
"Siapa sih yang terus membunyikan bel depan?" Fredian mulai jengah mendengar suara berisik.
"Orang yang sama, mungkin?" Ujar Irna mengambil sarapan di depan meja yang sudah siap.
"Kamu makanlah dahulu baru pergi ke kantor." Tambahnya lagi.
Fredian mengambil piring yang sudah berisi makanan, dari tangan Irna. Dan mulai melahapnya.
Irna hanya meminum segelas jus apelnya.
"Apakah kamu akan langsung menuju ke kantor nanti?" Tanya Irna lagi.
"Iya, kenapa?" Tanyanya sambil meminum segelas air.
"Hati-hatilah, mungkin hari itu dia membuat kejutan."
Fredian tersenyum dan bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi, kemudian memakai setelan jas dan sepatunya.
Irna berdiri di hadapannya, membetulkan dasinya.
Kemudian pria itu mencium keningnya lalu bergegas berangkat ke kantor.
Irna melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya, dan bersiap untuk melakukan pemotretan.
Setelah bersiap pergi, dia mencoba menghubungi Reynaldi. Tapi teleponnya sibuk. Irna bergegas menuju ke depan rumahnya berniat menghentikan taksi.
"Apa kamu menunggu seseorang?" Tanya Jody yang sudah sejak pagi buta berada di depan pintu rumahnya.
"Taksi." Jawab Irna pendek sambil terus melongokkan kepalanya ke arah jalan.
"Kamu mau pemotretan di perusahaanku kan? sekalian kita pergi sama-sama." Tambahnya sambil tersenyum manis.
Irna hanya meringis mendengar tawaran dari pria itu.
"Tentu saja orang kamu pagi buta sudah jagain pintu! niat banget mau jemput orang!" Bisik Irna dalam hatinya.
"Ayo naik." Tawarnya lagi
"Terima kasih, lebih baik saya naik taksi. Anda seorang Presdir perusahaan, jika saya terlibat dalam masalah lagi dengan Presdir, dan sampai masuk dalam berita bersama anda itu membuat image anda tidak bagus di depan publik."
Jelas Irna kemudian menghentikan taksi sambil naik, masuk segera ke dalam mobil.
Jody menggerutu kesal sambil menendang ban mobilnya.
Selama satu jam Irna baru sampai di tempat pemotretan.
Gadis itu duduk di depan cermin. Kemudian beranjak keluar dari kamar ganti setelah selesai.
"Reynaldi mana? kok gak kelihatan?" Tanyanya sambil melihat ke arah sekitar.
"Sejak pagi belum datang." Ujar Tika sambil menata rambutnya dengan sisir.
"Kok aneh ya? tadi pagi aku juga mencoba menghubunginya tapi ponselnya sibuk.
"Halo Rey, kamu di mana?" Tanya Irna melalui telepon.
"Aku ada di kantor polisi, seseorang sengaja menabrak belakang mobilku." Jelasnya membuat Irna terperanjat.
"Sengaja sekali membuat orang di sekitarku sibuk, jadi aku tidak ada tumpangan lagi untuk berangkat ke sini." Bisik Irna dalam hatinya.
"Ya sudah tapi kamu baik-baik saja kan?" Gadis itu hawatir jika temannya juga terluka karenanya.
"Ya syukurlah aku tidak kenapa-kenapa." Jelas Reynaldi lagi sambil mengakhiri panggilan telepon.
Irna menjinjing gaunnya menuju ke depan layar pemotretan.
Irna merasa sedikit lega karena tidak terjadi masalah dalam proses pengambilan gambar.
Acara berlangsung lancar selama dua jam. Reynaldi juga sudah berada di sana sejak tiga puluh menit yang lalu.
Setelah selesai pemotretan Irna masuk ke dalam kamar ganti. Dia terkejut melihat Jody duduk di depan cermin sambil melihat ke arah dirinya melalui pantulan di dalam cermin.
Pria itu menyeringai ke arahnya.
Melihatnya Jody ada di sana Irna terburu-buru melangkah keluar kembali.
"Tunggu!" Jody tersenyum manis berdiri, berjalan mendekat ke arah Irna.
"Jika ada yang ingin anda bicarakan sebaiknya kita bicara di luar." Ujar Irna sambil tersenyum, agar pria itu mau mengikutinya.
