
Irna tersadar dari pingsannya, saat dia membuka matanya terlihat bayangan samar-samar seseorang sedang membereskan pakaian di sebelahnya.
Gadis itu segera bangkit dari tempat tidurnya. Tatapan matanya penuh amarah saat melihat wajah Fredian di sebelahnya.
"Irna kamu sudah bangun?" Pria itu segera menghambur memeluknya. Akan tetapi Irna menjauhkan dirinya dari Fredian.
"Ya, marahlah padaku. Tapi makanlah ini, sudah hampir tiga hari kamu pingsan." Irna tetap tidak bergeming, gadis itu beranjak turun dari atas tempat tidurnya.
Saat mencoba untuk berdiri, tubuhnya masih goyah dan hilang keseimbangan. "Akh! bruuuk!" Fredian dengan cepat menangkap tubuhnya.
"Hati-hati, tubuhmu belum normal. Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat? aku akan memapahmu."
"Plaak! jangan berani-berani menyentuhku!" Irna dengan tatapan penuh kebencian menyingkirkan tangan Fredian dari pinggangnya.
"Memangnya kenapa aku tidak berani?!" Menggulung lengan shirt lengan panjangnya ke atas. "Aku sudah menyentuh seluruh tubuhmu sebelum kamu bangun!" Berkacak pinggang terus melangkah maju mendekat ke arah Irna.
"Sial! jika saja kondisiku sudah pulih kembali, aku bisa kabur dari pria ini." Gumam Irna seraya melangkah mundur.
Irna mengambil bantal di atas tempat tidur untuk melindungi tubuhnya. "Jangan mendekat! pergi kamu!" Irna menghalaunya dengan bantal yang masih berada di pelukannya.
Fredian segera merebut bantal tersebut dari genggaman tangannya, kemudian menarik tangannya. "Akh!" Tubuh Irna jatuh terhempas ke pelukan Fredian.
"Jangan sentuh aku!" Berteriak seraya memukuli dadanya. Fredian tidak bisa menahannya, segera meraih kepalanya kemudian mencium bibirnya.
"Plaaakkk!" Gadis itu menampar pipinya. "Pria menjijikkan, kurang ajar! untuk apa kamu berada di sini! pergi saja sana!" Irna memicingkan matanya menatap wajah Fredian penuh kebencian. Air mata gadis itu kembali meleleh membasahi kedua pipinya.
Fredian tertegun mendengar dirinya dikatai seperti itu, pria itu sama sekali tidak mengerti.
"Apa yang sudah aku lakukan? kenapa kamu marah-marah padaku seperti ini?" Fredian bertanya-tanya dia sangat bingung dengan tatapan mata penuh kebencian di depannya.
"Kamu lupa?! kamu tidak ingat saat aku menunggumu sepanjang waktu? kamu bahkan tidak mau menerima telepon dariku! dan tengah malam aku mencari dirimu! kamu malah tidur bersama dengan wanita lain!"
"Kenapa?! kamu sudah ingat?! apa kamu masih bingung memutuskan jiwamu akan pergi ke ara mana? aku tidak ingin bersama dengan pria plin-plan sepertimu!" Irna berbalik memunggunginya.
Gadis itu duduk berjongkok di lantai sambil menangis membenamkan wajahnya di atas kedua lututnya.
"Irna.. aku tidak pernah bersama dengan wanita lain. Sore itu Javi meneleponku, dia bilang padaku kamu sedang bersamanya. Tanpa pikir panjang aku menuju ke hutan untuk menemuinya. Tapi pria itu sangat licik, dia menusuk punggungku dengan duri beracun. Kemudian aku pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi."
Jelasnya seraya menghapus air mata istrinya.
"Tapi aku melihatmu.. kamu sangat membenciku, dan kamu tidak peduli denganku lagi. Kamu lebih menyukai wanita itu. Dia bahkan mencium bibirmu di depan mataku."
Jelas Irna lagi, dia tetap bersikeras dengan apa yang telah dilihatnya.
"Bahkan saat aku kehilangan ingatanku.. tidak pernah terlintas dalam benakku untuk jatuh cinta pada gadis lain." Menyentuh kedua pipinya, Fredian mencoba meyakinkan Irna.
"Kamu cemburu pada orang yang salah! bagiku kamu adalah satu-satunya." Fredian mengangkat tubuhnya, merebahkan kembali di atas tempat tidurnya.
"Apakah aku mengganggu kalian?" Rian tersenyum, masuk ke dalam rumah bersama Kania.
"Mama.. akhirnya aku menemukanmu!" Gadis itu menghambur memeluk ibunya.
