
Irna sampai di rumah sakit sekitar pukul tujuh pagi. Gadis itu terlihat sedang menatap ke arah jam yang membingkai lengan tangan kirinya.
"Pagi dokter Kaila." Sapa Remon sambil menunduk hormat, pria itu baru saja keluar dari dalam mobilnya. Dia melihat Irna masih berada di area parkiran. Tanpa sengaja berpapasan dengannya.
Suasana parkiran di area rumah sakit khusus pegawai itu mulai penuh, satu persatu mobil perlahan masuk ke area parkiran tersebut.
"Pagi Ramon." Jawab Irna sambil tersenyum lembut lalu melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit tersebut. Mendahului Ramon.
"Ini aneh, bukannya nona Kaila kemarin terlihat begitu agresif? Tapi sekarang terlihat elegan dan berwibawa seperti sebelumnya?!" Gumamnya pada dirinya sendiri tanpa tahu Presdirnya sudah berdiri di belakang punggungnya sejak sepuluh menit yang lalu. Rian sengaja memberikan isyarat pada Irna agar tidak memberi tahu Ramon tentang keberadaan dirinya.
"Kamu berencana untuk terus membicarakan dokter Kaila sampai kapan?" Menepuk bahu asistennya itu hingga Ramon terlonjak kaget. Wajah Ramon mendadak mengeluarkan keringat dingin, dia mencium aroma kemarahan Presdir tampan di depannya.
"Ampun Presdir, jangan pecat saya!" Ujarnya sambil duduk bersimpuh di hadapan Rian.
"Ayo masuk, atau aku akan benar-benar memecatmu." Ujar Rian sambil menahan senyum melihat Ramon buru-buru mengikutinya masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
Ramon mengikuti Rian masuk ke dalam ruangan kerjanya, pria itu sedang menunggu berkasnya datang ke atas meja kerjanya.
"Ini berkas yang harus anda tanda tangani presdir." Dinda meletakkan beberapa map berisi berkas penting di atas meja kerja Rian.
Dinda adalah sekretaris barunya, gadis itu juga menangani berkas di NGM. Sudah satu tahun dia bekerja pada pria dingin di ruangan itu.
Rian mencium aroma parfum Dinda terlalu menusuk hidungnya. Kini pria itu mengalihkan pandangan matanya menatap gadis cantik di depannya itu.
Awal dia menatap langsung disambut bongkahan kenyal yang menggantung hampir melompat keluar dari bra milik gadis muda di depannya itu.
Bajunya terlihat sangat ketat di balik jas lengan panjang warna putihnya. Dinda memang sangat muda dan cantik, gadis itu masih berusia dua puluh empat tahun.
Dinda tahu pandangan mata Rian sedang terpaku ke arah dadanya, dia sengaja berlama-lama menundukkan badannya meletakkan berkas Rian satu-persatu di atas meja.
"Letakkan semuanya, jangan satu persatu."
Ujar Rian sambil menopang dagunya malas-malasan, tapi tetap tersenyum manis melemparkannya ke arah Dinda. Tentu saja itu dia lakukan agar Dinda tidak ketakutan lalu pergi berlari keluar dari dalam ruangan kerjanya sambil menangis.
"Trriiing," Irna terkejut telepon di atas meja kerjanya berbunyi tiba-tiba. Gadis itu masih membaca berkas di atas meja kerjanya.
"Hallo?"
"Bawakan aku kopi hitam! Tutt..tuut!" Teleponnya terputus begitu saja sebelum dia sempat untuk berkomentar sama sekali.
"Apa dia sengaja menjadikanku pelayan!? Kenapa tidak menyuruh asistennya!" Irna malas-malasan berdiri dari tempat duduknya, mulai membuat kopi dengan mesin kopi di sebelahnya.
Irna melangkah santai menuju ruangan kerja Rian dengan kopi di nampan, di atas telapak tangan kirinya.
Saat membuka pintu dia melihat Dinda sedang merundukkan badannya mengambil berkas yang sudah di tanda tangani oleh Rian satu persatu. Irna berhenti sejenak berdiri di ambang pintu.
Dari belakang punggung Dinda, Irna melihat ke arah rok yang terlalu mini itu, terlihat sangat jelas celana dalam yang dipakai wanita itu. Berenda berwarna putih. Sangat ketat hingga tergambar jelas apa yang ada di balik celana berwana putih tersebut.