Irna sangat takut jika mereka hanya tinggal berdua di dalam satu ruangan, karena pria itu sangat licik.
"Aku ingin kita bicara di sini!" Ujarnya sambil memegang pergelangan tangan Irna.
"Berapa kali kamu menolakku?" Tanyanya sambil mengangkat dagu Irna hingga mendongak menatap wajahnya. Menghimpit tubuh Irna ke dinding.
Nafas Jody terdengar sudah tidak teratur, Irna tahu detak jantung pria di depannya ini sudah terpacu.
"Kenapa aku tidak boleh menolak?" Tanya Irna sengaja berbisik di telinganya sambil tersenyum.
Pria di depannya sudah tidak dapat menahan diri lagi untuk menciumnya. Dengan langkah cepat Irna segera merundukkan kepalanya pura-pura membetulkan ujung gaunnya.
Membuat bibir Jody terbentur kepala Irna dan berdarah.
__ADS_1
"Ha ha ha ha! wah kamu hebat sekali!" Teriak pria itu dengan suara lantang sambil mengusap bibirnya yang berdarah.
"Kamu bersama dua pria sepanjang malam bahkan sampai tiga pria, empat pria semuanya adalah Presdir ternama, kenapa tidak bisa menambah satu lagi?" Tanyanya sambil tersenyum sinis menatap rendah Irna.
"Oh jadi itu yang selama ini kamu pikirkan terhadapku? heh! Presdir songong dan sok kaya! anda mengira wajah anda paling tampan?! Dasar kurang ajar! Duaaak!" Irna mencak-mencak sambil menendang ajimat di antara kedua pahanya.
"Akh! beraninya kamu melakukan ini! saya akan menuntutmu!" Teriaknya sambil memegangi dinding meringis kesakitan.
"Siapa yang akan menuntut siapa?! kamu yang akan saya laporkan karena sudah menguntitku berhari-hari! ayo coba laporkan saja kita lihat siapa yang memegang kartu as di pengadilan!" Irna berkacak pinggang sambil melontarkan amarah yang selama ini ditahannya.
"Saya pikir kamu gadis yang cantik dan sangat anggun ternyata kamu gadis yang sangat mengerikan!" Hardiknya melotot ke arah Irna.
"Awas! jika kamu berani mengganggu teman-temanku! akan kupastikan sepatuku ini menempel ke dalam mukamu sampai tidak bisa dikeluarkan kecuali dengan operasi!"
Ancam Irna sambil melepas sepatu high heelsnya lalu menunjukkan di depan muka Jody. Lalu memakainya kembali.
Irna segera menyambar tas dan mantelnya membawa pergi ke luar dari ruangan.
Seluruh kru sudah berkumpul memasang wajah melongo, di depan ruang ganti mendengar suara adu mulut Irna dan Jody di dalam ruangan terkunci tersebut.
Melihat wajah Irna keluar dari ruangan sambil menjinjing gaunnya mereka tahu bahwa Irna menang dalam pertarungannya.
Sontak mereka berteriak riuh dan bertepuk tangan.
"Whuahahhhahhhaa! Irna Damayanti memang tidak ada duanya! keren sekali!" Teriak mereka bersama-sama.
"Ayo kita makan sama-sama hari ini!" Teriak Irna sambil melemparkan kartu pada mereka. Di iringi suara tawa bahagia seluruh karyawan.
Reynaldi tersenyum melihat kebahagiaan terpancar dari mata seluruh karyawan.
"Kamu tidak ikutan?" Tanya Irna pada Reynaldi sambil merangkul bahu Tika.
"Aku akan pergi, menyusul kalian. Yuk nit!" Ujarnya pada bawahannya itu agar mengikuti.
"Siap bos!" Sahut Anita sambil tersenyum renyah berlari kecil menghampiri mereka.
Mereka pergi ke sebuah restoran hari itu untuk makan-makan.
Jody turun dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah mereka.
"Apa yang dilakukan pria itu lagi?!" Tanya Tika sambil menyodok Anita yang duduk di sebelahnya.
Pria itu melangkah lebar menuju Irna yang masih asyik ngobrol dengan kru lainnya.
