
Irna melangkah keluar, dia menatap pria di sebelahnya, Rian Aditama.
"Ini seperti akhir kehidupan yang menyakitkan.." Irna kembali berkata.
Dia ikut bersandar pada dinding luar kamarnya.
"Bolehkah aku memelukmu sebentar saja?" Tenggorokan pria itu serasa tercekat saat mengucapkannya.
Irna menganggukkan kepalanya air matanya kembali mengalir membasahi kedua pipinya, sama halnya dengan Rian.
Dua sejoli itu sama-sama menangis. Irna menepuk bahu pria itu dalam pelukannya. Fredian yang melihat wajah sedih mereka di lantai bawah air matanya ikut mengalir.
"Sampai kapan dia akan terus mengorbankan dirinya untuk rasa bersalahnya itu.." Gumam Fredian sambil menata berkasnya kembali.
"Aku pernah bercerai dengannya, dan dia hanya menjaganya tanpa sebuah pernikahan. Lalu mengembalikan gadis itu padaku."
Fredian melangkah keluar dari dalam rumah Irna, pria itu berjalan ke beranda menatap ke arah langit malam yang begitu pekat tanpa rembulan.
"Aku akan selalu memberikan waktu padamu Rian.. bagiku kamu bukan lagi rivalku, jika suatu saat aku pergi nanti. Kamulah satu-satunya pria yang aku pilih untuk menjaga keluargaku, Alfred juga sudah menganggapmu sebagai keluarga." Ujarnya lirih pada dirinya sendiri sambil duduk di kursi di depan rumah Irna.
"Maafkan aku, aku tidak akan pernah menjadikan perasaanku sebagai beban di hatimu." Rian perlahan-lahan melepaskan pelukan Irna.
Pria itu masih berusaha tersenyum sambil menatap wajah Irna. Irna tahu dia hanya mencoba untuk menghiburnya agar tidak menangis.
"Jangan pernah menyingkirkanku, aku mohon..." Rian tidak mampu menopang tubuhnya, kedua kakinya gemetar dan tiba-tiba pria itu jatuh terduduk.
Dia jatuh terduduk di bawah kaki Irna, seolah sedang mengemis pada gadis itu.
"Apa yang kamu lakukan cepatlah berdiri.." Irna membantunya berdiri dan duduk di kursi panjang yang ada di depan kamarnya.
"Biarkan aku merasakannya sendiri, aku pantas mendapatkan hukumannya..." Ujar pria itu lagi.
"Apa maksudmu? jika kamu masih menyalahkan dirimu, kamu sudah membayar semuanya bertahun-tahun merawatku dan bayiku. Kamu yang menjaga kami." Terang Irna padanya.
"Aku hanya ingin tetap berdiri di belakang punggungmu sepanjang waktuku, hanya itu yang aku inginkan." Ujarnya kembali.
"Sudah waktunya kamu beranjak dari belakang punggungku dan melangkah menjalani kehidupanmu." Ujar Irna padanya.
"Aku tidak akan membiarkan cintaku pergi dari dalam hatiku, cintaku tidak bisa pergi.. aku juga tidak tahu, tapi ketahuilah Irna, meskipun aku tampak menyedikan tapi aku sangat bahagia karena merasakan cinta itu."
"Tetaplah jalani hidupmu dengan Fredian, jalani hidupmu dengan pria yang kamu cintai."
Rian beranjak berdiri dari kursinya dan melepaskan genggaman tangannya dari genggaman tangan Irna.
"Bagaimana jika dengan Arvina?" Pertanyaan Irna membuat pria itu menghentikan langkahnya.
"Apakah kamu berniat melemparkan diriku menjauh?!" Wajah Rian terlihat tidak senang dan berjalan kembali menuju Irna.
Pria itu berjongkok di hadapan Irna sambil menatap wajahnya lekat-lekat.
Rian mengulurkan tangan kanannya mengusap pipi kanan Irna yang sembab. Irna memegangi tangan Rian yang masih tinggal di pipi kirinya.
"Jangan mengusirku dari hidupmu, atau berikan aku yang sama seperti ini. Berikan aku wanita yang sama dan memiliki perasaan yang sama sepertimu. Jika kamu bisa membelah dirimu dan tetap hidup menjadi dua bagian, maka aku akan meminta yang satu bagian itu padamu."
