Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Love scenario


__ADS_3

Fredian menuju ke ruangan kerjanya, dia mendapati Irna berada di sana. Disusul kemudian Karin mengikutinya dari belakang punggungnya. Mengejar Fredian, tanpa rasa malu sedikitpun.


Gadis itu tidak merasa bersalah sama sekali ketika mendapati Irna dan Nira di sana, dia bahkan sengaja menggamit lengan Fredian lagi.


Irna tersenyum melempar tawa renyah ke arah Fredian dan Karin. "Apa kamu sedang pamer padaku?" Ungkap Irna tanpa basa-basi pada mereka berdua. Gadis itu masih seperti biasa dengan gaya santainya.


"Apakah kamu tahu hubungan kami sangat dekat?" Timpal Karin kepada Irna, masih menggamit lengan Fredian.


Irna masih bersikap wajar, gadis itu tidak memarahinya karena memang hubungan antara dirinya dengan Fredian tidak diungkapkan kepada publik. Selain itu pernikahan mereka adalah pernikahan antara vampir.


"Apa maksudmu?" Tanya Irna kembali, gadis itu tersenyum. Dia tidak cemburu sama sekali.


Melihat Irna terlalu santai, Fredian segera mengibaskan tangannya dari genggaman Karin. "Cukup Karin hentikan permainanmu! aku tidak tertarik sama sekali denganmu! aku tidak peduli apapun yang kamu lakukan! tapi berhentilah mendekatiku! kamu bukan wanita yang kuinginkan!" Teriaknya di depan wajah Karin.


Pria itu kemudian melangkah menuju kamarnya, yang ada di dalam ruangan kerjanya tersebut. Karin mengikutinya masuk ke dalam tanpa rasa malu sedikitpun.


Irna dan Mira bertukar pandang satu sama lain. "Bagaimana ini Oma?!" Gadis itu terlihat cemas, dia menanyakan tentang kakeknya karena khawatir kepada hubungan mereka berdua.


"Biarkan saja, kakekmu pasti bisa menyelesaikannya." Ucapnya santai menjawab pertanyaan dari nira.


"Tapi Oma! Karin sangat licik dia pasti akan membuat masalah jika Oma diam saja dan tidak mengambil tindakan sama sekali." Ujarnya lagi pada Irna.


Irna merasa apa yang dikatakan Nira ada benarnya. Jika dia mendiamkannya seperti itu pasti wanita itu akan terus mengambil kesempatan untuk mendekati Ferdian.


Irna kemudian memilih masuk menyusul suaminya ke dalam kamar. Di sana Irna melihat Karin yang berdiri memegangi kancing baju Fredian di depan cermin. Di ruang ganti miliknya.


Irna tersenyum menatap tajam mendapati mereka berdua disana. "Apakah aku perlu memanggil security untuk mengusirmu keluar dari sini?" Cetusnya pada wanita itu.


"Ah! apa hubungan kami berdua tidak jelas di depan matamu? Fredian itu adalah tunanganku dan kami akan segera menikah tidak lama lagi." Ujarnya tegas pada Irna.


Mendengar ucapan tersebut Irna berkacak pinggang, kemudian gadis itu berkata. "Ya saking jelasnya sampai-sampai aku ingin sekali melemparkan tubuhmu keluar dari dalam Resort!" Seraya menatap geram ke arah gadis itu.


Tidak menunggu lama Irna segera menghubungi security penjaga hotel. Dalam waktu kurang dari 5 menit, mereka datang masuk ke dalam ruangan tersebut.


Dua security tersebut segera menggenggam tangan Karin. Mereka menarik lengannya keluar dari dalam sana.

__ADS_1


"Kalian lepaskan aku! kalian tidak tahu siapa aku heh?! aku bisa memecat kalian sekarang juga! lepaskan aku! awas Kaila aku pasti akan membalas perbuatanmu!" teriak Karin ketika para sekuriti menyeretnya keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Oya? balas saja! aku sangat menunggu balasan darimu Karin, aku harap kamu tidak mengecewakanku."


"Kenapa kamu diam saja sejak tadi?" Tanya Fredian padanya. Irna diam saja enggan menjawab pertanyaan Fredian gadis itu melangkah masuk kedalam kamarnya.


Irna dia tidak tahu apa yang sedang direncanakan Karin. Irna terlihat santai karena sangat lelah hari itu, dia tidak ingin bicara panjang lebar padanya. Irna kemudian merebahkan tubuhnya di sana untuk istirahat sejenak.


Melihat situasi kembali normal, Nira akhirnya kembali ke ruangan Maya seraya membawa berkas untuk didiskusikan dengan sekretarisnya itu.


Fredian melepaskan bajunya, dia masih menatap Irna yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur. Pria itu mendekat ke arahnya, kemudian mendaratkan ciuman di keningnya.


Dia tahu Irna sedang sangat kelelahan, dia tidak ingin mengganggunya. Kemudian pria itu pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lalu kembali ke meja kerjanya untuk memeriksa berkas pada hari itu hasil meetingnya.


Irna mendapati tempat tidur di sebelahnya kosong. Dia tidak tahu, kenapa Fredian tidak ada di sana. Biasanya pria itu selalu berada di sana menemaninya.


