
Irna masuk ke dalam mobilnya, masih diam di belakang kemudi menatap layar ponselnya.
Wajah Irna menjadi cerah melihat foto yang dikirim oleh suaminya. Sore itu Fredian sedang menikmati makan bersama kliennya, dia mengambil selfie sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Irna.
Dia berfoto bersama makanan yang ada di atas meja bersama seluruh rekan kerjanya.
Irna terus mengulum senyum, dan berhenti saat seseorang mengetuk kaca mobilnya. Dia melihat Arya berdiri di samping mobil.
Irna menurunkan kaca jendela di sebelahnya.
Kemudian dia mengambil selfie, wajah Arya ikut terfoto. Kemudian dia mengirimkan fotonya kepada Fredian.
Fredian tersedak melihat foto di layar ponselnya, Irna di dalam mobilnya. Dan pria itu di luar mobil melambaikan tangannya.
"Apa dia sedang meledekku?!" Fredian mengaduk makanan di dalam mangkuknya. Wajahnya terlihat kesal. Kemudian dia bertanya pada rekan di sebelahnya.
"Bagaimana menurutmu foto ini?" Tanyanya pada seseorang di sebelahnya.
Pria itu terkejut dan takut sekali salah bicara. Lalu dia bilang.
"Istri anda terlihat sangat bahagia tuan Presdir!"
"Maksudnya dia bahagia bersama orang ini?" Tanya Fredian kembali karena tidak mengerti.
"Bukan, maksud saya dia sangat gembira karena sedang mengirim pesan kepada anda!" Ujarnya dengan suara tergagap.
"Ah begitu ya?" Tanyanya lagi sambil mencermati foto Irna kembali.
"Tapi kenapa rasanya sangat tidak nyaman melihat foto ini ya?" Tanyanya kembali pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu mengetuk kaca jendela mobilku?" Tanya Irna masih duduk di belakang kemudi, tanpa membuka pintu mobil.
"Apakah aku bisa menemuimu besok di kantor?" Tanyanya pada Irna.
"Besok aku harus pergi ke Cabang NGM, jadi mungkin tidak bisa." Memakai kacamata hitamnya.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi?" Tanya Irna tidak mengerti.
"Aku hanya ingin mendiskusikan proyek lagi." Ujarnya sambil berusaha untuk tersenyum.
"Ah, tunggu aku di kantor pagi-pagi, aku sisakan waktu satu jam untukmu besok. Jangan terlambat!" Ujar Irna kemudian menyalakan mesin mobilnya.
"Apakah sore ini kamu sibuk?" Tanyanya lagi.
"Ada apa dengan sore ini? aku hanya akan pulang ke rumah."
"Maukah kamu menjenguk ibuku?" Ucapnya memohon.
"Ibumu?!" Irna melepaskan kacamata hitamnya, mematikan mesin kemudian turun dari mobil.
"Ibuku ingin aku segera membawa seseorang pulang ke rumah, tapi aku tidak memiliki seseorang."
Irna sudah bisa menebak maksud dari ucapan Arya.
"Aku tidak bisa, aku sudah menikah!" Gadis itu naik mobil dan meninggalkan Arya berdiri menangis di sana.
"Kenapa kamu tidak mendengarkan lanjutkan perkataanku, maksudku aku tidak memiliki seorang teman sama sekali...!"
"Apakah wanita itu terlalu percaya diri?! dia masih jauh di bawah level ku!! Huh! lagi pula sangat mudah bagiku mendapatkan wanita! tapi aku selalu kesulitan mendapatkan teman!"
Irna kembali ke rumah, mendapati Fredian sedang berkacak pinggang di ruang tengah. Mondar-mandir gak jelas.
Irna menutup pintu kemudian berjalan ke dapur mengambil air minum.
"Astaga!" Irna terkejut melihat Fredian melotot ke arahnya.
"Kenapa kamu berwajah masam?" Tanya Irna tidak mengerti.
"Ini maksudnya bagaimana?" Menunjukkan layar ponselnya.
"Oh itu Arya, yang kemarin sama-sama di lift." Ujar Irna santai karena memang tidak ada apa-apa di antara mereka berdua.
"Dan kenapa dia ikut foto di sini?" Fredian menunjukkan kembali layar ponselnya.
"Ah dia mengetuk pintu mobilku, saat aku akan pulang, katanya besok ingin mendiskusikan tentang pekerjaan lagi di kantor." Ujar Irna lagi sambil meneguk air.
"Hanya itu??" Tanyanya lagi mencermati wajah Irna hawatir gadis itu berbohong.
__ADS_1
"Ya hanya itu, apa lagi memangnya?" Memalingkan wajahnya meneguk air minum lagi.
