Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Alfred Derosse


__ADS_3

"Aneh sekali, kamarnya begitu bersih?" Ujar Arvina sambil tersenyum menatap wajah Rian.


Rian melangkah masuk, dan memeriksa. Memang benar tidak ada debu sama sekali di dalam kamar itu.


Rian kemudian berlari menuju mesin cuci, ada aroma sabun, seperti bekas digunakan untuk mencuci. Rian tersenyum harapan kembali muncul di dalam hatinya.


"Mulai malam ini aku akan tinggal di sini.. aku akan menunggumu, gadis pemilik rumah." Ujar pria itu dalam hatinya.


Mungkin saja Irna kembali setelah lima tahun berlalu, atau sebenarnya gadis itu masih hidup.


"Apakah dia sengaja bersembunyi selama ini? karena Sisilia belum tertangkap. Gadis itu masih menjadi buronan." Gumam Rian pelan.


"Jika Fredian benar, artinya memang benar dia adalah Irna." Ungkapnya kembali dalam hatinya.


Fredian tersenyum di dalam ruang kerjanya, dia tahu jika Irna tidak meninggal dunia. Dia sangat yakin bahwa gadis itu masih hidup.


Gadis yang sangat dicintainya masih hidup diluar sana. Entah dimana dia tinggal, entah dimana dia bersembunyi.


Fredian melakukan pekerjaannya seperti biasa, Alfred putra satu-satunya sudah menginjak usia remaja.


Alfred sudah menuntaskan studinya. Saat ini usianya sudah menginjak delapan belas tahun. Pria yang sangat tampan dan menawan, wajahnya mirip sekali dengan ayahnya Fredian Derrose.


Pemuda itu mengambil keputusan untuk masuk di bidang kepolisian, dia bekerja sebagai seorang detektif. Begitu banyak kasus pembunuhan dan kasus lainnya yang berhasil di selesaikan olehnya.


Pria muda Alfred dia meraih penghargaan dan diangkat sebagai Jenderal kepolisian Jerman.


Dia ingin menemukan ibu kandungnya, pria muda tampan itu sudah memendam kerinduannya sangat lama.


Setelah selesai membersihkan rumah lama Irna. Rian dan Arvina, mereka berdua hendak kembali ke NGM.


Sebuah mobil berhenti di halaman rumah lama Irna. Seorang pemuda memakai seragam lengkap turun dan berlari ke arah Rian.


Alfred memeluknya dengan hangat dan mencium pipi ayah angkatnya itu.


"Bagaimana keadaan papa sekarang?" Masih memeluk Rian dan tidak ingin melepaskannya.


"Papa baik-baik saja, apa yang membawamu kembali ke London?"


"Mama, Alfred ingin menemukan mama Irna." Tampak pemuda itu menundukkan kepalanya dengan sangat sedih.


Sejak usia balita dia hanya beberapa kali bertemu dengan ibu kandungnya itu. Dan saat dia menginjak usia remaja sampai dewasa ibunya divonis meninggal dunia tanpa ditemukan mayatnya.


Betapa banyak luka yang tinggal di dalam hati pria muda itu karena kehilangan ibunya.


Rian, dan Fredian masih tampil sama dan tidak menua. Hasil campuran darah Irna luar biasa efeknya.


Unik sekali jika mereka bertiga berkumpul bersama dengan Alfred tampak hampir sebaya. Seperti adik dan kakak.


"Berapa hari kamu tiba di London?" Tanya Rian lagi pada Alfred.


"Sudah hampir satu minggu, saya tinggal di sini pa." Ujarnya pada Rian.


Padahal Rian berpikir Irna yang menempati rumah tersebut, ternyata Alfred yang tinggal di sana.


"Papa harus kembali ke pusat penelitian NGM, kamu mau ikut papa atau tinggal di sini?"


Rian berpamitan pada putra angkat kesayangannya itu.


"Saya ingin menaruh beberapa barang di rumah, papa duluan saja. Nanti jika ada waktu senggang Alfred akan datang berkunjung."


Rian kembali memeluk Alfred lalu melangkah menuju mobilnya, Arvina mengikuti melangkah masuk ke dalam mobilnya.


Pemuda itu masuk ke dalam rumah Irna, dia membuka album foto masa balita. Banyak sekali foto-fotonya bersama ibunya dan Rian. Juga papa kandungnya Fredian.


