Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Armored guards!


__ADS_3

Keesokan harinya...


Irna duduk di meja makan menatap Fredian, pria itu sedang membaca surat kabar sambil menikmati secangkir kopi.


"Kenapa terus menerus menatap wajahku?" Mengalihkan pandangan matanya dari surat kabar ke wajah istrinya yang sudah berdandan rapi, duduk menikmati jus buah miliknya.


"Apa ada berita menarik?" Celetuknya setelah beberapa detik tidak menjawab pertanyaan dari Fredian.


"Ini." Menunjukkan berita pertunangan Presdir Resort Angel, dengan wirusahawan muda dari Italia. "Fredian Derosse dan Karina Nadila"


"Dia sepertinya tidak akan menyerah begitu saja." Gumam Irna sambil menghabiskan jusnya.


"Kamu mau kemana?" Tanyanya pada istrinya, saat ia melangkah mengambil tas juga jas dokter miliknya.


"Ke rumah sakit Aditama, bekerja. Kemana lagi memangnya?" Irna tersenyum lembut seraya menoleh ke arahnya.


"Aku bagaimana? dan berita ini?" Segera berdiri menyambar tasnya mengejar Irna. Fredian mengikutinya masuk ke dalam mobil Irna.


"Mobilmu?" Tanya Irna padanya.


"Aku ikut kamu saja, kamu antarkan aku ke resort dan jemput aku setelah kamu pulang dari rumah sakit." Nyengir garing ke arahnya.


"Sepertinya aku akan pulang larut, banyak hal yang harus aku tangani di rumah sakit, setelah cucu tersayangku mengacak-acak jadwal dan membuat banyak masalah di sana." Terangnya lagi.


"Dan kamu akan membiarkanku, jadi makanan Karin??!" Pura-pura merajuk, padahal dia pria yang waras. Dan tidak pernah tertarik dengan gadis lain selain Irna.


Irna melemparkan senyum manis padanya, dia tahu Fredian hanya berpura-pura agar dia terus bersamanya sepanjang hari.


"Nira akan membantumu, aku tidak ingin dia berada di rumah sakit lagi. Aku masih takut terjadi sesuatu padanya. Di rumah sakit tamuku tidak menentu, mereka bisa kapan saja datang mencariku. Dan aku khawatir Nira terluka lagi." Jelasnya pada Fredian, pria itu merebahkan kepalanya di bahu Irna.


"Aku mencintaimu.." Bisiknya di telinga istrinya. Irna mengusap rambutnya dengan lembut untuk menjawab pernyataan cintanya.


Cuaca cerah pagi menyapa perjalanan mereka berdua. Mobil merah Irna menebas jalan raya melewati selimut kabut pagi.


Kawasan hutan begitu sunyi, tidak ada binatang atau burung terbang berkeliaran. Sinar mentari pagi jatuh melalui celah-celah dedaunan di sekitar jalan.


"Ada yang aneh! percepat laju mobilnya!!!"


Teriak Fredian pada Irna, dan benar saja dua detik berikutnya ada mahluk keluar dari dedaunan. Mahluk tersebut memakai baju besi setinggi kurang lebih empat meter.


Mahluk tersebut turun hampir menerjang badan mobil Irna yang sedang melintas di sana.


Matanya merah menyala-nyala, Irna dan Fredian melihat mahluk tersebut berdiri di tengah jalan.


"Mahluk apa itu? melihat baju zirahnya apa dia pasukan perang?" Irna menoleh ke arah Fredian. Pria itu tidak segera menjawab pertanyaan darinya.


Fredian seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting. "Berhati-hatilah, jangan kembali ke rumah sendirian. Jika aku tidak sedang bersamamu, mintalah Rian untuk bersamamu." Jelasnya lagi masih melihat ke arah kaca spion mobilnya.


Mahluk tadi sudah menghilang, dan tidak berada di sana.


"Fred, kamu harus menjelaskan segalanya padaku! kali ini aku tidak mau kamu menghilang tiba-tiba seperti kemarin! aku tidak mau kita berpisah lagi!" Teriak Irna, tangisnya hampir pecah.


"Jangan khawatir aku tidak akan pergi lagi, tapi ingat pesanku ini. Nanti aku akan menjelaskan semuanya padamu setelah kita sampai di Resort." Fredian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.


Terukir jelas kekhawatiran di wajah pria itu. Irna bisa menebak, masalah kali ini setara dengan masalah yang di bawa Wilson.