Rian berdiri sambil tersenyum, pria itu mulai berjalan menuruni tangga. Irna tidak bisa berkata-kata lagi, dia tidak memiliki apapun untuk dikatakan lagi, apapun yang dia ucapkan Rian tetap tidak ingin pergi darinya.
Di luar pintu Rian melihat Fredian duduk seorang diri, kepalanya bersandar di dinding. Dia ikut duduk di sebelahnya.
"Apakah kamu sudah menyelesaikan semuanya?" Tanya Fredian padanya.
"Aku rasa aku tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah perasaanku padanya." Balas Rian tanpa melihat wajah Fredian.
Malam semakin kelam, binatang malam mulai berhenti bersuara. Mereka berdua duduk menikmati malam yang semakin dingin menusuk ke tulang.
"Maka tetaplah berdiri di sebelahnya, aku tidak akan protes. Sama seperti sebelumnya." Ujar Fredian sambil menepuk bahunya.
"Aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan, rasanya sangat menyakitkan tetapi aku juga memilih untuk tetap tinggal menikmati rasa sakit itu." Tambahnya lagi.
Entah sudah berapa jam mereka berdua tinggal duduk bersama di beranda rumah Irna.
Irna jatuh terlelap di kursi yang ada di depan kamarnya.
Ponsel Fredian tiba-tiba berbunyi, pria itu mengusap wajahnya dengan tidak sabar.
"Apa ada masalah?"
"Sepupuku membuat keributan di Reshort, aku rasa aku harus pergi untuk menghentikannya." Ujarnya pada Rian.
"Aku akan pergi malam ini, aku titip Irna sebentar." Ujarnya bergegas menuju mobilnya.
"Tapi aku harus ke NGM?! dan ini malam yang... kalian baru menikah lagi!" Teriakan Rian hanya dibalas sebuah senyuman manis dari bibir Fredian.
Mobil Fredian meluncur kembali menuju Reshort. Dia mendapati Sisilia sedang menangis terisak-isak di lobi Reshort miliknya.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya sambil berjongkok di depan adik sepupunya itu.
"Kakak, kakak jangan pergi lagi.." Sisilia mengahambur memeluknya erat.
Antoni dan resepsionis menatap mereka berdua dengan wajah penuh rasa bingung.
__ADS_1
Mereka berdua tahu sekalipun adik sepupunya itu menangis dengan air mata darah, dia tidak bisa terpisah dari Irna Damayanti.
Hampir mati mereka berdua saat Irna sedang mengabaikan Presdir tampannya itu. Mereka para karyawan Reshort menjadi pelampiasan amukan pria itu.
Sudah banyak orang menjadi korban pemecatan tanpa tahu kesalahan mereka efek dari pertengkaran Presdirnya dengan Irna Damayanti.
"Kembalilah ke dalam kamarmu.." Ujarnya pada Sisilia.
"Temani Sisil.." Rajuknya kembali.
Fredian tersenyum lalu membelai rambut adiknya itu.
Fredian mengantarkan gadis itu kembali ke dalam kamarnya. Lalu menunggunya agar gadis itu tertidur.
Fredian tertidur di sofa kamar Sisilia.
Rian mau tidak mau kembali naik ke lantai atas, dia ingin melihat apakah Irna sudah terlelap.
Dia mendapati Irna sedang tertidur lelap di atas sofa. Pria itu mengangkat tubuhnya, membawanya ke atas tempat tidur.
Irna perlahan-lahan mengerjapkan matanya.
"Rian..." Ujarnya saat masih di dalam gendongan, lalu Rian menidurkannya dan menyelimutinya.
Dia berdiri di sebelah tempat tidurnya lalu melangkah ke sofa dan tertidur di sana.
Sekitar pukul enam pagi Irna membuka matanya. Dia mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.
"Aku semalam melihat Rian di sini, apakah aku bermimpi." Ujarnya sambil duduk di tepi tempat tidur.
Rian keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah. Pria itu menatap wajahnya sambil tersenyum.
Irna mengusap matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dia tidak bermimpi.
"Hahahaha!" Suara tawa itu meluncur bebas begitu saja dari kedua sejoli itu.
Ingatan mereka berdua kembali pada saat hubungan rumit antara keduanya dimulai.
Pada waktu Irna melihat pria asing itu, pria tampan yang sama sekali tidak pernah dilihatnya, tiba-tiba mengaku sebagai suaminya dengan rambut basahnya seperti yang dilihatnya sekarang.
