
Karin melangkah mendekati mereka berdua, melihat Karin Irna dan Fredian segera menyingkirkan piring dan gelasnya meminta para pelayan untuk membawanya pergi dengan cepat. Mengingat kebiasaan wanita cemburu, melemparkan makanan atau minuman pada mereka berdua.
Irna tidak beranjak dari pangkuan Fredian, dia enggan sekali melepaskan momen manjanya itu. Dia ingin berlama-lama bersama suaminya setelah sepanjang hari berada di rumah sakit.
"Presdir meetingnya sudah siap." Seorang karyawan pria datang sambil melaporkan jadwal pagi itu.
"Nira bisa menggantikanku hari ini," Kembali mengecup bibir Irna di depan karyawannya, membuat wajahnya berubah merah dan buru-buru undur diri dari depan Fredian.
Karin dengan gemas menghentakkan kakinya di lantai. "Fred! kita sudah bertunangan! apa yang kamu lakukan dengan wanita istri orang lain ini!?" Sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Dia wanitaku! aku tidak perduli wanitaku istri siapa..." Fredian merayapi pangkal paha mulus Irna membuat Irna kembali mendesah menggigit lehernya.
"Akkkhhh..." Pekik Irna karena jari tengah pria itu kembali menggelitik area sensitif miliknya.
Karin menangis kecang sekali berlari keluar meninggalkan mereka berdua, bercumbu di restoran Resort. Seluruh tamu di stop oleh lima penjaga, mereka berdiri berjajar di depan pintu restoran.
Seluruh pelayan di tahan di dapur, sampai Presdirnya menuntaskan kegiatannya bersama istrinya.
Irna terlentang di atas meja dengan kedua kaki berada di atas bahu Fredian, hujaman-hentakan maju mundur membuat suara meja berdecit berderit menggeser lantai restoran.
Leher mulusnya menjadi sasaran ciuman dan gigitan mesra Fredian.
"Kita sudah hampir sepanjang hari, akkkkhh.." Kembali memekik merasakan lidahnya bermain liar di atas dua bongkahan dada mulusnya.
"Aaakhh, Irnaaa..!" Lenguhan panjang Fredian mengakhiri permainan panas selama satu jam.
"Aku rasa kepalaku sudah tidak bisa berfikir jernih lagi." Irna masih duduk di tepi meja membetulkan letak pakaiannya.
Kemudian beralih mengancingkan shirt Fredian, dan juga memakaikan dasinya. Irna menarik lengan Fredian, untuk melihat pukul berapa sekarang.
"Sudah jam satu lebih.." Bisiknya di telinga suaminya, Fredian masih memeluknya erat. Sampai parfum suaminya benar-benar menempel di sekujur tubuhnya.
"Aku mencintaimu Irna..." Mengecup bibirnya untuk kesekian kalinya.
"Aku juga, mencintaimu.." Membalas pagutan bibirnya.
"Aku ingin berlama-lama hari ini, bolehkah aku mencurimu di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit?" Mendesah di telinga Irna, kembali membuka lebar-lebar paha mulusnya bersiap mendaratkan bibirnya ke sana.
"Akkhhhhh... Freddd... mmmhhh," Irna mengusap punggung Fredian, merasakan desiran pagutan di area sensitifnya.
Fredian berhasil membuat Irna meraih klimaks dengan permainan bibirnya. Gadis itu mengerang, meremas bahu kekarnya.
"Di mana Presdir?" Terdengar suara Rian sudah berada di luar restoran.
"Kamu meminta Rian datang ke Resort?" Tanya Fredian buru-buru menarik kepalanya dari kedua paha Irna, kemudian membersihkan bibirnya yang sudah basah kuyup dengan kertas tissue.
Irna membetulkan letak celana dalamnya, kemudian melompat turun dari atas meja. "Hahahaha, aku lupa tadi pagi dia bilang ingin menjemput istri publiknya kemari."
Rian menerobos masuk melalui penjaga pintu, dia melihat Fredian berdiri di belakang punggung Irna melambaikan tangannya ke arahnya.
"Sudah waktunya berangkat!" Menunjuk jam dengan jari telunjuknya di pergelangan tangannya.
"Kapan kamu akan pulang malam ini?" Menempel pada Irna enggan melepaskan pelukannya.
"Agak malam, kamu bisa meneleponku nanti." Irna melangkah tertatih-tatih menuju ke arah pintu, dimana Rian sedang berdiri di sana menunggunya.
