Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Di tengah guyuran hujan..


__ADS_3

"Ha ha ha, kamu bilang aku penggoda pria?? lucu sekali, oh aku punya hadiah kecil untukmu" Ujar Irna seraya tersenyum mengambil kalung kristal dari dalam tasnya.


"Bagus kan? wah berkilau, ini untuk hadiah pernikahanmu dariku" Irna tersenyum, tanpa menunggu persetujuan dari Clarisa, langsung memakaikan kalung tersebut di leher Clarisa.


Irna menahan kedua bahu Clarisa seolah memeluknya.


"Sebenarnya aku kasihan padamu, dan tidak ingin mengeluarkan ini. Tapi sikapmu padaku sangat keterlaluan!" Bisik Irna di telinga Clarisa.


Para wartawan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil foto perseteruan antara Irna dengan Clarisa.


"Berani-beraninya kamu dasar wanita murahan!" Teriak Clarisa, membuat hati Irna kembali marah.


Kemarahan Irna membuat batu kalung kristal tersebut berubah menjadi merah, seperti aliran listrik menyengat tubuh Clarisa. Tubuh Clarisa yang awalnya nampak muda dan cantik mendadak berubah menjadi sosok nenek-nenek.


"Ah tidak, wajahku! wajahku!" Clarisa histeris memegangi wajahnya, pergi keluar dari Reshort angel, berlari tertatih-tatih.


"Wah ternyata model terkenal itu menggunakan sihir untuk menipu publik, demi meraih popularitas!" Bisik para wartawan.


"Bagaimana kamu tahu sejarah kalung kristal itu?" Tanya Reynaldi tak percaya jika seorang Irna Damayanti adalah gadis menakutkan dan sadis.


"Batu kristal itu, jika dipakaikan kepada pemilik aslinya maka ilmu sihirnya akan lenyap terhisap batu tersebut, sedang pelepas kalung adalah sang pengendali segel."


"Bagi siapa saja yang bisa melepaskan kalung tersebut maka akan menjadi pemilik mutlak tanpa ada efek samping yang buruk"


"Akan tetapi sisi buruk kristal tersebut ketika pemilik awal memakaikan kepada orang lain, maka energi orang tersebut akan terserap dan pemilik kalung akan tetap tampil muda belia, sekalipun usianya sudah ratusan tahun"


Jelasnya pada Reynaldi membuat wartawan tercengang tak percaya.


Fredian masih nyaman menikmati anggur favoritnya tanpa peduli atau pun ikut campur.


Dia sejak awal tahu jika Irnalah yang akan menyelesaikan segalanya, sekaligus memecahkan misteri tersebut.


"Gadis itu begitu cerdas!" Ujar Fredian menegak anggurnya sampai habis.


Di depan Reshort Rian mengepalkan tangannya karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa Irna Damayanti menikah dengan Fredian.


"Braaakkk! Akh!" Rian bertabrakan dengan seorang nenek tua berambut panjang.


"Dasar pria bodoh!" Clarisa menghardik Rian.


Rian hendak menolongnya namun nenek tersebut malah memakinya.

__ADS_1


"Kenapa nenek tua itu mengenakan baju pengantin?!" Rian bingung kemudian melangkah masuk ke dalam.


Dia hendak memberikan selamat pada Irna, tapi malah dikejutkan oleh kerumunan para wartawan.


"Wah itu Rian Aditama sudah datang.." Para wartawan segera menyerbu ke arah Rian.


"Benarkah anda adalah salah satu orang yang digoda oleh Irna Damayanti?? bagaimana menurut pendapat anda mengenai dia?" Para wartawan memberondong Rian dengan seribu pertanyaan.


"Dia gadis yang manis, dia bukan tipe wanita yang akan mendatangi pria kaya demi meraih apa yang diinginkan, dia adalah sosok wanita yang tegar."


"Bahkan dia tidak pernah menggantungkan hidupnya pada siapapun, saya terlebih dahulu menyukai dia, dia berkali-kali sudah menolakku namun aku yang terus menerus mengejar, semuanya bukanlah salahnya.." Melihat ke arah Irna.


Ketika bertatap mata dengan Rian, Irna segera pergi keluar dari Reshort tersebut.


Melihat kepergian Irna, Rian segera berlari menyusulnya.


"Kalian tidak ingin mewawancarai ku?" Cegah Reynaldi tiba-tiba menghalangi kerumunan wartawan yang hendak mengejar Rian.


