Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Pesta


__ADS_3

"Huaaahhhh sudah pagi" Irna menggeliat di atas kasurnya. Rian sudah tidak berada di sebelahnya. Dia merasa nyaman karena pria itu tidak di sana. Irna kembali memastikan dengan menoleh ke sekitarnya.


Pria itu benar-benar tidak terlihat sama sekali. Gadis itu langsung merasa sangat lega.


Entah pergi kemana pria itu setelah semalaman bertengkar dengannya, Irna selalu berharap bisa menikmati hari bebasnya seorang diri. Sepanjang waktu menikmati hari-hari indahnya sendiri.


"Astaga! jam berapa sekarang?! aku bisa terlambat ke kantor!" Irna dengan langkah terburu-buru berlari ke kamar mandi, langkahnya mendadak terhenti menatap Rian yang sedang duduk di kursi meja makan.


Pria itu mengunyah sarapannya, sembari memeriksa berkas-berkas di atas meja. Pandangan Rian kemudian teralihkan ke wajah kusut Irna yang menenteng baju dan handuk yang menutupi kepalanya.


"Hum??" Bertanya kepada Irna kenapa melihatnya, lalu dia menunjuk arloji yang melingkari tangan kirinya menggunakan telunjuk kanan.


Irna terkejut lalu langsung menghilang di balik pintu kamar mandi. Setelan warna kuning cerah, dengan atasan berpita syal menghias indah leher mulusnya.


Irna mengoleskan lip balm warna peach favoritnya. Anting kecil bergelantungan dua bola kecil menggantung di telinga gadis itu.


Setelah bersiap-siap Irna mengenakan sepatu high heelsnya. Dia sudah bersiap hendak berangkat ke kantor.


Rian yang sedang berdiri di depan beranda bersandar di depan mobilnya sambil memeriksa berkasnya, mendengar hentakan langkah sepatu Irna, beralih memandangnya.


"Tak!" Berkas Rian terjatuh ke lantai.


"Ngapain bengong begitu?" Merunduk mengambil berkas Rian dan menyerahkan kembali padanya.


"Kamu mau ke kantor apa mau kencan?!" Dengan nada ketus.


"Ketemu teman lama." Ujarnya seraya menyeringai mengenakan kacamata hitamnya, mengibaskan rambutnya ke muka Rian. Tanpa perduli langsung masuk ke dalam mobil.


"Bukankah kamu akan bertemu klien hari ini?!" Tanya Rian padanya.


"Lusa." Jawab Irna pendek sambil melihat ke luar kaca jendela mobilnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu jadwalku?!" Irna balik bertanya dengan wajah curiga.


Irna masih belum mengenal dengan baik pria yang ada di sampingnya sekarang, bagaimanapun dia tidak mau langsung mempercayainya.


Jika mengingat dirinya hanyalah sebuah alat pertukaran di antara dia dan Fredian, dia ingin sekali mencabik-cabik wajah mereka berdua karena kesal.


"Oh, itu kemarin ada di meja, aku tidak sengaja melihatnya" Rian mencoba berkilah, mencari alasan agar Irna tidak mencurigainya.


Padahal sebenarnya Rian selalu menelepon ke kantor Irna mengecek jadwal melalui sekretaris Irna.


Pertanyaan Irna teralihkan dengan bunyi ponselnya.


"Triiingggg!Triiing" Ponsel Irna bergetar. Irna meraihnya dari dalam tas.


"Iya ini Irna.."


"Wah kamu Siska??!" Dengan senyum senang.


"Oke, aku pasti datang nanti. Byee!" Memutuskan panggilan telepon.


"Siapa? kelihatannya kamu bahagia sekali?"


"Oh, temanku Siska ulang tahun malam ini. Dia mengundangku sekaligus mau mengenalkan tunangannya padaku. Akhirnya gadis itu mendapatkan suaminya juga." Dengan bibir tersenyum riang.


"Dan teman lama yang akan kamu temui hari ini?" Tanya Rian lagi sambil melirik wajah sumringah di sampingnya itu.


"Oh itu Henry dan Dido, dia ingin membangun Restoran bersama dan memintaku untuk mendesain, eh tunggu! kenapa aku harus menjelaskan semuanya padamu!?"


Ujar Irna mendadak kembali ketus karena Rian mengajukan serentet pertanyaan padanya.


