
"Triiingg!" Irna melirik ponsel di atas pangkuannya, ponsel tersebut berdering sangat nyaring. Nomor tanpa nama tertera pada layar ponselnya.
Batinya bertanya-tanya, siapakah yang menghubunginya saat itu. Dia merasa tidak pernah memberikan nomor teleponnya pada siapapun. Dia masih menimang-nimang ponsel di atas pangkuannya.
"Oh, dokter Kaila sedang sibuk bermain ayunan? pantas saja tidak mau menjawab ponselnya!" Aldy melangkah mendekat ke arahnya.
"Ngapain pria bodoh itu kemari? apa dia sedang cari mati!" Gerutu Irna penuh amarah menggertakan giginya melihat wajah Aldy menyeringai lebar.
"Melihat wajah masammu sepertinya dokter salah paham padaku, Presdir memintaku menjemput anda agar segera kembali ke rumah sakit. Ah! apa anda masih ingin berlama-lama di sini bersama kekasih gelap anda?" Ejeknya seolah-olah Irna sedang melakukan perselingkuhan dengan pacar gelapnya.
"Mana mungkin Rian memintamu kemari? kalau dia mau dia bisa langsung kemari menjemputku. Tidak perlu merepotkanmu dokter Aldy!" Irna beranjak dari tempat duduknya.
Lututnya benar-benar masih terasa ngilu dan sulit untuk berjalan. Jika bukan karena kedatangan pria itu, dia pasti masih nyaman berada di ayunan.
Aldy melihat Irna hampir terjembab, pria itu buru-buru menangkap pinggangnya. Irna menatapnya dengan penuh amarah, melihat kemarahan Irna Aldy segera menyahut, "Saya hanya ingin menolong anda! Dokter Kaila jangan salah faham!" Ujarnya sungguh-sungguh, kemudian melepaskan pinggang Irna.
"Apa anda ingin menyetir sendiri ke rumah sakit?" Tanyanya lagi sambil mengekor Irna masuk ke dalam rumah. Aldy melihat lutut Irna goyah, dia tahu Irna telah melakukan adegan panas dengan Fredian. Yang dia duga adalah kekasih gelapnya.
"Apakah anda perlu pegangan?" Tanyanya sambil menahan tawanya.
"Tutup mulutmu!" Gertak Irna sambil melengos pergi.
Irna duduk di ruang tengah, tatapan mata Aldy menyapu seluruh ruangan. Pandangan matanya tertuju pada foto artis cantik terkenal bertahun-tahun silam, yang telah diklaim meninggal dunia karena kecelakaan tragis.
Di sebelahnya ada foto pernikahan Irna juga seluruh keluarga Derrose. Kemudian foto bersama Kania, Fredian, Rian, Sandira, Nira, David dan Alfred.
Pandangan mata Aldy kemudian beralih pada Irna yang sedang sibuk bicara di telepon, menghubungi Rian. Dia terkejut melihat foto tersebut. Masih berjejalan tanya di dalam benaknya. Dia tidak bisa memecahkan misteri tersebut.
Pria itu berkali-kali menggelengkan kepalanya, dia menunggu Irna menyelesaikan panggilan teleponnya.
"Aku cuti hari ini." Irna menunjukkan ponselnya yang masih terhubung dengan Rian.
"Baiklah kalau begitu saya undur diri dulu." Aldy buru-buru bangkit berdiri dari kursinya. Pria itu merasakan bulu kuduknya meremang tiba-tiba. Dia merasakan aura dingin entah darimana datangnya.
Irna juga sama, dia merasakan kehadiran mahluk lain tak jauh dari rumah Fredian.
"Hati-hatilah." Ujar Irna sambil tersenyum, dia tahu Aldy sangat ketakutan melihat bayangan hantu di belakang punggung Irna.
Gadis desa yang terbunuh setelah diperkosa beramai-ramai di tengah hutan. Gadis itu sering muncul di sekitar rumahnya. Terkadang dia juga duduk di ayunan milik Irna.
"Kenapa kamu selalu mengabaikanku? padahal kamu selalu melihatku setiap hari." Tanyanya pada Irna.
Gadis itu berwajah sangat pucat, keluar darah dari lubang hidungnya akibat pukulan para jahanam yang telah menghabisi nyawanya.
"Di saat kamu menyadari siapa diriku, kamu tidak akan lagi bertanya padaku kenapa aku tidak takut padamu." Jawab Irna santai sambil melenggang masuk ke dalam rumah.
"Tunggu!" Gadis itu menghentikan langkahnya. Irna tahu apa yang akan dikatakan gadis itu padanya. Irna segera mendahuluinya bicara.
