
"Apa yang terjadi?!" Tanya Irna pada Rian, pria itu hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu apa yang terjadi.
Irna segera mengambil sarung tangannya untuk memeriksa mayat tersebut. Saat menyentuh tangannya terlihat jelas pembunuhan yang terjadi pada pengawal Rian tersebut.
"Pemburu!" Ujar Irna sambil menatap wajah Rian dengan cemas.
"Kalian masuklah ke dalam, biar aku yang menghadapinya." Irna tersenyum pada putrinya dan Rian secara bergantian.
"Tapi Irna! aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu!" Rian meraih istrinya ke dalam pelukannya.
"Tidak, kamu selalu lupa siapa diriku." Irna melepaskan pelukannya, wanita itu melangkah ke dalam sebuah ruangan bawah tanah.
Dia memakai topeng dan jubah hitamnya lalu melesat keluar dari rumah keluarga Aditama.
Saat melihat pertempuran para pengawal Irna terjun ke bawah, berada di tengah-tengah.
Jemari tangan kanannya memegang sebuah pisau tajam. Pisau kristal bulan yang berasal dari kelopak bunga kristal miliknya.
Irna menerjang masuk ke dalam pertempuran, gadis itu berdiri di tengah.
Dengan satu jentikan jarinya datang beratus-ratus pasukan iblis membantai para pemburu yang menyerang rumah keluarga Aditama.
Fredian mendapatkan sinyal bahaya dari salah satu pengintai. Sudah lama Fredian meminta pengintai untuk menjaga keselamatan Irna dari jauh.
Karena dia tertahan tidak bisa mendekatinya, Fredian juga tidak ingin bertarung dengan para pasukan iblis kemudian pria itu memilih mengawasinya dari jauh.
Fredian satu detik kemudian sudah berada di belakang punggungnya, memakai jubah dan topeng sepertinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Irna padanya.
"Apalagi selain untuk melindungi wanitaku!" Sergahnya sambil menghadang para pemburu yang telah mengepung mereka.
"Jangan gila! ini berbahaya!"
Irna menyabetkan pisaunya mengenai leher para pemburu yang menerjang ke arahnya.
"Dasar wanita keras kepala!"
Fredian melenting pada ketinggian seratus meter lalu sekali lompat berhasil menghabisi seluruh pemburu.
Irna masih terpaku di tempatnya berdiri, gadis itu melihat Fredian sedang berjalan santai menuju ke arahnya.
Dia ingat bagaimana perjuangan mereka bertahun-tahun lalu, detik-detik nyawa mereka berdua terancam oleh mahluk iblis di bawah perintah Wilson.
Pria itu mendekat ke arahnya berdiri berhadapan dengannya, Fredian melepaskan tudung kepala Irna. Rambut Irna meriap tertiup angin malam meliuk-liuk di atas pipinya.
Fredian tersenyum menatap wajah Irna, mengusap lembut pipinya.
"Datanglah padaku, aku akan menunggumu." Bisiknya di telinganya.
"Kenapa aku malah berfikir kamu menganggapku seperti wanita panggilan."
Gerutu Irna sambil memasukkan kembali pisau bulan miliknya.
"Bukankah takdir tidak bisa dirubah? siapa sebenarnya pasanganmu." Menarik Irna ke dalam pelukannya.
Irna menepuk punggungnya,
"Aku memiliki Kania sekarang. Apakah menurutmu takdir masih berlaku di antara kita?"
"Aku tidak peduli dengan itu. Yang aku tahu, aku tidak bisa menahan diri lagi."
Fredian mencium keningnya lalu satu detik kemudian menghilang.
Rian berdiri tidak jauh dari tempat Irna, dia melihat dan mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.
Irna tahu Rian sejak awal sudah ada di sana, mengawasinya. Pria itu takut terjadi hal buruk menimpa istrinya.
Rian segera menelepon para pengawal untuk membersihkan mayat di sana.
"Kenapa kamu bersembunyi di balik pohon? apa kamu ingin menangkapku berselingkuh lagi?" Irna tersenyum padanya.
Gadis itu sudah tidak memakai jubah dan topengnya. Gaun biru muda cantik berkilauan tertimpa cahaya bulan membalut kulit tubuhnya.
"Aku tidak berfikir seperti itu, aku tak ingin kehilanganmu di tangan pemburu."
