Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Posesif


__ADS_3

Setelah selesai makan, Irna melangkah menuju rumah lamanya. Irna memainkan batu kerikil di bawah kakinya saat hendak masuk ke dalam.


Gadis itu terkejut melihat kunci rumahnya terbuka. Dia berlari masuk ke dalam melihat apakah ada orang yang lebih dahulu masuk ke sana.


Irna tidak mendapati seorangpun, dia kemudian melangkah menuju kamarnya untuk meletakkan koper.


"Kenapa kamu tidak bilang-bilang kalau ingin liburan ke Jerman?"


Pria itu memeluk pinggangnya dari belakang sambil menciumi pipinya.


"Kamu? bagaimana bisa kamu tiba-tiba masuk kemari?" Irna berbalik menatap wajah suaminya.


"Aku suamimu, tentu saja aku tahu istriku pergi ke mana."


Masih mencium pipinya dengan lembut, tidak ingin melepaskan pelukannya.


Irna berbalik menghadap ke arahnya menyentuh kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku tidak bermaksud untuk tidak berpamitan denganmu. Aku hanya merasa tidak pantas berada di sisimu. Aku hanya akan terus melukaimu. Aku wanita yang jahat."


Irna menundukkan kepalanya di dada Rian.


"Hei, siapa yang berani bicara kamu tidak pantas untukku?"


Rian mengusap rambut Irna yang panjang, pria itu tersenyum lembut dia masih memeluknya erat.


"Aku sudah bilang untuk tidak meninggalkanku. Apa kamu sudah melupakan janjimu padaku?"


Irna menggelengkan kepalanya, gadis itu masih menangis merasa bersalah padanya.


"Aku mencintaimu apa adanya, apa kamu ingin pergi bersama Fredian? dan meninggalkanku sendirian?"


Irna mendongak menatap wajahnya lekat-lekat.


"Dia akan menikah, dia sudah merencanakan untuk menikah lagi."


"Kamu sedih dia menikah lagi?" Tanya Rian padanya.


Gadis itu hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan dari suaminya.


Irna mulai membuka kopernya dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam lemari.


Gadis itu terkejut setengah mati melihat seluruh pakaiannya robek seperti habis dicincang.


"Braaakkk!" Irna menjatuhkan kopernya tanpa sengaja. Seluruh pakaiannya tumpah ke lantai di bawah kakinya.


Gadis itu buru-buru memasukkan pakaiannya kembali ke dalam koper. Dia tidak ingin Rian mengetahui kalau Arvina telah mencincang seluruh bajunya.


"Kenapa memasukkan ke dalam koper kembali?" Rian menghentikan tangan Irna.


Pria itu membungkuk dan berjongkok hendak membantunya meletakkan baju-baju miliknya ke dalam lemari.


Saking bingungnya, Irna takut Rian akan mengamuk ketika mengetahui yang sebenarnya terjadi.


Gadis itu memilih tindakan mengejutkan tanpa ragu sedikitpun. Dia menarik Rian dan memagut bibirnya.


"Duk! Duk!" Irna menendang kopernya dengan sepatu high heelsnya ke bawah tempat tidurnya menyingkirkan dari pandangan Rian.


Rian terkejut Irna tiba-tiba menciumnya. Pria normal itu kemudian memulainya.


"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


Rian mengecup keningnya sambil menunggu jawaban dari Irna.


"Tidak ada." Irna segera bangkit dari tempat tidurnya dan memakai pakaiannya kembali.


Irna melihat dada atletis dengan butir-butir keringat masih keluar dari dalam pori-pori kulit putihnya.


"Pakai ini."


Irna segera mengalihkan pandangan matanya dan mengulurkan kaos santai padanya.


"Canggung sekali."


Bisiknya dalam hati. Irna bahkan lupa sejak kapan dia tidur dengannya terakhir kali, sudah sangat lama sekali.


"Kamu malu melihat tubuhku?"


Rian mencermati wajah Irna di depannya sambil tersenyum.


"Berhentilah menatapku seperti itu!"


Irna memutar posisi tubuhnya, berbalik duduk memunggunginya.


Irna bergegas menuju dapur, Rian melihat Irna sudah pergi. Pria itu tahu, Irna tidak mungkin mau merayu ataupun menciumnya dengan agresif. Ciuman penuh kepura-puraan, dan kepalsuan.


"Dia bahkan melakukan itu demi menutupi ini!" Rian melihat ke dalam koper Irna, bajunya sudah menjadi serpihan kain.