"Mama... Alfred sangat merindukanmu.. Alfred harap mama akan kembali. Alfred yakin mama tidak akan meninggalkan Alfred." Ujarnya sambil menatap album foto masa kecilnya di atas meja ruang tengah.


Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Sangat lama pria yang baru menginjak usia dewasa itu menangis dan tertidur di sana.


Seseorang berjalan masuk ke dalam rumah, gadis muda itu duduk menatapnya di seberang meja. Dia tidak melepaskan maskernya.


Gadis itu melihat pria muda tampan itu, dan meneteskan air matanya.


Alfred terjaga dia melihat gadis dengan baju serba hitam dan memakai masker, juga topi hitam.


Dia segera melompati meja dan menahan kedua tangannya.


"Katakan! siapa kamu! kenapa kamu bisa masuk kemari?!" Alfred masih menahan tubuhnya di atas meja makan.


"Aku hanya pengantar paket." Gadis itu menunjuk ke arah meja, ada makanan cepat saji di atas meja.


Alfred segera melepaskan genggaman tangannya. Pemuda itu merasakan keanehan pada pengantar paket tersebut.


Pria itu secepat kilat menarik kacamata hitamnya sekaligus topi dan masker yang menutupi wajahnya. Bagi seorang jenderal kepolisian hal itu sangat mudah dilakukannya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya dia melihat gadis cantik luar biasa, rambutnya lurus meriap jatuh di atas punggungnya. Gadis itu memiliki luka bakar di pipinya sampai ke leher.


"Mama? kamu mamaku?!" Ujar Alfred dengan bibir bergetar. Alfred tahu sebuah rahasia, tentang darah istimewa dari ibunya yang mengalir di tubuhnya sekarang.


Ibunya tidak akan menua, dan juga kedua papanya, Rian dan Fredian.


Irna mematung di tempatnya sekejap, lalu kembali memunguti barang-barang yang terjatuh dan kembali memakainya.


"Namaku Kaila, aku pekerja paruh waktu." Ujar Irna dengan suara bergetar.


Dia tidak akan mengungkapkan identitas dirinya selama pembunuh itu masih berkeliaran di luar sana. Dia tidak ingin usahanya bertahun-tahun ini begitu mudahnya terbongkar.


Irna dengan sengaja memasang wajah palsu berupa luka bakar agar dia tidak dikenal sebagai Irna.


Selama ini Irna tetap mengawasi keluarganya, dia hanya muncul dengan terpaksa jika keadaan genting.


Wajah putra satu-satunya itu sangat mirip dengan papanya yaitu suami tercintanya Fredian.


"Oke aku akan mempercayainya, dan tidak membantah, jika kamu adalah Kaila pekerja paruh waktu." Ujar Alfred, dia tahu pasti bahwa Kaila adalah ibunya yang sedang menyamar.


Tidak mungkin wanita asing menatapnya dengan tatapan mata penuh kesedihan dan kerinduan yang mendalam.


Selama ini Alfred selalu ditatap dengan wajah penuh cinta dan rasa tergila-gila oleh para gadis. Tatapan mata Kaila adalah tatapan mata milik Irna Damayanti.


Irna melangkah keluar dari dalam rumah lamanya meninggalkan Alfred, lalu mengendarai motornya menuju tempatnya bekerja.


Dia kemudian memakirkan motornya di sebuah restoran mewah. Restoran di tepi pantai milik Arya Ardiansyah. Pria gila yang dulunya adalah kliennya itu sekarang menjadi bosnya.


Arya Ardiansyah tidak tahu jika dirinya adalah Irna Damayanti. Untungnya dia tidak mengenalinya.


Selama sakit Irna dirawat oleh Ayah Reno dia adalah pria paruh baya yang menemukannya pingsan di tengah hutan.


Saat mobil gadis itu jatuh dia lebih dahulu melompat dari pintu mobil. Irna sengaja melepaskan gelang kakinya dan melemparkan di dalam kobaran api yang melalap habis mobilnya.


Dia berjalan tertatih-tatih hingga pingsan di sebuah area pemakaman, saat itu ayah Reno tuan Jend sedang mengunjungi makam istrinya.


Dia menemukan tubuh Irna penuh luka, dan dia melihat keanehan pada tubuh gadis itu.


Robekan lukanya perlahan-lahan menutup kembali, dan bersih sama sekali tanpa bekas. Irna selama ini tinggal bersamanya kadang juga di tempat kerjanya yang lain.


"Hei kamu Kaila, pegawai baru! antar makanan ini ke Reshort Angel!" Teriak Arya padanya membuat matanya membelalak seketika.


