
"Aku hanya ingin memberikan ini!" Melemparkan kertas undangan pernikahan di atas tempat tidur Irna.
Rian terkejut melihat surat undangan itu. Fredian dan Fransisca! Fransiska puteri konglomerat yang tidak bisa di sentuh dan terkenal dingin itu mau menikah dengan Fredian. Pria yang baru dikenalnya.
Mereka terlibat hubungan bisnis beberapa bulan terakhir.
"Ha ha ha ha! lihat ini wah kamu pria yang sangat hebat! selamat atas pernikahanmu! tapi sepertinya pada tanggal ini aku tidak bisa datang. Jadwalku sangat penuh." Ujar Irna sambil tengkurap di atas tempat tidurnya dengan santai membaca kertas undangan pernikahan dari Fredian.
Rian menyeret Fredian keluar dari kamar Irna.
"Apa ini? kenapa kamu ingin melukainya lagi? bukankah kamu begitu mencintainya? aku bahkan memberikan dia untukmu karena melihatmu seperti orang tidak waras selama tiga tahun!" Tanya Rian sambil meremas kepalanya sendiri.
"Dia tidak mencintaiku! kamu lihat dia tadi? dia menertawaiku dan sama sekali tidak menahanku?" Ujar Fredian sambil meninju dinding.
"Menurutmu kenapa dia tidak menerimaku aku bisa menikahinya ketika dia hamil anakmu, atau saat ketika kalian berpisah? setiap hari sepanjang waktu aku melihat wajah kusutnya aku selalu mencoba menghiburnya!"
"Sepanjang waktu aku menemaninya karena kesalahanku kalian berpisah! Dia setiap waktu menangis dalam pelukanku. Siapa yang dia tunggu sepanjang waktu? Dasar pria tidak tahu diri! Jrooot!" Dengan gemas Rian memukul bibir Fredian sampai mengeluarkan darah.
Irna mendengar suara ribut di luar kamarnya segera berlari melihat.
"Astaga apa yang kamu lakukan padanya?" Teriak Irna sambil melepaskan Fredian dari cengkeraman Rian.
"Kamu terus saja seperti itu! dia akan menikah dengan wanita lain! dan kamu masih membela pria konyol dan bodoh ini?!" Rian menatap Irna dengan wajah marah.
Irna berdiri di antara mereka berdua berusaha melerai.
"Biarkan dia menikah jika itu bisa membuatnya bahagia, jangan buang tenagamu lagi, pergilah dari rumahku Fred!"
Ujar Irna sambil menghalangi Rian yang masih geram ingin memukul pria di belakang punggung Irna.
Fredian perlahan berdiri ujung bibirnya terluka, pria itu tersenyum manis dan tiba-tiba jatuh tersungkur di pelukan Irna.
"Apa yang terjadi? Fredian?! bangun! Fred!" Teriak Irna histeris melihat pria itu pingsan dalam pangkuanya.
"Apa yang terjadi? masa aku terlalu keras memukulnya?" Rian kebingungan menggaruk keningnya sendiri.
Rian menepuk pipi Fredian, Fredian mengedipkan sebelah matanya sambil terus berbaring di pangkuan Irna.
"Sepertinya aku masih ada urusan di NGM, aku akan pergi dulu." Ujar Rian sambil mengambil kembali jasnya, dan berlalu menuruni tangga.
"Ei! ini bagaimana?! malah pergi sih??" Irna kebingungan karena Rian biasanya akan langsung merawatnya jika terjadi sesuatu pada Fredian.
"Dasar! bikin skenario tapi gak bilang-bilang!" Gerutu Rian sambil keluar dari rumah Irna.
"Apa yang harus aku lakukan dengan pria ini, jika aku mengurungnya di sini bisa-bisa Fransisca melabrakku seperti mantan tunangannya kemarin! Kenapa sih kamu tidak bisa tidak mencari masalah denganku?!"
Irna mondar-mandir di tepi tempat tidurnya, dia kebingungan mau ngapain.
Irna kembali memeriksa Fredian, ujung bibirnya masih membekas lebam. Dia mengambil bongkahan es untuk mengompresnya.
Fredian menarik lengannya hingga Irna jatuh dalam pelukannya.
"Fred, sejak kapan kamu terjaga?" Tanyanya terkejut Fredian sudah membuka mata di bawah tubuhnya.
