
Malam itu Irna telah bersiap untuk pergi menghadiri undangan kerajaan Interure. Gadis itu memakai gaun biru terang. Fredian berdiri di belakang punggungnya mengikutinya melangkah masuk ke dalam kerajaan tersebut.
Seluruh orang di dalam kastil memberikan hormat kepada Irna. Dialah penerus kerajaan Vertose.
"Silahkan duduk Nona Ratu." Peter menyambut kedatangan Irna dengan wajah cerah.
Fredian mengambil tempat duduk satu meja dengan Irna.
Setelah beberapa menit seseorang datang mendekati meja mereka berdua. Pria setengah baya bersama dengan seorang gadis yang sangat cantik.
"Apakah tuan sendirian kemari? perkenalkan ini putri bungsu kami Julia." Pria tersebut memperkenalkan putrinya kepada Fredian. Melihat itu Irna tersenyum tipis seraya meneguk anggur di dalam gelasnya.
"Bolehkah saya bergabung dengan Nona Ratu?" Tanyanya seraya memasang wajah manja.
"Ya, silahkan." Jawab Irna santai sambil melirik ke arah suaminya.
Pria paruh baya itu pergi setelah menitipkan putrinya pada Irna. Dia terlihat lega karena Irna mengijinkan Julia untuk bergabung bersamanya.
Irna tidak tahu apa tujuan pria itu menitipkan gadis itu padanya. Dia hanya bisa menunggu untuk mengetahui maksud tersembunyi dari mereka.
Fredian terlihat tidak senang melihat sikap Irna yang sengaja memberikan kesempatan pada gadis di depannya untuk mendekati dirinya.
"Apakah dia sengaja menjadikanku tumbal dalam pesta ini!?" Bisik Fredian dalam hatinya.
Irna tersenyum manis melihat suaminya bersungut-sungut membelalakkan matanya menatap dirinya.
"Tuan siapa namamu?" Julia memberanikan diri untuk bertanya pada Fredian.
"Ronal." Ujarnya singkat.
"Apakah anda seorang eksekutif muda? saya sering melihat wajah anda di televisi." Tanyanya lagi.
"Gadis ini bertanya terus, seperti jurnalis." Gumamnya enggan menjawab pertanyaan Julia. Fredian menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat tajam. Gadis itu buru-buru beringsut beranjak dari tempat duduknya, kemudian menatap ke arah Irna.
"Ah? ada apa? apa pria simpananku menakutimu?" Bisik Irna lirih sambil tersenyum sadis.
Gadis itu cemberut dan berlari sambil menangis menuju ke arah ayahnya.
"Kamu sengaja memancingnya?" Tanya Fredian pada Irna.
"Jika kita tidak bergerak terlebih dahulu, bagaimana kita bisa tahu apa tujuan mereka?" Bisik Irna lirih.
Penobatan raja segera dimulai. Javi Martinez adik William dinobatkan menjadi penerus kerajaan tersebut. Raja memakaikan mahkotanya pada Javi Martinez.
Seluruh tamu undangan berdiri dan bertepuk tangan menyambut raja baru.
"Benar-benar mirip." Gumam Irna kembali duduk di kursinya, bersamaan dengan para tamu lain.
"Kamu kembali mengingat mantan kekasihmu?" Fredian menyeringai menatap wajah Irna.
Gadis itu meneguk kembali minuman di atas meja. Dia tidak ingin berdebat dengan Fredian di sana.
Fredian menatap Javi, dia sedikit terkejut saat pria itu berdiri di belakang punggung Irna.
"Dokter Kaila?" Sapanya seraya tersenyum lembut.
Irna menoleh ke arah suara tersebut, Javi Martinez sudah berdiri di belakangnya. Irna segera beranjak berdiri dari tempat duduknya menyambut kedatangan raja baru tersebut.
"Bolehkah saya bicara empat mata dengan anda sebentar dokter?" Melirik ke arah Fredian seakan-akan sengaja ingin menyingkirkan pria itu dari sekitar Irna.
Fredian segera berdiri dari kursinya dan tersenyum manis.
"Maaf, Raja Javi. Saya adalah pengawal yang harus menjaga Ratu Vertose. Saya tidak bisa meninggalkan Ratu kerajaan kami, harap anda memakluminya." Dengan sopan Fredian menundukkan kepalanya memberi hormat.
Irna tersenyum manis menatap wajah Fredian.