Irna berdiri lalu mengambil handuk dari dalam lemari dan masuk ke dalam kamar mandinya.
"Dia ke Reshort untuk menyelesaikan masalah." Terangnya sambil mengancingkan bajunya.
Irna sudah selesai mandi, dia juga sedang bersiap-siap untuk pergi pemotretan.
"Pasti sepupunya membuat masalah." Ujar Irna sambil memakai antingnya.
"Iklan fashion perusahaan Kinshasa." Jelasnya sambil tersenyum.
Mereka berdua turun ke lantai bawah, Fredian sudah berada di sana. Pria itu semalam setelah sepupunya yang bernama Sisilia itu tertidur langsung pergi kembali ke rumah Irna.
Dia melihat Rian terlelap di sofa, dan Irna di atas tempat tidurnya. Semakin tenang perasaannya melihat mereka, tidak ada keraguan sama sekali yang tersisa di hatinya saat ini kepada mereka berdua.
"Kapan kamu datang, bagaimana Sisilia?" Irna meneguk kopi di cangkir yang ada di depan Fredian.
"Pukul dua pagi. Sudah tenang, dia gadis yang manja. Mungkin karena kedua orang tuanya selalu sibuk dengan bisnisnya."
Pria itu mengunyah roti bakar selai jeruk, mencomotnya di atas meja.
Rian ikut duduk di sebelahnya, mengambil kopi milik Fredian.
Lagi-lagi satu cangkir untuk bertiga.
"Apakah kamu ingin kopi lagi?" Tanya Irna sambil melihat kedua pria itu yang duduk di antara meja di depannya.
"Ini cukup untuk kami berdua." Ujar Fredian, Rian tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis.
Irna menatap wajah mereka berdua sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku tidak pernah bermimpi memiliki kalian berdua sepanjang waktu berada di sisiku." Irna masih menatap mereka berdua lekat-lekat.
Seorang pelayan meletakkan jus apel di atas meja seperti biasanya. Gadis itu tidak pernah makan apapun ketika pagi.
Dia selalu menikmati jus apelnya untuk sarapan paginya.
Rian dan Fredian saling bertukar pandang, lalu mereka tersenyum manis bersama.
Ada lukisan indah dari sinar mata Fredian saat menatap Rian, ucapan terimakasih, ucapan persahabatan, persaudaraan.
Rian membalas tatapannya dengan senyuman tulus dari lubuk hatinya, kemudian isyarat dari sinar matanya mengatakan..
"Aku akan tetap berada di sisimu dan jangan hawatir selama aku masih hidup aku akan tetap berada di sisi kalian."
Pagi itu Irna berangkat untuk pemotretan di sebuah taman bunga yang terletak sekitar setengah jam dari rumahnya menuju ke sana. Dia berangkat menuju ke sana mengendarai mobilnya sendiri.
Saat tiba di sana Anita dan Tika sudah mendahuluinya berada di sana.
Mereka buru-buru menyambut Irna dan membawanya ke dalam kamar ganti untuk bersiap-siap pemotretan.
__ADS_1
Setelah selesai dia memulai pemotretan, sekitar empat jam dia menyelesaikan pekerjaannya. Tepat saat makan siang, dan Irna sekarang sedang berada di ruang ganti.
Rian, dan Fredian sibuk di kantornya masing-masing.
Fredian sedang meeting dengan klien dari Perancis di sebuah restoran mewah. Fredian memiliki sekitar sepuluh Reshort di sana.
Rian sedang berencana untuk melakukan perjalanan ke Irlandia. Ada pekerjaan yang menunggu dirinya di perusahaan miliknya yang ada di sana.
Tidak bisa menunggu lagi, dia segera menghubungi Irna untuk berpamitan berangkat ke sana.
Melihat panggilan telepon dari Rian Aditama Irna sedikit terkejut dan segera mengangkatnya.
"Irna.."
"Ya ada apa tiba-tiba menghubungiku?" Irna sedikit terkejut, karena mereka tadi pagi sudah bersama dan kini pria itu menelponnya.
"Aku harus pergi ke Irlandia, untuk menyelesaikan pekerjaan. Kirimkan kabarmu, maksudku kondisimu setiap hari, agar aku bisa bekerja dengan baik."
Yang Rian ingat adalah kondisi kesehatan pasien istimewanya itu. Jika sampai Irna kenapa-kenapa dia juga tidak tahu apakah dia masih bisa menengadah ke langit sambil tersenyum.
