Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
찡그린- Sulking


__ADS_3

"Bukan! saya bekerja pada anda karena saya kagum dengan anda. Saya menyukai cara anda bekerja dokter!"


"Jika tidak ada yang ingin kamu katakan lagi saya pulang dulu." Irna menyalakan mesin mobilnya berlalu dari hadapan Dark Wilson.


"Tentu saja aku akan tetap tinggal, karena kamu adalah Irna Damayanti." Ujar pria itu sambil melempar tasnya ke dalam mobil.


"Dia bukan pemuda biasa! entah peran apa yang akan dimainkan oleh pria setengah manusia itu!" Gerutu Irna sambil menginjak pedal gasnya lebih laju dari biasanya.


Dark melajukan kendaraannya menuju sebuah hutan di dekat pegunungan. Hutan yang jarang dan hampir tidak pernah di datangi manusia


Pria muda itu masuk ke dalam goa. Perlahan-lahan baju dokternya berubah menjadi jubah hitam. Gigi taringnya mencuat keluar.


Beberapa saat kemudian pria itu lenyap ditelan kegelapan malam.


Pria setengah manusia itu sedang berburu binatang di dalam hutan. Menghisap darahnya sampai kering baru kembali pulang ke apartemennya di perkotaan tak jauh dari NGM.


Pria itu sudah hidup lebih dari dua ratus tahun. Dia putra Wilson, Wilson memiliki wajah mirip dengan Fredian. Vampir yang telah hangus karena kedatangan Irna lima tahun lalu.


Akan tetapi darah Dark sendiri adalah darah campuran, bukan vampir murni karena ibunya adalah manusia biasa.


Irna sudah mengetahuinya sejak pria muda itu melangkah di belakang punggungnya diam-diam. Dia bisa mencium aroma vampir dari dalam tubuh pria itu.


Irna juga tahu, kalau Rian tidak mengetahui identitas pria itu yang sesungguhnya. Irna tidak bisa menyalahkan Rian.


"Kamu di mana?" Tanya Irna melalui telepon.


"Ah, aku lupa sekali tidak menghubungimu. Aku masih meeting di sebuah restoran." Jawab Fredian melalui ponselnya.


"Baiklah, aku akan ke NGM sebentar ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Rian." Ujarnya lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


Setengah jam kemudian Irna memakirkan mobilnya di sebuah gedung besar, pusat penelitian NGM.


Saat masuk ke lobby NGM, Irna melihat Arvina sedang membetulkan letak dasi Rian. Irna tersenyum cerah sambil berjalan menuju mereka berdua.


Saat ini usia Arvina sudah menginjak empat puluh tahun. Melihat sinar mata Arvina gadis itu sangat mencintai suaminya.


Mereka menikah sudah tiga tahun, dan belum dikaruniai keturunan sampai saat ini. Melihat kedatangan Irna tatapan Rian dari Arvina segera beralih ke arahnya.


Arvina segera meninggalkan mereka berdua, dia tahu jika dia tetap di sana atau mencemburuinya itu juga tidak ada gunanya. Karena dialah yang memaksa Rian agar mau menikahi dirinya.


Gadis itu merelakan sisa hidupnya untuk menemani pria yang sama sekali tidak pernah menyentuhnya ataupun menciumnya.


Pasangan yang sama-sama terluka dengan hatinya masing-masing. Dan memendam perasaan cintanya sendiri-sendiri.


"Ada apa kamu kemari?" Rian melangkah menuju kafe yang ada di dalam gedung tersebut tempat para karyawan menikmati waktu istirahat.


Irna mengikutinya lalu duduk di sebuah bangku kayu yang berjajar rapi di dalam ruangan tersebut.


Pria itu berjalan menuju bangku dengan secangkir kopi di tangannya, dimana Irna sedang duduk sekarang.


"Terima kasih." Ujarnya saat pria itu meletakkan cangkir kopi di atas meja.


Irna mengambil cangkir kopi tersebut dan mulai menikmatinya. Sesaat kemudian Rian yang mengambil cangkirnya dan ikut meminumnya.


Melihat itu Irna sedikit terkejut.


"Kamu sudah menikah, hentikan kelakuan konyolmu barusan." Rian hanya tersenyum melihat wajah masam di depannya itu.