"Baiklah, mari ikut saya berjalan-jalan di taman. Taman kerajaan kami sangat indah dan menawan." Mempersilahkan Irna berjalan mendahuluinya.
Fredian mengikutinya dari belakang dengan jarak dua puluh meter.
Javi berjalan bersebelahan dengan Irna. Pria itu menebarkan senyuman di sepanjang jalan.
"Aku mencium aroma pria gila!" Bisik Irna lirih.
"Ah, anda bicara dengan saya?" Tanya Javi karena mendengar Irna mengumpat. Irna menarik satu sudut bibirnya untuk menjawab pertanyaan dari pria di sebelahnya.
"Saya minta maaf jika saya mengganggu ketenangan anda di acara ini. Saya hanya ingin mengajak anda jalan-jalan tidak lebih." Ujarnya lagi dengan sopan.
Mereka memutari taman sebanyak tiga kali, Irna malas membuka percakapan antara mereka berdua. Mendapatkan perlakuan seperti itu Javi Martinez merasa jengah dengan sikap Irna.
"Apa anda sengaja mengabaikan saya?" Tanya pria itu tiba-tiba karena tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
"Jadi cuma sebatas ini kesabarannya.." Ujar Irna santai seraya melirik ke arah Fredian.
"Hahahaha! dokter Kaila rupanya begitu terang-terangan menyatakan segalanya. Seperti manusia awam yang tidak tahu bagaimana bersikap sopan pada raja." Ejeknya pedas.
"Aha, saya baru tahu kalau anda tersinggung dengan ucapan saya. Kalau begitu saya tidak ingin menyinggung perasaan anda lebih dalam lagi. Permisi." Irna menundukkan kepalanya lalu melenggang pergi dari hadapannya. Javi mengikuti Irna dengan wajah kesal.
Fredian merasakan kehadiran Rian, tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia sengaja menunggu di sana saat Irna sudah kembali masuk ke dalam.
__ADS_1
"Kamu datang juga?" Fredian berbisik pada Rian yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Tentu saja, aku khawatir dengan kalian berdua. Aku masih ingat pembantaian besar-besaran seratus tahun lalu." Ujarnya sambil meremas pergelangan tangan Fredian.
"Tapi tubuhmu sangat lemah, bukankah kamu seharusnya beristirahat sementara untuk memulihkan kondisi tubuhmu?" Fredian melihat wajah Rian sangat pucat dan dingin. Pria itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian terluka ataupun berpisah lagi. Apalagi karena ulah keluargaku." Rian memberikan isyarat agar Fredian kembali ke dalam ruangan untuk menyusul Irna.
Fredian menganggukkan kepalanya setengah berlari masuk kembali ke dalam ruangan. Saat masuk dia tidak mendapati Irna di dalam ruangan. Fredian celingukan mencari keberadaan istrinya.
Irna tertahan di sebuah ruangan bersama Javi Martinez, pintu ruangan tersebut terbuat dari dinding batu.
"Kenapa anda membawaku kemari?"
"Aku cuma ingin melihat wajahmu lebih lama dokter Kaila. Apakah aku salah?" Ujarnya santai sambil mengambil beberapa helai rambut Irna kemudian mencium aromanya.
"Aroma yang sangat nyaman, membuatku ingin berlama-lama di dekatmu." Bisiknya di telinga Irna.
"Sepertinya tidak ada jalan lain selain menghancurkan dinding batu ini." Seringai Irna dengan mata merah berkilat-kilat. Gadis itu menempelkan telapak tangannya pada kunci pintu.
Lima menit kemudian kunci hancur dan menimbulkan suara menggelegar di dalam kastil kerajaan.
"Kau! Ratu iblis?!" Javi terperanjat menatap Irna dengan gugup. Tidak ada yang bisa membuka kunci kastil yang dibuat khusus tersebut selain keluarga kerajaan Interure.
Dia berfikir Irna hanyalah seorang pewaris tahta kerajaan yang turun temurun. Tidak disangka dia ternyata adalah gadis mengerikan yang muncul seribu tahun sekali.
"Apa yang terjadi?" Peter terkejut melihat pintu kamar Javi hancur berantakan. Peter segera minta maaf kepada Irna.
"Saya tidak sengaja masuk ke ruangan yang salah, karena saya tidak bisa keluar jadi terpaksa menghancurkan pintunya." Jelasnya pada para pengawal yang berdiri berjajar di depan pintu.