"Arvina!" Geram Rian sambil mengusap kepalanya.


"Apa kamu perlu bantuanku?"


Rian tersenyum mengambil kopi dan gula kemudian memasukkan ke dalam cangkir lalu menyalakan kompor untuk memasak air.


"Oh! aku baru tahu kompornya bisa menyala. Aku pikir ini sudah rusak?"


Gadis itu melihat ke arah Rian sambil tersenyum, dia tahu pria itulah yang sudah mengganti semuanya dengan barang baru.


"Kamu selalu rajin memeriksa semua rumahku." Irna berdiri di sebelahnya.


"Apapun untukmu, hanya untukmu!"


Kembali memeluknya sambil menunggu air mendidih kali ini Rian yang memberanikan diri untuk mencium bibirnya. Dan Irna tidak mencegahnya ketika pria itu mulai melumatnya.

__ADS_1


"Terima kasih." Rian menatap wajahnya lekat-lekat.


"Terima kasih untuk tidak menolakku, terima kasih untuk tidak menepisku."


"Ah! airnya!" Irna berteriak saat pria itu meremas bagian tubuhnya.


"Hahahaha!" Rian tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Irna memerah seketika.


"Kenapa menertawaiku?" Irna mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai dapurnya.


"Kamu imut sekali! wajahmu itu, aku bukan sekali dua kali melihat seluruh tubuhmu. Tapi kamu masih tetap saja merasa canggung."


"Normal saja! kita sudah lama berpisah, lalu berteman. Dan tiba-tiba menikah lagi, bagaimana tidak canggung?"


Sahutnya dengan sedikit kesal. Rian menyeduh kopinya lalu duduk di kursi meja makan.


"Kenapa kamu tiba-tiba menyusulku kemari?" Irna meminum kopi buatan Rian sambil duduk di sebelahnya.


"Karena aku tidak ingin jauh dari istriku! aku sudah bilang akan terus menempelkan padamu, mana bisa membatalkan perjanjian itu."


"Dasar anak kecil!" Gerutu Irna lagi, Rian tanpa sengaja melihat bekas luka kuku pada pipi kiri Irna.


Sejak awal dia menutupi dengan rambut panjang miliknya agar Rian tidak mengetahuinya.


Pria itu segera meraih kepalanya, menyingkirkan rambut panjangnya.


"Astaga! sebenarnya apa yang sudah dia lakukan padamu? kenapa bisa seperti ini?"


"Ah ini aku sewaktu turun bus menabrak seseorang tidak sengaja."


Ujarnya masih berbohong, Irna tidak ingin Rian memarahi Arvina. Rian segera mengambil ponselnya kemudian menelepon Arvina.


Saat Rian membuka kata akan bicara dengan Arvina, Irna lagi-lagi menutup bibirnya dengan ciuman. Rian tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Riannn!" Pekiknya.


"Cukup! sudah! aku lelah sekali." Irna mendorong dadanya agar menyingkir.


"Jika kamu mencegahnya lagi, aku akan melakukannya lagi!" Rian mencium punggungnya, Irna meremas lengan kekarnya yang masih memeluk pinggangnya.


"Kenapa kamu melindunginya? dia sudah menyakitimu."


"Aku yang menyakitinya, bukan dia yang menyakitiku." Irna merapikan pakaiannya kembali.


Rian lupa jika ponselnya masih menyala, entah lupa atau sengaja. Untuk menunjukan pada Arvina agar mendengar segalanya. Mendengar semua yang mereka lakukan.


"Kamu mau kemana?"


Irna mengambil tasnya dan juga mantelnya.


"Aku ingin membeli beberapa baju ganti, apa kamu mau mengantarku?" Irna berjalan tertatih memegangi pinggangnya menuju ke luar rumah.


"Apa sakit sekali?" Tanyanya sambil mengulum senyum.


"Jangan membahasnya lagi, memalukan sekali!" Gumam Irna seraya mengibaskan tangannya di depan wajahnya.


Mereka berdua menuju mall untuk membeli pakaian baru.


"Kenapa malah ke mall? kita bisa ke butik Anita." Mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum.


"Sudahlah lupakan saja. Dia akan pingsan ketika melihatku masih hidup. Juga usiaku sudah hampir lima puluh tahun tapi wajahku masih dua puluh tahun."


Irna mencoba beberapa pakaian tapi Rian berkali-kali menggelengkan kepalanya tidak setuju.


