
Fredian meletakkan tubuh Irna di atas tempat tidur. Kembali mengulum bibirnya.
"Lepaskan aku Fred." Ujarnya pada Fredian yang hendak melepaskan bajunya.
"Kamu tidak menginginkannya?" Tanya Fredian.
Irna diam tidak menjawab, dia beranjak dari tempat tidur menuju ke dapur.
"Kenapa kamu menjauh dariku?" Ujar Fredian berdiri sangat dekat dengan dirinya. Menyentuh rambut Irna dan menciumnya.
Irna berbalik mengambil handuk kemudian melangkah masuk ke kamar mandi, saat dia hendak menutup pintu.
Fredian dengan sengaja memasukkan satu kakinya membuat Irna tidak bisa menutup pintunya.
"Kau!" Irna menggertakan giginya menahan marah.
Fredian bersiul-siul tidak peduli. Mengangkat kedua alisnya mengedipkan matanya beberapa kali.
"Braaakkkkkkk!" Irna membanting pintu dengan keras membuat Fredian terpaksa menarik kakinya keluar.
"Aaaaah, kakiku! akkkh! kakiku! aduuuh aku rasa tulangnya patah!" Teriaknya dari luar pintu.
"Siapa yang akan percaya dengan teriakannya itu!" Gumam Irna membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
Saat keluar dari dalam kamar mandi, Irna melihat Alfred sedang tertawa berada di atas punggung Fredian.
"Apakah dia tahu anak siapa yang ada di atas punggungnya itu?" Irna menggelengkan kepalanya sambil menyalakan kompor memasak makanan untuk mereka.
Setelah selesai, Irna berjalan keluar meraih Alfred dari gendongan Fredian. Anak itu menolak Irna, berkali-kali menggelengkan kepalanya.
Irna menghela nafas panjang, memijit keningnya.
"Alfreeeeeed!" Irna berteriak hingga membuat anak kecil itu menangis melepaskan pelukannya dari Fredian.
Irna membawanya masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Fredian.
"Apa kamu tidak terlalu keras padanya?!" Sergah Fredian tidak sabar.
"Aku hanya harus bertindak seperti yang seharusnya, apa kamu berniat menjadi sosok ayah untuk anakku? jangan memberikan harapan yang tidak pasti!" Sergah Irna.
"Bukankah dia memang anakku? Braaakkkkkkk!" Sergah Fredian sambil menancapkan garpu di atas meja, membuat Irna terkejut melompat ke belakang memegang dadanya.
"Bukan! dia adalah anak Rian!" Irna sengaja berbohong, sambil menyuap makanan ke bibir Alfred.
"Ha ha ha! coba kamu lihat, dia itu sangat mirip denganku! hanya orang buta yang akan berfikir dia adalah anak Rian!" Ujar Fredian sambil tertawa.
"Kepalaku pusing sekali sejak pria ini masuk ke rumah, biasanya kami melalui waktu berdua dengan damai tapi sekarang terus beradu mulut dengannya!" Gerutu Irna sambil menatap geram wajah Fredian.
Selesai sarapan pagi itu, Irna menaruh banyak mainan di depan televisi. Alfred gembira bermain-main di depan televisi sambil tertawa riang.
Irna mengawasinya dari dalam ruang kerjanya yang berada di sisi ruang televisi.
"Sampai kapan kamu akan mengacuhkanku!" Fredian berjongkok meletakkan tangannya di tepi meja kerja Irna.
Irna diam tidak menjawab, tetap melanjutkan pekerjaannya.
Fredian merebut berkas dari tangannya, membuat gadis itu menatap marah ke arahnya.
"Berikan itu berkas penting!" Teriak Irna kesal sekali.
Fredian dengan cuek berjalan keluar ruangan pura-pura membaca berkasnya. Irna mengikutinya ingin merenggut berkas dari tangannya.
Lagi-lagi Fredian menjauhkan tangannya, ketika Irna akan merebut darinya.
Fredian masuk ke dalam kamar dengan bibir tersenyum, melihat Irna sangat kesal dan berusaha untuk terus merebut berkasnya.
Fredian mengangkat berkasnya tinggi-tinggi membuat gadis itu berusaha menjangkaunya dengan susah payah.
Pria itu sengaja menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Irna menyilangkan kedua tangannya di depan dada berdiri tegak di sisi tempat tidur.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum mengejek ke arah Fredian.
"Apa kamu pikir cara lamamu ini masih berfungsi?? huh, bahkan kamu sudah lupa berapa usiamu sekarang! masih saja bersikap kekanak-kanakan!" Ujar Irna mengabaikan Fredian berbaring di atas tempat tidurnya.