"Ternyata ada juga yang bermodel begini di sekitar pria es itu! Aku pikir mereka cuma berada di sekitar suamiku!" Irna menahan suara tawanya, menutup bibirnya dengan telapak tangan kanannya.
Rian langsung menatap ke arah pintu dimana matanya lebih berminat untuk terus menatap wajah bening dan lembut. Irna selalu memakai baju sopan dan sesuai batasan. Make up wanita itu juga selalu natural dan menawan. Rambut panjangnya meriap jatuh ke atas punggungnya, demi menutupi kulit mulus leher jenjangnya.
Irna memakai kacamata untuk menutup sinar kornea yang belakangan ini sering berubah warna.
Rian tersenyum memberikan isyarat padanya agar mendekat ke arahnya.
Irna melangkah menuju ke arahnya, dia kini berdiri di sebelahnya meletakkan kopi tersebut di atas mejanya.
Saat dia ingin pergi, Rian tiba-tiba meraih pinggangnya. Menyembunyikan wajahnya di perut Irna. Irna merasakan hembusan nafas Rian di sana. "Presdir! Apa yang anda lakukan!" Irna mencoba melepaskan lengan Rian dari belakang pinggangnya.
Melihat itu Dinda langsung melotot, buru-buru mengambil semua berkas tersebut. "Saya permisi presdir." Pamitnya, lalu bergegas pergi keluar dari dalam ruangan kerjanya.
"Braakkkk!" Pintu ruangan kerja Rian dibanting keras.
"Akkh!" Irna memekik karena Rian mencubit pahanya. Sambil mendongak menatap wajah Irna. Gadis itu terlihat bersungut-sungut karena dia tahu itu adalah sandiwara manis Rian yang kesekian kalinya.
"Kenapa? Kamu tidak mau membantuku?" Rian kini telah beralih kembali menandatangani berkas di atas meja.
__ADS_1
"Besok malam adalah pernikahan putri kita." Irna menopang tubuhnya dengan kedua tangannya di tepi meja Rian. Dia masih berdiri di sebelahnya.
Menunggu jawaban Rian, menunggunya bicara.
"Kamu pergilah dengan Fredian. Dia suamimu sekarang." Sahutnya masih tetap memegang bolpoin bertinta hitam itu. Menggoreskan tintanya pada lembaran demi lembaran di atas meja kerjanya.
"Tapi dia putrimu. Kita pergi bersama saja, Fredian sudah bilang tidak akan datang." Irna memegangi bahu kanannya. Dia meremasnya, merasakan remasan lembut di bahunya Rian akhirnya menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan mantan istrinya itu.
"Terima kasih." Irna tersenyum cerah, secerah pagi itu. Secerah mentari yang bersinar terang di ufuk timur menyambut indahnya dunia. Indahnya hari-hari selanjutnya.
"Aku akan ke ruangan kerjaku." Pamitnya pada pria itu.
"Bawa ini!" Rian mengangkat berkas milik Irna, jadwal operasi hari ini.
"Berapa banyak?" Kini wanita tinggi semampai itu malah berkacak pinggang. Terlihat bosan dan lelah.
"Hanya dua kali, satu di siang ini pukul sebelas." Ucapnya sambil tersenyum melihat bibir cemberut Irna.
"Oke, oke, aku akan menyelesaikan pekerjaan hari ini."
Melangkah kembali ke arah Rian untuk mengambil berkas tersebut. Saat Irna menariknya, Rian malah menahan berkas itu.
"Kenapa lagi?" Tanya Irna bingung.
"Pilih asisten wanita saja!"
"Dasar es kutub!" Umpat Irna kesal. Karena dia tahu Rian telah merubah nama asisten yang sudah dia pilih untuk membantunya di meja operasi satu Minggu lalu.
Irna memilih pria, karena mereka begitu gesit dan cepat sekali. Itu mempermudahnya untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya.
"Kamu saja yang menanganinya jika tidak terima karena aku memilih tiga dokter muda itu." Gerutu Irna pada Rian.
"Mereka pria!"
"Memangnya kenapa kalau mereka pria? Kamu juga pria!" Menghentak-hentakan kakinya di lantai lalu keluar dari dalam ruangan tersebut.
Suatu malam Rian pernah mendengar rintihan Dinda di balik gorden kamar pasien yang kosong. Kejadian itu tepat pada pukul satu dini hari.
Waktu itu kebetulan dia dan Irna masih menangani operasi darurat. Pasien penting salah satu anggota pejabat di pemerintahan terlibat kecelakaan mobil. Hingga dia terpaksa harus menanganinya.