Sampai di kantor Irna turun dari mobil Rian. Gadis itu melangkah turun dengan perlahan. Rian membukakan pintu mobil untuknya.


Saat melangkah turun high heelsnya sedikit oleng hingga Rian segera meraih pinggangnya agar Irna tidak terjatuh di jalan.


Tatapan mata mereka berdua kembali bertemu.


Irna dengan kuat masih memegangi lengan Rian, seolah-olah takut pria itu tiba-tiba melepaskan pelukannya dan membuatnya terjembab ke jalan.


Irna perlahan-lahan berdiri, dan Rian membantunya dengan lembut.


"Nanti kalau sudah selesai hubungi aku, nanti akan aku jemput." Ujarnya pada Irna lembut di telinga Irna.


"Gak perlu, aku nebeng sama Henry ke tempat Siska sehabis kerja. Jadi aku mungkin pulang agak larut, kamu tidak perlu menungguku." Irna kemudian melambaikan tangannya sambil masuk ke dalam kantor.


Dari kejauhan Fredian melihat Irna turun dari mobil Rian dan berpelukan mesra saat turun dari mobilnya. Pria itu menggertakan giginya menahan marah. Kemudian mengejar mobil Rian.

__ADS_1


"Wuuut, Seeet, jrrrt!!" Membanting setir menghadang mobil Rian tepat di depannya.


"Akh! Ciiiiitt!" Rian mengerem mendadak. Bunyi rem mobil berdecit memekik di tengah jalan. Kepala Rian hampir terbentur kemudi.


Fredian keluar pintu mobilnya dengan wajah merah padam.


"Braaak!" Membanting pintu mobilnya.


"Keluar kamu!" Membuka pintu mobil Rian, menarik krah bajunya, menyeretnya keluar.


Tatapan matanya tertuju pada bibir Rian yang terluka.


"Apakah mereka sudah melakukannya, pria ini pasti memaksanya!" Bisiknya dalam hati. Pikiran Fredian mendadak menjadi liar dan ingin segera menghabisi dokternya itu.


"Jrooot! Ini untuk Irna!" Kepalan tinju Fredian melayang mengenai pipi kiri Rian, membuat darah mengalir dari sudut bibirnya.


Rian mengusap ujung bibirnya yang berdarah.


"Cih!" Meludah ke samping.


Fredian hendak memukulnya kembali namun Rian menangkap kepalan tinjunya. Menghempasnya ke samping.


"Kamu apakan dia?!" Fredian kembali menghardik menarik krah kemeja Rian.


Rian hanya tersenyum sinis menatap Fredian.


"Aku tidak melakukan apa-apa dengan mantan istrimu! jikapun kita melakukannya itu juga bukan urusanmu karena dia adalah istriku sekarang! dan kau adalah orang luar yang tidak perlu ikut campur di dalam urusan rumah tangga kami!" Menunjuk kasar dada Fredian dengan jari telunjuk.


"Oh ya kamu mau aku menunjukkan ini pada istriku?! dia pasti akan terkejut!" Tetawa mengejek menunjukkan foto di ponselnya pada Fredian. Di sana foto Fredian tengah bersama seorang gadis sedang makan malam di sebuah restoran, gadis itu bergelayut manja di dalam pangkuanya.


Fredian sangat terkejut.


"Kamu yang mengatur semuanya!? piciknya kamu! Kamu fikir Irna akan percaya padamu?! Lalu akan menerimamu jika kamu menunjukkan ini? Aku lebih mengenalnya dibandingkan kamu!" Ujar Fredian dengan gusar.


"Oh tidak, ini jepretan tidak sengaja karena kemarin aku berada di restoran yang sama denganmu, dan siapa gadis ini aku juga tidak mengenalnya." Rian dengan cuek meninggalkan Fredian.


Seusai kerja, Irna berdiskusi sejenak dengan kedua teman lamanya itu.


Henry memberikan tumpangan padanya untuk pergi ke Hotel dimana Siska merayakan ulang tahunnya.


Mobil sedan warna hitam itu merayap di tengah kegelapan malam. Beberapa jam kemudian mereka sampai, sedan Henry mesuk ke halaman sebuah hotel yang sangat megah dan mewah.


