Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Remember


__ADS_3

30 Juni Eropa..


Seorang gadis berdiri dengan sweater warna coklat muda, rambutnya di gelung ke atas. Gadis itu sedang menatap butiran salju yang terus turun tanpa henti hingga membuat bukitan-bukitan di atas dedaunan pohon di luar sana.


"Apakah kamu tidak merasa dingin?" Menyelimuti punggung gadis itu dengan selimut tebal.


Kemudian memeluknya erat dari belakang punggungnya sambil mendaratkan sebuah ciuman di belakang kepalanya.


Gadis itu masih diam mematung menatap salju, tatapan matanya menyatakan bahwa dirinya ikut membeku seperti es di luar sana.


Pria itu masih memeluknya erat, ikut menatap salju di luar, melalui kaca jendela rumahnya.


"Kenapa tidak menjawab? apakah ada hal lain yang kamu pikirkan?" Membalikkan tubuhnya menghadap ke arahnya sambil memegang kedua pipinya.


Gadis itu mendongakan kepalanya menatap pria di depannya sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


Dia memeluknya dengan hangat kemudian meletakkan kepalanya, bersandar pada dada bidangnya.


Pria itu mencium keningnya, air matanya kemudian meleleh tanpa sadar.


"Kenapa kamu tiba-tiba menangis? apakah aku membuatmu sedih?" Tatapan mata jernihnya terlihat tidak mengerti sama sekali kenapa pria itu menangis tiba-tiba.


Gadis itu mengulurkan jemari lentiknya untuk mengusap butiran bening yang membasahi di kedua pipinya.


Pria itu menuntunnya duduk di sofa di depan perapian untuk menghangatkan tubuhnya. Gadis itu duduk di atas pangkuanya memunggunginya.


"Berapa lama usia pernikahan kita?" Pertanyaannya menghapus keheningan yang sudah berlangsung selama dua jam.


"Tiga tahun." Masih memeluk erat pinggang istrinya, memandang ke arah perapian di depannya.


Gadis itu terdiam, dan tidak berkata apa-apa lagi.


"Kenapa aku tidak merasakan kehangatan sama sekali? jika kita memang benar-benar telah menikah selama tiga tahun, dia tidak pernah menjamah tubuhku selain memeluk dan menemaniku." Gadis itu bertanya-tanya di dalam hatinya.


Keesokan harinya..


"Kaila? apa kamu sudah siap sayang?" Pria itu tersenyum seraya melangkah mendekati Irna. Gadis itu sedang mengancingkan mantelnya di depan cermin.


Dia melangkah mendekat, lalu Irna memakaikan syal pada lehernya.


"Wah! apakah kamu yang merajutnya? ini nyaman sekali. Terimakasih." Tersenyum lembut kemudian mencium keningnya.


Gadis itu tersenyum cerah lalu menggamit lengannya keluar dari dalam rumah. Saat mereka melangkah keluar seorang wanita paruh baya bersama pemuda berdiri di luar rumahnya.


"Arvina..." Bisik pria itu lirih.


Alfred berlari memeluk papa angkatnya dan juga Irna. Mereka membatalkan acara untuk pergi hari itu, kemudian masuk kembali ke dalam rumah.


Arvina dan Rian duduk di ruang depan, sedang Irna masih berada di dapur membuat camilan serta coklat hangat.


"Apa kamu menikah dengannya? kenapa tidak memberikan kabar sama sekali ke London!?" Meremas rok biru yang dia kenakan sambil membelalakkan matanya menatap wajah Rian.


"Dia hilang ingatan, dan aku tidak sempat memberikan kabar padamu. Situasinya sangat mendesak juga tidak ada rencana sama sekali. Aku bilang padanya kalau kami sudah menikah selama tiga tahun." Jelas Rian pada istrinya.


"Kamu anggap aku ini apa?" Arvina mulai tidak bisa menahan amarahnya. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya.


"Jika kamu menginginkan perceraian aku tidak akan menahanmu di sisiku." Ucapnya lagi.


"Jangan harap aku akan menandatangani surat cerai itu, aku tidak akan membiarkanmu menikah dengannya lagi."


"Apa yang akan kamu lakukan ketika dia mengingat segalanya kembali? kamu akan menjadi orang yang terbuang dan menyedihkan! aku, aku hanya tidak ingin melihatmu terus terluka." Sergah Arvina lagi.