Irna berkacak pinggang menatap wajah Rian dengan bibir cemberut. Dia lelah sekali harus bolak-balik memilih baju. Selama ini Rian yang menyiapkan semuanya.


"Ikut aku." Rian menarik lengannya dan menempelkan beberapa baju pada tubuhnya.


Dia membeli semuanya yang terlihat cocok dipakai Irna.


Arya saat itu turun dari lantai atas tanpa sengaja melihat ke arah Rian. Pria itu berjalan tergesa-gesa karena melihat Irna di sana.


Irna bahkan melupakan bahwa mall tersebut adalah hasil kerja sama proyek konstruksi dengan Arya Ardiansyah.


"Hei kalian!" Teriaknya sambil terengah-engah karena habis maraton mengejar langkah mereka berdua.


"Kamu Irna?! kamu masih hidup? syukurlah!" Pria itu meraihnya dalam pelukan. Rian menarik tangan Irna agar menjauh.


"Dia bukan Irna." Rian menghalangi Arya dan Irna dengan berdiri di antara mereka berdua.


"Rian sudah, jangan begini." Irna tersenyum lembut melihat semburat cemburu terlukis jelas pada wajahnya.


"Aku Kaila." Irna menyapa Arya.


"Kaila? kamu Kaila Elzana pegawaiku itu! aku sudah yakin kamu Irna!" Teriaknya penuh semangat.


"Aku bukan Irna, aku Kaila."


"Iya aku senang bertemu denganmu. Kamu dokter forensik terkenal di London. Waktu melihat wajahmu di layar kaca aku terkejut."


"Aku pikir aku tidak akan melihat wajahmu lagi. Walaupun kalian sangat berbeda, tapi aku senang sekali bisa menemukanmu."


Pria itu menatapnya dengan wajah bersinar.


"Apa yang kalian lakukan di sini? ah kalian sedang berbelanja."


Rian sejak tadi terdiam, karena Irna terus menginjak kakinya saat dia ingin angkat bicara.


Irna tahu Rian bisa bertoleransi pada temannya, tapi jika terlalu dekat sikap posesifnya kembali muncul.


Apalagi sekarang dia sudah menikahinya kembali.


"Aku mendapatkan ini!" Arya menunjukkan undangan pernikahan pada layar ponselnya.

__ADS_1


"Fredian & Irna Damayanti" Begitulah yang tertera pada undangan pernikahan tersebut.


Irna terbelalak melihat nama yang ada di sana. Rian masih tidak mengerti, ketika Fredian mengambil keputusan itu.


Fredian juga tidak mengatakan apapun padanya, jika dia ingin mengambil Irna pasti pria itu sudah mendatanginya untuk mengambil miliknya.


Tapi setelah bertemu dengan Irna dia langsung pergi dan mengambil penerbangan ke London.


Irna menoleh ke arah Rian sambil menghela nafasnya.


"Aku tidak tahu ini, apakah wanita yang sama seperti sebelumnya." Ujar Arya sambil tersenyum melihat wajah Irna yang mendadak berubah pucat.


"Ada apa dengan wajahmu dokter Kaila? sepertinya kamu lebih terkejut daripada aku? membuatku semakin yakin bahwa kamulah Irna Damayanti."


Seringainya lebar lalu melambaikan tangan meninggalkan mereka berdua.


"Apa kalian sepakat untuk menikah bersama?" Rian menatap wajah Irna penuh selidik.


"Apa maksudmu?" Irna melangkah keluar dari dalam mall menuju mobilnya.


"Di undangan itu tertera nama kalian."


Rian meremas kedua bahu Irna setelah dia naik ke dalam mobil.


"Rian.. aku sama sekali tidak tahu."


Irna merasakan cengkeraman kuat jemari Rian pada kedua bahunya. Pria itu kembali meragukan dirinya.


"Fredian! kamu dengan sengaja melakukannya.. agar Rian meragukanku lalu membuangku!" Bisik Irna dalam hatinya.


"Kalau kamu tidak mempercayaiku, datanglah ke pernikahannya. Aku akan tetap tinggal di Jerman. Lihatlah siapa mempelai wanitanya. Apakah itu aku atau bukan."


Irna berusaha menjelaskan segalanya, tapi sepertinya dia masih tetap tidak mempercayainya.


Rian berkali-kali mendengus kesal, dan memukul kemudi mobilnya.


