
"Aku akan pergi ke ruang rapat, apakah kamu akan menungguku di sini?" Memeluk tubuh Irna dalam pangkuanya seraya menempelkan ujung hidung di pipinya.
Irna kembali mengancingkan baju Fredian.
"Aku akan pergi ke kantor, kemarin ada klien yang menelepon ingin bertemu." Irna kembali mengecup bibir suaminya.
Setelah selesai merapikan dasi di leher Fredian, Irna hendak berdiri tapi Fredian masih menahan pinggangnya. Membuat gadis itu menoleh kembali menatapnya.
"Ada apa?" Tanya Irna sambil menatap wajah Fredian lekat-lekat.
"Jangan pulang terlalu sore." Mencium tangan Irna.
"Oke!" Tersenyum manis kembali merapikan make up-nya di depan cermin.
"Aku berangkat dulu." Mengambil tasnya mengecup pipi suaminya mengerling sambil tersenyum.
Kemudian melenggang keluar ruangan sambil mengenakan kacamata hitam.
"Ah! gadis itu membuatku ingin terus memeluknya!" Teriak Fredian sendirian di dalam kantornya, beberapa saat kemudian berdiri melangkah menuju ke ruang rapat.
Irna sampai di halaman kantornya di depan gedung gadis itu memarkir mobilnya.
Dia menaikkan kaca mobil, kemudian turun dari mobilnya sambil menenteng tas.
Tiba-tiba matanya menangkap pria kemarin yang terjebak bersamanya di dalam lift.
Pria itu mengenakan stelan jas warna hitam. Tubuhnya tinggi atletis. Rambutnya terlihat maskulin, seperti model iklan masa kini. Berdiri bersandar sambil terus melihat ke arah arlojinya yang melingkar di pergelangan tangannya. Berdiri bersandar di depan mobil mewah miliknya.
Kira-kira begitulah penilaian Irna ketika melihatnya sambil menurunkan sedikit kacamata hitamnya.
Tiba-tiba pria itu melihat ke arahnya, membuat Irna mengerjapkan matanya berkali-kali.
Gadis itu mengibaskan rambutnya dengan tangan kanannya. Melangkah mengabaikannya masuk ke dalam gedung, meninggalkan pria itu di halaman.
"Jangan sampai aku kembali bersama pria aneh itu! jika tidak, aku tidak akan bisa menghindari hari sialku!" Gumam Irna pada dirinya sendiri.
Gadis itu segera memencet tombol lift, bersamaan dengan seseorang yang sudah berdiri di belakangnya, hingga membuat tangan mereka bersentuhan.
"Astaga!" Irna kembali memekik terkejut melihat pria itu tersenyum sudah berdiri di belakangnya.
"Bagaimana dia bisa seperti hantu tiba-tiba berdiri di belakang punggungku tanpa ada suara langkah kaki sama sekali!" Bisiknya tanpa peduli pria itu mendengarnya atau tidak.
Mereka kembali bersama-sama masuk ke dalam lift. Irna sengaja menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menunggu pria itu yang memencet tombolnya.
Tapi lagi-lagi pria itu tidak peduli, malah bersiul-siul menunggu Irna yang memencet tombol liftnya.
Saat Irna hendak menekan tombol, pria itu tiba-tiba mendahuluinya memencet.
"Astaga! apa maksudnya? tindakan dia ini seperti orang yang terlambat dewasa! Usianya sudah hampir tiga puluh lima tahun tapi otaknya tertinggal di usia sepuluh tahun."
Bisik Irna lagi, dia hanya bisa mendengus meniup ujung hidungnya sendiri.
Lagi-lagi Irna ingin sekali mencakar muka pria di belakang punggungnya itu.
__ADS_1
Setelah sampai di lantai atas, Irna keluar dari dalam lift.
"Aku mendengar semuanya, semuanya yang kamu bisikkan barusan sejak dari lantai bawah." Ujar pria tak dikenal itu, membuat Irna terpaksa menghentikan langkahnya.
"Lalu?" Ujar Irna sambil mendongakkan wajahnya dengan tatapan tidak bersahabat ke arah pria itu.
"Kamu gadis yang sangat tidak tahu sopan santun!" Ujarnya tanpa tersenyum.
"Lalu kamu? kamu sendiri yang membuat orang lain berfikir seperti itu! nilailah dirimu sendiri sebelum menilai orang lain!" Teriak Irna sambil menghentakkan kakinya masuk ke lobi kantornya.
Pria itu memegang tengkuknya sendiri sambil mendongakkan kepalanya ke atas dengan wajah geram. Tersenyum marah tidak percaya.
Pria itu masuk ke lobi kantor Irna. Menemui sekretarisnya Rini.
"Apakah saya bisa bertemu dengan Nona Irna Damayanti?" Ujarnya.
"Apakah anda sudah membuat janji?" Tanya Rini padanya.
"Ah iya sudah, kemarin saya sudah menghubunginya. Saya Arya Ardiansyah, dia bilang hari ini akan menemui saya."
"Baiklah saya akan menghubunginya sebentar"
"Halo, Bu Irna." Ujar Rini melalui telepon di atas meja.
"Iya Bu." Rini mengakhiri panggilan.
"Silahkan masuk ke dalam, Bu Irna sudah menunggu." Ujarnya sopan pada pria di depannya.