Siska melihat kedatangan teman lamanya itu, langsung berlari menghambur memeluknya. Irna tersenyum cerah menatap betapa bahagianya wajah teman lamanya itu.


Seorang laki-laki melangkah mendekat ke arah mereka. Siska segera menggamit lengan pria itu. Sembari mengenalkan kepada Irna.


"Ir, kenalkan ini tunanganku..." Ujar Siska sambil tersenyum riang menggamit lengan pria itu.


"Jleg!" Jantung Irna serasa dihujam pisau.


Wajah Irna mendadak memucat, tenggorokan Irna tercekat tidak bisa berkata apapun.


Jantungnya berdetak menahan perasaan pedih, serasa darahnya mendidih menahan luka di dalam hatinya kembali tersayat. Darah di dadanya kembali mengalir hangat, bercampur menjadi satu.


"Apa yang aku lihat ini? apakah aku sedang bermimpi buruk? tapi kenapa terasa nyata sekali sakitnya?" Bisik Irna dalam hatinya.


Bibir Irna mendadak terdiam dalam sekejap gadis itu menarik nafas berat.


"Jika aku menangis di sini, pasti akan sangat memalukan dan mengundang seluruh tamu untuk jadi tontonan gratis! aku harus menahannya, dan berpura-pura kuat! aku harus!" Bisik dalam hati Irna.


"Irna Damayanti.." Mengulurkan tangan pada pria itu.


"Fredian..." Balas pria itu sembari mengulurkan tangannya. Berjabat tangan dengan Irna.


Jika bukan karena Siska adalah teman baiknya, Irna sudah ingin menghancurkan acara malam itu.


Dengan susah payah mencoba tetap tersenyum sampai acara tersebut selesai.


Apalagi yang dia harapkan? sekarang dirinya adalah istri syah dari Rian Aditama. Dan sudah bercerai dengan pria yang bertunangan dengan sahabat karibnya itu.


"Aku benar-benar merasa putus asa dan hancur! aku menikah dengan orang yang aku cintai cuma sehari, lalu menjadi istri orang asing di hari berikutnya! dan sekarang orang yang aku cintai itu bertunangan dengan sahabat karibku sendiri." Ujar Irna dalam hatinya kembali.


"Ini Ir.." Siska tersenyum penuh misteri menyodorkan minuman ke arah Irna.


Tak sampai hati Irna menolaknya lalu langsung menenggak sampai gelasnya kosong.


Tak beberapa lama kemudian kepala Irna mendadak pusing. Henry melihat Irna dengan wajah hawatir.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ir?" Siska pura-pura hawatir pada sahabatnya.


"Dasar wanita licik!" Fredian menggeram dalam hati mengumpat Siska.


"Dia wanita iblis bermuka dua, dia tega melukai sahabat terbaiknya demi harta dan ambisinya. Dia tega menghujam pisau menorehkan luka di dada temannya sendiri." Gumam Fredian sambil meneguk anggur yang ada di tangannya.


"Ah tidak apa-apa, kamu lanjutkan saja acaranya Sis. Sepertinya migrain ku kumat lagi, aku ke toilet sebentar." Berjalan sempoyongan menuju toilet. Irna berpegangan pada dinding menuju ke toilet.


Fredian tanpa sepengetahuan Siska mengikuti Irna dari belakang.


Irna menyalakan kran air di westafel, mencuci tangannya. Sambil terus memijit kepalanya, pandangan matanya mendadak terasa agak kabur.


Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali berharap pandangan matanya kembali jernih, tapi tidak bisa.


Seseorang masuk ke dalam toilet berdiri di belakang punggungnya, memeluknya dari belakang.


"Siapa kamu? lepaskan aku!" Pria itu makin mempererat pelukannya dan tidak ingin melepaskan dirinya.


Irna mencoba melihat wajah pria itu dari pantulan cermin di hadapannya. Wajahnya nampak samar-samar di dalam cermin.


Wajah yang sudah lama tidak dia jumpai sejak kejadian yang membuat keduanya berpisah.


"Fredian!" Ujarnya terperangah melihat pada pria itu.


"Kamu ngapain di sini, cepat keluar temani tunanganmu. Dia akan salah faham jika melihat kita berdua di sini." Irna bersusah payah melepaskan pelukan hangat Fredian.


