Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Misteri kotak perhiasan


__ADS_3

Tiga orang pelayan masuk membawa tumpukan berkas luar biasa banyaknya.


Irna melongo melihat berkas milik Fredian sebanyak itu, pria itu tengah serius bekerja.


"Kenapa melihat seperti itu?" Tanyanya sembari tersenyum melihat wajah Irna melongo.


"Aku tidak percaya jika kamu bisa juga bekerja dengan sempurna!" Ujarnya kemudian pergi mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas.


"Apakah wajahku terlihat berbeda dari biasanya?!" Tanyanya lagi.


"Ukh! Byur!" Irna tersedak mendengar pertanyaan pria itu.


"Ha ha ha! tidak ada yang berbeda! sama, wajahmu tetap sama seperti kemarin!" Ujarnya kemudian pergi tidur.


"Kamu tidak ingin menemaniku bekerja?" Berdiri di depan pintu kamar, melihat Irna menarik selimutnya.


"Aku bosan melihat berkasku di kantor, kenapa harus repot-repot melihat berkasmu juga!" Ujar gadis itu tanpa berpura-pura sedikitpun.


"Lihatlah dirimu, kamu bahkan tidak malu sedikitpun ketika sedang ada seorang pria berada di rumahmu. Kamu tidak takut aku melakukan hal yang mengejutkan dirimu??" Tanya Fredian merasa heran.


"Apakah kamu sebodoh itu? aku mengenalmu sudah bertahun-tahun, ketika kamu masih berusia sepuluh tahun. Kamu tidak pernah melakukan hal yang tidak masuk akal kecuali di dalam rumahmu." Menahan tawa menutupi bibirnya dengan selimut.


"Kamu yakin, kamu sangat mengenalku??" Tanya Fredian masuk kemudian menutup pintu.


"Kamu kenapa tiba-tiba menutup pintu? apa berkasnya sudah selesai ditanda tangani?" Tanyanya pada Fredian, semakin rapat menutup tubuh dengan selimut.


"Uh.. lelahnya... "Menggeliat, kemudian tanpa menunggu gadis itu mencak-mencak langsung berbaring di sebelahnya.


Menopang kepalanya menghadap ke wajah Irna. Menatap mata bening Irna dengan sepenuh hati.


"Kenapa melihat wajahku seperti itu?" Irna heran kenapa pria di sampingnya sedikit berubah.


"Aku hanya ingin menikmati waktu ini, dimana aku bisa leluasa melihatnya tanpa berebut dengan siapapun." Kembali tersenyum lembut ke arahnya.


"Hem.." Irna perlahan menutup matanya dan tertidur.


Fredian tersenyum melihat gadis itu sudah lelap di sisinya. Membelai rambut panjang Irna.


"Tidurlah dengan lelap, bangunlah esok hari. Tataplah cerah mentari, secerah senyummu. Jemputlah pagi dengan bahagia, hingga terhapuskan seluruh luka sebelumnya.. aku ingin melihat wajah yang tersenyum, bukan wajah yang suram dan penuh air mata... Cup!" Ucap Fredian.


Fredian meninggalkan sebuah ciuman di keningnya, kemudian beranjak berdiri kembali menyusun berkasnya di atas meja.


Gadis itu membuka kelopak matanya, air mata mengalir dari kedua sudut matanya. "Dia sudah merelakan diriku, namun tetap menjagaku.. terima kasih, aku berterima kasih padamu.." Bisiknya pelan.


Irna bangun menuju ke kamar mandi, ketika melirik jam dinding waktu menunjukkan pukul satu dini hari.


Di ruang tengah Fredian masih mencermati berkasnya.


"Apa aku membangunkanmu?" Tanyanya seraya tersenyum ketika Irna melongok ke arahnya.


"Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi tadi." Ujarnya pada pria itu.

__ADS_1


"Sepertinya aku mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu?" Ujarnya pada Irna.


"Masa sih?" Irna pergi melihat ke depan.


Wajah pria yang beberapa malam lalu di kantornya, pisau tertancap pada perut pria itu.


"Bagaimana dia bisa datang kemari?" Bisik Irna tidak mengerti.


"Kamu tidak melihatnya?" Tanya Irna pada Fredian.


"Tidak, aku masih sangat sibuk menyelesaikan ini, mungkin itu Rian, Reyfarno, atau Reynaldi." Ujarnya tanpa melihat ke arah Irna.


"Bukan! itu bukan mereka!" Sahut Irna dengan nada serius, membuat Fredian berdiri seketika.


Fredian melangkah menuju pintu, melihat dari kaca jendela.


"Pria itu sebelumnya ada di kantorku, tapi aku tidak tahu bagaimana dia bisa menemukanku di sini?" Ujar Irna tidak mengerti.


"Apa belakangan ini kamu menemukan sesuatu, atau mendapatkan sesuatu yang bukan milikmu. Pemberian dari seseorang mungkin?" Tanya Fredian padanya.


"Tidak ada, ah aku ingat Reynaldi pernah memberikan padaku sekotak perhiasan beberapa minggu lalu" Ujar Irna jujur.


Wajah Fredian mendadak berubah.


"Apa kamu cemburu? bahkan kamu juga memberikan satu untukku, yang aku kembalikan satu-satunya adalah milik Reyfarno" Ujar Irna menahan tawa.