Sudah satu tahun Irna dan Rian tinggal di Eropa, Alfred dan anggota rekannya sudah mencari jejak-jejak Fredian. Ada bekas manusia terbakar di atas tanah di depan kastil.


Mereka juga sudah memeriksa lembah gambut di bawah tebing. Tidak ada tanda-tanda Fredian masih hidup, mayatnya juga tidak ditemukan.


Mereka bisa tahu alamat Irna di Eropa karena surel yang dikirimkan oleh Alfred pada Rian.


"Ini minuman, dan camilannya silahkan dinikmati." Irna meletakkan di atas meja, matanya melihat wajah sembab Arvina, lalu beralih memandang ke arah Rian.


"Anak muda bolehkah aku memintamu untuk menemaniku belanja hari ini?" Ujarnya sambil tersenyum menatap ke arah Alfred putranya sendiri.


Mata Alfred mendadak berkaca-kaca mendengar ibunya memanggil dirinya seperti orang asing. Beberapa detik kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Irna saat itu berfikir, wanita itu mungkin memiliki hubungan dengan Rian.


"Sayang aku pergi belanja dulu, cup!" Irna mendaratkan sebuah ciuman di pipinya sambil menganggukkan kepalanya berpamitan pada Arvina.


Sampai di halaman rumah, Alfred membukakan pintu mobil untuknya, dan mereka menuju ke sebuah minimarket sekitar lima kilometer dari rumah tempat tinggal Irna dan Rian.


"Siapa namamu?" Irna tersenyum sambil menoleh ke arahnya. Alfred terdiam, tidak menjawab. Hatinya ingin sekali berteriak jika dirinya adalah putranya satu-satunya.


Tapi saat sebelum kedatangan mereka berdua Rian sudah wanti-wanti agar Alfred tidak mengatakan apa-apa tentang jati diri Irna selama Fredian belum ditemukan keberadaannya.


Irna syok, dia berlari saat mendengar kabar bahwa Fredian jatuh di bawah tebing. Irna berlari ke jalan raya untuk mencarinya, tepat pada saat itu sebuah truk melintas. Kemudian menabrak tubuhnya di jalan, kepala gadis itu terbentur.

__ADS_1


Saat tersadar dari kritisnya, dia bahkan tidak tahu siapa dirinya. Rian yang tidak tega meninggalkan gadis itu sendirian, dia segera membawanya ke Eropa untuk pemulihan sekaligus merawatnya.


Walaupun tubuhnya pulih dengan cepat seperti biasanya, tapi kekuatannya sudah sangat melemah. Irna kembali seperti manusia normal lainnya.


"Namaku Alfred, aku tinggal di London." Ujarnya sambil mengusap air matanya.


"Apa aku salah bertanya? kenapa kamu tiba-tiba menangis?" Irna menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Bolehkah aku memanggilmu mama? wajahmu begitu mirip dengan ibuku. Itulah kenapa aku menangis saat melihat dirimu." Alfred menahan air matanya yang terus merembes tanpa henti.


"Iya, tapi ini aneh. Aku melihatmu tidak jauh dari usiaku. Apakah kamu yakin jika ibumu mirip denganku? aku pikir wanita yang datang bersamamu tadi ibumu."


Alfred menepikan mobilnya dan menghambur untuk memeluknya.


"Mama, aku sangat merindukanmu." Bisiknya di telinga Irna.


"Ngiiiing!" Mendadak sekelebat bayangan lembaran demi lembaran muncul di dalam ingatannya, Irna merasakan nyeri luar biasa pada kepalanya. Telinganya juga berdengung nyaring, dia tidak bisa mendengar suara apapun di sekitarnya.


Darah merembes dari hidungnya, menetes membasahi bahu Alfred yang tengah memeluknya. Perlahan matanya menutup dan pingsan di dalam pelukan Alfred.


Alfred baru menyadari bahwa Irna pingsan saat tangan ibunya yang tadinya mengusap punggungnya jatuh ke bawah.


"Mama? Mama, bangun ma!" Alfred mengguncangkan bahu Irna tapi dia masih tetap memejamkan matanya, Alfred segera menelepon Rian dan melarikan Irna di rumah sakit terdekat.


"Apa yang terjadi?!" Rian menggenggam tangan Irna sambil menangis di sebelah tempat tidurnya.


"Tiba-tiba mama pingsan pa, aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya memeluknya karena aku sangat merindukannya."


