Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Can't be me?


__ADS_3

Universitas kedokteran Jerman.


Kania duduk di bangkunya sambil menggigit ujung bolpoin miliknya. David masih berada di kantor untuk memberikan laporan atas kedatangannya hari itu.


Tak lama kemudian Royd Carney masuk ke dalam kantor.


"Ah, ini kelasku. Kamu bisa cari kelas yang lain." Royd melirik laporan David di atas meja.


"Tidak bisa! saya di sini atas rekomendasi dokter Kaila Elzana. Memangnya siapa yang berani menolak rekomendasi darinya? heh!" David berkacak pinggang sambil mengangkat kedua alisnya.


"Ini tidak bisa dibiarkan! kamu merebut kelasku? kamu pikir kamu siapa? pemilik kampus ini?" Royd tidak mau menyerahkan kelasnya begitu saja pada David.


Pagi tadi Royd juga melihat David berjalan bersama dengan Kania. Hatinya sudah sangat kesal dan marah, kini ditambah lagi dengan kelasnya direbut olehnya begitu saja.


Untuk mendapatkan penyelesaian. Ketua universitas tersebut juga masih membicarakan pada para pemegang saham, untuk memberikan keputusan pada mereka berdua.


Di sisi lain Royd Carney merupakan salah satu keluarga yang memiliki peranan penting sebagai pemegang saham di sana.


Di sisi lain keluarga Aditama yang masih memiliki hubungan dengan keluarga Derrose adalah salah satu dari pendiri universitas tersebut.


Akhirnya keputusan telah diambil dengan berbagi jam, satu hari milik Royd dan hari selanjutnya milik David.


Pertarungan dua dosen tampan memperebutkan kelas. Irna menyarankan David karena untuk melindungi Kania putrinya.


Dan hari ini berdasarkan lotre Royd mendapatkan giliran pertama. Pria bermata biru tersebut melangkah masuk ke dalam kelas.


"Apa ini? bukankah David yang mengajar di kelasku? kenapa pria itu lagi?!" Kania terlihat terkejut melihat Royd.


Pria itu tahu, Kania memilki andil dalam pergeseran dosen kelas hari ini. Melalui dari tatapan matanya dia bisa melihat kecemasan terukir jelas di mata gadis cantik itu.


Pelajaran berlangsung lancar, Royd merapikan bukunya di atas meja. Kania melintas keluar dari dalam kelasnya.


Entah sejak kapan Royd menahan lengannya, menariknya ke dalam kemudian menutup pintu kelasnya.


"Apa yang kamu lakukan? kamu tidak bisa melihat ini di mana? aku bisa saja melaporkan atas tindakanmu ini!" Sergah Kania sambil membelalakan matanya.


"Aku tidak akan melakukan apapun, kenapa kamu begitu terkejut?" Bisiknya sambil meraba pipi Kania.


"Plaak! dasar brengsek!" Kania menepis tangannya kemudian pergi meninggalkan kelas tersebut.


"Pria sinting itu sepertinya tidak akan mudah menyerah, dia bahkan sudah tinggal bersebelahan dengan apartemenku." Gerutu Kania seraya menuruni tangga.


Royd tersenyum mendengar gadis itu mengumpatnya.


"Kamu mengumpatku? kamu harus mengantarkan aku pulang, sebagai gantinya."


"Apa!? tunggu apa maksudmu? aku harus mengantarkan kamu pulang? bukankah kamu membawa mobilmu sendiri?!"


Kania menghentikan langkahnya menatap tajam ke arah Royd yang sudah berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Jika tidak mau, aku akan menuntutmu atas pelecehan juga pencemaran nama baik."


Royd mendekatkan wajahnya, Kania terpaksa menjauhkan wajahnya sendiri ke belakang.


"Akh! tidak! tidak!" Kehilangan keseimbangan tubuhnya, dengan terpaksa berpegangan pada lengan Royd, pria itu sekali lagi menahan pinggangnya.


Tersenyum manis menatap tajam pada mata Kania.


"Sepertinya kamu sudah kerasukan sindrom gila!" Mendorong dadanya menjauh lalu berlari ke parkiran tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Kenapa pria itu semakin hari semakin gila? menyebalkan sekali!" Masuk ke dalam mobilnya.


"Kraakk! braak!" Royd masuk ke dalam mobilnya, duduk bersebelahan dengan Kania.


"Kau! kau! cepat turun!" Usirnya segera.


Royd menyumbat lubang telinganya dengan headset mengacuhkan teriakan Kania.


Sesaat Kania merasa bingung harus melakukan apa pada pria di sebelahnya itu. Tali kemudian dia menyalakan mesin mobilnya.