"Ah aku ingin bertanya, bagaimana kamu bisa mengenal Dark?"


"Pemuda itu datang padaku seminggu yang lalu, dia memohon-mohon padaku agar aku mengantarkan dia untuk menjadi bawahanmu."


"Kenapa apa ada masalah dengannya?" Tanya Rian tidak mengerti.


"Tidak ada, dia hanya memainkan sekenario dengan sangat sempurna!" Ujar Irna sambil terkekeh menatap wajah Rian yang kebingungan.


"Aku akan kembali." Irna beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu sebentar, ikut aku ke ruangan kerjaku. Aku punya hadiah kecil untukmu."


Pria itu tersenyum sambil menatap wajah Irna, terlihat gadis itu sedikit penasaran dengan kejutan yang menantinya.


Irna masuk ke dalam ruangan kerjanya, gadis itu melihat ke sekelilingnya. Tempat yang sama dan pemandangan yang sama.


Rian mengulurkan kotak kecil padanya, Irna segera membukanya untuk melihat isinya.


"Softlens??!" Gadis itu tersenyum renyah sambil memainkan botol lensa di sebelah wajah cantiknya.


"Aku membuatnya khusus untukmu." Ujarnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Irna sedikit panik sambil menarik lengannya dan memutar tubuhnya untuk melihat jika ada luka di bagian tubuh pria itu.


Rian menatap wajah Irna dengan tatapan lembut dan dalam.

__ADS_1


"Tidak ada yang terluka." Ujar pria itu sambil menghentikan Irna.


"Lalu kenapa wajahmu terlihat ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" Pertanyaan Irna dijawabnya dengan sebuah pelukan hangat.


Irna mematung diam dalam pelukannya, botol lensa masih ada di dalam genggaman tangannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Irna lagi tidak mengerti.


"Terima kasih untuk tetap hidup. Terima kasih untuk tetap membiarkan diriku mencintaimu." Irna menepuk punggungnya.


"Maafkan aku karena memelukmu seperti ini, aku pasti terlihat sangat menjijikkan dan menyedihkan." Ujarnya sambil melepaskan pelukannya.


"Apa yang kamu katakan, jangan berkata seperti itu." Irna memiringkan kepalanya sambil tersenyum menatap wajah sedih di depannya.


"Kamu mengejekku karena menangis?" Tanyanya pada Irna sambil mengusap kepala gadis itu.


"Aku ingin membuatmu tersenyum dengan melihatku tersenyum. Tapi sepertinya tidak berhasil."


Irna melangkah menuju westafel dan mencoba softlens yang diberikan Rian padanya.


"Bagaimana kamu bisa membuatnya senyaman ini?" Irna merasa tidak sedang menggunakan lensa sama sekali.


"Aku sudah bilang itu khusus untukmu. Aku menyesuaikan itu dengan korneamu sebaik mungkin." Ujarnya sambil tersenyum menyilangkan kedua tangannya di depan dada atletisnya.


"Triiiing!" Irna menunjukkan layar ponselnya kepada Rian, Fredian sedang menghubunginya.


"Iya, ada apa?" Tanya Irna pada suaminya itu.


"Aku berada di rumah. Apa kamu tidak jadi pulang?" Tanyanya pada Irna.


"Aku masih ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan istrimu." Sahut Rian di sebelah Irna.


"Aku tidak akan membiarkan kalian bermain di belakangku." Seloroh Fredian pura-pura marah.


"Aku akan segera kembali, perlu berapa detik? haruskah aku meninggalkan mobilku di NGM?" Tanya Irna segera.


Fredian segera memijit keningnya, pernah Irna selalu berpindah tempat sesuka hatinya. Dan membuat beberapa masalah dengan menghancurkan cctv di setiap tempat dirinya berada.


Itu membuat dirinya merasa repot, menjadi saksi karena dia waktu itu juga sedang berada di lokasi.


"Tidak! jangan lakukan itu lagi, aku lelah jika harus bolak-balik ke kantor polisi! naiklah mobilmu dan menuju ke sini istriku sayang."


Ujarnya kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


"Aku harus kembali, apa kamu tidak akan pulang ke rumah?" Tanyanya pada Rian. Pria itu sedang berdiri bersandar di ambang pintu.


