
Angelina keluar dari dalam kamar mandinya, gadis tersebut memilih untuk meninggalkan Fredian. Fredian cemas melihat wajah gadis itu penuh amarah pergi seperti itu.
Angelina menyambar pakaian tidur yang ada di dalam kamar tersebut, dengan baju kimono tidur yang menampilkan lekukan seluruh tubuhnya. Tubuhnya masih basah menyebabkan baju satin tersebut menempel di kulit mulusnya.
Pahanya mulus sekali, Fredian sudah keluar dari dalam kamar mandi miliknya. Dia melihat wajah gadis itu, rambutnya yang panjang basah masih meneteskan air hingga jatuh ke bawah kakinya.
Angelina bersiap melangkah keluar dari dalam ruangan, gadis itu sesaat menatap wajah Fredian yang sedang berdiri melihat penampilan dirinya sekarang.
Angelina berkacak pinggang, gundukan miliknya hampir menyembul keluar karena baju kimonon-ya tertarik ke kiri dan ke kanan. Ujung bongkahan kenyal itu terlihat jelas tergambar di dadanya karena baju yang basah terkena tetesan air dari rambutnya.
"Kenapa?" Angelina menyibakkan rambutnya ke belakang, membuat Fredian terdiam. Pria itu hanya melihat Irna, bukan Angelina.
"Kapan kamu akan menyerah? Kapan kamu akan berbagi dengannya?" Tanya Fredian sambil melangkah maju mendekati gadis itu.
"Berbagi? Dengan wanita bodoh ini? Aku rasa, akkkkkhhhh!" Angelina terpeleset karena lantai di bawah kakinya basah akibat tetesan air dari rambutnya.
Untungnya Fredian sigap menangkap pinggangnya dengan kedua lengan kokohnya. Kedua mata mereka bertemu, ada rasa lain. Rasa arogan di dalam hati Angelina menyurut seketika. "Maafkan aku telah merebut tubuh Irna, karena dia adalah bagian dari diriku. Sebenarnya aku merasakan cintanya padamu begitu besar." Ucap Angelina seraya berusaha kembali berdiri.
"Aku tidak bisa berjanji untuk mengembalikan tubuhku padanya, karena sesungguhnya dia adalah diriku. Mungkin dia tidak akan muncul lagi." Angelina tersenyum lembut. Kedipan kelopak matanya melambat menatap wajah Fredian dengan tatapan lembut.
Sejenak Fredian merasakan kehadiran Irna di sana, di dalam diri Angelina. Dia ingin sekali memeluk tubuh wanita di depannya itu sekarang.
Tapi dia sengaja menahannya kuat-kuat. Dia tidak ingin membuat Irna marah lagi, tidak ingin kehilangannya.
Angelina tahu pria di depannya itu tidak menginginkan kehadirannya di sana. "Aku akan pergi, ah sementara aku ingin tinggal bersama dokter tampan yang ada di laboratorium kemarin. Sepertinya dia teman baik wanita ini?" Ucapnya seraya tersenyum lebar.
Fredian mendadak air mukanya berubah pucat. "Jangan! Tidak boleh!" Ucapnya sambil mencekal erat pergelangan tangan wanita itu.
"Kenapa? Aku tidak punya rumah sekarang. Tubuh pria berstatus dokter itu juga lumayan bagus. Pasti permainannya tidak kalah dengan diri..."
"Cukup! Tidak boleh! Tidak boleh!" Fredian takut sekali Irna kembali bersama dengan Rian. Dia segera meraih tubuh basah Angelina ke dalam pelukannya.
"Tinggallah di sini, banyak kamar hotel di sini!" Ucapnya masih menahan tubuh Irna dalam pelukannya.
Angelina mendongakan kepalanya, tangan kanannya meraba pipinya. Wanita itu mencubit dagu Fredian.
__ADS_1
"Tapi aku ingin kehangatan.. aku ingin kita bermain.. " Bisiknya kembali menggodanya.
"Aku akan bermain denganmu selama kamu berbaikan dan mau berbagi dengan Irna, aku mencintai gadis itu. Dia adalah istriku, tapi Angelina, kamu bukanlah istriku."
"Lagi-lagi kamu menyebut nama wanita lemah itu di hadapanku." Angelina cemberut bersiap untuk pergi.
"Tolonglah Angelin.. " Fredian memeluk pinggangnya dari belakang, tidak membiarkan dia pergi.
"Maafkan aku. Ctik! Slash!" Irna menghilang dari pandangan matanya.
"Irnaaaaa! Kembali.. tidaaaaakkk!" Fredian histeris karena kehilangan Irna telat di depan matanya. Dia tidak bisa mendeteksi keberadaan gadis itu.
Angelina memiliki kekuatan di atas rata-rata. Ratu penguasa vampir yang sebenarnya. Dia adalah Angelina.
Angelina sampai di dalam laboratorium, masih memakai baju kimono miliknya. Kedua kakinya telanjang, melangkah di lorong NGM.