"Tapi pak, saya masih harus mengantar makanan ke tempat lain." Ujar Irna mencoba mencari alasan.


"Kamu tidak lihat mereka semua sibuk?! cepat antarkan saja. Makanan ini harus sampai di sana karena akan digunakan untuk menu meeting siang ini." Teriaknya lagi sambil berkacak pinggang.


Irna mau tidak mau mengantarkan makanan itu ke Reshort Angel. Irna merasa janggal, biasanya saja Fredian selalu menggunakan makanan yang ada di Reshort miliknya.


Menu di sana lebih lengkap, tapi kali ini malah memesan pada Arya.


Sampai di sana Irna segera menemui resepsionis. Irna bertanya padanya.


"Ini makanan yang di pesan, saya harus meletakkannya di mana?" Tanya Irna pada penjaga resepsionis.


"Di ruang meeting di sebelah sana." Penjaga resepsionis tersebut menunjukkan di mana tempatnya.


Irna membawa makanan tersebut ke tempat yang di tunjukkan oleh resepsionis tersebut.


Saat masuk ke dalam ruangan luas itu dia melihat pria yang sangat dicintainya sedang duduk bercakap-cakap dengan putra satu-satunya, Alfred juga berada di ruangan itu.


"Papa, Alfred keluar dulu, ada kasus di kantor kepolisian London yang harus aku tangani."


Alfred berpamitan pada papa tercintanya sambil membisikkan sesuatu pada telinga Fredian, entah apa yang dia katakan, Irna hanya berani melirik dengan ekor matanya ke arah mereka berdua.


Pria muda tampan itu berjalan melalui Irna yang sedang berdiri sibuk menata kotak makanan di atas meja.


Dia tiba-tiba berhenti dan memegang bahu mamanya. Sambil tersenyum melihat Irna tercekat berdiri mematung.


"Mama, papa hampir mati kehabisan nafasnya karena menahan rindu."


Pria muda yang tidak lain adalah putranya sendiri itu nyengir sambil memasang sikap hormat seperti seorang petugas kepolisian padanya.


Irna membelalakkan matanya menatap wajah Alfred. Putranya keluar dari ruangan dan sengaja menguncinya dari luar.


"Astaga! putraku sendiri mengerjaiku!" Gumam Irna sambil menatap ke arah pintu.


Fredian tersenyum lalu melangkah mendekatinya.


"Apa kamu perlu bantuanku, nona Irna Damayanti? ah maksudku nona Kaila." Irna membelalakkan matanya, lalu Fredian buru-buru meralat namanya.


Irna diam saja tidak menjawab, dia telah menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas keluar menuju pintu.


Dia berdiri mematung di tempatnya, karena pintu terkunci dari luar.

__ADS_1


Fredian tersenyum, pria itu sudah berdiri di belakang punggungnya.


Tanpa menunggu lagi dia segera melepaskan masker Irna dan topi hitamnya.


"Apa yang anda lakukan tuan Presdir?!" Irna mencoba mengambil maskernya dari tangan Fredian.


Fredian tersenyum melihat wajah gelisah istrinya itu. Pria itu tersenyum mengerling nakal, mengangkat tinggi-tinggi tangannya hingga Irna tidak bisa menggapainya.


"Tuan, saya harus segera kembali ke restoran. Jika tidak saya bisa di pecat."


"Jika kamu dipecat pria gila itu, maka bekerjalah di sini nona Kaila. Saya akan menerimamu dengan gaji yang cukup fantastis." Ujarnya masih menjauhkan tangannya dari jangkauan Irna.


Irna meloncat-loncat berusaha mendapatkan topi dan maskernya. Fredian melangkah mundur sambil tersenyum melihat wajah Irna yang gugup.


Lalu pria itu sengaja berhenti, dan Irna menabrak tubuhnya hingga mereka berdua jatuh berguling di atas lantai.


Irna berada di atas tubuhnya, Fredian tersenyum lalu memutar posisi mereka berdua.


Fredian mendekatkan bibirnya bersiap untuk menciumnya, Irna meraba saku Fredian mencoba mencari kunci pintu.


Kuncinya tidak ada di sana, dia lupa jika ruang meeting itu memiliki akses sidik jari suaminya. Dan bisa dibuka oleh Fredian dan seluruh keluarga Derrose. Irna ingat sidik jari miliknya juga bisa membukanya.