Fredian tersenyum melihat ulah istri tercintanya itu. Dia segera melangkah mendekat ke arahnya.
"Maafkan ratu kami, tuan. Dia selalu tidak bisa tahan saat berada di ruangan tertutup." Menundukkan kepalanya bersikap sopan.
Javi Martinez pergi meninggalkan mereka semua karena sangat malu telah ketahuan mengurung Irna.
Karena terjadi hal itu, Irna mengambil kesempatan untuk berpamitan pada mantan raja kerajaan Interure.
Irna merasa sangat lega sudah hampir sampai di rumah Fredian. Gadis itu menyandarkan kepalanya di lengan Fredian.
"Kenapa? apa kamu khawatir jika terjadi sesuatu pada kita?" Fredian membelai rambutnya.
"Kadang pernah, terutama padamu. Aku selalu ingin melihatmu baik-baik saja Fred.." Gumamnya sambil menutup kedua matanya.
Setelah sampai di rumah, mereka berdua turun dari mobil bersama-sama.
"Ah!" Pekiknya.
"Kenapa kamu aneh sekali? kamu lupa kita sudah menikah? masih berlagak seperti anak kecil." Gerutu Fredian sambil cemberut.
Irna menahan tawanya mendengarnya menggerutu. Gadis itu menyentuh alisnya.
"Kamu marah hanya karena aku memekik?" Tanya Irna padanya.
"Tidak."
"Lalu, kenapa menggerutu?" Tanyanya lagi.
"Aku hanya ingin tidur di pangkuan istriku kenapa sulit sekali. Berhentilah bertanya aku ingin tidur sebentar."
Irna terdiam mendengar ucapan Fredian. Dia juga bersandar di sandaran tempat tidur kemudian terlelap.
Entah sudah berapa jam gadis itu tertidur, saat membuka matanya Fredian sudah tidak ada di atas pangkuannya. Irna mendengar suara seseorang sedang berbicara di ruang tengah.
Dia malas untuk beranjak bangun, gadis itu memilih untuk melanjutkan tidurnya kembali.
Keesokan harinya, Irna mendapati Fredian sedang merengkuhnya.
"Kamu cuti lagi?"
"Hem, ada Nira yang menggantikanku."
"Bagaimana jika aku juga pensiun bekerja? kamu akan jenuh jika aku tinggal sendirian di rumah." Irna mencoba meminta pendapatnya.
"Tidak, besok aku masih harus ke kantor." Tersenyum melihat Irna mengedipkan matanya.
"Kamu tidak ke rumah sakit?" Tanyanya balik.
"Setelah kamu melepaskan pelukanmu." Jawabnya jujur.
Di sisi lain..
Kania bersiap untuk pergi ke kampus. Gadis itu menenteng tasnya menuju parkiran mobil. Dia merasa beruntung karena tidak melihat Royd Carney di sekitarnya.
Gadis itu segera melompat masuk ke dalam mobilnya.
"Astaga!" Teriaknya melihat Royd Carney tiduran di atas kab mesin mobilnya.
"Tok! tok! tok! turun kamu." Kania mengetuk kaca mobil di depannya.
__ADS_1
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kania menarik nafas dalam-dalam untuk menstabilkan amarahnya. Gadis itu turun dari dalam mobil.
Tanpa basa-basi segera menarik tangan Royd agar segera turun dari atas kab mobilnya.
"Kenapa naik di atas kab mobilku? pak dosen kekanak-kanakan sekali." Ujarnya sangat kesal.
"Aku hanya ingin pergi bersama ke kampus, apakah boleh?" Pura-pura mencari alasan yang masuk akal.
"Tidak boleh! coba pak dosen pikir, bagaimana pendapat bapak jika melihat dosen dan mahasiswi berangkat bersama-sama ke kampus berada dalam satu mobil berdua!?"
"Menurutku itu pasangan yang sangat serasi!" Ujarnya sambil tersenyum menatap wajah Kania.
"Dasar gila!" Masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya, pergi meninggalkan Royd Carney di parkiran apartemen.
Sepuluh menit kemudian Kania sudah sampai di kampus. Gadis itu melangkah menuju kelasnya, David yang melihat Kania segera berlari menghampirinya.
"Hai sayang!"
"Mengagetkanku saja!" Pura-pura terkejut. David menarik tangannya menuju kantin kampus.