"Aku tidak ingin membantumu, aku lelah sekali. Jangan menggangguku, atau kamu tidak akan bisa bermain di ayunanku lagi!" Gertaknya seraya masuk ke dalam rumah Fredian.
Irna melangkah menuju ke dapur, dia ingin membuat secangkir kopi untuk mengusir kantuknya.
Di sisi lain..
Pagi ini Kania berangkat dari apartemennya menuju ke kampus. Gadis itu mengenakan gaun warna cokelat tua sepanjang lutut. Setibanya di kampus, dia segera memarkirkan mobilnya.
Dia tidak melihat mobil Royd Carney di sana. Ketika di apartemen dia juga tidak menemukan mobil pria itu sebelum berangkat tadi.
"Untuk apa aku sibuk-sibuk mencarinya?" Gadis itu menggelengkan kepalanya sendiri seraya mengambil tasnya yang masih tertinggal di dalam mobilnya.
Seluruh mahasiswa sudah hampir seluruhnya datang, melihat banyaknya mobil yang hampir memenuhi tempat parkiran kampus ternama tersebut.
__ADS_1
Tepat setelah menutup pintu mobilnya, Kania melihat Royd masuk ke parkiran universitas kedokteran Jerman tersebut. Pria itu memarkirkan mobilnya seraya melemparkan senyum manis melihat Kania tidak membolos hari ini.
Kania mendahuluinya keluar dari parkiran masuk ke dalam kampus, akan tetapi langkah Royd yang lebar dan cepat berhasil mendahuluinya kurang dari dua menit.
Saat berada di sebelahnya, Royd mencondongkan kepalanya ke samping mendekat ke arah Kania. "Aku akan membayarnya hari ini." Bisiknya kemudian mendahuluinya langkahnya.
"Tunggu, pak dosen!" Teriak Kania seraya berlari mengikutinya.
"Batalkan saja, hari ini saya ada kepentingan pribadi." Ujarnya sambil tersengal-sengal mengatur nafasnya karena berlari.
Saat melihat perubahan wajah Royd Kania tahu pria itu tidak mau ditolak untuk kesekian kali olehnya, "Bukan seperti itu, aku benar-benar ada keperluan lain." Ujarnya lagi, seraya mengusap tengkuknya sendiri.
Royd menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya mencermati penampilan Kania dari atas sampai bawah. "Kenapa Pak dosen melihatku seperti itu?" Menyingkirkan kakinya ke samping, karena ada mahasiswi yang sedang melangkah masuk menuju ke dalam kampus berduyun-duyun.
"Kamu ingin kencan?" Selidiknya pada Kania.
"Pak dosen jangan berlebihan, sudah saya mau masuk dulu." Melambaikan tangannya meninggalkan Royd termenung di sana dengan seribu tanya berjejalan dalam kepalanya.
Kania mengambil tempat duduknya bersama Mira, seperti biasanya. Royd memberikan materi mata kuliah hari itu seperti biasanya. Kania mengambil buku catatannya, mulai mencatat poin-poin penting melalui penjelasan dari dosennya itu.
Gadis itu terlihat sangat serius mempelajari tugas yang diberikan Royd padanya. Dia merasa aneh, tugasnya berjumlah dua kali lipat lebih banyak dari seluruh teman-temannya.
Gadis itu ingin mengajukan protes tapi diurungkan niatnya, dia tidak ingin bertengkar dengan dosennya itu di tengah kelas hingga menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa di kelasnya.
Kania berhasil mengerjakan sebagian tugasnya saat seluruh mahasiswa lain sudah mengumpulkan ke depan kelas kemudian pulang.
Kini tinggal dirinya sendiri yang masih sibuk di sana. Dia diam saja saat Royd menarik sebuah kursi dan duduk di depannya.
Pria itu menikmati wajah Kania yang tengah sibuk menyelesaikan soal-soal pemberian darinya. "Kenapa pak dosen memberikan soal padaku sebanyak ini?" Tanyanya sambil berbisik pada Royd.
"Karena kamu lebih pandai dibandingkan teman sekelasmu." Jawabnya enteng.
"Ini pak tugas saya." Menyerahkan kepada Royd dengan sopan seolah-olah tidak pernah terjadi apapun antara mereka berdua.
"Berikan tangan kananmu!" Perintahnya pada Kania.
Gadis itu segera mengulurkan jari tangan kanannya pada Royd di depannya tanpa curiga sama sekali. Pria itu mengambil sebuah ring berlian dari dalam sakunya, memakaikan pada jari manis Kania.