"Kapan acara pernikahannya?" Tanyanya pada Irna.


"Aku tidak tahu." Jawabnya singkat sambil mengangkat kedua bahunya.


Setelah mereka sampai di rumah, mereka berdua mendapatkan pesan bersamaan. Undangan pernikahan Fredian. Pernikahan tersebut diadakan besok di Reshort London.


"Aku akan pergi ke London malam ini." Rian melihat ke arahnya. Irna masih bersikap biasa-biasa saja.


"Kamu setenang ini? ketika namamu terpampang jelas pada surat undangan pernikahan ini."


Rian menggelengkan kepalanya tersenyum tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Itu cuma nama Irna, sudah jelas Irna Damayanti sudah meninggal. Namaku sekarang adalah Kaila!" Irna menegaskan itu padanya.


"Kenapa kamu berteriak padaku?" Rian menepikan mobilnya menatap Irna.


"Kenapa kamu masih tetap tidak mengerti diriku? ini sudah berapa tahun kita bersama?" Irna menyandarkan kepalanya di sandaran mobilnya.


"Karena aku sangat mengenalmu, karena aku sangat tahu bagaimana perasaanmu padanya. Karena itu aku terus bertanya padamu."


Sergah Rian sambil menatap wajahnya lekat-lekat.


"Baiklah! kamu bilang aku yang akan menikah besok dengan Fredian? ya pikirkan saja seperti itu. Hahahaha! lucu sekali!"


Irna menutupi kedua matanya dengan ujung sepuluh jarinya, untuk mencegah air matanya mengalir.


Rian menarik tangannya dari wajahnya, Rian melihat air matanya mengalir deras.


"Kenapa? kamu menangisiku? kamu merasa kasihan padaku karena kamu berhasil mempermainkanku? aku akui kamu sangat hebat! kamu berhasil menggenggam hatiku lalu melemparkan kembali!"


Rian begitu putus asa, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia mengemas kembali kopernya dan meninggalkan Irna mematung sendirian di tengah ruangan menatapnya pergi tanpa berkata apapun.


Setelah pria itu pergi, Irna terduduk lemas di lantai. Gadis itu menangis sesenggukan sendiri.


"Bolehkah aku masuk?" Lagi-lagi Arya melangkah masuk tanpa ijin. Dia melihat gadis itu terisak sendirian di tengah ruangan.


"Apa yang terjadi?" Arya meraihnya membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.


"Apa dia meninggalkanmu gara-gara surat undangan pernikahan itu?"


Irna tidak menjawab pertanyaan Arya, gadis itu beranjak berdiri.


"Pergilah, kenapa kamu tiba-tiba berada di sini?" Irna berdiri memunggunginya.


"Aku hanya ingin memberikan ini." Arya meletakkan sebuah tas di atas meja.


"Ini dulu adalah rumah Irna, aku tidak berfikir kamu akan menempati rumah gadis itu. Aku masih belum yakin jika gadis itu telah pergi dari dunia ini"


Arya tersenyum melihat wajah Irna, sesaat dalam pandangan matanya, gadis bernama Kaila itu mirip sekali dengan Irna.


"Jika kamu sudah selesai bicara, keluarlah."


Irna sengaja mengusirnya agar Arya pergi dari rumahnya, dia tidak tahu bagaimana jika Rian tiba-tiba kembali kemudian menemukan mereka berdua bersama.


Dan benar, Rian kembali saat Arya memeluknya untuk berpamitan. Sikap kurang ajar dan gila Arya yang luar biasa itu cuma Fredian yang bisa mentolelirnya.


"Oh! Presdir Rian aku pikir kamu tidak akan kembali ke rumah." Arya nyengir dan berlalu dari hadapannya.


Rian melangkah masuk ke dalam rumah. Irna tahu pria itu sudah melihatnya tadi saat Arya masih di sana.


Irna duduk di ruang tengah sambil meneguk segelas air. Tenggorokannya mendadak terasa kering.


"Jadi kamu memasukkan pria lain setelah aku pergi bahkan belum sampai lima menit."


"Hahahaha! iya benar! aku mengundangnya kemari karena aku sangat murahan!" Irna menyeringai dan memaksakan diri untuk tertawa.


"Dia bilang sudah mengenalku bertahun-tahun tapi tetap saja, dia masih tidak mengenalku."

__ADS_1


Gumam Irna sambil memaksa bibirnya untuk tersenyum.


Bersambung.....


__ADS_2