Satu jam kemudian mereka tiba di resort Angel, Fredian turun dari mobil Irna. Irna mengikutinya menuju ruangan kerjanya. Irna ingin Fredian menceritakan tentang mahluk yang barusan dilihatnya.


Karin menghadang langkah Irna, setelah Fredian masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Mau kemana kamu? Kaila?" Tanyanya sambil tersenyum sinis.


"Aku tidak punya banyak waktu, menyingkir dari hadapanku." Perintahnya pada wanita muda di hadapannya itu sambil mengibaskan tangannya.

__ADS_1


"Aku tunangan Fredian, kamu tidak berhak mengusirku!" Bersikeras menghalangi langkahnya.


Irna sangat terburu-buru, "Jika aku mencekiknya, pasti wanita ini bakal mati!" Gumamnya lirih sambil menatap wajah Karin penuh amarah.


Gadis itu terkejut melihat aura mengerikan yang baru saja terpampang jelas pada wajah cantik Irna. Karin segera menepi dengan langkah kaki gemetar.


Kakinya mendadak terasa lemas seperti kehilangan tulang, tubuh ramping ambruk jatuh ke lantai di luar kantor Fredian.


"Wajahnya, dia, wanita itu bukan manusia! dia adalah iblis!" Gumamnya sambil menelan ludahnya sendiri, mendadak tenggorokannya terasa begitu kering.


"Hai Karin? kenapa duduk di lantai, aku sudah bilang padamu jangan membuat ulah! apalagi menyinggung gadis berbaju dokter itu." Bisik Maya di telinganya.


Mendengar ucapan Maya, Karin segera beranjak berdiri. Gadis itu memegangi lengannya. "Apa maksudmu? sebenarnya siapa dokter wanita itu? bukankah dia istri Rian Aditama?! kenapa dia bolak-balik ke resort, dan bahkan aku semalam melihat mereka berdua sedang bermesraan." Jelasnya merasa sangat sedih karena cintanya tak tersampaikan dengan mulus.


Biasanya dia selalu mudah mendapatkan apapun yang dia inginkan, tapi kali ini dia tidak mengira jika Fredian bukan pria sesederhana seperti dalam benaknya. Pria tampan yang sangat dikaguminya menyimpan begitu banyak rahasia. Dan dia tidak tahu apa itu.


Menilik dari segala sisi, pertemuan antara Kaila Elzana dengan Fredian Derosse tetap saja tidak ada nilai positifnya sama sekali di mata publik. Mereka berdua terlihat sebagai dua pemain cinta yang gila.


Pelayan Resort yang sudah hampir setiap hari bekerja, juga masih tetap tidak ada yang tahu kejelasannya. Apa hubungan antara setiap individu tersebut. Mereka datang silih berganti, malah terkadang Irna datang langsung ke sana bersama dengan Rian Aditama juga putrinya Kania.


"Berhentilah sekarang, jika tidak mau hancur!" Saran Maya sambil mencermati berkas di tangannya, dia menunggu Kaila keluar dari ruangan kerja Fredian. Maya tahu di mana posisinya sekarang. Gadis itu tidak akan masuk ke dalam ruangan Fredian selama Kaila masih ada di sana.


Kecuali Fredian sendiri yang menghubungi dirinya untuk mengantarkan berkas ke dalam ruangannya.


Gadis itu sudah tahu siapa Kaila, di mata Maya Kaila adalah gadis milik Fredian Derrose. Satu-satunya milik Fredian Derrose. Kaila juga selalu melindunginya, melindungi pria yang sangat dicintainya.


Maya pernah melihat amarah Kaila ketika mereka kaum pemburu berusaha menangkapnya. Jika Kaila Elzana tidak mau memaafkan dirinya dan rekan-rekannya waktu itu, mungkin saat ini dia tidak dapat melihat dunia lagi. Karena telah habis di tangan ras serigala, yaitu Javi Martinez.


"Apa maksudmu? aku bisa hancur? memangnya siapa dia? Kenapa aku harus hancur?" Berkacak pinggang seolah menantang Maya.


"Aku sudah berusaha mengingatkan dirinya, tapi sepertinya gadis ini terlalu bodoh! dia tidak bisa menggunakan pikirannya dengan jernih. Di dalam benaknya sudah terpenuhi dengan cinta gilanya! Hah! Ya sudahlah, apa yang terjadi setelah hari ini bukanlah urusanku lagi." Gumam Maya lirih tidak peduli dengan kemarahan Karin.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan dariku? apa kamu merasa jabatanmu sebagai seorang sekretaris Fredian sangat tinggi heh?!" Mendorong Maya menggunakan jari telunjuknya.