Irna masih tidak ingin bangkit dari tempat tidurnya untuk mencari Fredian, "Ah sudahlah terserah saja. Aku lelah sekali.." Ujarnya lagi lalu melanjutkan tidurnya lagi.


Fredian mendengar gumaman dari ruang kerjanya, pria itu tersenyum mendengar nada kesal dalam kata-kata istrinya. Karena pendengarannya begitu tajam, berbeda dengan manusia pada umumnya.


"Astaga! kamu mengagetkanku!" Irna terhenyak dari atas tempat tidur. Gadis itu bangkit duduk menghadap ke arah Fredian yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya.


"Ada apa kamu tiba-tiba kemari?" Tanyanya seraya menggaruk kepalanya sendiri dengan mata setengah terpejam.


"Aku mendengarmu memanggilku? telingaku tidak mungkin salah dengar kan?" Ujarnya sambil menahan tawa menatap ke arah Irna. Gadis itu menutupi wajahnya dengan bantal. Dia merasa sangat malu sekali pada suaminya itu.


"Jangan menggodaku terus-menerus, aku sudah bukan gadis muda lagi." Keluhnya seraya menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


"Bagiku kamu tetap sama entah dulu ataupun sekarang tetap Irna milikku. Satu-satunya milikku." Pria itu merangkak naik ke atas tempat tidurnya, menarik bantal yang menutupi wajah istrinya itu sambil tersenyum.


Irna memberanikan diri untuk menatap ke arah matanya. Gadis itu tidak mengucapkan kata-kata apapun padanya. Hanya isyarat matanya yang menyatakan, "Aku sangat mencintaimu Fred, kamu juga satu-satunya milikku! satu-satunya yang selalu aku rindukan dan aku harapkan untuk tetap ada di sekitarku!"


Fredian tahu ungkapan dari tatapan sinar matanya, yang menunjukkan bagaimana suara hatinya.


Dia masih tersenyum menatap kearah istrinya perlahan membelai rambutnya lalu mencium keningnya dengan lembut.

__ADS_1


"Tetaplah berada disisiku untuk saat ini, juga sampai nanti hilangnya nafas Ini! jangan pernah berpikir atau mencoba untuk berlari sekalipun kamu tidak menyukaiku lagi, Katakan padaku ketika kamu tidak menyukaiku, maka aku akan memperbaikinya agar kamu tetap berada di sini, berada di sisiku!"


Tuturnya panjang lebar, Irna mendadak merasa suaminya berubah menjadi seorang ahli puitis. Dia sangat terkejut mendengar isi hatinya begitu menyentuh.


"Di mana kamu mendapatkan skenario sebagus itu?" Irna menggaruk keningnya karena tidak mengerti pria cuek itu bisa menemukan kata-kata sebagus itu.


"Rian bisa mengucapkannya, kenapa aku tidak?" Ledeknya seraya tertawa lebar mengangkat kedua alisnya sambil menarik kedua pipi Irna ke kanan dan ke kiri dengan dua tangannya.


"Hahaha dasar konyol! kenapa kamu tiba-tiba mengungkit namanya di sini?" Irna tergelak karena mendengar nama Rian disebut oleh suaminya.


"Fred, Kamu terlihat sangat mencurigakan!" Meneliti suaminya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Apa sih? jangan coba menakutiku?!" Fredian menatap penampilannya sekarang ini, dia mengenakan pakaian mandi yang diikat di pinggang. Lalu kembali menatap ke arah Irna.


"Hai Readers...." Rian menerobos masuk ke dalam ruangan bergabung bersama dengan Irna dan Fredian. Nira, Kania, Royd, ikut bergabung dengan mereka.


"Apa kabar kalian semua?" Ucap mereka semua serempak, penuh senyuman menawan menatap ke arah para pembaca.


"Semoga kalian selalu baik-baik saja di sana." Ucap Irna sambil menembakkan pistol berisi serpihan kertas bling-bling ke langit-langit ruangan.


"Kami, semuanya pemeran dalam novel serial 'MISTERI GADIS PEMIKAT' mengucapkan minal aidzin walfa idzin mohon maaf lahir dan batin.. bagi yang merayakan hari raya idul Fitri.. Byeee, tunggu kami di episode selanjutnya ya.. I Love You readers...."


Fredian menarik tangan author ke depan kamera, "Thor, ngapain sembunyi di pojokan?"


Author menutupi kedua matanya, menyembunyikan dari para pembaca. "Malu banget gue!" Ucapnya sambil meringis, memamerkan gigi berkopi bersemu-semu mengerikan.


"Buka tutupnya Thor?" Teriak Kania.


Maka author membuka tutup keresek dari atas kepalanya memperlihatkan kedua matanya yang sudah cekung, sama persis seperti panda.


"Puas kalian?? puas lihat mata gue jelek banget?!" Author ngibrit kabur masuk kembali ke dalam kandang. Gigit ujung laptop.


*Bersambung...


Minal aidzin walfa idzin mohon maaf lahir dan batin Readers.. i love you.. minta like nya.. asli aku ngemis like dari kalian.. vote yang banyak ya author akan update setiap hari?πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜˜β€οΈπŸ‘πŸ˜­πŸ˜­*

__ADS_1


__ADS_2