Rian di dalam ruangan kerjanya mendengar langkah kaki, suara gemerincing gelang kaki Irna memenuhi lorong tersebut.
Saat dia berdiri dari kursinya, Angelina sudah berdiri di ambang pintu, gadis itu memainkan rambut basahnya.
"Apa yang dilakukan wanita ini? Sampai kapan dia akan terus merusak nama baik Kaila Elzana!" Dengus Rian sambil mengepal meremas jemari tangannya.
"Kamu wanita mengerikan! Aku sama sekali tidak tertarik denganmu! Apa yang kamu lakukan dengan tubuhnya!?" Teriakan Rian tidak membuat nyali Angelina surut, tapi malah membuat dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahhaahhahaha! Wah wah! Kamu benar-benar tidak menginginkan diriku lagi?" Angelina merasa Rian begitu jijik ketika melihatnya. Setahu dia pria itu yang selalu berada di sisi gadis bernama Irna Damayanti. Angelina mencuri memori di dalam tubuh Irna.
Wanita itu sudah melihat seluruh memori Irna, tapi sifat yang sesungguhnya itu tidak bisa dia singkirkan lagi.
"Aku mengenalmu dengan baik Rian Aditama. Kita menikah dua kali, dan bercerai." Ungkapnya membuat Rian melangkah menuju ke arahnya.
Kini Rian berdiri di hadapannya, pria itu melihat gadis itu menyeringai lebar. "Kamu terkejut aku mengetahuinya?"
"Tidak sama sekali! Kamu bisa saja mencuri memori itu darinya. Jreessh!" Rian tersenyum sambil menancapkan jarum suntik di lengan Angelina.
"Kau! Kau pria iblis! Kau anak ajaib peracik ramuan empat ratus tahun lalu itu! Pria ibliiis!" Angelina berteriak keras-keras, dia ingin menerjang Rian. Tapi seluruh tubuhnya terasa lemas tidak berdaya.
__ADS_1
"Kau berani-beraninya menggunakan ramuan pelumpuh padaku!"
Angelina tidak bisa berdiri lagi tubuhnya jatuh ke lantai. Rian segera mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur pasien di ruangan laboratorium miliknya.
"Apa yang kamu lakukan padaku! Lepaskan aku! Aku akan membunuhmu setelah ini!" Teriakan Angelina dibalas sebuah senyuman lembut oleh Rian.
Pria itu memasang infus di lengan Angelina, dia memasukkan beberapa vaksin untuk membuat gadis itu tetap berada di sana.
Hanya itu yang bisa dilakukan Rian padanya. Karena dia melihat wanita itu terus berbuat onar di mana-mana.
Dia tidak ingin nama Kaila Elzana menjadi buruk gara-gara ulahnya. "Kamu istirahat saja di sini oke? Selamat malam Angelina." Rian melangkah menjauh dari tepi tempat tidurnya.
"Kamu mau kemana heh!" Angelina sudah berhasil menahan Rian dari belakang menggunakan pedang kristal es miliknya.
"Kamu! Bagaimana mungkin ramuanku tidak berfungsi!?" Rian sangat terkejut karena ramuannya sudah tidak bereaksi lagi.
"Kamu lupa? Siapa aku? Pangeran William? Kamu lupa siapa Angelina, vampir murni penguasa yang sebenarnya, kerajaan vampir." Ujarnya sambil menekan pedangnya ke leher Rian.
"Irna aku hanya tidak ingin kamu terluka di luar sana. Aku menahanmu di sini demi keselamatanmu!" Ungkap Rian pada wanita itu.
"Bahkan pedang tidak bisa menggores kulitku, Rian.." Bisiknya di telinga pria itu.
Rian merasakan pedih di lehernya, pedang itu telah menggores kulit lehernya.
"Lalu apa maumu? Katakan padaku apa maumu?!" Rian mendongak menghindari mata pedang tersebut, malah kepalanya kini bersandar ke belakang di atas bahu kanan Angelina.
"Akkkkkhhhhhhh! Aaduuhhhh! Kamuuu!" Teriak Angelina karena Rian menggigit daun telinganya, demi menyingkirkan pedang tersebut dari lehernya.
Wajah Angelina merah sekali, dia merasa sangat malu dikalahkan oleh pria itu.
"Kenapa? Bukankah kamu tadi merayuku? Kenapa mukamu muram begitu?" Ejek Rian padanya.
"Hahahhhhah! Mana mungkin! Aku malu padamu? Yang ada aku ingin sekali menghajar dirimu sekarang." Geram Angelina padanya.
Bersambung...
__ADS_1
Hai Readers, jumpa lagi dengan saya author gila kukuruyuk.. jangan lupa like ya, aku tunggu loh like nya.. awas jika tidak aku laporin ke pemeran utamanya!! Mau? Mau?? Mau?
Lempar like yang banyak.. jangan lempar sandal atau topi, nanti gak author balikin! Apalagi lempar batu! Dilarang keras! Itu penganiayaan namanya! Oke see you ... Kiss kiss.. kiss .. awas jangan muntah! bawa kresek! Buat tadah! ππππ