Tiba-tiba dia menarik tangan Irna hingga gadis itu berdiri dari tempat duduknya. Menyeretnya ke tengah ruangan. Tanpa menunggu reaksi mengejutkan dari Irna dia segera meraih pinggang Irna ke dalam pelukannya.
Jody meraih dagu Irna dan menciumnya dengan paksa, mengulum bibirnya di depan semua orang.
"Plaaaakkkk!" Sebuah tamparan keras melayang mendarat di pipi Jody Winarta.
Jody tersenyum melihat wajah marah Irna sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
"Bibirmu manis sekali!" Bisiknya di telinga Irna sambil membelai rambut Irna yang jatuh di punggung.
Irna menepiskan tangannya, dan mendorong tubuhnya menjauh. Tangan Irna gemetar menahan air matanya.
"Pria sialan! brak! brak! brak!" Irna menimpukkan tasnya ke atas kepala Jody dengan sangat geram.
Beberapa saat kemudian wartawan datang. Irna terkejut melihat wartawan tiba-tiba berkumpul di sana.
Irna melihat ke arah Jody yang sedang tersenyum penuh kemenangan menatap dengan senyuman nakal ke arahnya.
Para kru dan Reynaldi mencoba menghalau mereka, dan akhirnya Irna bisa keluar dari kerumunan melalui pintu belakang restoran.
"Kamu mau kemana?!" Tahan Jody sambil mencekal lengan Irna.
"Lepaskan tanganku! dasar pria kurang ajar!" Teriak Irna sambil terus meronta.
Tak lama kemudian Rian dan Fredian melihat berita, mereka terkejut melihat gadis yang mereka jaga di cium paksa oleh Jody di tengah restoran.
Mereka berlari dari kantor masing-masing menyambar kunci mobil dan jasnya menuju restoran tersebut.
Fredian mengehentikan mobil tepat saat Rian juga memarkir mobil di sebelahnya.
Mereka berlari masuk, tapi Reynaldi menunjuk ke arah belakang restoran. Membuat mereka memutar arah berlari keluar dan menuju pintu belakang restoran.
Fredian dan Rian melihat Irna sedang mencak-mencak pada Jody yang masih menahan pergelangan tangannya.
"Kelihatannya pria itu kurang vaksin!" Ujar Rian sambil mengorek telinga kanannya.
"Bukan! dia itu kurang pukulan!" Sahut Fredian dengan wajah geram sambil mengepalkan tinjunya.
Mereka berdua berjalan mendekat ke arah mereka.
Fredian menarik krah baju Jody agar melepaskan Irna. Rian segera mengambil alat suntik dari dalam sakunya.
"Cekal dia erat-erat!" Ujar Rian menyuruh Fredian untuk memegangi.
Fredian tersenyum memegangi kedua lengannya.
"Apa yang kalian lakukan! hei! lepaskanlah aku! obat apa itu?" Jody belingsatan meronta-ronta.
Tanpa menunggu lagi Rian segera menyutikkan obat pada lengan Jody. Membuat tubuh pria itu lemas dan tertidur.
__ADS_1
"Menurutmu kita apakan pria licik ini?" Tanya Rian sambil menatap ke arah Irna.
"Buang saja ke laut biar jadi makanan ikan!" Ujarnya cuek.
"Kamu sewa cewek buatkan dia skandal!" Teriak Rian pada Fredian.
Mereka bertiga akhirnya membawa Jody ke sebuah hotel dan melepas seluruh pakaiannya, kemudian menyewa wanita hiburan untuk menemaninya.
Mereka juga memanggil wartawan untuk menunggu di depan kamar Jody.
"Akhirnya beres!" Ujar Fredian di belakang kemudi.
"Hem!" Rian duduk di sebelahnya memegang lengannya.
Irna duduk di kursi belakang sambil menyilangkan kedua tangannya. Gadis itu menatap jauh ke luar mobil.
Mereka sampai di restoran dan menaiki mobil masing-masing.
Aku kembali dulu, jangan lupa parfumnya!" Tersenyum ke arah Irna kembali mengingatkannya.
"Siap pak dokter!" Ujar Irna sambil tersenyum memasang telapak tangan di pelipisnya, menaruh sikap hormat pada Rian.