"Berapa lama dia meringsakmu? lihat kedua kakimu gemetar seperti ini?!" Menatap tajam ke arah Fredian pura-pura mengambil haknya sebagai suaminya.
Tanpa menunggu lama Rian mengangkat tubuhnya membawanya menuju ke dalam mobilnya. "Rian turunkan aku!" Teriakannya tidak dipedulikan oleh pria itu.
"Jaga dia untukku!" Teriak Fredian padanya. Rian menoleh seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan meronta-ronta, kita bisa terjembab!" Ujarnya lirih di telinga Irna.
Seluruh karyawan kembali terkejut melihat pemandangan aneh di depan mata mereka. Nira dan Maya saling bertukar pandang, kemudian menggelengkan kepalanya sambil nyengir.
Mungkin dari sekian orang itu, hanya Maya dan Nira yang benar-benar tahu.
"Kenapa kamu tiba-tiba menggendongku?" Bertanya padanya ketika pria itu memakaikan sabuk pengaman pada pinggangnya.
"Hanya untuk mempersingkat waktu!" Tersenyum manis menatap wajahnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang pelayan tergopoh-gopoh menuju ke arah mobil mereka berdua.
Irna segera menurunkan kaca jendela mobilnya, posisi Rian masih sangat dekat dengan wajahnya. Jika orang lain melihat itu, mereka pasti berfikir dua orang itu sedang bermesraan. Padahal Rian sedang membetulkan letak tali pengaman pada pinggangnya.
"Nona, Presdir meminta saya untuk menyerahkan ini." Pelayan itu menyerahkan jas dokter miliknya, serta tasnya.
"Terima kasih." Irna mengambil barang-barang miliknya dari tangan pelayan tersebut.
Rian memutar mobilnya, melaju menuju rumah sakit. Saat tiba di parkiran rumah sakit, Irna menutupi gaun setengah dadanya dengan jas dokter miliknya. Gadis itu kembali memoles sedikit wajahnya dengan make up dari dalam tasnya.
Kemudian mereka berdua bersama-sama masuk ke dalam rumah sakit. Kedua kaki Irna gemetar, gadis itu berhenti sejenak menghentikan langkahnya. "Kenapa?" Rian menoleh ke arahnya, melihat kedua kaki gadis itu bergetar.
"Berapa banyak sebenarnya kalian melakukannya hari ini!" Mengangkat tubuhnya lagi, membawanya masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Irna duduk di sofa ruang kerja Rian. Pria itu mengambil suntikan, dan cairan di injeksi.
"Apa yang kamu lakukan? Riaannnnn! akkkkhhhh!" Teriaknya saat Rian menyuntikkan obat ke lengan kirinya.
Teriakan Irna terdengar sampai keluar ruangan, membuat karyawan yang sedang berlalu lalang berfikir negatif dan tertawa-tawa.
"Kamu tidak akan bisa melakukan operasi dengan kedua kaki gemetar begini!" Ujarnya sambil mengusap lengan Irna bekas suntikan obat tadi.
"Bagaimana apa kakimu sudah baikan?" Tanyanya sambil menariknya mencoba untuk berdiri.
"Ah, iya, sepertinya sekarang sudah lebih baik dari yang tadi." Tersenyum.
"Aku kembali ke ruanganku dulu, ini aku bawa sekalian." Mengambil berkas di atas meja kerja Rian.
"Obatnya benar-benar membantu!" Tersenyum menuju ruang kerjanya.
"Dokter Kaila ini jadwal operasi hari ini." Fani mengikuti Irna masuk ke dalam ruangan kerjanya. Irna melihat jadwal operasi tersebut sejenak, dan juga nama pasien yang tertera di sana. Gadis itu mengernyitkan keningnya, melihat nama tersebut.
"Ada apa dokter?" Tanya Fani sedikit terkejut melihat Irna tidak segera menandatangani berkas tersebut.
"Ah tidak ada, nama orang yang tertera di sini mirip dengan teman lamaku." Tersenyum kemudian menandatangani berkas tersebut, lalu menyerahkan kepada Fani.
Setelah kepergian Fani, gadis itu keluar dari dalam ruangan kerjanya. Dia menuju ruang ganti. Irna bersiap-siap di ruang ganti untuk melakukan operasi. Dia sedang mencuci kedua tangannya di westafel bersama ke empat rekannya.