"Mama pasti sakit sekali, dipukuli seperti itu.." Gadis itu menangis di pelukannya. Kania ingat malam itu, tubuh mungilnya terhempas dari atas tempat tidurnya.
Kemudian goresan-goresan muncul timbul di seluruh tubuhnya. Gadis itu merasakan kesakitan yang luar biasa. Dan juga dadanya terasa sesak tidak bisa bernafas. Gadis itu tahu seseorang sedang berusaha menghabisi nyawa ibunya.
Di tengah malam dalam kamarnya, gadis itu menangis sesenggukan tanpa tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Hatinya terasa hancur saat merasakan hilangnya getaran kehadiran Irna disekitarnya. Jika biasanya dia tahu di mana ibunya berada, tapi saat itu tidak terdeteksi sama sekali olehnya. Jejak-jejak Irna terasa hilang di telan bumi baginya.
"Kania, maafkan mama. Mama membuatmu ikut terluka. Jika saja mama tidak lemah, mama sudah pasti menghabisi pria itu!" Geram Irna saat kembali mengingat wajah Javi Martinez.
Irna melirik ke arah Rian, dia terkejut melihat wajahnya tersenyum. "Rian maafkan aku, aku pergi begitu saja kemarin pagi. Dan juga tentang Javi aku minta maaf.."
"Tidak, itu karena ambisinya terlalu tinggi. Dia selalu bersikap arogan." Pria itu berdiri di sebelah Fredian. Memegang bahu sahabatnya itu.
"Jangan menyalahkan pria ini lagi. Aku akan menunjukkan rekaman cctv pada kalian berdua. Kalian akan terkejut saat mengetahui kebenarannya." Jelasnya pada Irna.
__ADS_1
Nira melangkah masuk bersama Alfred ke dalam rumah tersebut. Gadis itu tersenyum melihat Irna, wajah Irna masih terlihat sangat pucat.
Kania memberikan tempat agar Nira duduk di sebelahnya. Gadis itu memeluknya sambil menangis terharu. Melihat neneknya sepucat itu.
"Ma?" Alfred memeluk ibunya. Pria berstatus komisaris itu juga melelehkan air matanya. Tidak sampai hati dia melihat keadaan Irna begitu lemah dan tidak berdaya.
"Sebenarnya apa yang terjadi ma? apa papa kembali membuat ulah?" Melirik Fredian dengan tatapan marah.
"Aku tidak melakukan apapun." Sahut Fredian segera saat putranya melotot ke arahnya.
"Aku pagi tadi bertemu dengan gadis, bernama Julia. Sepertinya dia sangat menyukai pria bernama Ronal!" Alfred melotot ke arah Fredian, Fredian mengancungkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah Irna.
Alfred beralih melihat ke arah Irna sambil mengangkat kedua alisnya.
"Dasar kebiasaan! masih saja main kucing-kucingan! kenapa kalian tidak ingat usia kalian heh!?" Sahut Rian. "Baaak!" Menepuk punggung Fredian, lalu menarik lengannya keluar dari dalam ruangan.
Fredian menurut saja, saat pria itu mengajak ngobrol di luar ruangan.
"Maafkan keluargaku, sudah membuat kalian mengalami kesulitan seperti ini." Gumamnya seraya berdiri di beranda rumah. Rian menatap ombak yang berlari berkejaran di tengah lautan.
Dia merasa bersalah atas semua kejadian itu, karena sejak awal keluarganya terus menerus membuat ulah atas hal buruk yang menimpa keluarga Fredian.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Itu tidak ada hubungannya denganmu. Kamu adalah bagian dari keluargaku, sudah bertahun-tahun lamanya." Sahut Fredian seraya menepuk bahunya.
"Apakah kamu bisa membuatnya pulih lebih cepat? Aku khawatir Javi Martinez akan menemukannya dan benar-benar menghabisi nyawanya." Fredian mengungkapkan perasaan gelisah di dalam benaknya.
Rian menggelengkan kepalanya perlahan. "Kekuatan yang ada dalam dirinya, menghilang sementara ini saat dia melihat pria yang mengambil wajahmu melukai hatinya. Dia melepaskan kekuatannya bersama luka hatinya."
"Saat itu dia berada di ujung kematian, ditambah serangan saat dia sedang lemah. Organ dalam tubuhnya hampir hancur."
"Jika dia tidak memiliki darah pemikat, mungkin Javi tidak akan tertarik untuk mendekatinya. Di lain hal, darah itu juga yang mempercepat proses penyembuhan lukanya." Jelas Rian pada Fredian.
"Jiwanya dan jiwa putriku Kania, mereka berdua terhubung secara langsung. Saat Irna terluka, Kania juga merasakan hal yang sama."