"Jangan terus menghindarinya." Ujar Irna di tengah langkahnya.


"Jangan mendorongku lebih jauh lagi dari ini. Jika aku keluar dari batasanku, itu bukan ke arahnya tapi ke arah wanita yang terus-menerus mendorongku!" Balasnya sedikit dingin.


"Argumen yang lumayan bagus." Gadis itu tersenyum dan terus melangkah santai.


"Aku tidak sedang bermain argumen! apa kamu ingin aku menunjukkannya padamu!?" Mendengar itu Irna menghentikan langkahnya menatap wajah pria di sebelahnya.


Mereka berdua sedang berada di lorong jalan menuju lobby.


"Maafkan aku." Dua patah kata itu yang meluncur dari bibir tipisnya. Gadis itu berdiri berhadapan dengan Rian.


Rian masih menatapnya tajam, tatapan wajah yang tidak sedang bercanda.


Rian menarik tangan Irna, saat menarik kepalanya Irna tahu apa yang ingin dilakukan pria itu. Irna segera menjentikkan jarinya dan dia lenyap saat itu juga dari pelukan Rian.


Lalu muncul lagi dalam dua detik beberapa meter di depannya.


"Aku tidak akan mendorongmu lagi. Tapi aku tidak ingin melihatmu terluka."


"Kamu semakin membuatku sakit saat terus menerus mendorongku."


Rian membalikkan badannya berjalan menuju ruangan kerjanya. Dia tidak ingin melihat wajah Irna saat itu.


"Maafkan aku, Rian.." Irna berjalan seorang diri melangkah menuju lobby.


Dua orang berjalan berlawanan arah jalan.


Irna sampai di rumah Fredian satu jam kemudian. Wajah gadis itu terlihat sedikit kusut, dan Fredian mengetahuinya.


"Aku tahu mantan suamimu merajuk." Fredian mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es dan meneguknya.


"Dari mana kamu tahu?" Irna menoleh ke arahnya saat menggantung mantelnya.


"Wajahmu mengatakan segalanya." Ujarnya pada Irna.


"Aku juga tidak tahu dia bisa bertahan selama itu hanya untukku. Aku pikir setelah dia menikah keadaannya akan lebih baik dari sebelumnya."

__ADS_1


"Tapi melihatnya hari ini dia lebih menyedihkan dari sebelumnya." Terang Irna sambil menenggelamkan wajahnya di atas meja makan.


"Aku bahkan pernah berada di situasi yang lebih buruk dari dirinya, karena melihatku sangat menyedihkan dia mengembalikamu padaku." Jelasnya pada Irna.


"Lalu?" Tanya Irna.


"Biarkan dia berjalan seperti keinginannya, jangan pernah berfikir kamu bisa merubah jalan hidup seseorang. Dia mengikuti kata hatinya, dia merasa nyaman dengan keputusannya."


"Kamu berhasil membujuknya untuk menikah, tapi hatinya sudah mati jauh dari sebelumnya. Aku sangat mengenal pria itu, jauh sebelum dirimu."


"Pria yang sangat dingin dan tidak pernah tertarik melihat wanita manapun, kecuali saat melihatmu!" Terangnya sambil memutar botol di atas meja.


"Kamu sama sekali tidak memberikan solusi." Irna menggelengkan kepalanya sambil terus meletakkan dagunya di atas meja.


"Melihatmu sangat putus asa, sepertinya dia telah menciummu?" Pertanyaan Fredian menyalakan sebutir pemantik api terasa panas di dalam dada Irna.


Irna diam tidak menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Aku tidak ingin menjelaskan padamu." Ujarnya sambil meraih botol di atas meja meneguk isinya sampai habis seketika.


Gadis itu mengusap bibir dengan lengan bajunya lalu berdiri masuk ke dalam kamar tidurnya. Dia merendam tubuhnya dengan air hangat di dalam bathtub kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


Fredian menatap kepergian istrinya dengan tatapan yang sulit untuk dilukiskan.


Bayangannya istrinya berada di pelukan hangat Rian dan mencium bibirnya.


Fredian melangkah lebar masuk ke dalam kamarnya, dia tahu Irna sedang berada di dalam kamar mandi.