Dan lima menit kemudian penyelamat yang di tunggu-tunggu oleh Maya telah datang. Gadis tomboy dengan permen karetnya. Dia melangkah lebar menuju ke arah keributan.


Saat Nira berdiri di sana, Karin terbelalak kaget, melihat wajah yang tadi dilihatnya masuk ke dalam ruangan Fredian adalah wajah yang sama.


"Siapa kamu!" Tanyanya pada Nira.


"Kamu amnesia? aku wakil Presdir di sini!"


"Kamu bukan Kaila?" Tanyanya lagi dengan suara tergagap.


"Aku saudara kembarnya!" Ujarnya lagi.


"Dan yang semalam aku temui di rumah Fredian?" Tanyanya lagi bingung. Karin bahkan tidak tahu siapa di antara mereka berdua yang memilki hubungan dengan Fredian.


Karena Karin melihat Fredian juga sangat dekat dengan Nira. Siapa sangka gadis yang terlihat tidak jauh dari usia Fredian itu sebenarnya adalah cucunya.


"Kami datang silih berganti, dan kamu jangan terlalu banyak bertanya. Jika tidak, aku tidak bisa menjamin keselamatan dirimu. Puk!" Menggembungkan permen karetnya di depan wajah Karin.


Karin diam seribu bahasa mendengar ucapan dari Nira, dia melihat ke arah Maya yang sejak tadi masih berdiri membawa berkas di tangannya. Sekretaris Fredian itu sepertinya sudah tidak peduli sama sekali.


Karin segera pergi menuju lobi hotel Fredian, meninggalkan mereka berdua. Dia merasa tersisih, mereka semua tidak ada satupun yang mau berpihak padanya.


Dia juga sudah menyuap petugas resepsionis hotel tersebut, tapi mereka menolaknya dengan tegas. Padahal iming-iming yang dia berikan tidak sedikit, bahkan melebihi gaji mereka.


Karin tidak mengerti kenapa seluruh karyawan Fredian begitu tegas, juga tidak bisa tergoyahkan sama sekali.


Seluruh petugas di sana hampir semuanya adalah rekrutan dari Irna, Irna Damayanti yang menjadi istri Fredian. Gadis itu selalu baik pada semua orang, dan para pelayan di Resort. Dia juga tidak pernah membeda-bedakan status. Tapi dia telah dikabarkan meninggal karena kecelakaan bertahun-tahun lalu.


Dan kini yang hadir di sisi Fredian adalah Kaila, mereka menyadari kemiripan antara mereka berdua. Tapi mereka tidak bisa mengenalinya, karena dari segi sikap terlalu berbeda dengan Irna.

__ADS_1


Kaila terlihat dingin, dan menakutkan, sedang Irna begitu lembut dan menawan. Meskipun kedua wajah mereka sama cantiknya.


Di dalam ruangan Fredian, Irna mendengarkan penjelasannya dengan seksama.


"Mahluk tadi adalah penjaga kastil kerajaan Vertose. Dia datang mencari rajanya, untuk dibawa kembali ke dalam kerajaan. Dia sudah menemukanmu." Jelasnya pada Irna.


"Kami bangsa kerajaan lebih nyaman hidup di sekitar manusia, dari pada harus tetap tinggal di dalam kerajaan. Karena itu sebelum kami, para pendahulu mengurung jenderal tersebut di dalam ruang bawah tanah. Kemudian kami bebas memilih kehidupan kami di mana saja. Itu yang aku tahu dari kerajaan Vertose."


"Lalu kenapa kamu memintaku untuk bersama Rian ketika kamu sedang tidak ada?"


"Rian yang berhasil melumpuhkannya beratus-ratus tahun lalu, menurutmu pria itu berusia lima tahun ketika menemukanku? saat tubuhnya terlihat di usia lima tahun dia sebenarnya sudah berusia lebih dari lima ratus tahun! hahahaha!" Fredian menertawakan Irna, gadis itu terlihat sangat terkejut.


Dia benar-benar tidak menyangka jika dia pernah hidup bersama pria yang berusia lima abad. "Dan bayimu!? berapa usiamu waktu itu?"


"Tiga ratus tahun." Irna terdiam mendengar jawaban darinya. Dia tidak mau lagi memikirkannya.