Bisiknya sambil menggamit pinggangnya mengajak Irna masuk kembali ke dalam rumah.
Royd Carney mematung di tempat agak jauh dari keberadaan mereka. Dan itu diketahui setelah Rian melacak darimana para pemburu itu berasal.
Kediaman Aditama tidak bisa tersentuh sejak Irna tinggal di sana.
Beberapa kali Rian diserbu penjarah data vaksin. Irna yang menghabisi semua penjarah itu.
Rian sangat terkejut melihat Irna bisa berubah kejam dan bengis, padahal waktu itu dia sedang mengandung dua bulan.
Kekuatan dalam dirinya tidak berkurang sama sekali. Bahkan bertambah seiring waktu berjalan.
"Irna, kenapa kamu tidak pernah membalasku saat aku menuduhmu karena cemburu?" Pertanyaan Rian membuat Irna tertawa.
"Ya, aku hanya akan pergi dari hadapanmu saat kamu merasa muak padaku. Jika aku membunuhmu karena marah bukannya itu terlihat seperti seorang yang menganiaya anak kecil. Tidak imbang sama sekali."
"Aku sangat mencintaimu..." Rian mencium bibirnya.
"Pa.. apa kalian tidak melihatku di sini?" Kania berkacak pinggang melihat papanya memagut bibir Irna tanpa melihat sekitar.
"Hahaha! aku pikir kita sendirian di sini." Wajah Rian berubah merah lalu melangkah menuju ruang kerjanya.
"Ma, apa papa selalu hangat seperti itu setiap hari?"
Kania mengeryitkan dahinya, dia bingung karena papanya mendapat julukan pria es di NGM.
__ADS_1
"Papamu pria yang lembut, tapi dingin." Irna segera meneguk segelas air putih di atas meja untuk menghindari pertanyaan putrinya.
"Ma, apa Nira pernah kemari?" Mendadak Kania merubah topik pembicaraan. Nira adalah putri Alfred dengan Sandira Erlando. Gadis itu dua tahun di atas usia Kania.
"Nira? ah dia memegang Reshort angel di Kanada. Pekan depan mungkin akan kembali ke London."
"Ah sayang sekali waktu itu aku ada ujian." Keluhnya sambil memeluk pinggang Irna.
Irna melepas kacamata Kania.
"Kenapa ma?"
"Tidak cocok. Kania tidak boleh sembunyi dengan kebodohan, dan penampilan. Kita akan menghadapi musuh bersama-sama. Kania harus melindungi diri, tidak boleh menyerah oke?" Gadis itu mengangguk mantap.
Satu pekan berlalu, Kania telah kembali ke kampus. Gadis itu memakai baju pilihan mamanya, penampilan dirinya berubah lagi seperti sedia kala.
"Apa dia ingin membuka jati dirinya? menarik sekali." Gumam Royd Carney.
Setelah pelajaran selesai Kania bergegas keluar dari dalam kelasnya. Gadis itu melangkah menuju parkiran.
"Tunggu sebentar!" Royd memegang tangan Kania menggenggamnya erat.
Tatapan matanya tajam menakutkan.
"Pak Roy, apa yang bapak lakukan? saya harus segera kembali."
"Aku hanya ingin bicara denganmu. Apa ada yang salah?"
"Tidak ada yang salah, hanya saja jika anda memegang lengan saya pasti akan timbul salah faham. Juga gosip di kampus."
Jelas Kania sambil memegang tangan Royd pada lengannya.
"Duaakk! Akk!" Seseorang memukul kepalanya dari belakang dengan buku tebal.
"Siapa yang berani memukulku?" Berbalik ke belakang menatap seorang gadis cantik tapi terlihat tomboy.
"Nira Derosse?" Gumamnya lirih sambil mengusap kepalanya yang benjol.
"Nira!" Teriak Kania sambil berlari memeluk gadis tomboy yang harusnya dia panggil kakak.
"Kak Kania!" Sahutnya sambil membalas pelukannya.
"Kalian saling kenal? Bagaimana mungkin cewe tomboy sepertimu?" Royd tidak mengerti sama sekali hubungan antara dua gadis di depannya itu.
"Kamu sudah mengunjungi mama?"
"Pastilah! nenek dan kakek selalu jadi yang pertama!" Cetusnya semakin membuat Royd menggila.
"Mamanya, adalah neneknya? hubungan macam apa itu?!" Terus menggerutu sambil mengusap kepalanya.