"Sejak awal kamu menangis melihatku pingsan." Bisiknya, kemudian merengkuh tubuhnya dalam pelukan.
"Astaga kamu mengerjaiku? dasar keterlaluan!" Irna memukul lengan Fredian dengan tangannya.
"Aku mencintaimu, kita menikah lagi saja ya?" Bisiknya lagi di telinga Irna.
"Aku akan menikah dengan Jody." Ujar Irna sambil tersenyum.
"Kamu memilih Jody? aku bisa memaklumi jika kamu menikah dengan Rian. Tapi Jody si gila itu?"
"Apakah aku bisa di bandingkan dengan pria mesum itu?" Gerutu Fredian sambil menindih tubuh Irna di bawah tubuhnya.
"Kamu marah? apa kamu bilang? kamu bisa memaklumi jika aku menikah dengan Rian? lalu siapa yang membuatku berpisah darinya lima tahun lalu?" Tanya Irna menatap wajah di depannya itu. Fredian menoleh ke arah lain, membuang wajahnya.
"Kenapa kamu tidak melihat wajahku? apakah kamu merasa bersalah sekarang?" Irna menarik wajah Fredian dengan kedua telapak tangannya menghadap kembali ke wajahnya.
"Lalu bagaimana dengan ini?" Irna mengancungkan kertas undangan di tangannya pada Fredian.
"Palsu!" Bisik Fredian kemudian mengulum bibir Irna dengan lembut.
"Aku mencintaimu." Satu kecupan di kening Irna.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Kecupan ke dua di ujung hidungnya.
"Aku mencintaimu." Kecupan ke tiga di bibirnya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu, tidak akan pernah." Fredian kembali memeluknya dengan hangat.
"Jangan pernah pergi dariku." Bisik Fredian mempererat pelukannya.
"Kamu tidak bisa menahanku, aku bukan tahanan." Ujar Irna sambil tersenyum.
"Oke, kamu bisa pergi kemanapun asalkan tetap mencintaiku!" Ujar Fredian mencoba mengalah.
"Aku memiliki hatimu, tapi kenapa kamu menunda menikah denganku lagi?" Tanya Fredian sambil merebahkan tubuhnya di sebelahnya.
"Entahlah, aku masih takut menikah lagi. Aku merasa kejadian perpisahan sangat menyakitkan dan aku belum ingin memulainya kembali. Luka itu begitu sakit dan aku belum bisa menghapusnya dari dalam ingatanku."
"Maka dari itu aku tidak akan menghalangimu jika kamu ingin mendapatkan kebahagiaan bersama gadis lain, dan melupakanku." Ujar Irna sambil memunggungi Fredian menyembunyikan air matanya.
Fredian merengkuhnya kembali dan mencium punggungnya.
"Aku akan menunggumu, entah sampai kapan kamu akan membiarkanku terus melajang. Aku akan tetap berada di sisimu." Bisik Fredian lagi.
Rian langsung pulang menuju ke rumah besarnya. Dia terkejut melihat Arvina ada di sana sedang bicara dengan Reyfarno kakaknya.
"Oh, kamu baru pulang, dia sudah menunggumu sejak tadi." Ujar Reyfarno lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa? apa ada masalah di kantor?" Tanya Rian seraya duduk di seberang meja.
Arvina hanya menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum. Lalu mengeluarkan kotak makanan dan memberikan pada Rian.
"Ini untukku?" Tanya Rian sambil tersenyum melihat ke arah Arvina, gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Rian mengambil kotak tersebut dari atas meja dan membukanya.
"Wah sepertinya enak!" Rian segera mencicipinya dan menikmati makanan dari Arvina.
Mereka ngobrol dan saling tertawa bersama.
"Semoga Rian bisa melupakan Irna." Bisik Reyfarno.
Gadis yang di dapatkannya melalui pertukaran vaksin yang di buatnya. Awalnya dia hanya bermain-main, tapi semakin hari semakin mengenal Irna. Wanita yang lembut dan mempesona serta luar biasa itu. Gadis yang mengacaukan dirinya dari hari ke hari.
Membuatnya jatuh cinta setelah menikmati hari-hari bersamanya. Dan tidak bisa melihat ke arah lain.
Cinta yang semakin dalam mengikis perasaannya. Cinta yang tidak bisa membuatnya berpaling ke arah lain lagi.