Gadis itu melirik dengan ekor matanya melihat pria di sebelahnya sedang sibuk menatap ke layar kaca ponselnya.


Dia tidak peduli asalkan cepat sampai di apartemen miliknya dia akan segera berpisah dengan pria menjengkelkan di sebelahnya.


Di sisi lain..


Pria itu pergi ke suatu tempat di mana biasanya Irna berada. Dan benar, pria itu mendapatinya berdiri di beranda halaman belakang rumah lama miliknya.


Gadis itu memegang cangkir di tangannya sambil menatap kosong ke depan. Tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.


Rian memeluknya dari belakang. Irna mendengus sambil meminum kopi di cangkirnya.


"Untuk apa kamu kemari?" Tanpa menoleh ke arahnya melemparkan pertanyaan begitu saja.


"Aku ingin menemanimu."


"Kita bukan suami istri lagi."


Irna masih menatap kosong pada bunga warna biru langit yang mulai menutup kelopaknya perlahan.


Bunga beraroma harum semerbak memenuhi udara di halaman belakangan rumahnya.


Saat Irna melepaskan pelukannya lalu berbalik dia melihat Fredian sudah berdiri tak jauh dari dirinya dan Rian.


"Kalian bersama datang kemari?" Irna menatap mereka berdua. Tak ada yang mau menjawab pertanyaan darinya.


Irna merebus air membuatkan kopi untuk mereka berdua di ruang tengah.


Pria itu kembali duduk berhadapan, mereka sepertinya membicarakan tentang sesuatu yang sangat serius.

__ADS_1


Irna tahu mereka bukan membicarakan tentang dirinya, dia memilih membuat beberapa makanan lalu meletakkan di atas meja.


Fredian melihat wajah Irna sambil mengambil makanan yang dia sediakan di atas meja. Tatapan matanya sedikit terasa aneh. Rian juga lebih dahulu berpamitan pergi.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Irna duduk agak jauh darinya.


Pria itu tak kunjung menjawab tapi tetap mengunyah makanan sambil terus menatap wajah Irna.


"Aku hanya ingat saat aku menyerahkan dirimu pada Rian dua puluh tahun yang lalu. Aku pikir saat itu aku tidak akan bertemu denganmu lagi."


Irna sedikit terkejut dengan pernyataan Fredian.


"Jadi maksudmu, apakah lebih baik kamu tidak menemukanku begitu?" Irna mencoba membelokkan arah pembicaraan untuk mengganggunya.


Fredian tahu Irna dengan sengaja mengatakan itu. Pria itu tersenyum sambil menyeruput kopinya.


Dia berdiri sambil memasukkan telapak tangannya di dalam saku celananya. Irna diam saja melihatnya, seperti sudah biasa pria itu datang dan pergi.


Sedangkan bagi dirinya sendiri itu juga sudah sangat biasa. Tinggal seorang diri lebih menyenangkan untuknya.


Irna terkejut ketika dia berjalan menghampirinya. Padahal dia berpikir pria itu akan pergi.


"Kenapa kamu gemetar? apakah karena sudah lama tidak bertemu denganku?" Bisiknya di telinganya.


"Hah! omong kosong. Hampir setiap hari kamu mencuri pandang padaku, di rumah, di rumah sakit, di tempat belanja, dan di.. cup!" Fredian menyumbat bibirnya dengan ciuman.


Irna terbelalak kaget, gadis itu membeku seperti es. Masih belum bisa mencerna yang terjadi saat ini.


"Kenapa bengong? apa kamu tidak ingin mengusir mereka?" Menunjuk pada pasukannya iblis yang sudah mengerubungi Fredian, jika Irna tidak memberikan perintah mereka akan segera menerjang Fredian.


Irna kemudian menjentikkan jarinya, dan mereka pergi seketika. Masih terbengong menatap kosong.


Fredian berjongkok di depannya memegang kedua tangannya.


"Maukah dokter Kaila menerima lamaranku?"


"Jika aku menolakmu, apa yang akan kamu lakukan?" Irna tersenyum melihat wajah di depannya itu. Fredian sedang mencari jawaban yang tepat untuknya.


"Tidak ada, aku hanya akan menunggumu."


"Tidak seru, kamu menyerah begitu saja. Kalau begitu aku tidak menerima lamaranmu."


Irna menarik kedua tangannya dari genggaman tangan Fredian. Gadis itu berdiri, Fredian juga berdiri tanpa menunggu dia segera mengangkat tubuhnya kemudian melesat membawanya pergi.


Saat membuka matanya Irna sudah berada di dalam Reshort.


"Kenapa kamu membawaku kemari? apa yang akan terjadi jika tiba-tiba aku keluar dari dalam kamarmu!" Irna kelabakan sesaat melupakan jati dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2