"Untuk mempertahankan keduanya, salah satu dari mereka harus tetap terjaga. Jangan sampai musuh mengetahui kelemahannya itu! kemudian mengambil kesempatan untuk menghabisi nyawa mereka berdua secara bersamaan!" Rian menatap wajah Irna dengan tatapan bersungguh-sungguh.
"Kami akan kembali ke kota, apakah kamu membutuhkan pengawal? aku akan mengirimkan kemari untuk menjaga kalian." Tawarnya pada Fredian.
"Menurutmu, pengawal bisa mengatasi kekuatan mereka?" Fredian tersenyum, dia sudah bisa mengukur kekuatan musuh yang akan mereka hadapi.
"Apakah tidak ada perubahan pada dirimu? aku ingat waktu hibernasimu sudah berakhir!" Kelakar Fredian lagi, merasakan pria di sebelahnya sama sejenis dengan dirinya. Hanya ras mereka yang membedakan keduanya.
"Sangat menggelikan jika aku tiba-tiba berubah menjadi serigala buas di depan matamu." Sahutnya ringan.
"Aku masih meminum ramuan penahan, aku tidak suka menjadi manusia jadi-jadian." Keluhnya mengingat kebenaran tentang identitas dirinya sendiri.
"Apa sudah lama Irna mengetahuinya?" Tanyanya pada Fredian.
"Dia menutupi keberadaan dirimu, dari Peter juga Javi Martinez. Irna tidak ingin kamu kembali ke sana. Dia tidak ingin melihat ayah dari putrinya pergi." Pria itu tersenyum tanpa rasa cemburu sama sekali.
"Aku minta maaf padamu, telah menyulitkanmu belakangan ini. Aku tahu situasi di rumah sakit saat Irna menolak untuk aku jemput. Mereka bilang aku dan Irna terlibat dalam skandal." Fredian tersenyum tipis menarik salah ujung sudut bibirnya.
Pria itu menoleh ke arahnya, mencoba melihat bagaimana perasaan pria di sebelahnya itu.
"Ya, karena status pernikahan kami masih utuh di depan publik. Apakah aku harus memutuskan hubungan ini di depan publik? jika begitu, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk sekedar menengoknya." Menatap ke arah Fredian, dia sengaja menyatakan kegelisahan hatinya.
Cinta itu tetap ada di sana, tetap mengalir dengan ketulusan tanpa sebuah imbalan.
"Kamu masih mencintainya, dan mungkin cintamu semakin besar dari sebelumnya. Dan saat kamu mengembalikan dirinya padaku. Dia sangat marah, dia memiliki cinta yang utuh untukku. Tapi di sisi lain dia juga tidak bisa jauh darimu mengingat kamu masih suaminya." Gumam Fredian mengeluarkan segalanya yang selama ini tersimpan baik dalam hatinya.
"Lalu aku harus bagaimana? apakah kamu punya saran yang bisa membuatku nyaman, juga membuatmu sendiri nyaman." Ucapnya pada Fredian.
"Aku nyaman, dan kadang aku terluka karena perhatiannya terpecah, tapi asal situasi rumit ini dariku. Aku yang merebutnya darimu." Gumamnya lirih, Fredian tidak menyalahkan Rian. Dia tahu bahwa dirinya juga yang selalu meminta Rian untuk menjaga Irna.
Dua sosok teman, yang terlibat dengan cinta yang sama. Bertahun-tahun bertahan dengan perasaan masing-masing.
Dalam serpihan luka serta kegelisahan hati, dengan perjuangan juga pengorbanan. Mereka tetap melangkah bersama tanpa ingin mendorong satu sama lain.
__ADS_1
Berjalan bersama menghadapi lika-liku terjal jalan kehidupan.
Sore itu Rian, Alfred dan Kania kembali ke kota, Nira memilih untuk tetap tinggal.
"Nenek maaf aku gagal menahan pria gila itu." Ujarnya setelah mereka tinggal berdua.
"Apa maksudmu? jangan bilang kamu menghadapi Javi Martinez sendirian? dan lukamu ini?! apakah dia yang melakukannya?" Tanya Irna bertubi-tubi pada cucu kesayangannya.
"Bukan! ini adalah ulah bunga Xeoryd. Bunga itu yang menyerupai bentuk tubuh kakek. Bunga itu tumbuh di kerajaan Interure. Dan Javi Martinez dalang di balik seluruh kejadian ini!"
Irna belum bisa mencerna ucapan Nira. "Maksudmu mereka menggunakan sihir? tapi saat aku menemukan Fredian, aku tidak mencium aroma penyusup atau penyamaran." Jelas Irna pada Nira.