"Sudah, melalui berkas rincian hasil pemeriksaan medis."
"Dia sepertinya sedang jatuh cinta, lalu mengalami kecelakaan pagi ini."
"Jadi dia terkena penyakit cinta maksudmu? hahaha, ada-ada saja." Irna tersenyum mendengar ucapan Lusi.
Mereka masuk ke dalam ruangan operasi, Irna memulai operasinya. Operasi tersebut berjalan sekitar dua jam.
"Kenapa tidak ada keluarga pasien sama sekali? lalu siapa yang menandatangani surat persetujuan operasi tadi pagi?" Tanya Irna pada Frans seraya memegang data pasien, setelah operasi.
"Itu sekretarisnya dokter, keluarga pasien semuanya tinggal di Perancis. Dia tinggal sendirian di London." Irna manggut-manggut mendengar penjelasan dari Frans.
"Apa ada masalah?" Rian kebetulan melewati mereka berdua di depan ruang operasi, pria itu baru saja keluar dari rumah sakit.
"Tidak ada." Irna tersenyum menjawab pertanyaan darinya. Kemudian menyerahkan berkas tersebut kepada Frans kembali.
Gadis itu melangkah menuju kantin membeli beberapa camilan, untuk mengganjal perutnya. Dia memilih salad buah, dan greentea tanpa gula.
Melihat Irna duduk sendirian Aldy membawa nampannya, duduk di kursi bersebelahan dengannya. "Sungguh canggung sekali, biasanya dia tidak pernah duduk dengan siapapun. Kenapa sekarang malah duduk di sebelahku?!"
"Bagaimana hasil operasi tadi dokter?" Aldy bertanya seraya mengunyah makanannya.
"Biasa saja." Sahut Irna pendek.
"Ya, dokter Kaila Elzana tidak pernah mengalami kegagalan dalam operasinya. Bukankah itu sedikit aneh?" Menyeringai ke arahnya.
"Apa kamu terlalu senggang? hingga punya waktu untuk mencari keburukan orang lain? urus saja pasienmu dengan benar! sebelum keluarga mereka ada yang komplain karena kamu tidak becus mengurus pasien!" Irna melemparkan tissue di atas meja, kemudian berdiri meninggalkan Aldy.
Pria itu mendengus kesal, seraya meneguk air dalam gelasnya. "Bisa-bisanya dia berkata sekasar itu padaku!" Gerutunya lagi.
Di sisi lain..
Kania sengaja membolos hari itu, gadis itu masih belum bisa menunjukkan wajahnya di depan Royd Carney. Dia seharian berada di dalam kamarnya menelungkupkan wajahnya di atas bantal.
__ADS_1
"Tok! tok! tok! Kania? kamu ada di dalam? buka pintunya?" Terdengar suara ketukan pintu, dari luar kamarnya. Dan suara orang yang tidak asing, setiap hari terdengar di telinganya.
"Ngapain sih dia malah kesini?! Terserah deh, aku mau tidur saja." Menutupi telinganya dengan bantal.
Setelah satu jam berlalu, Kania terjaga dari tidurnya. Gadis itu melihat ke arah jendela yang terbuka di balkon kamarnya. Desau angin senja perlahan-lahan masuk ke dalam kamarnya.
Kania beranjak dari tempat tidurnya, mengambil handuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Gadis itu mencomot makanan dari dalam lemari es, serta membawa sekaleng minuman ringan. Kemudian melangkah menuju balkon menikmati matahari senja.
"Kenapa kamu tidak pergi ke kampus? sengaja ingin sembunyi dariku?!" Royd berada di balkon sebelah menopang dagunya menatap wajah Kania sambil tersenyum.
"Uhkk! Byuuuuur!" Mendengar pertanyaan itu Kania langsung tersedak, apalagi melihat senyuman dari bibir pria yang kemarin hampir empat jam bergumul dengan dirinya.
Kania buru-buru masuk kembali ke dalam kamarnya. "Bruuuuuk!" Terdengar suara berisik dari arah balkon, seperti seseorang yang sedang melompat ke balkon milik Kania.
"Jangan-jangan pria itu???!" Kania buru-buru berlari ingin menutup pintu kamarnya yang terhubung ke balkon.
"Sialan!" Umpatnya ketika melihat Royd menghembuskan asap rokoknya seraya bersandar di ambang pintu balkon kamarnya.