Irna Damayanti, pemilik satu-satunya hatinya. Bahkan ketika dia tidak bisa memilikinya, tapi kebersamaan dengannya sudah membuat hatinya bahagia. Di saat pria lain berada di sisi gadis itu, dia sudah kehilangan rasa sakit di hatinya.
Karena hanya rasa tulus yang ada. Rasa ketulusan sepenuh hatinya untuk mencintainya dan menjaganya apa adanya.
Tanpa memandang apapun di sekitarnya. Cinta yang selalu tetap tidak berkurang dan tidak bertambah apapun keadaannya.
Begitulah cintanya selama ini, cinta yang sudah mengukir dalam di dalam hatinya dan tidak bisa di hapus lagi dengan kehadiran gadis yang lain.
Cinta yang tidak bisa tergantikan dan tidak ingin digantikan.
Sepanjang malam Rian ngobrol dengan Arvina, sampai pukul sebelas malam gadis itu undur diri dari kediamannya.
Gadis manis itu melambaikan tangannya masuk ke dalam mobilnya, diiringi senyuman Rian yang melambaikan tangannya juga ke arahnya.
Rian masuk ke dalam rumah, dia melihat Reyfarno sudah berbaring di kamar ruang tengah.
"Kenapa kamu membawa wanita itu ke kantorku?" Tanya Rian sambil duduk di tepi tempat tidur kakaknya.
"Kenapa? dia gadis yang manis dan baik." Ujar Reyfarno berterus terang karena sudah ketahuan oleh adiknya.
"Aku tidak akan pernah menggantikan Irna dengan gadis lain." Ujar Rian sambil mengusap keningnya.
"Aku akui dia gadis yang sangat cantik luar biasa, dan aku juga sempat tergila-gila padanya, bahkan ingin merebutnya. Aku juga bingung kenapa aku begitu menyukainya saat itu."
Ujar Reyfarno masih tidak mengerti apa yang menyebabkan dirinya begitu menyukai Irna sampai hilang kewarasannya.
"Kamu sendiri seperti itu! kenapa malah mencarikanku wanita lain? bahkan Jesy yang sangat mirip dengannya malah terlihat menjijikkan ketika dia merayuku! tapi Irna terasa berbeda! aku tunduk padanya saat dia menatap mataku dengan binar bola mata beningnya. Hatiku ada dalam genggamannya. Bahkan jika dia melemparkan hatiku pergi. Jiwaku tetap mematung berdiri di sisinya sepanjang waktu sepanjang usiaku." Jelas Rian sambil menepuk bahu kakaknya.
"Lalu apakah maksudmu kita semua sudah jadi pria tidak waras?!" Tanya Reyfarno sambil menahan tawanya.
__ADS_1
"Entahlah aku sendiri tidak mengerti mengapa kita seperti ini? ha ha ha ha!" Ujar Rian sudah tidak tahan hingga melepaskan tawanya.
"Tapi kemarin aku melihat berita terbaru Presdir dari perusahaan parfum Jody Winarta mengambil langkah ekstrim di tengah Restoran mencium Irna dengan ganas!" Ujar Reyfarno sambil menggaruk keningnya.
"Sepertinya akan bertambah pria gila satu lagi?!" Gumamnya lagi.
"Dia akan mengambil konsultasi di kantorku besok!" Jelas Rian sambil tersenyum menatap wajah kakaknya.
"Wua ha ha ha ha! bagaimana mungkin? bukankah kamu sendiri tidak bisa mengobati dirimu! malah mengobati pria lain? ha ha ha ha! kamu lucu sekali!" Reyfarno tertawa terpingkal-pingkal mendengar penjelasan dari Rian.
"Irna Damayanti, ada apa sebenarnya dengan seorang Irna Damayanti??" Gumam Reyfarno lagi.
"Aku sepanjang waktu bersamanya, aku sangat bahagia. Aku sangat bahagia luar biasa, aku melihatnya menangis dan juga tertawa dia berada dalam pelukanku sepanjang waktu." Ujar Rian sambil tersenyum.
"Apakah itu cukup? kamu bahkan tidak bisa memilikinya?" Tanya Reyfarno tidak mengerti jalan pikiran adiknya itu.
"Itu sudah sangat lebih dari cukup! sangat lebih dari cukup!" Rian tersenyum lalu pergi melangkah keluar dari kamar kakaknya.