"Ambilah, aku hanya perlu mencetaknya ulang!" Irna pergi keluar dari kamar kembali ke dalam ruang kerjanya.
"Halo Rin, iya aku sudah menyelesaikan skemanya. Aku akan mengirimkan melalui email nanti malam." Irna bercakap-cakap dengan Rini melalui ponselnya.
Fredian mendengar semuanya.
"Apakah Rian berbohong padaku? dia bilang sudah mendatangi kantor Irna berkali-kali tapi tidak tahu dimana Irna berada! Dia sengaja melakukannya, dia mengorbankan cintanya untukku dengan terang-terangan."
"Aku tidak boleh asal menebak, aku harus tahu yang sebenarnya di antara mereka!" Ujar Fredian.
"Apakah Rian tidak pernah datang kemari?" Tanya Fredian saat Irna mengepel lantai sore itu.
"Hem, pernah. Dia kemari setiap dua bulan sekali, kadang tiga bulan sekali." Ujar Irna sambil tersenyum melihat wajah datar Fredian.
"Kenapa? dia berbohong padamu?" Tanya Irna melihat wajah gelisah Fredian.
"Apakah ini alasan kamu terus menerus menolakku?!" Sergah Fredian kesal merasa dipermainkan.
"Bukan, bukan dia alasanku. Tapi memang seharusnya aku bersikap seperti ini! aku bukan Irna tiga tahun lalu. Irna yang selalu bergelayut manja karena memiliki suami yang terlalu sempurna."
"Sejak aku meninggalkan rumah itu, aku sudah kehilangan segalanya. Dan itu juga karena kesalahanku sendiri!"
"Rian datang untuk menjenguk Alfred, dia selalu ada tanpa perlu memanggilnya, bahkan dia yang membawaku ke klinik saat proses persalinan Alfred. Disaat tidak ada siapapun di sampingku. Disaat aku membuang diriku ke tempat yang jauh." Irna melihat Fredian sekilas, mata pria itu berkaca-kaca.
"Kamu tidur dengannya dan setelah itu membina hubungan baik dengannya, lalu kenapa kalian tidak menikah saja!" Fredian kembali berteriak.
"Setelah Alfred berusia lima tahun aku akan menikah dengannya!" Ujar Irna memalingkan wajahnya, gadis itu berusaha menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba menetes.
"Maafkan aku, aku sudah berjanji pada kedua orang tuamu untuk menyerahkan Alfred, dan meninggalkanmu karena aku bukan wanita yang pantas untuk memiliki suami sempurna seperti dirimu." Bisik Irna dalam hatinya lirih.
Irna kembali melanjutkan pekerjaannya, tanpa peduli pada pria yang sejak tadi sibuk memukuli dinding karena kesal.
Sudah tiga jam Fredian memukul dinding, membuat suara berisik.
Dengan langkah menghentak lantai, Irna berkacak pinggang berjalan ke arah Fredian.
Irna melihat darah keluar dari tangan pria itu.
"Apa yang kamu lakukan?!" Irna merenggut tangan Fredian dan menghentikan tingkah konyolnya itu.
"Kenapa kamu menghentikanku! aku ingin membuat jariku hancur untuk mengurangi rasa luka dalam hatiku!"
Irna mengambil kotak obat di atas lemari, membersihkan darah dari tangan Fredian dengan antiseptik.
"Akh! sakit! pelanlah sedikit! aduh! akh! kamu ini tidak punya perasaan lembut sama sekali!" Fredian terus berteriak karena Irna dengan sengaja menekan lukanya.
"Sekarang kamu merasakan sakit heh! lalu tadi ketika memukul-mukul apa tidak terasa sakit?!" Ujar gadis itu kesal sekali.
"Kenapa kamu menghentikanku, apa kamu hawatir aku terluka lebih parah?" Tanyanya pada Irna yang sedang sibuk mengoleskan salep.
"Aku hanya tidak ingin rumahku roboh gara-gara kelakuan konyolmu!" Ujar Irna dengan wajah datar.
Fredian menggigit bibir bawahnya kesal sekali mendengar jawaban dari Irna.
"Kenapa wajahmu begitu? kamu tidak terima jika aku lebih mementingkan rumahku dari pada tanganmu?!" Tanya Irna sambil melihat wajah Fredian yang kesal.
"Tidak, aku hanya tidak mengerti kenapa kamu sama sekali tidak peduli padaku!"
"Pulanglah besok, jalani hidupmu seperti biasa. Aku tidak akan tertarik untuk kembali padamu lagi. Jangan melakukan hal konyol untuk mempersulit segalanya." Ujar Irna sambil menaruh kotak obat kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.