Fredian pergi ke kamarnya, tidur mendahului istrinya. Dia memunggungi Irna.
Irna hanya memeluk punggungnya.
"Apakah dia marah? padahal aku benar-benar tidak ada hubungan dengan pria ini? apa yang harus aku lakukan melihat wajah dinginnya itu?" Irna bingung menggigit ujung selimutnya, kemudian dia tertidur.
Fredian melihat Irna tertidur, lalu dia bangkit memeriksa ponsel Irna, di sana lebih banyak terdapat foto Fredian.
Dia tersenyum, begitu juga panggilah telepon lebih sering telepon dari kantor dan telepon darinya.
Perlahan meletakkan ponsel Irna di atas meja kembali.
"Kenapa tiba-tiba memeriksa ponselku?!" Irna berdiri menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku hanya ingin melihat foto di sana." Ujar Fredian.
"Bukan, bukan itu, kamu tidak percaya padaku!?" Setelah berkata demikian Irna mengambil jaketnya dan kunci mobil lalu pergi keluar rumah.
"Aku tidak pernah melihat ponselnya atau pun mencak-mencak ketika dia menerima klien wanita, kecuali kliennya mencari masalah dengannya.." Gerutu Irna di dalam mobilnya.
Irna menuju rumah lamanya sendiri. Gadis itu membuka kunci pintu rumah.
"Huf! akhirnya aku sampai di rumah lamaku kembali." Ujarnya sambil menyelonjorkan kaki duduk di sofa.
Kemudian dia merasa sedikit aneh, semuanya terlihat rapi dan bersih. Juga lampu menyala di dalam kamar.
Irna mengendap-endap melihat apakah ada orang di sana.
Ternyata benar ada seorang pria tidur di kamar miliknya.
"Apakah aku harus melihatnya atau tidak? tapi aku penasaran siapa yang mau repot-repot merawat rumah lamaku? lalu tidur di tempat tidurku??"
Irna berjalan mendekat mencoba melihat seseorang yang sedang tidur memunggunginya. Irna sudah sangat dekat, dan hendak melihat wajahnya.
Akan tetapi tiba-tiba pria itu menarik tangannya hingga dia jatuh menimpanya.
"Akh!" Irna memekik karena keningnya terbentur kening pria tersebut.
"Rian!" Teriaknya sambil memijit keningnya sendiri.
Lalu pria itu tersenyum, bangkit duduk, keningnya sendiri juga berdarah karena benturan terlalu keras.
"Kenapa kamu tiba-tiba datang kemari? rumah yang baru apa tidak nyaman?" Tanyanya pada Irna.
"Ya karena ini rumahku!" Ujar Irna berbohong, dia tidak ingin Rian tahu kalau dia sedang marah dengan Fredian.
"Lah kamu sendiri kenapa ada di sini? apa rumahmu terlalu sempurna?!" Tanyanya balik.
"Aku di sini setiap hari untuk menunggu seseorang, dan akhirnya malam ini aku bertemu dengannya." Ujarnya sambil tersenyum menatap wajah Irna.
"Ah aku ingin ke kamar mandi sebentar." Ujar Irna pada Rian.
"Kenapa di saat seperti ini, dia malah mengungkitnya? aku merasa bersalah." Ujar Irna di dalam kamar mandi.
Irna membuat teh hangat lalu duduk di ruang tengah.
Irna menghirup tehnya, Rian melangkah duduk di depannya menatap gadis itu menikmati tehnya.
Kebiasaan Rian mengambil teh Irna kemudian meneguknya. Irna diam saja melihatnya.
Mereka berdua duduk berhadapan saling diam, saling bertukar pandang.
"Aku bingung harus mengatakan apa padanya." Bisik Irna pelan.
"Kalau bingung ya jangan bertanya, cukup diam melihatku saja." Ujarnya sambil meneguk teh hangat Irna kembali.
"Kalau kamu ingin tidur di kamar, tidurlah. Aku akan tidur di sini." Menunjuk sofa di sebelahnya.
Irna berjalan masuk ke dalam kamar, membuka lemari. Baju-bajunya Rian semuanya berada di dalam sana. Irna mengganti bajunya dengan baju tidur seperti biasanya.
Dia lupa jika Rian adalah pria normal, seperti pria lainnya.
"Kamu sejak kapan pindah tinggal di sini?" Irna berjongkok mengambil cangkir teh di depan Rian hingga membuat pria itu melihat dadanya, yang seharusnya tidak boleh dilihatnya.
Tiba-tiba pria itu gugup dan berlari ke dalam kamar, menghindari Irna.
__ADS_1
"Aneh sekali, kenapa dia tidak menjawab tapi malah kabur dariku?" Ujar Irna tidak mengerti.