Irna keluar dari dalam kamar mandi mengenakan baju tidurnya.


Didapatinya Fredian masih belum tidur, dia berbaring di atas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


Irna berbaring di sebelahnya, gadis itu tidak berani memeluknya. Dia tidak ingin ditepis oleh Fredian.


Irna juga tidak ingin menjelaskan apapun padanya.


"Jika aku ingin melakukannya kenapa tidak saat aku selesai melahirkan Alfred langsung menikahinya." Gerutu Irna di dalam hatinya.


Selama itu bertahun-tahun bersamanya dia tidak pernah tidur dengannya. Dan hanya bersama-sama seperti itu.


"Aku tahu Rian sangat mencintaimu. Aku tidak tahu kamu mencintaiku atau tidak. Atau kamu hanya tidak ingin membuatku terlunta-lunta jadi memilih kembali menikah denganku." Fredian mengatakan isi hatinya saat itu.


"Jika memang kamu berfikir begitu, apa maumu sekarang?" Tanya Irna padanya, masih tetap memunggunginya.


"Kita bercerai dan menikah berulang kali. Aku lelah mengulang pernikahan kita." Ujarnya masih menatap langit-langit kamarnya.


"Jadi maksudmu kamu ingin bercerai denganku? dan tidak ingin menikahiku lagi begitu?! Jika darahku tidak berfungsi sama sekali seharusnya aku bercermin berapa usiaku dan bagaimana tampilan wajah kita di depan cermin sekarang." Gerutu Irna kesal sekali.


"Maksudku aku tidak ingin kita bercerai lagi." Sahut Fredian segera.


"Berhentilah berfikir mesum. Rian tidak melakukan apapun denganku." Tandasnya lagi, karena sudah tidak tahan dengan sikap merajuknya itu.


Fredian tersenyum lalu memeluknya erat dari belakang. Mencium rambutnya.


Irna tersenyum dan berbalik menghadap ke arahnya.


"Apa kamu yakin aku tidak mencintaimu sama sekali? apa kamu yakin aku menikah denganmu lagi hanya karena rasa kasihan?" Irna menatap lekat-lekat wajah di depannya itu.


"Aku tidak tahu di usiaku yang sudah hampir lima puluh tahun masih tetap dicurigai bermain belakang. Dan lucunya lagi, rivalmu itu sudah bersamaku tinggal di Jerman waktu kita bercerai."


"Jika dihitung lagi, waktuku berada di dekatnya lebih banyak dari pada berada di dekatmu sekarang." Jelas Irna tanpa sebuah senyuman.


Ucapan Irna saat itu mengungkapkan jika dirinya sudah sangat lelah. Dan tidak ingin dicurigai, dia ingin Fredian tidak meragukan dirinya lagi.


Keraguan yang ada hanya akan melukainya dan membuatnya pergi dari sisinya.


"Jika kamu ingin mengusir diriku. Katakanlah sekarang suamiku?!" Ujar Irna sambil menatap wajah Fredian.


"Aku tidak ingin ada perselisihan lagi di antara kita, menginjak usia senja." Tambahnya lagi.


"Aku hanya merasa kurang nyaman." Ujarnya sambil menutup matanya.


Fredian merasa malu dia hampir lupa jika usianya sudah tidak muda lagi. Bermain tarik ulur, dan menaruh rasa cemburu berlebihan terlihat sangat kekanak-kanakan.


Irna menarik ujung hidung suaminya itu. Membuat dia segera membuka matanya kembali.


Irna terjaga dari tidurnya, gadis itu melihat ke arah jam dinding.


"Fred! kamu ada meeting tidak hari ini?" Masih memeluk tubuh Irna dengan sangat erat, tidak rela istrinya itu pergi bekerja.


"Sudah aku batalkan semuanya." Sahutnya masih memejamkan matanya rapat-rapat.


"Kamu juga tidak akan ke kantor?" Tanya Irna lagi sambil mengguncang lengannya.

__ADS_1


"Aku cuti hari ini, dan kamu jangan berfikir akan bisa pergi ke rumah sakit! aku tidak akan mau melepaskan pelukanku!" Irna terkekeh geli mendengar ucapan suaminya.


bersambung...


__ADS_2