan amarahnya.
Tanpa sadar Irna membalikkan badannya, mengangkat telapak tangan kanannya. Mengeluarkan satu kekuatan yang masih tersisa.
"Tik! Blllaaaarr!" Bersama jentikkan jemari tangan kanannya, lampu besar di atas mereka berdua jatuh ke lantai membuat suasana di dalam sana berantakan.
Irna tidak lagi menoleh kebelakang, dia sudah tidak peduli yang terjadi di belakang punggungnya.
Bahkan dia melihat Fredian, sebelum dirinya membalikkan badannya. Pria itu mencium jemari tangan wanita itu tepat di depan matanya.
"Pernikahan sialan! braaakkkk!" Teriaknya seraya membanting pintu mobilnya.
"Jadi inikah alasannya? kamu bilang padaku kalau aku sudah berubah! lalu kamu mencari wanita lainnya?! dasar pria sialan!"
Irna segera menyalakan mesin mobilnya, gadis itu melajukan kendaraannya sambil mengusap air matanya. Dia tidak tahu kemana harus pergi malam itu.
Akhirnya tatapan matanya terhenti pada sebuah Halte bus. Dia turun dengan langkah kaki gontai menuju kursi besi yang sudah berkarat.
Dia ingat hujan deras dimana dia bertemu dengan Reyfarno. Di halte itu mereka bertemu, saat perceraiannya dengan Rian beberapa tahun silam.
"Astaga! bagaimana aku bisa menuju kemari? tak jauh di sana adalah rumah Rian." Gumamnya lalu melangkah mundur dan saat berbalik hujan tiba-tiba turun sangat deras.
"Duk! akh! maaf saya tidak sengaja!" Keningnya menabrak seseorang, gadis itu mendongakan kepalanya menatap wajah seseorang yang telah ditabraknya.
Dia menundukkan kepalanya, melaluinya begitu saja. Karena wajahnya tidak terlihat jelas akibat hujan deras.
Irna terkejut saat orang tersebut mencekal lengannya dengan sangat kuat.
"Akh! sakit! siapa kamu?!" Irna terbelalak melihat pria itu.
"Javi?"
"Javi?!" Tanyanya sambil tersenyum manis.
"Bagaimana kamu bisa tiba-tiba menemukanku?! plaaakkk!" Pria itu menampar pipinya, Irna mengabaikannya lalu masuk ke dalam mobil.
"Akh! braaaaak!" Javi menarik lengannya dan melemparkannya ke tengah jalan. Tubuh Irna terhempas jatuh.
Gadis itu merangkak dari posisinya berbaring, tubuhnya lecet-lecet karena tergesek jalan raya.
Javi berjongkok di sebelahnya mencekik lehernya."Berani-beraninya kamu menghancurkan pesta penobatanku!"
"Akh! Javi! kamu gila! lepaskan leherku!" Irna hampir kehilangan nafasnya.
Irna melihat balok kayu tak jauh dari posisinya, dia mengambilnya melalui isyarat jarinya.
"Duak!" Irna berhasil memukul belakang punggungnya. Sehingga dia melepaskan tangannya dari leher Irna lalu mengusap tengkuknya yang berdarah.
Mendapatkan kesempatan itu, Irna segera kabur, gadis itu menjentikkan jarinya dan lenyap dari hadapannya.
Irna muncul di dalam ruang kerjanya, di dalam rumah sakit.
Lehernya masih memar dan lebam karena terluka, ada segurat penyesalan di dalam hatinya. Seharusnya dia tidak mencari suaminya, pria itu tidak bisa dipegang lagi.
Apalagi saat dia kehilangan ingatannya, dia selalu bertindak sesuka hatinya.
"Apakah aku harus melepaskan dia? aku sangat mencintainya. Tapi dia bisa saja menghabisi nyawaku jika aku memaksanya untuk bersamaku!" Ujarnya getir.
Irna berbaring di atas sofa dengan tubuh basah kuyup. Beberapa menit kemudian dia tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Saat pagi tiba, Rian melangkah masuk ke dalam ruangan Presdirnya. Pria itu melalui ruang kerja Irna, dia sangat terkejut melihat darah kering pada gagang pintunya.
"Braaak!" Rian melihat tubuh pucat penuh luka memar, kaki dan tangannya berdarah.
"Irna? apa yang terjadi padamu? kenapa bisa seperti ini?!" Tubuh gadis itu lemas tidak bergeming.
"Bagaimana mungkin? dia seorang vampir, seharusnya lukanya tidak separah ini. Apakah lawannya lebih kuat darinya?" Rian segera mengangkat tubuh lemahnya.
Pria itu membawanya ke sebuah ruangan khusus. Dia melepas seluruh pakaiannya, dan dia sangat terkejut melihat tubuh penuh luka memar.