Saat dia melalui ruangan itu Evan dokter muda tersebut sedang membuka lebar-lebar paha mulus Dinda mengusap-usap celana dalam ketat milik Dinda hingga basah, lendir Dinda mengalir turun ke pangkal pahanya.
Bibir mereka berdua bertautan diiringi suara desahan-desahan penuh hasrat.
"Evan.. mmmmhhh.. akkhhh..." Evan menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalam milik Dinda. Mengocok-ngocok area sensitif Dinda agar semakin basah. Di balik gorden berwarna biru laut itu terlihat jelas bayangkan pinggang Evan sedang maju mundur mengocok-ngocok lubang berlendir Dinda sampai terdengar suara deritan ranjang pasien yang sedang menopang tubuh Dinda. Gadis itu membuka lebar-lebar kedua pahanya menerima tusukan bertubi-tubi dari Evan.
Evan dengan gerakan cepat, menghentak-hentak pinggulnya ke depan. Dinda membuka kancing blues miliknya sendiri, sambil meremas-remas payudara besar yang tengah terguncan-guncang akibat hentakan hujaman Evan.
"Akkhhhh.. mmmhh.. akkhh.. Evan.. akkh.. terus sayang.. akkhh.. nikmat sekali.. awhhhh.."
Evan tidak bersuara sama sekali hanya deru nafasnya yang terdengar tersengal-sengal akibat terus menerjang tubuh mulus di depannya itu.
Rintihan Dinda membuat bulu kuduk Rian meremang dan buru-buru meninggalkan ruangan tersebut.
Pria itu sudah kesekian kalinya bermain dengan wanita yang bekerja di rumah sakit Rian. Bagi Rian itu adalah masalah pribadi pegawainya masing-masing. Dia tidak berniat ikut campur, karena dia juga tidak pernah mendengar keluhan mereka.
Mereka suka-suka saja bercumbu dengan dokter muda tampan itu. Evan jugalah yang membayar baju Angelina di mall waktu itu. Bahkan Angelina juga bersikap sangat ramah pada pria muda itu.
Evan sangat mengagumi Kaila Elzana, dia senang sekali selalu menemaninya di meja operasi. Kehebatan Kaila membuatnya tertarik untuk terus mengikutinya. Dia tidak berani menyinggungnya atau bersikap tidak sopan pada wanita hebat itu.
Bagi Evan Kaila Elzana tetaplah seniornya yang harus dia hormati. Apalagi dia juga tahu level wanita hebat itu adalah presdir. Hampir seluruh presdir di kota London yang selalu bisa duduk berjajar di sebelahnya. Di antara mereka adalah Rian Aditama. Evan tahu Presdirnya tersebut sangat memanjakannya. Dan juga telah jatuh bertekuk lutut di hadapan Kaila.
Juga Fredian presdir Resort hotel, pria itu yang sering mengantar Kaila Elzana kemanapun dia pergi. Evan juga pernah memergoki mereka berdua berciuman bibir ketika berada di mall. Pria itu juga telah tergila-gila dengan dokter favoritnya itu.
Evan pun ingin bisa dekat dengan Kaila Elzana. Semua penampilan Kaila membuatnya berhasrat ingin meraih fantasi gilanya, dan kini dia membayangkan Dinda adalah Kaila Elzana! Dia meringsak tubuh Dinda tapi di dalam kepalanya adalah Kaila Elzana! Dokter wanita favoritnya itu.
Karena itulah Evan tidak mau mengeluarkan desahan nafasnya, karena yang akan terlontar dari bibirnya adalah nama Kaila Elzana.
__ADS_1
Selain itu Rian juga pernah berada di toilet karyawan seusai dari kantin, menikmati makan siangnya bersama Irna.
Dia mendengar desahan Evan di salah satu pintu tertutup. Dan nama Kaila-lah yang terlontar dari bibir dokter muda tersebut.
Rian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Dia sampai menggunakan shampoo untuk menyelesaikan misinya! Dasar pria jaman sekarang! Braakkkkk!" Gumamnya sambil membanting pintu toilet dengan sengaja.
Rian tahu dari aroma shampo, karena aroma tesebut begitu familiar dengan indera penciuman miliknya itu.
Dan juga dengan Wati, salah satu perawat di rumah sakit tersebut. Pada saat itu Wati sedang bertugas jaga malam.