"Jangan sentuh kakakku jika kamu tidak ingin kehilangan tanganmu! dasar pria brengsek!" Hardik Nira pada Royd.
Royd Carney pernah menjadi juniornya di kampus Nira. Gadis itu selain meraih kejuaraan study manajemen, juga meraih kejuaraan di bidang kedokteran.
Akan tetapi Fredian juga membutuhkan Wakil Presdir untuk mengurus Reshort miliknya di Kanada. Pria itu memilih Nira sebagai penerusnya
Alfred putranya sudah berkecimpung mengurus kantor kepolisian pusat di Jerman.
"Iya aku tidak akan mengulanginya lagi." Royd segera pergi dari hadapan Nira. Gadis itu tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Sudah banyak orang yang di tahan gara-gara menyinggung gadis itu, atau mengganggunya.
"Kapan Nira menikah?" Tanya Kania saat mereka sedang berada di sebuah minimarket.
"Hahaha, aku belum memikirkan itu. Pria selalu berlari ketika melihatku. Apa wajahku terlihat menakutkan?!"
Tanyanya sambil mengerjapkan matanya.
"Itu aneh, Nira sangat cantik.. mungkin mereka takut patah hati?"
"Bukan patah hati tapi patah tulang! hahahhahha!" Serunya disusul suara gelak tawa.
"Hai cewek!" Sapa seorang pria berdiri di ambang pintu melambaikan tangannya.
"Aku mengajaknya kemari." Jelas Nira padanya. David adalah putra kedua Alfred adik Nira.
Kania hanya menganggukkan kepalanya untuk menyapa saat David menatap ke arahnya.
David sudah bekerja menjadi dosen, kali ini sepertinya dia akan mengajar di Jerman. Dia memilih tinggal bersama ayahnya.
"Boleh aku bergabung dengan kalian?" Tersenyum sambil melangkah ke arah mereka berdua.
Setelah membeli beberapa barang mereka bertiga duduk-duduk di sebuah kafe.
Kania tersenyum mengambil tiga cangkir kopi panas dan meletakkan di atas meja. Mereka bertiga duduk mengitari meja.
"David rencananya mau mengajar di mana?"
"Kelasmu!" Ujarnya sambil nyengir.
"Bohong ya?"
"Jangan salah! dia sebenarnya sudah bekerja di rumah sakit bersama nenek di London satu tahun." Jelas Nira sambil menyodok lengan adiknya.
"Wahh keren! saking banyaknya rumah sakit papa, Kania jadi tidak tahu kalau David bekerja di London."
"Kenapa rasanya aneh sekali, David mengajar Kania?"
"Hahahaha, iya lucu sekali. Hubungan kita maksudnya." Seloroh Nira sambil meneguk kopi di cangkirnya.
"Kania pernah ke rumah papa belum?"
__ADS_1
"Kak Alfred sepertinya jarang di rumah, dan Kak Sandira lebih sering berada di perusahaan Rossdale." Gumamnya sambil menatap kosong lalu meneguk kopinya.
"Aku tidak bisa membayangkan kalian pasti sangat kesepian saat masih kecil. Karena itu kalian memilih untuk tinggal di London bersama mama."
Ujar Kania sambil nyengir, sejak kecil mereka bertiga selalu bersama-sama.
"Nira berapa lama tinggal di Jerman?" Tanya Kania padanya.
"Cuma tiga hari, karena harus ke London lagi menemui kakek di Reshort."
Kania manggut-manggut, mengingat nama Fredian. Dia sangat dingin padanya, padahal Kania sangat mengaguminya.
Kania tahu setiap pria itu menatap wajah Irna, wajah penuh kerinduan. Wajah penuh cinta. Kania sendiri tidak mengerti kenapa mamanya mendapatkan cinta dari dua pria sekaligus.
Dari Rian Aditama dan juga dari Fredian Derosse. Dia tahu jika sebelumnya mamanya menikah dengan Fredian.
"Hubungan yang rumit." Gumam Kania sambil nyengir.
"Kania mau ikut?" Nira tersenyum melihat gadis kecil itu termenung sambil melamun.
"Hem, Kania dari London pekan lalu." Sahutnya sambil menatap wajah Nira.
"Dan kamu?" Beralih menatap wajah David.
"Aku harus mengajar di kelasnya!" Sahutnya segera.