Pria itu menitikkan air matanya saat membersihkan luka di sekujur tubuhnya. "Apa sebenarnya yang terjadi padamu? kenapa bisa begini?"
Nafas Irna terdengar lemah, gadis itu masih belum sadar dari pingsannya.
"Apa yang terjadi? Fredian tidak mengangkat ponselnya. Aku sudah menghubunginya berkali-kali." Gerutunya kesal sekali.
Rian pergi mengunjungi Resort, dia terkejut melihat pria itu menggamit pinggang wanita muda dan cantik.
"Apakah kamu sudah gila! wanitamu sedang meregang nyawa! tapi apa yang kamu lakukan sekarang? bersama dengan wanita ini???!" Geram Rian sambil menarik krah bajunya.
"Kenapa kamu panik sekali? dasar lucu sekali!" Melepaskan tangan Rian dari krah bajunya.
Pandangan mata Rian jatuh ke arah Nira, gadis itu menggelengkan kepalanya lalu menyeret Rian pergi menuju parkiran.
"Kakek, dia tidak ingat denganku. Saat itu kami sedang berbicara di ruangan kerjanya. Lalu dia mendapatkan telepon, kemudian pergi dan tidak kembali."
"Aku melihatnya bersama wanita itu, di dalam kamarnya.. dia dan wanita itu.." Nira menatap wajah Rian dengan tatapan berkaca-kaca. Gadis itu tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Dan pagi tadi dia mendorongku jatuh membentur dinding. Sepertinya dia kehilangan ingatannya." Jelasnya pada Rian.
Nira memakai celana jeans dan jaket, gadis itu bersiap untuk pergi dari sana.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rian.
"Menemui Javi Martinez."
Rian terkejut mendengar nama pria itu.
"Kenapa kamu ingin menemuinya? dia bukan pria baik-baik. Kamu sebaiknya membatalkan niatmu!" Rian menghentikan langkah Nira.
"Jaga nenek untukku, aku tahu dia bukan pria yang baik." Menepuk bahu Rian lalu melompat masuk ke dalam mobilnya.
"Tunggu, Nira! dia bukan pria biasa, kamu tidak akan bisa menghadapinya!" Teriakan Rian hilang di tengah hembusan angin.
Di dalam rumah sakit Irna sudah terjaga dari pingsannya, gadis itu merangkak turun dari atas tempat tidurnya.
Gumpalan awan hitam masih menderu bersarang di dalam jiwanya. Dia berdiri di depan jendela, wajahnya kuyu dan pucat.
"Uhk! uhk!" Gadis itu terbatuk-batuk, organ dalam tubuhnya terluka, tepat saat kekuatan fisiknya melemah.
Irna merasakan basah di ujung sudut bibirnya, gadis itu mengusapnya, dia melihat darah pada punggung tangannya.
Saat melihat jas dokter putih tergantung di sisi tempat tidurnya, Irna segera meraihnya lalu memakainya.
Gadis itu melangkah keluar, dia masih merasakan nyeri di dalam perutnya. Gadis itu melangkah menuju jalan raya. Ketika melihat sebuah bus melintas dia segera masuk ke dalam.
Bertepatan dengan mobil Rian melintas di sebelahnya. Irna tersenyum melihat mobil hitam itu masuk ke dalam halaman rumah sakit.
Lalu satu detik kemudian tubuhnya limbung terjatuh ke samping.
Pagi yang cerah bagaikan malam yang pekat, dia tidak bisa merasakan kehangatan sinar mentari pagi, hari itu.
Selain tubuhnya yang terluka, hatinya juga telah menjadi serpihan. Keinginan untuk menjaga keluarganya telah sirna dalam hatinya.
Dia tidak bisa lagi, dia telah hancur dalam waktu semalam. Semuanya bagai puing-puing yang hilang tertiup hembusan angin begitu saja.
Bahkan air matanya sudah tidak tersisa. Ingatan Fredian mungkin akan segera kembali atau bahkan tidak sama sekali, dia tidak mampu melihat pria itu mengabaikannya dan memilih wanita lain.
Pagi tadi sebelum pergi dia sudah menghubungi Nira, gadis itu menceritakan segalanya tentang apa yang dilihatnya.
Gadis itu menangis merasakan sakit pada punggungnya karena Fredian mendorongnya jatuh menabrak dinding.
Saat ini yang bisa dia lakukan adalah menemui Javi, sekalipun kepergian dirinya menemui pria itu, sama artinya dengan menjemput nyawa!
Dia tahu Irna tengah terluka parah, saat mendengar neneknya terbatuk-batuk pagi itu. Dia tidak rela melihat keluarganya hancur berantakan.
Dia ingin memecahkan misteri di balik kejadian hari itu. Kejadian yang memporak-porandakan seluruh keluarganya!
Bersambung...
__ADS_1