Pria itu memasukkan kedua telapak tangannya di dalam saku celananya. Masuk dengan santai ke dalam ruangan Irna.
"Silahkan duduk." Ujar Irna tanpa menoleh ke arah orang yang datang itu.
Pria itu duduk di depan Irna di seberang meja.
Pria itu diam tanpa berkata apapun meletakkan kedua tangannya di atas meja.
Irna perlahan mengangkat kepalanya dari berkas, melihat tangan di atas meja kerjanya, arloji pria yang tadi di temuinya. Pria yang sudah dihinanya, dibentaknya.
"Astaga!" Irna kembali terkejut sambil memegang dadanya melihat wajah pria itu tersenyum menatap ke arahnya yang terkejut.
Irna membenturkan belakang kepalanya beberapa kali pada sandaran kursi sambil menghela nafas panjang.
Saat Irna hendak membuka bibirnya untuk bicara pria di depannya itu langsung mendahuluinya.
"Mari kita pisahkan masalah pribadi dengan masalah bisnis!" Ujarnya, kemudian dengan sangat profesional pria itu menuturkan tentang perihal kedatangan dirinya saat itu.
Dia ingin membangun taman hiburan, dan Irna memberikan arahan juga tawaran seperti apa model yang diminati oleh kebanyakan orang, namun bagaimana caranya agar taman hiburan tersebut meninggalkan kenangan yang manis di hati para pengunjung, setelah mereka meninggalkan taman hiburan.
Mereka para pengunjung tidak hanya mendapatkan hiburan tetapi juga memiliki sesuatu yang akan membuat hati mereka ingin kembali pergi ke taman itu.
Entah berapa lama mereka berdua sangat serius membicarakan tentang pekerjaan. Tak terasa mereka sudah membicarakannya selama dua jam.
Hingga akhirnya pria itu berpamitan padanya.
__ADS_1
"Kira-kira kapan anda akan meninjau ke lokasi?" Tanya Arya untuk memastikan.
"Besok pagi, saya akan ke sana. Karena lusa saya ada jadwal lain." Ujar Irna.
"Oke. Terima kasih atas kerjasamanya, saya tunggu besok di kantor saya."
"Saya harap anda tepat waktu karena saya tidak suka orang yang tidak kompeten dan mengabaikan waktu ketika bekerja." Ujarnya serius.
"Jika sesuatu terjadi pada saya dan membuat saya datang terlambat tanpa saya sengaja. Dan membuat anda kecewa, maka saya tidak akan kecewa jika anda mengganti saya dengan arsitek lainnya." Ujarnya membalas dengan tatapan mata serius.
"Oke!" Ujarnya sambil melangkah keluar dari ruangan Irna. Lalu tiba-tiba kembali berbalik.
Mengambil bolpoin yang tertinggal di atas meja, membuat Irna menjauhkan wajahnya dari meja. Lalu melangkah pergi ke luar ruangan.
"Astaga pria aneh itu!" Ujar Irna tanpa menahan suaranya.
Tiba-tiba pria itu kembali melongok ke arahnya dari luar pintu.
"Jangan lupa besok ke lokasi, barusan aku juga mendengarnya!" Ujarnya menatap tajam ke arah Irna.
Irna hanya memegangi wajahnya, seribu rasa marah, kesal, ingin mengamuk bercampur menjadi satu.
Gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang menenangkan diri dan pikirannya.
"Aku malas sekali memikirkanya! sebaiknya aku turun ke lantai bawah membeli secangkir kopi!"
Irna bergegas turun ke lantai bawah, dia merasa beruntung karena tidak bertemu lagi dengan pria pembawa sial itu.
Irna duduk di bangku restoran, bersandar sambil menikmati kopinya melihat ke layar ponselnya.
Saat dia sibuk menata berkas sambil mencermati, tiba-tiba seseorang duduk di depannya mengambil cangkir kopi miliknya dan meneguknya.
"Oh, kapan kamu sampai?" Tanya Irna pada Rian yang duduk santai di depannya sambil menikmati kopi milik Irna.
"Kebiasaanmu itu tidak berubah sama sekali, apa kamu tidak hawatir jika membuat orang lain salah faham?" Tanyanya pada Rian di depannya yang masih santai-santai menikmati kopinya.
"Entahlah, aku tidak peduli. Aku senang menikmati kopi setelah kamu meminumnya rasanya jadi sangat berbeda!" Ujar Rian sengaja membuat mata Irna terbelalak.
"Kapan kamu akan kembali ke konstruksi?" Tanya Rian pada Irna.
"Lusa, karena besok aku akan pergi meninjau lokasi milik Arya Ardiansyah." Ujar Irna pada Rian.
"Kamu menjalin kerjasama dengan Arya?!" Rian terbelalak kaget tidak percaya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Irna tidak mengerti.
"Dia terkenal sebagai pria kaya raya yang tampan, tapi sangat cerewet dan perhitungan!" Ujar Rian memaparkan sosok Arya Ardiansyah.
"Aku sudah tahu." Ujar Irna santai.
"Dan kamu sudah memutuskan untuk bekerja sama dengannya?! ketika mengetahui segalanya?" Rian masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Irna.
"Hem." Irna mengambil cangkirnya dari tangan Rian kembali meneguk kopinya. Lalu tersenyum penuh misteri.
__ADS_1
Bersambung...