"Yahhhh, sendirian lagi deh." Pura-pura merajuk.
Pertemuan mereka berakhir saat malam sudah mulai menarik selimutnya. Nira dan David mengantarkan sampai di depan apartemen.
Kania berjalan masuk ke dalam apartemen miliknya. Saat mencoba membuka kunci seseorang memegang tangannya.
"Siapa?" Gadis itu menoleh melihat Royd Carney berdiri memegangi tangannya.
"Apa pria ini sudah gila?" Bisiknya lirih.
"Apa kamu bilang baru saja? aku gila? pria tampan sepertiku kamu bilang gila?" Merapikan rambutnya dengan sepuluh jarinya.
"Tingkahnya mirip dengan paman Arya, aku hampir tidak percaya jika pria ini berasal dari keluarga Carney." Gerutunya geleng-geleng kepala menarik tangannya dari genggaman Royd.
"Kenapa kamu kemari?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Aku ingin menemuimu."
"Untuk apa?" Tanya Kania lagi sambil berkacak pinggang.
"Aku hanya ingin melihatmu!" Ujarnya sambil menggaruk keningnya.
Kania mengulurkan tangannya menyentuh kening Royd. Pria itu merasakan keanehan pada perubahan detak jantungnya.
"Keningmu panas. Pergilah ke dokter." Ujar Kania sambil nyengir menatap ke arahnya.
Kania tahu pria di depannya itu sedang menahan gejolak di dalam hatinya. Dia dengan sengaja membelokkan arah.
"Aku tidak sakit!" Tolaknya segera.
"Lalu? aku harus masuk ke dalam. Tubuhku lelah sekali. Selamat malam! Duk!" Kania membuka pintu seraya melangkah masuk, tapi tertahan saat pintunya hendak di tutup kembali.
"Akh! braaakkkk!" Royd menerobos masuk dan menghempaskan tubuhnya di balik pintu menahan kedua tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya gugup, pria di depannya itu tidak bergeming sama sekali.
Kania mendengar suara nafas Royd tidak beraturan. Saat pria itu mendekatkan wajahnya dia tahu bahwa Royd ingin mendaratkan ciuman.
"Duaakkk! braaakkkk!" Kania segera menginjak kakinya, lalu melemparnya keluar dari dalam apartemen miliknya.
"Astaga! Dosen itu benar-benar sudah tidak waras!" Gerutu gadis itu lagi.
Bayangannya kembali melintas di dalam benaknya. Saat pria itu menangkap tubuhnya ketika jatuh di bawah tangga.
Tapi ditepis lagi dengan pesan papanya agar menjaga jarak dengannya.
"Akh sialan!" Geram Royd sambil masuk ke dalam lift.
Keesokan harinya..
Kania sudah bersiap-siap hendak pergi ke kampus. Saat keluar pintu dia melihat Royd Carney sudah berdiri di depan pintu.
"Ngapain kamu kemari?" Kania terkejut bersandar di depan pintu apartemennya.
"Aku tinggal di sebelah." Ujarnya santai sekali, kemudian tersenyum.
"Kenapa? apa kamu terkejut? kita akan bertemu setiap hari sekarang. Kania Aditama." Menyentuh pipinya dengan jemari tangannya.
"Plaaakkk!" Kania menepis tangannya ke samping.
"Kenapa kamu sangat membenciku? coba berikan alasanmu! braaaak!" Teriaknya sambil menatap tajam mengurung Kania di antara kedua lengannya.
"Karena kamu gila!"
Kania tersenyum sinis menatap matanya tanpa rasa takut. Satu detik mata Kania berubah bersinar merah berkilat-kilat.
Royd segera mundur menjauh, dia seperti tersambar petir melihat fenomena barusan.
"Dia gadis yang bisa menghabisi nyawaku, tapi kenapa rasa itu bertentangan dengan kenyataan! akh! menyebalkan sekali!"
Royd begitu putus asa mengaduk rambutnya dengan kasar.
"Dadaku terus berdebar-debar saat melihatnya sejak pertama kali. Dan itu sangat tidak terkendali, sepertinya aku bisa gila jika tidak melihatnya sehari saja."
Bergumam di atas tempat tidurnya menatap ke langit-langit kamarnya.
__ADS_1
Kania sudah sampai di kampus, dia bertemu David saat memarkir mobilnya. Kemudian mereka masuk ke dalam bersama-sama.
Bersambung....