Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Kepalsuan


__ADS_3

"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapinya! Ahk! aku kesal sekali!" Teriak Irna dari dalam kamar mandi, masih membersihkan badannya.


"Halo Presdir, apakah malam ini anda jadi mengambil alih rapat di Reshort?" Tanya sekretarisnya melalui telepon.


"Iya, nanti malam aku akan mengurusnya. Jam berapa rapatnya akan dimulai?" Tanyanya lagi.


"Jam enam sore, untuk lokasinya saya akan mengirimnya nanti." Mengakhiri telepon.


Sejak tinggal di Jerman Fredian mengurus Reshort yang ada di sana.


Ekor mata Fredian melihat Irna yang baru keluar dari dalam kamar mandi, gadis itu melangkah masuk menuju ruangan kerjanya.


Dia melihat kalender mengambil dari dalam lacinya, meletakkan di atas meja. Ada beberapa angka yang berada dalam lingkaran merah.


"Hari ini adalah waktunya." Ujar Irna dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu mendongakan kepalanya, menahan air matanya yang akan mengalir.


Fredian menatap Irna dengan rasa curiga.


"Kamu mau kemana?" Tanya Fredian saat Irna mendandani Alfred.


"Aku ada urusan penting, tentang pekerjaan. Aku akan segera kembali, jika kamu ingin tinggal tinggalah aku akan pergi dulu."


Setelah menyuapi makan Alfred Irna membawa putranya tersebut pergi ke suatu tempat.


Fredian mengikutinya dari kejauhan.


Irna menghentikan mobilnya di sebuah restoran, dia menggendong Alfred masuk ke dalam menghampiri seorang wanita yang telah menunggunya.


Irna masih berdiri menundukkan kepalanya, terlihat gadis itu mengusap air matanya yang terus merembes membasahi pipinya.


Fredian masih terus mengamati mereka berdua, wanita paruh baya itu mengambil Alfred dan menggendongnya.


"Mama?!" Ujar Fredian dalam hatinya.


"Ingat janjimu padaku! aku tahu dia sekarang ini berada di rumahmu! aku tidak suka jika dia berada berlama-lama di rumahmu yang kumuh itu. Dia putraku satu-satunya dan kamu hanyalah wanita rendahan yang sama sekali tidak cocok dengan keluarga kami!"


"Saya akan mengingatnya Nyonya Derrose, saya akan mengusirnya keluar dari rumah saya secepatnya."


"Hari ini aku akan membawa cucuku, besok pagi kamu jemput dia di sini!" Ujar wanita itu kemudian pergi meninggalkan Irna sambil terus menciumi pipi Alfred yang tembem.


Irna menatap Alfred di gendongan neneknya, Irna kembali menangis meraba pipinya yang basah.


Irna meraih kursi dan duduk di sana dalam waktu yang cukup lama. Dia terus terisak dan tidak bisa berhenti.

__ADS_1


Fredian melihat semuanya, Fredian ingin berlari memeluknya dan meredakan air matanya. Tapi dia menahan dirinya, dia biarkan gadis itu sendirian saat ini.


Irna sampai di rumah membawa beberapa bahan makanan, wajahnya nampak layu.


Tatapan matanya kosong dan datar.


Fredian menunggunya di ruang tengah.


"Dari mana saja kamu?" Ujar Fredian mencoba bertanya.


"Dari swalayan."


"Mana Alfred?"


"Aku menitipkan dia, karena aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Ujarnya sambil melangkah ke dapur memasukkan buah ke dalam kulkas.


Setelah selesai Irna masuk kembali ke dalam ruang kerjanya menekuni berkas di atas meja.


Irna memencet nomor telepon seseorang, kali ini dia harus benar-benar membuat Fredian pergi sesuai dengan janjinya.


"Halo Rian!" Ujar Irna sengaja mengeraskan suaranya.


"Bisakah kita hari ini bertemu!"


Rian beberapa kali memang mengunjungi Irna, dia selalu hawatir pada gadis itu. Dan dia juga memegang penelitian yang kebetulan di adakan di Jerman saat tiga tahun Irna tinggal di sana.


Mereka lebih sering bertemu beberapa bulan sekali.


Fredian bersiap-siap untuk rapat sore itu. Irna juga bersiap-siap untuk bertemu dengan Rian.