Arvina berdiri di sebelah Alfred dia masih menatap ke arah Rian.


"Kalian berdua bisa kembali dulu, aku yang akan menemaninya."


Arvina melangkah mendekat ke arah Rian.


"Jangan lupa untuk merawat dirimu sendiri, dia pasti akan baik-baik saja."


"Dia tidak baik-baik saja! dia hampir kehilangan nyawanya! bagaimana bisa mahluk itu menghisap darahnya sampai hampir kering! jika terlambat sedikit saja saat itu.. dia mungkin sudah meninggal!" Jelasnya pada Arvina dengan bibir bergetar.


Mendengar Rian membentaknya, Arvina merasa kedua kakinya lemas dan hampir terjatuh jika Alfred tidak segera menahan punggungnya.


"Aku, aku akan memberikan surat cerainya besok. Menikahlah dengannya.. ini sudah satu tahun kalian bersama. Tapi aku tidak tahu jika ingatannya kembali suatu hari nanti, jika kamu kembali terluka maka carilah aku. Aku akan tetap menunggumu."


Arvina mengandeng tangan Alfred keluar dari ruangan. Air matanya terus mengalir tanpa henti.


Rian tertidur di sebelah tempat tidurnya, Irna terjaga, gadis itu mengulurkan tangannya menyentuh kepala Rian. Dia mengusapnya dengan sangat lembut.


Rian terjaga, dia tersenyum melihat Irna sudah terjaga. Meskipun wajahnya masih sangat pucat


"Apa yang kamu rasakan? apakah kepalamu masih pusing?"


Irna menggelengkan kepalanya perlahan, tubuhnya terasa sangat lemah. Saat dia ingin bangkit duduk Rian membantunya.


"Apakah kamu benar-benar suamiku?" Tanya Irna padanya tiba-tiba.


Rian tercekat mendengar pertanyaan itu terlontar dari bibir Irna, sebuah pertanyaan yang hinggap di telinganya untuk pertama kalinya semenjak gadis itu sadar dari kritisnya satu tahun lalu.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Tanyanya lagi.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu."


"Apakah wajahku terlihat seperti seorang penipu?" Tanya Rian dengan suara lembut.


"Tidak, hanya saja. Hanya saja.." Irna menggigit bibir bawahnya tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Rian berdiri dan memeluk tubuh lemahnya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan? aku akan menjawabnya."


"Jika aku memang istrimu, kenapa aku seperti orang lain? kamu merawatku seperti merawat saudaramu.. seolah-olah aku tidak ada di dalam hatimu."


"Dan saat aku berkata sesuatu kamu pergi sambil menangis. Apakah aku sebuah beban untukmu? aku merasa bahwa diriku hanyalah sebuah beban.." Jelas Irna padanya.


"Apakah ini yang kamu maksud?" Rian meraih kepalanya dan mencium bibirnya untuk pertama kalinya.


"Maafkan aku Fred, maafkan aku. Jika nanti kamu kembali dan dia mendapatkan ingatannya.. ketika dia ingin berlari ke arahmu, aku tidak akan menahan langkah kakinya."


Bisik hati Rian, air matanya kembali meleleh.


Pria itu belum melepaskan pagutan bibirnya. Irna meremas lengannya dan membalas ciumannya.


Lima hari kemudian Irna sudah membaik dan kembali pulang ke rumah, dia sedang berada di dapur membuatnya Rian makanan.


Setelah Arvina mengirimkan surat cerainya, Rian menikah kembali dengan Irna.


"Sedang apa sayang?" Tanyanya sambil memeluk pinggangnya dari belakang.

__ADS_1


"Aku membuat beberapa makanan untukmu, cup!" Menoleh ke arahnya sambil mencium pipinya.


"Coba kamu cicipi ini, apakah ini sesuai dengan seleramu?" Irna mengambil satu sendok kuah meminta Rian untuk mencicipinya.


"Hem..ini lezat sekali!" Rian tersenyum, kemudian membuatkan jus apel kesukaannya.


"Apakah kamu tidak ke kantor hari ini?" Irna menoleh kembali ke arahnya sambil tersenyum kecil.


Mereka sarapan bersama di ruang makan, Rian membaca surat kabar sambil menikmati kopinya.


"Iya aku akan pergi tapi, setelah.." Melirik sekilas ke arah Irna kemudian kembali menghirup kopinya di atas meja.