Tapi jika dia melakukannya maka status dirinya akan terbongkar saat ini juga.


Fredian sudah mendaratkan ciuman di keningnya kemudian turun di ujung hidungnya. Dia masih melihat wajah istrinya itu.


Dia sangat bahagia karena putranya yang telah mempertemukan mereka berdua. Bahkan menyatukan keduanya kembali.


"Aku sangat mencintaimu istriku." Bisiknya di telinga Irna.


"Maaf tuan Presdir, saya bukan istri anda. Istri anda sangat cantik sedang saya gadis biasa yang berasal dari desa. Nama saya Kaila Elzana. Saya pekerja paruh waktu." Jelasnya pada Fredian.


Irna masih menahan dada Fredian yang menghimpit tubuhnya.


Fredian tersenyum melihat istrinya sedang bermain sekenario dengan dirinya, dia sudah sangat yakin bahwa gadis itu adalah Irna. Meskipun ada luka di pipinya.


Dari aroma tubuhnya dan aroma nafasnya, dia adalah istrinya yang sedang dalam persembunyian.


Alfred saat ini mengusut kasus pembunuhan ibunya, dia sekarang melacak keberadaannya adik sepupu papanya.


Fredian tersenyum dia tidak ingin berdebat dengan istrinya itu, baginya nama itu tidak ada bedanya.


Yang penting adalah bahwa Irna masih hidup dan dia sudah menemukannya.


"Baiklah nona Kaila, sepertinya aku telah jatuh cinta padamu. Maukah kamu menikah denganku dan menggantikan almarhum istriku?" Ujarnya pada Irna yang menyamar sebagai Kaila itu.


"Dasar bedebah! kamu belum menemukanku tapi sudah mau menikahi wanita lain!" Gerutu Irna dalam hatinya.


Mendadak wajah Irna berubah marah dan bersungut-sungut. Fredian tertawa melihat kecemburuan mengukir wajah cantik istrinya itu.


"Hahahaha kamu bahkan cemburu pada dirimu sendiri?!" Cetus Fredian tidak mampu bersandiwara lagi di hadapan Irna.


"Lepaskan tanganku tuan Presdir." Irna meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari genggaman Fredian.


"Sekali lagi kamu memanggilku Presdir aku akan menghukummu!" Fredian tersenyum tanpa henti menatap wajah Irna di bawah tubuhnya.


Irna diam saja, dia mulai lelah meronta dan dibiarkan saja bibirnya dilumat habis oleh suaminya.


Irna memejamkan matanya rapat-rapat, perlahan butir-butir air matanya jatuh mengalir di kedua pipi gadis itu. Betapa dia sangat merindukan pria di depannya saat ini.


Dia ingin membalas memeluknya dengan erat tanpa ingin melepaskan pelukannya lagi. Tapi dia tidak bisa.


Segalanya telah selesai, keringat suaminya mengalir deras dari pelipisnya menetes pada wajah Irna.


Kerinduan Fredian telah terbayar lunas siang itu. Irna berada di dalam rengkuhan lengan Fredian.


Beberapa jam kemudian Irna kembali memakai bajunya. Dia sudah menyerahkan dirinya kepada suaminya hari itu. Tapi dia tetap tidak mengakui bahwa dia adalah Irna Damayanti.


Irna duduk di sebelahnya, dan Fredian kembali mengancingkan baju lengan panjangnya.


Pria itu mencium keningnya dan membantunya menggelung kembali rambutnya lalu menutupi dengan topi hitamnya. Irna kembali memakai maskernya.


Irna menatap wajah Fredian dengan tatapan lembut. Gadis itu melangkah keluar dari dalam ruangan meeting ditemani oleh Fredian.


Fredian tersenyum lalu meletakkan ibu jari Irna di pintu tersebut.


"Klek!" Pintu akhirnya terbuka. Fredian kembali tersenyum.


"Kaila, kamu adalah istriku Irna Damayanti." Bisiknya di telinga Irna. Irna tidak menjawab apapun.


Irna memakai kembali kacamata hitamnya lalu melangkah keluar menuju lobi hotel tanpa menoleh ke belakang.


Bersambung....

__ADS_1


***Baca juga novelku Satunya dengan judul "Cinta Bersemi Dalam Kabut" & "Kisah Cinta Sang Detektif" Gak kalah serunya! I love you Readers 😘😄😄😊 Jangan lupa 👍 dan tinggalkan komentar 🤗🤗🤗😭😭😭😭😅,**


__ADS_2