Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Misunderstanding


__ADS_3

8 jam yang lalu.... Di dalam resort Angel, London.


"Jadi siapa yang melakukan penyerangan di rumah sakit semalam?"


Fredian dan Rian telah bergabung dengan Irna. Mereka berdua telah menyelesaikan sarapannya pagi itu.


Nira telah pergi meninggalkan meja Irna lima menit yang lalu.


"Kastil yang kalian datangi hanya dihuni oleh vampir klan monster, tidak ada yang menyerupai klan kita!" Ujar Irna mulai mengambil kesimpulan dari kejadian semalam.


Wajah gadis itu terlihat sangat serius, dia tahu penyerangan kali ini tidak bisa dianggap remeh. Mereka benar-benar berniat menghabisi klan kerajaan Vertose, juga menghabisi siapapun yang berusaha melindungi Irna.


"Ini sedikit aneh, kita tidak pernah mengusik klan monster! Bagaimana mungkin mereka tiba-tiba sudah menunggu kita di parkiran rumah sakit?!" Tanya Rian seraya melihat ke arah Irna dan Fredian.


Irna dan Rian, keduanya kini menatap ke arah Fredian.


"Kenapa denganku? Apa kalian pikir aku cemburu pada kalian berdua lalu berniat membunuh kalian?! Asal saja!" Bersungut-sungut sambil meneguk air minum di atas meja.


"Bukan!" Sahut Irna pada Fredian. Gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Lalu mengeluarkan secarik kertas mantra, sebagian sisinya telah terbakar.


"Bukan? Apanya yang bukan?" Fredian masih tidak mengerti maksud ucapan Irna.


"Derent! Kalian lupa siapa yang kalian singgung beberapa hari lalu? Coba kalian lihat ini!" Irna nyengir menatap ke arah mereka berdua. Dia membuka kertas tersebut di atas meja.


"Ini kertas mantra ratu Holland, di sini tertera huruf simbol Belanda. Ketika kertas mantra mulai terbakar, para klan monster berada di luar kendali. Mereka menggunakan sihir untuk mengambil alih pasukan."


Irna menunjukkan lafal-lafal mantra tersebut dengan sangat rinci, jemari lentiknya menunjuk kata demi kata.


Tatapan matanya melihat ke arah Fredian dan Rian secara bergantian. Dia menunggu pertanyaan dari mereka berdua.


"Seharusnya aku membunuhnya waktu itu!" Rian merasa gusar sekali setelah mengetahui kebenaran tentang segalanya.


Mereka hampir sepanjang hari membahas masalah serius tersebut. Penyerangan yang hampir membuat Irna tewas.

__ADS_1


"Haruskah aku membalasnya?" Rian menatap wajah Irna lekat-lekat, dia masih tidak rela melihat gadis itu hampir terbunuh kemarin. Hidupnya sendiri juga akan berakhir jika Irna tidak bisa selamat.


Hanya Irna yang membuat dirinya bisa tersenyum. Membuat harinya berwarna.


Fredian tahu pria di sebelahnya itu masih menaruh hatinya, bahkan merelakan hidupnya pada wanita yang sekarang berada di dalam genggaman tangannya.


"Tidak, jangan! Bahaya!" Irna menahan lengannya ketika Rian bergegas berdiri dari kursinya.


"Kamu baru menyesalinya sekarang?!" Sahut Fredian ikut merasa kesal pada Rian, karena dia sendirilah yang terus menghajar para ratusan monster tersebut.


"Lalu aku harus bagaimana? Menunggu mereka menyerang Irna lagi?" Rian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dia khawatir Irna akan terluka lagi.


"Aku malah mengkhawatirkan dirimu. Kamu tidak bisa bertempur sama sekali." Ucap Fredian padanya.


"Aku boleh saja pergi, asal Irna tidak." Tandasnya terang-terangan menyatakan untuk menyerahkan dirinya demi wanita yang dia cintai.


"Tapi hanya aku yang bisa menyelesaikan masalah ini.. " Irna tersenyum manis menatap dua pria itu.


Wajah mereka berdua bersemburat sedih. "Kamu tidak boleh pergi!" Sahut Rian dan Fredian serempak, mereka berdua memegangi tangan Irna.


Gadis itu masih tersenyum, meskipun dia tahu nyawanya berada di ujung tanduk sekarang. Mereka bisa kapan saja datang menyerang dirinya.