"Setelah apa?" Irna menopang dagunya di atas meja, menunggu pria itu melanjutkan kata-katanya.


"Setelah memeriksamu, dan memastikan bahwa kamu baik-baik saja." Pria itu berdiri dan mengangkat tubuhnya membawanya masuk ke dalam kamar.


"Hei, turunkan aku!" Teriaknya sambil memukul punggungnya, Rian hanya tersenyum kecil kemudian mencium bibirnya.


Satu jam kemudian Irna bangkit dari tempat tidurnya, menatap ke arah suaminya.


"Ada apa?" Tanyanya sambil mengusap pipi Irna.


"Aku, aku sepertinya mengingat sesuatu.. bertahun-tahun silam. Di sana ada sebuah rumah kecil dengan ayunan di belakang rumah. Kamu membawakanku secangkir kopi." Mendengar itu Rian meraihnya ke dalam pelukannya kembali.


"Apakah kita sudah bersama lebih dari tiga tahun?" Rian hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Irna.


"Di mana rumah itu?" Tanya Irna lagi.


"London, saat itu kita tinggal bersama di London."


"Akh! kepalaku!" Irna kembali memijit keningnya merasakan kepalanya berdenyut-denyut sakit luar biasa.


"Jangan memaksakan diri, pelan-pelan saja. Nanti kamu bisa pingsan lagi.." Rian menyentuh kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.


"Apakah kita bahagia waktu itu?" Irna kembali bertanya sambil mencari jawaban dari wajah Rian.


"Iya kita sangat bahagia." Rian tersenyum lalu mengecup keningnya.


Irna meraih pakaian dan memakainya kembali, kemudian membantu Rian memakai kembali bajunya.


"Apakah sudah tidak nyeri lagi? atau masih ada yang terasa sakit?" Tanya Rian sambil menyentuh kepalanya, saat gadis itu membantunya mengancingkan bajunya.


"Tidak ada, aku baik-baik saja. Kamu bisa pergi ke kantor, sudah satu minggu kamu sepanjang waktu menemaniku." Irna kemudian memakaikan dasinya.


Rian mengurus kantor NGM yang berada di Eropa. Semenjak mereka tinggal di sana.


"Bagaimana kalau kamu ikut bersamaku ke NGM, aku tidak ingin kamu sendirian di rumah. Aku juga tidak tenang ketika kamu sendirian, aku takut kamu.."


"Sssstttt!" Irna menutup bibirnya dengan jari telunjuknya mengehentikan ucapannya.


"Baiklah, aku akan menurut dan menemani suami tampanku bekerja." Irna mencari gaun untuk berganti di dalam lemari.


Rian menggaruk keningnya saat Irna memilih gaun cantik warna ungu muda dan memakainya.


"Kenapa? apakah ini tidak cocok?" Tanyanya sambil tersenyum memiringkan kepalanya menatap wajah Rian.


"Itu terlalu, ehm! terlalu cantik.." Rian menoleh ke arah lain menyembunyikan wajahnya.


"Ganti dengan yang lain saja! di sana terlalu banyak pria, karyawanku hampir semuanya pria!" Ujarnya tiba-tiba, kemudian mengambil baju formal dari dalam lemari.


"Pakai ini saja." Rian mengulurkan setelah shirt lengan panjang warna putih, dan rok.


"Kalau memakai ini bukankah mereka akan berfikir aku sekretarismu?" Irna nyengir melihat Rian kebingungan memilih baju untuknya.


"Kenapa kamu menertawaiku? aku serius, mereka para pemuda tampan yang setiap harinya hanya melihat cairan kimia sepanjang waktu. Jika mereka melihatmu yang begitu cantik, ibarat mereka melihat sekuntum bunga berjalan." Ujarnya sambil memijit keningnya.


"Ya, baiklah aku akan memakai ini saja." Irna segera mengganti bajunya dengan baju yang dipilih oleh Rian.


Irna menggamit lengan Rian menuju mobilnya. Mereka berdua segera naik ke dalam mobil.


Dari kejauhan terlihat seseorang sedang memperhatikan mereka berdua dari dalam mobilnya sambil mengigit ibu jarinya.


*Bersambung...


*Siapakah orang itu??*


A. Fredian


B. Arvina


C. Alfred


D. Tidak tahu


E. Tokoh lainnya*

__ADS_1


__ADS_2