Pagi-pagi Fredian keluar dari rumah Irna, untuk berolahraga.
"Cuaca di sini segar sekali. Lebih baik aku menikmati pemandangan di sekitar sini, jika di rumah, dia pasti akan terus berusaha menendangku untuk keluar dari rumahnya." Ujar Fredian sambil terus berlari.
Rumah Irna terletak di dataran tinggi, di atas bukit pedesaan. Irna sengaja memilih rumah yang jauh dari kota untuk menghindari kebisingan.
__ADS_1
Irna bangun tidur, menggeliat meregangkan otot-otot yang tegang di luar pintu dapur. Dia melihat Fredian sedang berlari kecil menuju ke arahnya.
Pria itu mengangkat dagu sambil menatapnya.
Mengisyaratkan bertanya padanya.
"Kamu sedang apa berdiri menghalangi pintu? aku mau masuk."
Irna segera menyingkir, dan Fredian masuk ke dalam melepas kaosnya. Pria itu mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya dengan handuk kecil.
Masih terus menatap wajah Irna tanpa berkedip.
Irna melihat sekilas otot-otot, dan tubuh pria di depannya itu. Rambutnya yang jatuh di keningnya, aroma keringat yang menyeruak bercampur parfum yang sama memaksa menyerobot masuk ke dalam hidung kecilnya.
Gadis itu buru-buru menggelengkan kepalanya, menyambar air minum di atas meja untuk menutupi rasa gugupnya.
Fredian tersenyum kecil melihat tingkah Irna yang serba salah. Irna menyambar handuk dari gantungan lalu masuk ke dalam kamar mandi, lalu keluar lagi masuk ke dalam kamar karena lupa membawa baju ganti.
Biasanya dia hanya memakai handuk lalu pergi ke kamar untuk berpakaian tapi saat ini ada pria di dalam rumahnya.
Irna terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu.
"Astaga!" Irna terkejut setengah mati ketika berbalik dia melihat Fredian sedang menggosok badannya dengan sabun.
Dengan sangat malu Irna membenturkan keningnya di daun pintu.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini!" Gumam Irna.
Fredian tersenyum melihat Irna, dia tidak peduli sama sekali dan terus melanjutkan mandinya sambil bersiul-siul.
"Apakah kamu begitu ingin melihat tubuhku tanpa pakaian? sampai terburu-buru masuk ke sini?" Tanyanya sambil menyentuh daun pintu di depan Irna.
"Aku, aku, aku akan keluar sekarang." Irna buru-buru memutar kunci.
Fredian merebut kunci darinya dan meletakkan di tempat yang tak terjangkau olehnya.
"Kamu! huh!" Irna mendengus kembali membenturkan keningnya di daun pintu.
"Kenapa kamu mandi lama sekali? aku sedang terburu-buru jadi cepat selesaikan dan keluar." Gerutu Irna masih terus menghadap ke daun pintu.
"Sepertinya aku butuh seseorang untuk menggosok punggungku, jika tidak ini tidak akan bisa selesai."
"Jika aku tidak menurutinya, pria ini akan terus menahanku di sini." Gumam Irna kesal, lalu berbalik menghadap Fredian.
Mengambil kain dan mulai menggosok punggungnya.
"Ini sudah semuanya, cepat selesaikan dan keluar." Ujar Irna.
Fredian berbalik menghadap Irna.
"Gosok juga dadaku!" Menarik tangan Irna mendekat mengarahkan ke atas dadanya.
Irna menatap wajah Fredian yang basah dengan air shower yang memancar dari atas kepalanya. Wajah Irna sendiri juga basah karenanya.
Tangan Irna berdiam di atas dada Fredian.
"Fred? sampai kapan kamu akan menahanku di dalam sini?!" Teriak Irna kesal sambil memukul dada Fredian.
Fredian menangkap kedua tangannya. Dan merenggut kepalanya mencium bibirnya dengan kasar. Dia tidak menunggu lagi, dan terus mengulum bibir Irna.
Irna meronta dan memukul bahunya, saat ciumannya jatuh ke lehernya.
"Kamu jahat! kamu pria jahat!" Irna meremas punggung Fredian.
"Kamu pria egois! kamu pria yang sangat jahat!" Irna terus memukul lengannya.
"Iya aku sangat egois dan jahat.. dan aku akan terus egois dan jahat." Berbisik pelan di telinga Irna menempelkan ujung hidungnya di pipi Irna.
Fredian perlahan melepaskan tubuh Irna kemudian membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar.
__ADS_1
Meninggalkan Irna dengan baju berserakan di atas lantai.
Bersambung...