"Apa ini?!" Tanya Kania dengan wajah tidak mengerti sama sekali. Sungguh berbeda dari wajah gadis normal lainnya, ketika mendapatkan hadiah pasti akan tersenyum ataupun berjingkrak riang apalagi pria yang memberikan hadiah itu berasal dari keluarga terpandang, berwajah tampan. Bahkan acap kali menjadi pujaan para gadis mahasiswi di kampus universitas kedokteran tersebut.
Tapi hal itu tidak terjadi pada Kania. Wajahnya datar dan penuh tanda tanya.
"Itu adalah tanda hubungan antara kita." Sahut Royd sambil tersenyum menatap wajah manis Kania Aditama. Pria itu mengulurkan tangannya menata letak poni di kening gadis itu.
"Apakah perlu hal seperti ini?" Bisiknya lagi masih ragu-ragu menerima cincin tersebut.
"Aku rasa lebih baik kamu simpan saja dulu, lain kali kamu berikan pada calon istrimu saja." Melepaskan cincin tersebut dari jari manisnya, kemudian meletakkan kembali pada telapak tangan Royd Carney.
Kania menyambar tasnya seraya tersenyum manis, meninggalkan Royd menggertakan giginya menahan kesal.
"Kaniiiaaaaa!" Teriaknya sambil meremas cincin tersebut dalam genggaman tangannya.
"Apa-apaan itu! apa dia sudah gila? melamarku tiba-tiba seperti itu?! Dasar Royd ada-ada saja ulahnya." Kania bersungut-sungut menuju mobilnya.
"Oh! ini anak yang sering mencuri perhatian pak dosen Roy? Kania, Kania!" Tari bersama Eva menghadang Kania di depan mobilnya. Mereka berdua bersiap-siap untuk menakuti Kania, membuatnya jera agar tidak mendekati Roy lagi.
"Aku tidak ingin berdebat dengan mereka! aku ada urusan yang lebih penting daripada mengurusi masalah konyol ini." Gerutunya pelan. Kania segera masuk ke dalam mobilnya. Dia melihat Roy tengah berlari kencang menuju mobilnya. Kania tidak ingin memberi kesempatan padanya untuk mengikutinya hari ini.
Gadis itu segera melajukan mobilnya keluar dari parkiran mobil kampusnya, mengabaikan Tari dan Eva.
"Sialaan!" Umpat Royd karena kehilangan Kania. Kania tersenyum simpul di dalam mobilnya. Saat kemarin sore Royd menyuruhnya untuk bersembunyi di dalam kamarnya, gadis itu berhasil mencuri kompas milik Royd.
__ADS_1
Kania menyimpannya di bawah jok mobilnya. Dia bersemangat sekali hari itu, karena akan bebas dari gangguan Royd.
Tari dan Eva mendekati Royd, "Pak dosen kita mau kok nemeni bapak hari ini." Ujar Eva seraya memegang lengan Royd, menggesekan gundukan kenyal dadanya pada lengannya.
Tubuh Eva terbilang bohai, juga kulit putihnya tak kalah bersih dari Kania. Dan penampilan gadis itu terbilang sangat menggoda. Wajahnya juga cantik berhidung bangir blasteran Saudi Arabia dengan Jerman. Jika pria lain pasti sudah klepek-klepek digoda olehnya sedemikian rupa.
Tari sendiri memiliki postur tubuh tinggi semampai, gadis yang tak pernah absen dari aktivitas modeling tersebut juga terpikat melihat ketampanan Royd Carney. Pria idaman para mahasiswi kampus.
Pria itu merasa jijik dikejar-kejar seperti itu. Dia segera menyingkirkan tangan Eva dari lengannya. "Maaf saya ada urusan penting. Lain kali saja kita bicara lagi." Ujarnya seraya berlari menuju ke mobilnya.
Dengan satu lompatan pria itu sudah duduk di belakang kemudi mobilnya. Royd segera menyalakan mesin mobilnya bersiap meluncur mengejar Kania.
"Gadis nakal! apa dia pikir aku tidak bisa menemukannya, selain menggunakan kompasku?!" Royd menyeringai lebar penuh misteri. Bagi raja pemburu sepertinya tidaklah sulit menemukan keberadaan vampir.
Apalagi aroma tubuh Kania sudah melekat pada indera penciumannya. Setengah jam kemudian Royd melihat mobil Kania berada di sebuah diskotik.
Dia sendiri heran, gadis cantik dan baik-baik sepertinya untuk apa mengunjungi diskotik, pada siang bolong seperti itu.
