Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
The king of the hunters has been intoxicated with love


__ADS_3

Hampir satu hari penuh Irna dan Fredian berada di atas tempat tidur yang ada di dalam ruang kerjanya.


Mereka berhenti ketika ada suara ketukan pintu, dia segera melepaskan Irna dan membiarkannya berbaring terlentang di atas tempat tidurnya untuk menunggunya kembali.


Fredian menyambar baju kimono miliknya, lalu keluar dari dalam ruangan tersebut. Dia melihat Nira sedang meletakkan banyak sekali berkas, mereka semua ditumpuk di atas meja ruang kerjanya.


Irna memungut kembali pakaiannya, dia juga telah menyimpan pedang es miliknya di dalam tubuhnya.


Irna melihat Fredian sedang berbicara dengan seseorang. Gadis itu mengabaikannya tetap melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Fredian ingin menghentikannya tapi terlambat, Irna tidak ada di sana lagi. Wanita itu menghilang begitu saja entah kemana.


"Kenapa dia bisa pergi secepat itu!" Fredian kesal sekali karena telah kehilangan Irna, wanita itu tidak ada lagi di sana.


Dia ingin sekali mencarinya melalui insting yang dia miliki, tapi sepertinya itu tidak berfungsi sekarang. Karena dia terlalu lelah dan terlalu banyak mengeluarkan energi satu hari satu malam penuh terus bergelut bersama dengan gadis itu tanpa henti.


Gadis itu telah berubah menjadi sangat kuat sekali sudah sehari semalam suntuk Fredian bergelut dengannya tidak berhenti sama sekali, tapi dia masih bisa tegak berjalan seperti tidak melakukan apapun dengannya.


Fredian yang tidak bisa bersabar, pria itu takut sekali Irna pergi tempatnya. Dia takut jika sampai gadis itu melakukan hal itu bersama pria lain. Apalagi dia berkali-kali telah mendengar Irna menegaskan bahwa dirinya bukanlah istrinya tapi istri dari raja Eroine.


Tapi Fredian bingung, dia juga harus mengurus berkasnya ya sudah berjibun dia tinggalkan berhari-hari untuk mencari Irna.


Akhirnya dia menyerah dan duduk di kursi ruang kerjanya untuk menyelesaikan berkas-berkas bertumpuk tersebut.


Sudah tidak tidur selama dua hari tubuhnya mulai terasa sangat lelah karena terus-menerus bermain bersama Irna.


Di sisi lain


Kania sudah pulih seperti sedia kala, Royd yang merawatnya berhari-hari sampai dia sembuh kembali seperti semula.


Beberapa kali juga orang tua Royd datang menemui mereka berdua.


Pria itu menggunakan dirinya untuk menghalangi ayahnya ketika ingin melukai Kania.


Pria itu benar-benar berniat memberikan nyawanya untuk putri vampir tersebut, dia tidak ingin Kania terluka untuk kedua kalinya. Dia sangat mencintainya apapun yang terjadi.


Royd tidak membiarkan ia pergi sendiri ke manapun, karena para pemburu sedang mengejarnya, dia tidak ingin Kania terluka.

__ADS_1


Dan dia memilih untuk terus mengawalnya.


Pagi itu Royd mengajar di depan kelas seperti biasanya, tapi tak lama setelah itu Kania merasakan kehadiran para pemburu di sekitar kampus.


"Apakah mereka sudah gila siang bolong begini menyerang mahasiswi di kampus? Pada saat kami sedang berada di antara manusia yang lainnya?!" Kania bertanya-tanya dalam hatinya dia tidak mengerti kenapa banyak pemburu, bahkan aktivitas mereka terang-terangan dilakukan pada siang hari.


Di saat banyak manusia berada di sana, Royd memberikan tugas. Dia pura-pura menarik perhatian para murid hingga dalam sekejap pria itu mampu membuat mereka semua tertidur.


Lalu dia dengan Kania pergi, dia tidak ingin Kania ditemukan oleh para pemburu yang sedang mengepung.


"Kemana kamu akan membawaku? Royd mereka akan menemukanku tidak lama lagi." Ucap Kania sambil tersenyum menatap wajah raja pemburu yang terlihat sangat cemas sekarang.


"Tidak boleh! Kamu tidak akan aku biarkan terluka lagi Kania! Itu adalah terakhir kalinya kamu terluka! Aku janji padamu."


Kania hanya menganggukkan kepalanya memegang erat-erat tangan Royd. Mereka berdua pergi meninggalkan kampus melalui jentikan jemari Kania.


Mereka berdua berteleportasi menuju ke rumah, apartemen mereka berdua.


Sampai di sana Royd mengecup bibir tipisnya, memagut bibir gadis itu dengan lembut.