Ada binar-binar kekuatan tersimpan baik di dalam kedua sinar matanya. "Kalian tidak akan kehilangan, aku punya seribu nyawa. Kalian lihat aku sudah mati berapa kali? Sejak bertemu dengan Dion Anggara. Lalu mobilku jatuh di dalam jurang. Kehadiran Wilson yang juga hampir merenggut nyawaku." Kelakarnya sambil menopang dagunya.


"Tapi ini berbeda!" Sergah Fredian lagi. Dia benar-benar sudah lelah jika harus kehilangan Irna untuk kesekian kalinya. Tapi dia juga tidak punya penyelesaian untuk menghadapi masalah itu.


"Lalu apa kalian punya solusi yang lebih baik dari sekarang?" Tanyanya pada mereka berdua.


Fredian dan Rian terdiam, mereka tidak punya jalan keluar sama sekali.


Tak terasa pagi telah berjalan menuju senja, mereka tak merasakan waktu  semakin cepat berlalu. Kini hari sudah hampir gelap.


Fredian duduk di lobby resort setelah membicarakan masalah penyerangan di rumah sakit semalam. Rian pergi meninggalkan hotelnya sore itu.

__ADS_1


Hari ini Rian memberikan hari libur satu hari untuk Irna. Karena kondisi Irna baru pulih.


Wajah Fredian masih terlihat sedih, pria itu terus menatap ke arah jalan di depan Resort yang mulai perlahan-lahan berubah gelap.


Irna menggenggam tangannya, untuk menguatkan hatinya. "Kamu masih memikirkannya?"


"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku Irna! Nyawamu, jiwamu seluruhnya milikku!" Pria itu meraih Irna ke dalam rengkuhan kedua lengannya.


Irna meletakkan dagunya di bahu Fredian sambil mengusap-usap punggung suaminya itu.


"Aku janji akan kembali padamu, sekalipun seribu nyawaku habis terenggut. Aku pasti akan kembali pada kehidupan selanjutnya untuk mencari dirimu."


Irna melepaskan pelukannya, tapi Fredian kembali meraihnya dan mencium keningnya. Mempererat pelukannya, pria itu kembali melelehkan air matanya.


Dia masih mengingat jelas, tubuh wanita dalam pelukannya itu tidak bergerak sama sekali. Masih ingat wajah putus asa Rian menangis histeris. Fredian melihat, pria gunung es itu menangisi wanita yang bukan siapa-siapanya.


Dia melihat Rian melemparkan Irna pada pelukannya, tapi tidak merelakannya mati. Sedangkan Irna dengan sengaja menghadang monster demi melindungi Rian. Fredian juga melihatnya, dalam pendengarannya.


Pria itu tahu yang sebenarnya terjadi, dia sendiri masih tidak bisa memastikan perasaan Irna. Yang hanya untuknya, tapi malah menyelamatkan nyawa pria yang telah menjadi mantan suaminya itu.


"Demi apa? Apakah dia tidak memikirkan-ku?! Bagaimana denganku jika kehilangan dirinya!?"


"Bagaimana perasaanku ketika berpisah dengannya??!" Begitulah isi benak Fredian saat ini. Makanya dia hampir melepaskan Irna lagi kepadanya. Melepaskan dari genggaman tangannya.


Tapi di dalam benak Irna, dia mencintai Fredian. Sangat mencintainya, dia menyelamatkan Rian demi putrinya Kania. Dia menyelamatkan nyawa Rian karena pria itulah yang selama ini merawatnya selama Fredian menceraikan dirinya.


Dia tidak akan membiarkan siapapun terluka. Irna juga akan melakukan apapun asalkan Fredian baik-baik saja. Dia merelakan dirinya untuk mengganti nyawa seluruh keluarganya.


Tapi Fredian terlanjur salah faham, ada duri dalam hatinya saat Irna berteriak menghadang monster demi melindungi Rian.


"Sebenarnya apakah aku masih memiliki hatimu? Irna? Masihkah aku menggenggam hatimu? Ataukah hanya ragamu yang kosong berada dalam pelukanku sekarang? Irna seandainya aku bisa menyatakan ini semua."


Pria itu masih memeluknya erat sekali, seperti tidak ingin melepaskan tubuh rampingnya dari dalam dekapannya.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa untuk like sebelum pergi, Vote juga ya untuk dukung author terus berkarya, i love you Readers...


__ADS_2