"Jika kamu mencintai sesuatu dengan luar biasa, kamu tidak akan lagi memakai logika."
"Hanya dengan melihatnya setiap hari kamu sudah merasa cukup dan bahagia, bahkan terkadang perut yang belum terisi nasi mendadak penuh jika yang kamu rindukan tiba-tiba datang menghampirimu. Jika kamu mendapatinya berada di pelukanmu setiap hari akan sangat luar biasa, menjaganya sepanjang waktu di sisimu, dan tetap tulus mencintainya."
Bisik hati Rian pada dirinya sendiri sambil bersiul-siul santai masuk ke dalam kamarnya.
"Mungkin ini adalah ungkapan cinta yang baru pertama kali kamu dengar, cinta yang tidak tahu kemana arah alurnya. Cinta yang belum bisa di ketahui ke manakah pada akhirnya? dan apa yang bakal terjadi setelahnya? tapi rasa cinta benar-benar luar biasa." Ujar Irna sambil menggigit apel berdiri bersandar di pintu lemari es.
"Cinta yang rumit!" Gerutu Fredian sambil memijit pelipisnya.
"Aku juga tidak mengerti bagaimana jalan pikiranmu!" Gerutu Reyfarno sambil menjitak kepala Rian.
"Aku tidak merasa terluka sama sekali dengan cinta yang ada di sini, jadi berhentilah mengkhawatirkan diriku." Menunjuk dadanya sendiri sambil tersenyum manis melirik ke arah Irna yang dibalas dengan senyuman renyah.
"Ibu kapan kita akan bersama-sama lagi?" Alfred berlari ke arah Rian menggandeng tangannya menarik ke arah Irna.
Dia ingat kalau selama ini Rianlah yang selalu menemaninya sepanjang waktu sejak dia dalam rahim ibunya.
"Tapi aku ayahmu! ini tidak adil!" Fredian menyela di antara mereka.
"Berhentilah berebut! aku saja diam-diam duduk manis di sini!" Gerutu Arya sambil membuka sepatu membersihkan pasir di dalamnya.
"Aku tidak bisa tidur selama berhari-hari gara-gara dia!" Geram Jody menunjuk ke arah Irna dengan kesal sambil menutupi wajahnya yang hampir mirip seperti zombie.
"Itu bukan salahku." Sahut Irna santai mengambil Alfred dari gendongan Rian sambil mencium keningnya.
"Aku sudah berhenti sejak dia menunjukkan sisi seramnya padaku, aku takut sekali." Celetuk Reyfarno sambil berdiri di sudut ruangan.
"Apakah kalian tidak merindukanku?" Dion merangkul pamannya melangkah masuk ke tengah ruangan.
"Dion akan membantuku di episode selanjutnya." Ujar Reynaldi merebut apel dari tangan Irna dan menggigitnya.
"Sepertinya rumahku bakalan penuh jika kalian semua berkumpul di sini." Ujar Irna kemudian menatap seseorang melangkah masuk ke dalam.
"Aku merindukanmu! apakah dokter tidak merindukanku?" Teriak Arvina sambil tersenyum menatap Rian di sebelah Irna.
"Kalian seru sekali!" Ujar Irna sambil tersenyum melihat wajah antusias Arvina.
"Dia hanya ngobrol denganku sepanjang waktu!" Gerutu Arvina.
"Bagaimana cara mendapatkan cintanya? ajari aku?" Menatap Irna dengan wajah penuh harap.
"Cukup jadilah dirimu sendiri, dia tipe pria yang menyukai seseorang apa adanya dan tidak berpura-pura." Bisik Irna di telinga Arvina.
"Oke! Good!" Bisik Arvina sambil mengancungkan ibu jarinya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Rian merasa curiga.
"Tidak ada, kami hanya membicarakan bagaimana caranya menjadi ibu yang baik." Sahut Irna asal.
"Kalian mengabaikanku!" Gumam Fredian sambil mendekat dan berdiri memeluk Arvina dan Irna.
"Jika seperti ini kita akan seperti keluarga yang sangat bahagia!" Ujar Reynaldi sambil tersenyum.
"Tidak! rumahku terlalu penuh kalian harus segera keluar sekarang juga!" Irna mengusir mereka semua keluar dari rumahnya satu persatu.
Bersambung....
__ADS_1