"Ayo naik." Ujar Fredian membuka pintu mobil untuknya. Irna kemudian naik ke atas mobilnya.
"Loh kok menuju Reshort?" Tanya Irna terkejut.
"Mobilmu sudah jadi, dan Antoni membawanya ke Reshort tadi siang." Jelasnya sambil melirik ke arah Irna.
"Syukurlah jika begitu, aku nanti akan langsung pulang setelah sampai di sana." Ujar Irna sambil melihat ke luar jendela mobil.
"Kamu tidak ingin berganti baju dulu?" Fredian menunjuk gaun yang dia gunakan untuk pemotretan sejak pagi belum di gantinya.
"Tidak perlu, aku bisa berganti baju di rumah saja." Tandas Irna lagi.
"Jangan-jangan kamu menyamakanku dengan pria bodoh barusan?" Fredian terperangah tidak percaya.
"Ah, bukan, kamu salah faham. Aku ingin berenang, dan berendam di rumah lebih lama." Bisiknya mencoba untuk menenangkan Fredian.
"Di Reshort milikku juga ada kolam renang, dan bajumu semua juga masih lengkap di sana. Kamu pakai itu saja." Ujarnya lagi sedikit memaksa.
"Tetap saja aku merasa nyaman di rumah." Sergah Irna mulai kesal dengan Fredian.
Fredian mengehentikan mobilnya di dalam Reshort. Irna segera turun dari mobil, dan menuju mobilnya.
"Mana kuncinya?" Tanya Irna sambil menempelkan wajahnya di kaca mobil miliknya sendiri yang terparkir di sana, melihat ke dalam.
"Mungkin ada di dalam kantorku." Ucap Fredian sambil tersenyum berjalan mendahului Irna masuk menuju kantornya.
Mau tidak mau Irna mengikutinya dari belakang.
"Di mana kunci mobilnya?" Irna mencoba mencari di atas meja Fredian tapi tidak menemukannya.
Dan dia juga mencari di dalam lacinya, tetap saja tidak menemukannya.
Fredian membuka jas dan bajunya melangkah masuk ke dalam kamar mandi merendam tubuhnya di dalam air hangat.
"Fred?" Irna memanggil Fredian dari luar pintu kamar mandi.
"Ada apa?"
"Aku tidak menemukan kunci mobilku, jadi aku akan membawamu mobilmu dulu. Nanti jika kunciku sudah ketemu kita tukar mobil kembali."
Irna tidak menunggu jawaban dari dalam dan langsung keluar ruangan membawa kunci mobil milik Fredian.
"Seharusnya dia masuk ke sini memarahiku, tapi dia malah menukar mobilku dengan mobilnya?" Fredian tidak mengerti jalan pikiran Irna.
Fredian keluar dari bath up menggunakan baju tidurnya yang di ikatkan di pinggang.
Dia pikir Irna sudah pergi sejak tadi tapi dia masih berdiri di tepi kolam renang sambil sesekali mencelupkan telapak kakinya di atas permukaan air.
Fredian memeluk pinggangnya dari belakang.
"Apa kamu terkejut?" Bisiknya di telinga Irna.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya sambil memegang lengan Fredian yang memeluk erat pinggangnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Fredian melihat Irna masih memainkan telapak kakinya di atas air.
"Tidak ada." Ujar Irna singkat.
"Apa kamu mau aku menemanimu pulang? atau kamu ingin mandi dulu di sana?" Fredian menunjuk kamar mandi di dalam kantornya.
Irna tidak menjawab, tapi dia melepaskan pelukan Fredian dan berjalan masuk ke dalam kantornya.
Irna meletakkan tasnya dan mengambil baju ganti miliknya yang sudah tiga tahun lalu ada di dalam lemari.
Gadis itu hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi, tangannya masih gemetar. Ingatannya menyeruak masuk ke dalam pikirannya.
Fredian melakukan semua bersamanya di sana. Di atas tempat tidur itu, dan di dalam kamar mandi yang ada di depan matanya sekarang.
"Ada apa?" Fredian memegang bahu Irna. Dan menyadarkan gadis itu kembali dari lamunannya.
"Tidak ada apa-apa." Irna tersenyum dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi kemudian menutup pintunya dari dalam.
__ADS_1
Bersambung....