"Siap pak dokter tampan!" Kelakar Irna sambil tertawa renyah.
Mendengar ucapan gadis itu Rian merasa tenang, dia tahu Irna baik-baik saja dan mengakhiri panggilan telepon.
Irna mulai berkemas-kemas, begitu juga Tika dan Anita.
Jadwal makan siang, dia harus menemui kliennya yang unik itu kembali. Arya Ardiansyah.
"Halo Rin?" Irna menghubungi sekretaris di perusahaan desainnya.
"Iya Bu Irna, saya sudah mengatur pertemuan kalian di Roswell kafe sekitar jam satu siang. Di meja nomor empat." Jawab Rini secara rinci.
"Oke, berarti masih ada waktu setengah jam. Aku akan berangkat ke sana sekarang." Irna mengakhiri panggilan teleponnya.
Gadis itu bergegas menuju kafe Roswell di sana dia melihat Arya sudah duduk menunggunya.
Irna melangkahkan kakinya dengan sangat santai menuju ke arahnya. Arya Ardiansyah terlihat santai sambil melirik jam yang melingkar di lengan kirinya.
"Terlambat lima menit." Ujarnya saat Irna menarik kursi dan duduk di depannya.
"Proyek apa yang membawamu kembali untuk mencariku?"
Arya mengambil berkas dari dalam tasnya dan menyodorkannya di depan Irna. Irna melepaskan kacamata hitamnya, gadis itu mengeryitkan dahinya mencermati berkas di atas meja.
Terakhir kali mereka bertemu, Irna menyusun skema mall untuk pria itu. Dan kali ini pria itu sedang berencana untuk membangun sebuah rumah makan yang terletak di tepi pantai.
Arya melihat wajah Irna yang sedang mencermati lokasi pembangunan tersebut.
"Apa ada masalah?" Tanyanya kemudian pada Irna, karena gadis itu diam saja sejak tadi.
"Tidak ada, aku akan membuat garis besar skemanya." Terangnya lalu membuat sedikit goresan pada kertas yang sudah disediakan oleh Arya.
Irna mulai membuat skemanya, akan dibangun sebuah rumah makan berserta kolam renang, dan taman bermain.
Selain bisa menikmati keindahan pantai mereka para pelanggan juga pasti akan bermain-main di sana bersama keluarganya, putra-putri mereka.
Setelah selesai membuatnya Irna menyodorkan kertas itu pada Arya. Pria itu terlihat puas dengan skema yang di buat oleh Irna.
"Bagaimana kabarmu selama ini?" Tanyanya sambil menatap wajah Irna dengan wajah penuh harap mendapatkan jawaban.
"Aku baik-baik saja." Sahut Irna tanpa tersenyum.
"Kamu berubah menjadi dingin." Ujarnya pada Irna.
"Apa maksudmu? sejak awal kita memang begini." Jawab Irna santai sambil meneguk air mineral di atas meja.
"Ya, kamu bertambah jelek, dan bertambah dingin." Ujarnya lagi bicara terang-terangan.
"Aku akan menyelesaikan skemanya selama satu minggu, karena jadwal pemotretan juga sangat padat." Jelas Irna padanya.
"Ya asalkan kamu mau menyelesaikan, satu minggu tidak masalah. Aku sangat sibuk, aku duluan." Pria itu bergegas pergi menuju ke arah mobilnya.
Irna masih santai menatap bolpoin yang ada di atas meja. Belum ada satu menit, Arya kembali berjalan menuju ke arahnya. Sama persis seperti dugaannya.
Dulu dia sangat terkejut, tapi sekarang tidak lagi.
"Bolpoinku??!" Berdiri di depan Irna.
Irna tidak mau menjawabnya, gadis itu hanya melirik ke atas meja.
Arya mengambil bolpoin di atas meja, lalu merapikan rambutnya dan berbalik melangkah kembali keluar dari kafe tersebut.
Setelah sepuluh menit berlalu Irna juga berdiri dan keluar dari kafe Roswell. Dia melihat Arya berdiri menunggunya di depan mobilnya.
Irna mengangkat dagunya beberapa kali melemparkan pertanyaan.
"Kenapa kamu tidak kembali?"
"Aku naik taksi tadi, aku ingin nebeng mobilmu ke halte." Ujarnya dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Hahaha! Presdir macam apa kamu ini??!" Irna tertawa melihat wajah tanpa basa-basi itu.
Bersambung....