"Aku belum sarapan tadi." Ujarnya saat Kania ingin menolak ajakannya. David menyeretnya masuk ke dalam kantin.
Royd Carney berdiri meremas jemarinya memandang pemandangan menyebalkan itu. Pria itu mengikutinya melangkah menuju ke kantin.
"Dia sepertinya sangat menyukaimu." Bisik David di telinga Kania.
"Apa kamu berniat menyiramkan bensin di atas bara api! dasar kurang kerjaan!" Balas Kania Aditama pada David.
"Habisnya wajah pria itu lucu dan menggemaskan sekali. Memangnya dia tidak tahu kita itu saudara?" Gumamnya lagi.
Royd sudah menghabiskan tiga gelas besar minuman ringan. Pria itu memintanya lagi pada penjaga kantin untuk memberikan padanya tiga botol lagi.
"Sebentar lagi pria itu pasti akan muntah-muntah! satu, dua ,tiga..!" David menghitung dengan jari tangannya.
"Hoooeeekkk! Byuuuuur!" Royd Carney memuntahkan seluruh isi perutnya seperti dugaan David.
"Bagaimana kamu tahu dia akan muntah?" Kania dengan santai menyedot air lemon dari dalam gelasnya.
"Menurut perhitungan dokter spesialis ternama sepertiku, tentu saja tidak akan pernah meleset!" Mengibaskan jasnya dengan bangga.
"Bukannya dia dokter juga? apa mungkin dia tidak bisa memperhitungkan itu?" Kania masih tidak mengerti kenapa Royd minum sebanyak itu, melampaui batas isi perutnya.
"Emosional, dia mencari pelampiasan untuk menyalurkannya selain langsung memaki orang yang membuatnya kesal." Jelasnya pada Kania.
"Apa kamu masih tetap tidak peka?!" David merasa kesal karena Kania terlihat bodoh.
"Hahahaha! dia cemburu padamu?" Tanya Kania sambil tergelak melihat wajah David.
"Dasar anak kecil."
"Sudah waktunya masuk. Aku duluan ya?" Kania melambaikan tangannya pada David sambil berlalu.
Saat melewati ruang perpustakaan dia terkejut karena Royd sudah menunggunya di sana menatapnya penuh amarah.
Royd menarik Kania masuk ke dalam ruangan lalu mendorong punggung Kania pada daun pintu.
"Braak! Kamu bilang padaku untuk tidak berangkat bersamamu ke kampus! tapi kamu bermesraan dengan dosen baru itu di kantin! bahkan dia memanggilmu sayang dengan terang-terangan!"
"Royd sakit.." Kania sengaja pura-pura merintih kesakitan.
"Mana yang sakit? coba lihat?" Pria itu kelabakan memutar tubuh Kania mencari luka pada tubuhnya.
"Kamu yang sakit." Ujarnya sambil nyengir.
"Kamu membohongiku?!" Dengus Royd karena kesal.
"Apakah aku pernah menggodamu pak dosen? apakah aku pernah mencoba merayumu?! apakah aku selalu mencari perhatian darimu?" Teriak Kania dengan gusar karena sudah tidak tahan pria itu terus mengikutinya kesana-kemari.
"Tidak pernah sama sekali."
"Lalu kenapa kamu terus mengikutiku? apa yang kamu inginkan dariku?"
"Aku ingin kita pacaran!" Terang-terangan menyatakan bahwa dirinya menyukainya.
"Aku tidak ingin pacaran, apalagi denganmu." Tolaknya langsung.
"Apa yang tidak kamu sukai dariku?!" Merasa tidak terima ditolak mentah-mentah.
"Segalanya yang ada padamu, dari ujung kepala sampai ujung kaki!" Menarik kedua ujung bibirnya tersenyum paksa. Lalu keluar dari dalam ruangan.
"Dia menolakku lagi." Gumamnya lirih sambil melihat punggung Kania berlalu dari hadapannya.
Kania sudah duduk di bangkunya sambil bercanda dengan Mira teman sebangkunya. Royd melangkah lesu masuk ke dalam kelasnya.
Pria itu terus menatap wajah Kania, dan meminta asistennya untuk memberikan penjelasan di depan kelas hari itu.
Kania tetap santai mengikuti pelajaran hari itu seperti biasanya. Dia tidak perduli dengan wajah kuyu di depan sana yang terus menatap ke arahnya.
Bersambung...
__ADS_1