"Coba bawa kemari semuanya!" Perintahnya pada gadis itu.


"Pria itu datang, sebelum kalian memberikan bunga dan perhiasan, tapi sebelum hari itu aku sudah menerima satu kotak dari Reynaldi. Tepat pada malam setelahnya, hantu itu mendatangi kantorku! dan malam itu Rian melihatku, kamu juga ke sana malam itu." Jelasnya pada Fredian.


"Coba lihat kotaknya, ukiran ini unik sekali." Ujar Fredian mengamati kotak perhiasan tersebut dengan seksama.


Irna kembali membuka kotaknya, perhiasan yang ada di dalamnya nampak biasa saja.


Kemudian Irna melihat ke cermin, di dalam kotak menempel pada tutupnya.


"Ada yang aneh dengan tutupnya Fred!"


Gadis itu menggeser cermin di dalam tutup kotak perhiasan tersebut.


Cermin terjatuh ke atas meja, di sana ada foto keluarga.


"Reynaldi!" Ujar Irna dan Fredian bersamaan.


Foto di sana adalah ayah Reynaldi, Ibunya, dan Reynaldi sendiri.


Dan wajah pria di depan rumah Irna, sama dengan pria di dalam foto, yang tidak lain merupakan ayah Reynaldi.


"Melihat orang di depan sepertinya dia meninggal dengan tidak wajar." Ujar Irna menatap ke wajah Fredian.


"Pria itu sengaja datang kemari sepertinya memang ingin menyampaikan sesuatu padamu.." Ujar Fredian pada Irna.

__ADS_1


"Ayo kita keluar bersama-sama!" Ujar Fredian sembari menggenggam tangan Irna.


Irna menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku, aku terlambat mengerti. Apa yang ingin anda sampaikan padaku?" Tanya Irna pada pria di depan rumahnya.


Irna menyerahkan kotak tersebut pada pria itu. Pria itu menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum.


"Aku meninggal dengan cara dibunuh, tubuhku dibuang di danau. Malam itu aku sedang dalam perjalanan bisnis, aku hendak menemui putraku satu-satunya."


"Tapi beberapa orang menghentikan mobilku. Mereka adalah anggota keluarga Anggara, adik kandungku sendiri. Dialah yang merebut perusahaan dengan cara kotor."


"Terima kasih telah menemuiku, aku bisa pergi dengan tenang sekarang. Temukan danau Liboa, mayatku masih ada di sana."


"Sampaikan pada Reynaldi selama ini aku selalu bersamanya dan melindunginya, sejak kotak itu ada padanya, keluarga Anggara masih ingin melenyapkannya untuk mengambil alih segalanya, Reynaldi adalah ahli warisku satu-satunya.. aku tahu dia telah memilihmu, ketika kotak itu ada padamu."


Setelah menjelaskan semuanya, pria itu perlahan lenyap dalam gelap malam.


Fredian meninggalkan Irna mematung di pintu. Irna kemudian melangkah masuk melihat ke arahnya.


"Tengah malam di datangi calon mertua, setelah sepanjang pagi di datangi anaknya." Ujar Fredian menggoda Irna dengan santai.


"Oh, aku tidak pernah melihat kedua orang tuamu?" Tanya Irna kemudian.


"Mereka tinggal di Jerman." Sahutnya enteng.


"Mereka tidak mengenalku bukan?" Tanya Irna penasaran.


Fredian membuka laptopnya, dia memamerkan chatting dirinya dengan kedua orang tuanya.


Ada banyak foto Irna dan dirinya semasa taman kanak-kanak. Dan ketika dia dirawat di rumah Fredian yang merupakan awal kembali pertemuan mereka.


"Kamu mengirimkan surat nikahmu juga pada mereka?!" Tanya Irna terkejut melihat foto akta nikah.


"Hem" Fredian tersenyum mengangguk.


"Mereka menunggu pesta pernikahan kita, namun begitu banyak hal yang terjadi. Dan aku kehilanganmu setelah itu." Jelasnya pada Irna sambil tersenyum sedih.


"Maafkan aku.." Ucap Irna sembari menghapus air matanya yang menetes tiba-tiba.


"Kenapa kamu begitu sedih? aku tidak suka melihat air matamu." Memeluk tubuh Irna membiarkan gadis itu terisak dalam dekapannya.


"Itu salahku, bukan salahmu. Jangan menangis lagi.." Fredian membelai rambut Irna, membuat gadis itu semakin kencang melepaskan suara tangisnya.


"Kenapa, kenapa kamu dulu jahat sekali padaku, kamu bahkan mengacuhkanku ketika aku pergi ke kantormu?! kamu malah memeluk wanita lain! Huaaaaaaaaaaaa!!" Teriakan tangisnya kencang sekali sambil memeluk Fredian.


"Tapi kenapa kamu baru marah sekarang? bukankah sudah sangat terlambat?" Tanya Fredian sambil mengusap air mata Irna.


"Aku tidak mungkin marah saat itu, karena aku masih menjadi istrinya Rian! bukankah aneh jika aku marah padamu saat itu? jadi aku akan marah sekarang! huaaaaaaaaa! huaaaaaa! huaaaaaaaa!!" Ujar Irna kembali menangis dengan sangat kencang.


"Bagaimana caranya aku bisa membuat gadis ini diam? suara tangisannya sangat kencang sekali." Tanya Fredian dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2