Irna mengurai rambutnya, dan mengenakan gaun yang dulunya sering dipakainya. Dan memasang sepatu high heels pada kakinya.


Fredian meliriknya sekilas, tapi enggan berkomentar. Irna juga sedikit bingung karena biasanya pria itu selalu cerewet.


Tapi semenjak dia pulang tadi Fredian tidak banyak bicara.


"Apa dia kira aku tidak tahu rencananya, semua ini karena mamaku. Dia ingin menjauhkanku dari Irna. Ya lakukanlah sesukamu aku akan mengikuti permainannya"


Rian datang dan memarkir mobilnya, Fredian hanya diam melihat Irna yang melangkah keluar menghampiri Rian kemudian menggamit lengannya.


Rian nampak kebingungan melihat Irna berdandan dan tiba-tiba menggamit lengan menyandarkan kepalanya di atas bahunya.


Fredian melihat wajah bingung Rian.

__ADS_1


"Akting mereka buruk sekali!" Ujarnya kemudian menuju mobilnya sendiri mendahului mereka meninggalkan rumah.


Melihat Fredian pergi Irna memegangi pinggangnya sambil menghirup nafas lega.


"Ah syukurlah dia sudah pergi."


"Dia tinggal di sini? sejak kapan?" Tanya Rian pada Irna.


"Sejak kemarin, dia terus membuat keributan di rumahku." Ujar Irna sambil membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam, diikuti Rian yang duduk di belakang kemudi.


"Kamu benar-benar tidak sibuk kan hari ini? maaf aku mengejutkanmu tiba-tiba." Ujar Irna sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil menutup kedua matanya.


"Iya, untungnya tidak sibuk sekali." Pria itu tersenyum menatap Irna kemudian menyalakan mesin mobil pergi meninggalkan rumah Irna.


"Maukah kamu berpura-pura menikah denganku?!" Ujar Irna dengan wajah serius.


"Bukannya kamu sangat mencintai priamu itu, kenapa tiba-tiba malah mengajakku pura-pura menikah?" Rian sama sekali tidak mengerti.


"Agar dia muak denganku dan meninggalkanku!" Sergah Irna dengan wajah serius.


"Apa kamu tidak ingat kejadian tiga tahun lalu dan setelah itu kamu hidup sendiri penuh masa sulit?!" Ujar Rian menatap wajah Irna kembali.


"Aku ingat, aku ingat dengan sangat jelas." Timpal Irna lagi.


"Kamu sengaja ingin mengulanginya?" Tanya Rian dengan sangat terkejut.


"Wanita itu memintaku untuk mengembalikan anak satu-satunya dan juga cucunya! memangnya apalagi yang bisa kuperbuat untuk membuatnya segera pergi?!" Irna meremas kepalanya sendiri dengan sangat kesal.


"Kapan kamu akan memberikan hatimu padaku dengan sungguh-sungguh?" Ujar Rian sambil tersenyum.


"Jangan mengajakku bercanda sekarang! jika dipikir-pikir lagi kamu ikut mengambil andil membuatku hancur tiga tahun lalu walaupun itu kesalahanku dan kamu yang merawatku semasa hamil sampai aku melahirkan anaknya." Ujar Irna sambil menatap ke arah Rian yang duduk di sebelahnya.


"Masalahmu adalah kamu tidak pernah menganggapku seorang pria! bagaimana kamu bisa sekonyol itu?! aku tetap seorang pria! dan kamu harus selalu waspada!" Ujar Rian dengan wajah serius, walaupun dia tidak pernah menyentuh Irna lagi setelah tiga tahun lalu.


"Ya aku sangat konyol dan gila selalu berfikir bahwa kamu adalah seorang gadis! ha ha ha!" Irna mencoba tertawa untuk menutupi kesedihannya.


Rian hanya datang untuk mengunjungi Irna dan Alferd selama tiga tahun saat Irna tinggal di Jerman, kemudian memberitahu Fredian agar kembali pada Irna saat mereka bertemu di club malam itu.


Irna tidak pernah menyerahkan hatinya pada Rian. Sama sekali tidak pernah.


Akan tetapi Rian tidak tahu jika penyebab Irna menjauh sejak awal semuanya sudah diatur oleh keluarga Derrose.


Sejak gadis itu melakukan kesalahan bersamanya, untuk menjauhkan Irna dengan Fredian, keluarga Derrose melakukan segala cara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2