Kania memejamkan matanya, dia diam saja hanya menikmati cumbuannya sampai pria itu melepaskan seluruh pakaiannya membiarkan lidah Royd menari-nari di sekujur tubuhnya dan bermain lama di area sensitifnya.


Royd merebahkan tubuh mulusnya di atas sofa lalu menindih tubuh Kania membuka kedua pahanya lebar-lebar, Royd mengentak-hentak bermain dengan brutal membuat tubuh mulusnya terlonjak-lonjak ke belakang, mendorong pinggulnya bertubi-tubi membuat gadis itu tersentak ke belakang.


"Aaakkkhhh Royd... Mmhhhh... Ahhhh.."


Kania melingkarkan kedua kakinya pada pinggang pria itu. Menikmati sodokan-sodokan senjata yang lumayan besar ke dalam area terlarang miliknya.


"Braaaaakkk!" Para pemburu masuk menerobos, mereka melihat rajanya sedang sibuk bergumul.


"Kalian cari mati???! Cepat pergi!" Teriaknya sambil memagut leher Kania.


"Baik raja! Kami permisi." Mereka segera menarik diri keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Jadi, Puti vampir telah takluk pada raja, pantas saja watu itu dia tidak menghabisi nyawa kita!"


Mereka berdua tersenyum mendengar ucapan para pemburu tersebut, lalu melanjutkan permainan liarnya.

__ADS_1


"Royd.." Desah Kania tak tertahankan, gadis itu memagut bibir pria yang sedang sibuk memuaskan hasrat Kania.


"Hem.. " Bisiknya di telinga Kania.


"Akkhh.. akkkhh.. ahhhh.. pelan-pelan mmhhh.. akkkhhh.. ooouuhhh.." Royd menerjangnya bertubi-tubi, dia merasa puas melihat Kania memekik mendesah memagut bibirnya dengan lembut.


Royd menarik tubuh Kania lebih dekat dengan tubuhnya, memegangi kedua kakinya menopang dengan kedua lengannya, terus berayun cepat.


"Clak! Clak! Clak! Clak! Clak!" Sofa yang di gunakan sebagai alas mereka berdua ikut berderit-derit menahan gerakan cepat pinggul Kania yang terus terlompat-lompat ke belakang.


Lagi-lagi Royd menariknya ke depan tubuhnya.


"Akkhhh rooyyyd... Mmmmhhh... Akkhhh.. Kania melebarkan kedua pahanya dengan keda tangannya, wajahnya terus merajuk, agar Royd lebih gencar lagi mendobrak pintu area sensitifnya.


"Terus Royd.. akkhh.. terus.. akkhhh.. lebih cepat lagi.. mmhhh.." Kania sangat puas sekali, tubuh gadis itu terguncan-guncang hebat.


"Royd .. lagi.. akkhhh.." Kania memutar posisi tubuhnya, gadis memunggunginya berpegangan pada ujung sofa. Royd menciumi area sensitifnya dari bawah tubuhnya.


"Sayang.. akkhhh.. akkhhh.. " Kania mengangkat satu kakinya, melebarkannya.


Royd terus memagut sambil memilin benjolan kecil di depan wajah tampannya.


"Akkkhhh... Rooyd.. aku.. keluar... Akkkhhh!" Kania memekik, cairan kental miliknya jatuh membasahi wajah Royd yang masih sibuk memagut di area tersebut.


Royd memagutnya sampai bersih, lalu menelusupkan tubuhnya ke atas dari bawah melalui celah kedua paha Kania, lalu mendorong pinggul Kania ke bawah.


"Rooyyyd.. akhhh.." Kania kembali memekik karena Royd menghujamkan tombak senjata miliknya dari bawah pinggulnya. Membuat tubuh gadis itu terlompat-lompat ke atas.


"Royd.. akh akh.. akh.. akhh.. akkh.." Kania terus memekik di setiap tubuhnya terlompat-lompat ke atas. Tusukan benda tumpul tersebut terasa sampai ke ubun-ubun kepalanya.


Membuatnya terus menerus mendesah, dan memekik nikmat. "Ahhhhh.. mmmhhh.. oouuughh.. akkhhh!"


Permainan Royd yang kasar membuatnya terus merintih, dan meremas bahunya. Dua gundukan kenyal dadanya ikut terlompat-lompat ke atas saat Royd menusuk-nusuk area sensitifnya dari bawah pinggulnya.


"Rooyydd.. akkhhh aku tidak tahan.. akkkhhhh!" Kania kembali klimaks. Tapi Royd masih terus memainkan senjatanya mengobrak-abrik lahan terlarang milik Kania.


Bersambung...

__ADS_1


Tinggalkan like sebelum pergi vote juga ya untuk dukung author terus berkarya dan sampai jumpa di episode selanjutnya...


__ADS_2