Rian melihat mereka bercumbu di dalam ruangan ganti. Pinggul Wati maju mundur di atas pangkuan Evan.
"Akkh Evan.. emmhh.. enak sekali sayang.. akkhhh.. emmhh.. auuuwhhh.. emmhhh!" Desahan Wati terdengar sampai keluar dari dalam ruangan berukuran tiga meter tersebut.
"Clak! Clak! Cak! Cak! Emmh.. awwhh akkhhhh...akkhh.. sayang.. akkhh.."
Juga suara lendir bercampur hentakan dua daging berbenturan terdengar sangat berisik di suasana hening pukul dua dini hari itu.
Masih banyak lagi kejadian yang Rian ketahui di dalam rumah sakitnya tersebut.
Karena alasan itulah dia mati-matian menjauhkan Irna dari Evan. Rian tidak ingin terjadi pembunuhan sadis di rumah sakitnya. Karena dia tahu Irna tidak segan-segan membunuh siapa saja sekarang.
Wanita cantik tapi bengis dan sadis itu tidak segan-segan menghunuskan pedangnya pada siapa saja yang berniat melecehkannya. Dia selalu melakukan apa saja yang dia inginkan. Membunuh orang atau vampir baginya sudah biasa. Terlebih lagi kini Angelina telah menyatu ke dalam jiwanya.
Rian tidak tahu harus berbuat apa ketika dia mendapati Evan tetap berada di dalam ruangan operasinya menemani Irna menyelesaikan proses operasi hari itu.
"Kaila! Dasar wanita itu! Dia tidak tahu di balik wajah kepolosan penuh tipu daya di sebelahnya itu." Umpat Rian sangat kesal karena mendapati Evan diam-diam menatap gundukan di dada Irna yang ikut terguncang akibat gerakannya kesana-kemari saat menangani operasi.
Juga saat pria itu beralih posisi ke samping kiri Irna, dengan sengaja menggesekkan dada bidang, juga pinggang ke bawah pada pinggul Irna.
Irna menyadari hal itu sudah lama sekali, tapi dia sangat menyukai karena pria itu sangat tangkas dan cepat dalam membantunya menangani pekerjaannya.
"Thanks Evan! Kamu selesaikan sisanya oke!? " Irna mengedipkan sebelah matanya ke arahnya.
Evan dengan dada membuncah tersenyum manis di balik maskernya, pria itu melambaikan tangannya ke arah Irna. Dia menahan gejolak asmara dan gairah yang menggila. Dan Irna tahu itu karena darah pemikat! Darah pemikat yang mengalir di dalam tubuhnya.
Rian bisa menebak, setelah operasi tersebut pria muda itu akan mencari pelumas sambil menyebut-nyebut nama Kaila Elzana di dalam toilet pria.
Sampai di luar ruangan operasi Irna disambut oleh muka masam Presdirnya.
"Kamu sengaja kan?!" Rian mengekor Irna menuju westafel untuk mencuci tangannya.
"Hem. Dia itu dokter tercepat! Dan termahir! Aku suka sekali melihat pekerjaan yang tanpa kesalahan sama sekali itu! Dia sangat cekatan!" Irna sengaja memuji-muji kehebatan pria muda itu di depan Rian.
Dada Rian semakin bergolak karena amarah. Bukan karena cemburu, tapi karena kesal sekali.
"Kamu!"
"Apa!" Kini Irna berkacak pinggang menghadap ke arahnya.
"Awas saja!" Rian mengepalkan tangannya menahan amarah.
Irna melihat Evan sedang berdiri di belakang punggung Rian.
Karena tidak ingin dia menduga kalau mereka bertengkar Irna segera menarik jas Rian agar mendekatkan wajahnya ke wajah Irna.
"Apa yang kamu lak..mmmmm!" Teriakan Rian disumbat oleh bekapan tangan kanan Irna kini wanita itu terlihat sedang menikmati pagutan bibirnya.
Evan melihat itu langsung mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Pria itu berbalik dan pergi sambil menyeringai lebar menatap liar kemesraan tersebut. Tentu saja dalam dunia fantasinya itu adalah kemesraan dirinya dengan Kaila Elzana! Bukan dengan Rian Aditama!
Bersambung....
Woii... Like.. woiii.. like..
Panjang ini jadi lama ngetiknya.. like jngn lupa loh.. nnti malam up lagi... Semoga bisa lebih bnyak chapter..
Oke thanks!
__ADS_1