"Hari ini aku akan membiarkan kamu mengejarnya Rian, tapi tidak esok!" Reynaldi tersenyum penuh misteri.


"Irna tunggu!" Rian menghentikan langkahnya ketika hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Rini kamu pulanglah duluan, saya masih ada yang harus dibicarakan dengan Presdir NGM.."


"Naiklah.." Rian membukakan pintu mobil untuknya.


Irna tidak bertanya apapun pada Rian selama di perjalanan, Irna juga diam saja ketika Rian membawa Irna ke hunian megah milik pria itu.


Rian turun dari mobil, membukakan pintu untuknya. Kemudian gadis itu mengikuti langkah Rian menuju ruang tengah.


Rian mempersilahkan Irna untuk duduk.


Irna diam menunggu Rian untuk membuka kata. Tapi pria itu tidak berkata apa-apa dan tetap diam melihat wajah Irna di depannya.


Irna menghela nafas panjang, kemudian membuka kata.


"Hal apa yang membuatmu membawaku kembali ke rumah ini?" Tanya gadis itu.


"Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kamu dengan Fredian.."


"Dari mana kamu bisa menyimpulkan bahwa aku telah kembali pada Fredian?" Tanya Irna santai sambil mengulum senyum.

__ADS_1


"Sebenarnya semalam aku kalah bertaruh lagi, aku melihat dirimu lemah tidak bisa bernafas. Sesuatu telah mencekikmu, aku sebagai suamimu tidak bisa berbuat apa-apa."


"Akhirnya aku putuskan untuk menghubungi Fredian, aku bilang jika dia bersedia datang malam itu, demi menyelamatkanmu. Aku akan melepaskan dirimu."


"Jadi ini yang dia maksud rahasia sesama pria?? ha ha ha! lucu sekali! dia jadikan pernikahanku seperti bola, sekehendak hatinya menendang kesana-kemari!" Irna tertawa, namun wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan sama sekali.


"Kamu sudah menyelesaikan semua yang ingin kamu katakan padaku bukan?! aku permisi dulu" Beranjak berdiri melangkah gontai menuju jalan raya.


"Hah apa yang aku harapkan? aku sudah melepas cinta pertamaku, dan pada akhirnya suamiku menceraikanku juga sekalipun tidak ada Fredian..." Air mata gadis itu perlahan menetes, membasahi kedua pipinya.


Irna terus berjalan menyusuri jalan raya, tanpa berkeinginan untuk menghentikan taxi. Air matanya terus mengalir membasahi jalan raya di setiap langkah kakinya.


Entah kenapa hatinya terasa sakit sekali, tak satupun jadi pilihannya dan tidak satupun bertahan bersamanya.


Irna tahu keduanya mencintainya dengan tulus, namun hatinya tidak ingin terlibat dengan kerumitan yang tiada akhirnya di antara Fredian dan juga Rian Aditama.


"Aku bahkan tidak berhak memilih ketika di depan mataku ada begitu banyak pilihan.." Ujar Irna kembali mengusap air matanya.


"Inikah takdir yang harus aku jalani.." Irna mendongak merasakan tetesan hujan membasahi rambutnya.


"Mendung pun ikut menangis bersamaku hari ini, hari yang sangat panjang... hari yang melelahkan.." Mendongak menatap mendung di atas kepalanya, menikmati guyuran hujan.


Hingga nampak halte di depannya, Irna berhenti, duduk berteduh di sana. Dengan tubuh basah kuyup, Irna sedikit mengginggil merasakan dingin.


Dia melihat mendung semakin gelap, juga guyuran hujan semakin deras.


Irna mengangkat kedua kakinya meletakkan di atas kursi, sembari memeluk lututnya. Tubuhnya terus mengginggil.


Hingga seseorang datang menutupi punggung gadis itu dengan mantelnya.


Irna melihat ke arahnya.


Dia hanya tersenyum lembut menatap gadis itu, tanpa ingin berkata apapun. Kemudian memandang ke arah jalan menatap hujan.


Duduk di depannya melihat hujan yang semakin deras. Irna masih bingung kenapa di malam yang semakin larut dan di tengah hujan yang semakin deras malah ada seseorang yang kurang kerjaan duduk menemaninya.


Lalu menoleh ke arah jalan Irna melihat kab mesin mobil yang berhenti itu berasap.


"Mogok???!" Bisiknya pada dirinya sendiri.


"Ya lah mana mungkin ada orang repot-repot berhenti, demi seorang gadis yang berteduh basah kuyup di sudut, kemudian memberikan mantelnya"

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2