Kania mengambil satu setel pakaian lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah berganti pakaian dia menyambar kunci mobilnya, juga tasnya.
Royd menatap wajah Kania Aditama, gadis itu terburu-buru keluar dari dalam kamarnya, melihat itu Royd masih tetap menyunggingkan senyuman manis.
Kania sendiri tahu, dia tidak bisa kabur kemanapun dia pergi. Pria itu pasti bisa menemukannya, "Menyebalkan sekali!" Gerutunya sambil mengaduk rambutnya di dalam mobilnya.
"Jika mama tahu aku bolos ke kampus hari ini, bisa tamat riwayatku!" Gerutunya lagi.
"Tenang saja, aku tidak menulis absen pada daftar hadirmu hati ini." Pria itu entah sejak kapan melompat turun dari lantai atas, dia tiba-tiba sudah berada di dalam mobil Kania, rebahan di kursi belakang.
'"Pantas saja dia mendapat gelar raja pemburu!" Gumamnya lagi.
Kania membenturkan kepalanya di stang mobilnya. Merasa ruang lingkupnya begitu sempit.
"Kenapa kamu terus menerus mengikutiku kemanapun aku pergi? aku bosan sekali melihat wajahmu sepanjang waktu!" Ucapnya terang-terangan.
Satu lompatan, Royd sudah duduk di kursi sebelahnya.
"Semakin kamu menghindar dariku, semakin aku tergila-gila padamu." Mencium helaian rambut panjang Kania.
"Aku masih tujuh belas tahun! apa kamu tidak malu mengerjai anak kecil sepertiku!? plaaak!" Berteriak sambil menepis tangan Royd dari rambutnya.
"Sadarlah! kamu itu dosenku! do sen ku! Tuan Royd Carney!" Dengan gemas bercampur kesal mengepalkan kedua tangannya, meremas jari-jari tangannya sendiri.
Ingin sekali dia mencabik-cabik pria di sebelahnya itu, tapi jika dia melakukannya Royd pun tanpa ragu sama sekali memilih menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada Kania. Mati hidupnya diberikan seutuhnya pada gadis itu.
"Aku juga tidak tahu, aku sangat tertarik denganmu. Aku tahu aku dosen di kelasmu, juga status keluargaku yang bertentangan dengan keluargamu. Aku juga sadar cintaku tidak akan berjalan mulus." Masih tetap tersenyum manis menatap wajah Kania.
Royd mengulurkan tangannya mengusap lembut pipinya, Kania mendongakan kepalanya ke atas seraya memejamkan matanya.
"Jika aku ingin berpacaran, aku akan memilih pria sejenis dengan kami. Bukan manusia, apalagi pemburu!" Ujar Kania menatap tajam kena arah Royd.
"Clark! Brakk!" Royd memutar pengendali kursi, hingga membuat posisi kursi Kania menjadi rebah ke belakang. Pria itu setengah duduk menatap tajam wajah Kania yang berada di bawah tubuhnya.
"Mau apa kamu?!" Kania kelabakan melihat Royd menatap tajam penuh amarah padanya. Ada perasaan takut perlahan menelusup ke dalam hatinya.
Saat dia mendekatkan wajahnya, Kania berusaha keras menahan dadanya. "Tidak! aku tidak mau! jangan lakukan lagi! aku tidak mau!" Teriaknya histeris memukuli dada Royd.
Royd menghentikan keinginannya, dia mengelus kepala gadis itu. Baru kali itu dia melihat Kania ketakutan padanya. Hatinya terasa terkoyak sakit sekali.
"Kenapa kamu setakut ini padaku? apakah wajah tampanku ini terlihat sangat mengerikan?!" Bertanya dengan wajah sungguh-sungguh, seraya memegangi kedua tangan Kania yang tadinya memukuli dadanya.
"Jangan melakukan hal itu lagi! itu sangat mengerikan, aku tidak mau melakukannya." Melengos menatap ke arah lain.
"Apa kamu bilang? mengerikan? aku mendengar desahan nafasmu sampai aku tidak bisa tidur gara-gara mengingatnya sepanjang malam! Dan juga caramu membalas..."
"Cukup! aku tidak mau dengar lagi!" Kania menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.
Bersambung...
Note: Like dong...??? Vote yang banyak, biar up makin banyak!!! Thanks for reading!
__ADS_1