"Itu karena darahnya, darahnya terinfeksi racun dari bunga. Bunga itu mengambil kehidupan inangnya selama 24 jam." Nira menjelaskan kebenaran tentang segalanya.
"Itu bukan kakek, aku melihat kebenaran. Nenek harus percaya padaku." Nira menggenggam erat tangan Irna. Irna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Ma? siapa sebenarnya kakek itu? bagaimana dia bisa tahu seluk beluk kerajaan Interure? Javi juga memiliki kemiripan dengannya hampir sembilan puluh persen!" Nira tidak bisa menahan rasa penasaran di dalam hatinya lagi.
"Satu keluarga yang di tinggalkan. Kakekmu memilih hidup sederhana seperti sekarang. Dia adalah pangeran William. Dia seharusnya sekarang duduk di singgasana kerajaan Interure." Jelasnya pada Nira.
"Bagaimana dengan cincin dan syal itu?" Tanyanya lagi pada Irna.
Sejenak Irna terdiam, dia masih memikirkan bagaimana Nira mengetahui dua barang tersebut.
"Aku memberikan dua barang itu pada kakek. Apakah itu semacam pusaka?" Tambahnya lagi.
"Aku juga masih belum bisa memecahkan dua pusaka itu. Hanya pemiliknya yang tahu tentang kedua benda itu."
Senja telah berlalu, berubah malam kelam. Debur ombak pantai telah surut, tidak sebesar senja tadi.
Fredian berdiri di tepi pantai menatap ke tengah laut. Nira berdiri di sebelahnya ikut menatap ke tengah laut.
"Apa kamu tidak akan kembali?" Tanyanya pada Nira.
"Aku masih ingin bersama kalian." Nira sedikit terkejut kemudian dengan cepat menoleh ke arah kakeknya. Gadis itu membelalakkan matanya ke arahnya.
"Jangan bilang kakek sudah tidak tahan melihat keberadaaku sebagai pihak ketiga di sini?" Menunjuk ke arah Fredian.
"Hahahaha! apa maksudmu? Resort hotel bagaimana? bukankah kamu cuti sejak kemarin?" Tanyanya sambil menatap wajah Nira.
"Maya bisa menyelesaikan pekerjaannya." Ujarnya enteng tanpa beban.
"Kamu menyerahkan semuanya pada Maya?" Tanya Fredian sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Memangnya kenapa? bukankah dia sekretaris yang handal?" Nira tersenyum menatap ke arah kakeknya.
"Lalu bagaimana dengan klien, dan tanda tangan persetujuan?" Masih tidak puas dengan jawaban Nira.
"Kek, sebetulnya aku tidak tertarik dengan Resort milikmu. Aku lebih senang berkelana." Tersenyum cerah menatap bintang bertaburan di langit.
"Bilang saja kamu kesepian? kamu butuh pacar! carilah pria yang cocok lalu segera menikah."
"Tidak ada pria yang membuatku tertarik, apa mungkin karena aku terlalu lama berada di sekitar kalian. Berada di sekitar orang genius membuatku tidak menemukan pria yang sesempurna kalian." Ujarnya sambil mengayunkan tangannya.
"Jangan bilang kamu tertarik pada Javi Martinez." Fredian melihat ke arah Nira.
"Dia yang menyebabkan masalah! untuk apa tertarik pada pria pembuat onar?" Keluhnya malas-malasan.
"Tapi sepertinya dia begitu menarik, dia mewarisi ketampanan Rian. Dia pria cerdik tapi sangat arogan. Dan juga ambisius untuk mendapatkan apa saja yang dia inginkan!" Fredian bisa menilai saat melihat Javi Martinez pertama kalinya.
"Nenek musuh bebuyutannya! bagaimana mungkin cucu perempuan kesayangannya sengaja membawa pembunuh masuk ke dalam keluarga?" Nira menoleh ke arah Fredian sambil tersenyum tulus.
Mata gadis itu berbinar seperti rembulan yang tengah bersinar di atas langit. Wajah dan senyuman cerahnya masih terukir di bibir tipisnya.
"Jika aku mencari pria, itu akan jadi bahan tertawaan teman-temanku. Jika pria yang menghampiriku terlebih dahulu, dua hari kemudian mereka akan pergi karena takut aku memukulinya." Ujarnya dengan gelak tawa.
"Sudah malam, aku akan kembali ke resort demi kakek." Gadis itu melambaikan tangannya masuk ke dalam mobilnya. Lalu berangsur menghilang di tengah kegelapan malam.
__ADS_1
Bersambung..