"Apakah mahluk kastil itu akan mendatangi rumah sakit? jika aku sedang melakukan operasi! aku harus bagaimana? dan kenapa dia tiba-tiba bangkit kembali?" Tanya Irna bertubi-tubi pada Fredian.


"Ramuannya sudah habis masanya, menurutmu kenapa segel penahan di tubuhku waktu itu bisa dilepaskan oleh Wilson? karena memang masanya sudah hampir habis. Sama dengan mahluk itu."


"Mungkin saja dia akan mencarimu ke sana. Tapi tenang saja, manusia tidak bisa melihatnya. Kecuali bangsa kita, dia tidak akan membunuhmu. Sebetulnya dia itu lebih mirip seperti pengawal, ya sebut saja pengawal yang sedikit menyebalkan!"


Terangnya lagi dengan sangat santai, tanpa beban.


"Fred! apa kamu tadi hanya menakutiku ketika kita sedang di jalan??? kenapa wajahmu terlihat sangat serius???" Irna mengguncangkan lengannya, dia merasa sangat kesal sekali. Karena Fredian mengerjainya habis-habisan.


"Pakai bawa-bawa Rian juga! menyebalkan sekali!" Gerutu Irna kemudian melangkah pergi meninggalkannya tertawa terpingkal-pingkal.


"Jangan lupa nanti jemput aku, sepulang dari rumah sakit!" Teriaknya lagi pada Irna.


Saat Irna membuka pintu, dia melihat Maya berdiri bersama Nira. "Kalian masuklah, aku sudah selesai." Irna tersenyum memeluk Nira.


Maya masuk ke dalam ruangan Fredian menyerahkan berkas yang ada di tangannya.


"Hati-hati Oma.." Bisiknya di telinga Irna, saat dia melangkah pergi menuju lobi.


Dan ketika tiba di parkiran, Irna melihat mahluk dengan baju zirah itu sedang menunggunya.


Dia berjalan mengendap-endap masuk ke dalam mobilnya. Dan ketika membuka pintu mobil, mahluk itu sudah berdiri di sebelahnya. Irna membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. "Mau apa kamu? kenapa pengawal memakai baju mengerikan? apa kamu tidak bisa berpenampilan menyenangkan dan menawan hingga menarik perhatian kaum wanita!" Berteriak pura-pura memberanikan dirinya, padahal batinnya takut sekali.


Walupun dirinya adalah ratu Vertos, tapi dia sama sekali tidak ingin bertempur dengan pengawal itu pagi ini. Apalagi ada jadwal operasi yang harus ditanganinya pagi ini.


Pengawal tersebut menundukkan kepalanya memberi hormat padanya, satu detik kemudian memutar tubuhnya hingga merubah penampilannya seperti manusia pada umumnya.


Irna meneliti kembali wajahnya, dia tidak jelek wajahnya lumayan tampan. "Rupanya dia benar-benar bisa berubah wujud??! hahahaha!" Irna tertawa terpingkal-pingkal sambil berjongkok di sebelah mobilnya.


Dari kejauhan Karin melihat Irna menepukkan telapak tangannya pada bahu pria tersebut, dan wajahnya yang tampan membuatnya berfikir Irna telah memiliki hubungan lain dengan pria yang baru dilihatnya tersebut.


Karin segera mengambil fotonya, dia ingin menunjukan foto tersebut pada Fredian atau Rian. Dia ingin menjatuhkan nama Kaila.


"Siapa namamu?" Tanya Irna pada pria pengawalnya tersebut. Pria itu hanya menundukkan kepalanya memberi hormat padanya.


"Apakah kamu tidak punya nama?" Tanyanya lagi, tapi tetap saja dia tidak bergeming.


"Dia benar-benar seperti robot." Gumam Irna pada dirinya sendiri.


"Nama saya Julio Iglesias, yang mulia ratu. Saya akan menjaga keselamatan anda selama dua puluh empat jam." Jelasnya dengan sikap hormat


"Ah! iya, nanti aku harus melakukan operasi, kamu tidak boleh terlalu dekat denganku. Kamu boleh mengawalku tapi dari jauh saja. Dan datang saja saat situasiku berada dalam keadaan bahaya." Perintahnya pada pengawal tersebut.


Pria itu sepertinya mengerti, dia menganggukkan kepalanya kemudian lima detik selanjutnya sudah tidak ada di sebelahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2