Setelah Royd masuk ke dalam dia baru tahu, jika itu bukan diskotik biasa, tapi tempat nongkrongnya para vampir berdarah murni.
Merasa masuk ke dalam kandang singa, pria itu kemudian segera berbalik berniat pergi dari lokasi tersebut, akan tetapi aroma manusia di dalam tubuhnya tercium sangat jelas bagi kalangan para vampir tersebut.
Salah satu dari mereka menyeringai merasa senang mendapatkan makanan gratis di siang bolong. Kania sedang menikmati segelas minuman di lantai dua, gadis itu sedang membicarakan masalah penting dengan salah satu pengawal Rian. Mereka sengaja membuat perjanjian di sana hari itu.
Gadis itu terkejut ketika mendengar suara keributan dari lantai bawah.
Saat matanya menatap ke lantai bawah, dia melihat Royd dihajar habis-habisan oleh para vampir di sana. Tubuhnya di dorong kesana-kemari oleh mereka. "Kita bicarakan masalah ini lain waktu, aku ada urusan penting." Ujar Kania pada pengawal tersebut.
Dengan satu lompatan Kania berhasil turun ke lantai bawah. Semuanya mendadak berhenti, "Tap! tap! tap!" Suara hentakan sepatu Kania menjadi pusat perhatian seluruh mahluk buas di dalam diskotik tersebut.
Salah satu dari mereka mencium aroma darah yang luar biasa berasal dari tubuh Kania. Dia segera duduk berjongkok di bawah kakinya memberinya hormat.
Di susul seluruh mahluk lainnya, Royd terkejut melihat Kania mendapatkan penghormatan layaknya ratu. Darah milik Irna mengalir di dalam darah Kania, dan gadis itu mewarisi nama sebagai Puteri dari kerajaan Vertose.
Gelar itulah yang tadi dia bicarakan dengan pengawal Rian. Jika Rian diangkat menjadi Raja kerajaan Interure, maka gelar gadis itu semakin tidak bisa disentuh. Karena memiliki tingkat di atas bangsawan di kalangan vampir.
Tapi Rian tetap tidak menginginkan status tersebut, dia sangat nyaman menjadi manusia. Dan seorang wanita yang berada di dalam ruangan kerjanya malam itu adalah ibunya Seira yang sebelumnya menjabat sebagai ratu kerajaan Interure. Wanita itu segera menemuinya, karena Peter memberitahunya tentang keberadaan putra sulungnya tersebut.
Kania memapah Royd masuk kedalam mobilnya, "Aku sudah mencuri kompasmu! bagaimana mungkin kamu tetap bisa menemukanku?! kenapa kamu tidak mau mempercayaiku? aku bilang aku ada urusan penting! jika kamu mati apa yang akan.. cup!" Royd menghentikan celoteh Kania dengan ciuman bibirnya.
Kania mendorong tubuhnya ke samping, "Kamu masih sakit Royd! jangan macam-macam!" Ujar Kania seraya melepaskan pelukannya.
Gadis itu kemudian menelepon pengawalnya. "Kalian kirim mobilku ke apartemen, aku akan pulang bersama temanku."
Kania melajukan mobil Royd kembali ke apartemen miliknya. Kemudian memapah Royd masuk ke dalam kamar pria itu. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Gadis itu kemudian mencari peralatan medis untuk mengobati luka pada tubuhnya.
"Meskipun tubuhmu kekar, kamu bukan bangsa kami, tidak akan bisa langsung sembuh ketika terluka parah." Kania melepaskan shirt Royd dan mulai mengoleskan obat pada luka di tubuhnya.
Royd terlihat meringis merasakan pedih dan nyeri pada lukanya. Membuat Kania menahan tawa. "Apa sakit sekali?" Tanyanya pada Royd.
Pria itu tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia merasa sangat malu pada Kania, sudah salah menduga-duga. Dan malah terluka karena kecemburuan dirinya yang tanpa alasan.
Royd menyadari hari ini, kedudukan Kania dikalangan para vampir begitu tinggi dan dihormati. Jika gadis itu menikah pastinya harus sepadan dengan gelar tingkat bangsawannya. Minimal seorang pangeran berdarah vampir murni.
Royd tersenyum getir melihat kenyataan pahit terpampang begitu jelas di depan matanya. Selain kenyataan yang membuat harapannya pupus sebelum berkembang, juga membuatnya tidak ingin melihat ke arah lain selain Kania. Pria itu tahu cintanya tidak akan pernah bisa berjalan mulus seperti kata Kania.
*Bersambung...
Tinggalkan like sebelum pergi.. thank you for reading..β€οΈπ*
__ADS_1