Fredian membalikkan tubuh Irna, mengangkatnya duduk di atas meja toilet. Menarik kepala Irna mencium bibirnya dengan kasar.


"Jangan Fred, lepaskan aku, kita tidak boleh seperti ini." Bisik Irna mencoba melepaskan diri dari pelukan Fredian


Irna mencoba melepaskannya. Namun Fredian malah menggigit bibirnya, membuatnya kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Irna memejamkan matanya perlahan dia adalah satu-satunya pria yang sangat dia rindukan. Fredian terus mencium bibirnya dengan lembut.


Irna masih mengharapkan pria yang ada di depannya saat ini. Dia masih sangat mencintainya dan tidak ingin berpisah dengannya. Tapi pada kenyataannya dia bukanlah siapa-siapa lagi di hadapannya.


Walaupun dia menyimpan cinta sejuta rasa yang mendalam tapi dia bukan suaminya lagi. Dia bukan siapa-siapanya lagi.


Dia ingin segera kabur dari pria di depannya saat ini. Tapi Irna tidak memiliki kekuatan untuk berlari menjauh darinya.


Kepala Irna masih sangat terasa pusing dan nyeri, lipstik Irna jadi berantakan, bibir Fredian pun sama berantakan terkena lipstik Irna.


Beberapa menit kemudian Fredian melepaskan ciuman bibirnya. Irna segera turun dari atas meja toilet. Fredian masih memeluknya dan tidak ingin melepaskannya.


"Lepaskan aku Fred.." Irna terus berusaha mendorong pria itu agar menjauh. Tapi Fredian masih terus memeluknya tanpa ingin melepaskan dirinya sedikitpun.


Dia tidak bisa melepaskan Irna lagi. Dia sudah sangat lama menantikan kebersamaannya dengannya. Gadis yang selalu hadir di setiap matanya memandang, gadis yang sangat dia harapkan dan tidak ingin dia lepaskan sekejapun.


"Jangan Fred." Ujar Irna sambil mendorong tubuh Fredian agar menjauh darinya. Tapi Irna tidak bisa menghalaunya, kepalanya masih sangat pusing dan nyeri.


Pandangan matanya mulai berkunang-kunang.


Gadis itu hanya bisa memukulnya pelan, dan mendorong perlahan. Fredian masih menatap lekat-lekat wajah Irna, dia tidak ingin kehilangan gadis itu untuk kesekian kalinya.


Irna menahan tangan pria itu, tapi sepertinya pria itu tidak mau menyingkirkan tangannya dari pinggangnya.


Nafas Fredian sudah tidak beraturan, dan saat hal itu akan terjadi Irna mendorong tubuhnya.


"Aku tidak bisa berdiri lagi, ah kepalaku sakit sekali." Irna berhasil mendorong tubuh Fredian agar menjauh darinya. Dengan langkah terhuyung-huyung Irna menuju ke pintu.


Dia harus kabur, jika tidak Fredian akan benar-benar melakukan itu padanya. Dia sekarang ini adalah istri Rian Aditama, bercumbu dengan pria lain sudah sangat fatal baginya.


Irna sudah tidak punya muka lagi untuk menatap dengan berani wajah suaminya itu. Dia merasa sangat bersalah dan tidak tahu harus berbuat apa untuk meminta maaf padanya.


Pakaian Fredian dan pakaian Irna sama berantakannya.


"Tok! tok! tok!" Seseorang mengetuk pintu toilet dari luar.


Irna dengan bibir dan baju berantakan berjalan membuka pintu. Dan ketika pintu itu terbuka.


"Kreeek, Plaaak!" Sebuah tamparan melayang mendarat ke pipi kirinya. Irna mengusap pipinya yang nyeri sekali.


Kepalanya juga sangat pusing, dia hampir jatuh jika tidak berpegangan dan bersandar pada Fredian yang berdiri di belakang punggungnya. Irna meremas jas Fredian sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan nyeri.


Fredian merasakan keanehan pada Irna, dia melihat gadis yang dia cintai itu berkali-kali mengerjapkan matanya sambil memijit pelipisnya menahan nyeri.


Gadis yang merupakan sahabat karibnya itu sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


bersambung...


Please bantu like dan view judul lainnya di profil, tinggalkan komentar 👉👉❤️😚😚 bantu Vote ❤️


__ADS_2