Irna melangkah masuk ke dalam kamar, berniat untuk mengambil bantal dan selimut.
Selimut ada di lemari, tapi bantalnya ada di sebelahnya.
Irna merangkak mengambil bantal di sebelah Rian, tanpa sengaja menyentuh lengan pria itu.
"Apa yang kamu lakukan?!" Tanya Rian menarik tubuh Irna hingga gadis itu berbaring di bawah tubuhnya.
"Aku hanya ingin mengambil bantal di sebelahmu!" Ujar Irna.
"Aku pria normal! aku ini pria yang normal!" Teriak Rian di depan wajah Irna.
"Lalu?" Tanya Irna tidak mengerti.
"Kamu memamerkan tubuhmu! dan sengaja bersentuhan denganku!" Ujarnya putus asa.
"Aku sama sekali tidak berniat untuk menggodamu." Ujar Irna sungguh-sungguh.
Irna mencoba bangkit, tapi tubuhnya tertahan di bawah tubuh Rian.
Pria itu malah sengaja merobohkan tangan yang menyangga tubuhnya, menimpa Irna.
"Rian? tubuhmu berat!" Irna terus beringsut mencoba untuk menjauhkan tubuh Rian.
Sekarang dia adalah istri Fredian.
Tiba-tiba dadanya berdegup kencang, dia tidak bisa mendorong tubuh yang ada di atas tubuhnya.
"Ya sudah aku akan berhenti meronta. Aku akan tidur, tapi aku kesulitan bernafas jika tertindih begini." Ujarnya lagi, tapi Rian malah merebahkan kepalanya di atas bahu Irna.
"Rian kita sekarang berteman dan hubungan antara kita sangat baik, jika Fredian tahu kita seperti ini, bagaimana menurutmu?!"
"Dia juga mengambilmu saat kamu masih jadi istriku. Dan aku hanya menempel tapi kamu terus menerus protes." Ujarnya dengan nada kesal.
"Rian geser tubuhmu, aku tidak bisa bernafas." Irna menoleh ke bahu dimana Rian merebahkan kepalanya, tanpa sengaja bibirnya menyentuh pipinya.
Rian menahan kepalanya dan membuat bibir mereka bersentuhan. Irna ingin menyingkirkan kepalanya, tapi lengan pria itu lebih kuat menahannya.
"Apa yang aku lakukan sebenarnya!" Ujar Irna kembali meronta.
"Rian! ini tidak boleh terjadi!"
"Akh! tidaaaaaak!"
Rian tidak dapat mendengar teriakkan Irna, dan semuanya terjadi begitu saja.
"Aku pasti mati kalau Fredian tahu hal ini, dia akan melemparkan diriku ke laut jadi makanan ikan!" Ujar Irna setelah empat jam berlalu.
Irna beringsut bangun memegangi pinggulnya.
Rian mencekal lengannya, mencium punggungnya.
"Aku tidak akan mengatakan apapun pada suamimu!" Bisiknya di telinga Irna.
Irna tidak tahu harus bicara apa, gadis itu hanya berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Rian.
"Tidurlah di sini, besok pagi bukankah kamu akan pergi ke kantor cabang NGM bersamaku?" Menarik lengan Irna memaksanya berbaring di sebelahnya.
"Rian aku akan pulang ke rumah, lepaskan tanganku."
Rian merengkuhnya dalam pelukan, mencium bibirnya, tidak mau mendengar teriakkan Irna.
Dan akhirnya terlelap, entah beberapa lama dia tertidur. Saat bangun Rian sudah tidak ada. Rumahnya sangat sepi dan sunyi.
Irna melihat ke arah jam di dinding sudah jam enam pagi.
Irna melihat ke arah tubuhnya di balik selimut.
Lalu tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha ha ha! Bukankah ini jaket yang aku pakai ketika meninggalkan rumah semalam? Ternyata aku hanya bermimpi!! Syukurlah....! Hampir saja aku akan mati terbunuh!"
"Tapi pinggangku rasanya sakit sekali, jika cuma mimpi kenapa sakit begini?!" Gerutu Irna kesal.
Rian tersenyum mendengar teriakan Irna, dia sejak tadi berdiri di beranda rumah Irna melangkah santai ke jalan raya menghentikan sebuah taksi. Lalu naik ke dalam dan berlalu.
__ADS_1
"Ini begitu nyata, kenapa dia berfikir itu mimpi? hanya karena aku memakaikan jaketnya kembali, agar aku tidak melihat lekukan tubuhnya. Karena membuatku ingin menerkam ke arahnya." Ujar Rian dalam hati tersenyum penuh misteri.
Bersambung...