Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Pengganggu


__ADS_3

Sekitar empat jam Irna tersadar, saat dia membuka matanya ada Fredian yang sedang tertidur menelungkupkan kepalanya di tepi tempat tidurnya.


Rian memeriksa selang infus dan menyuntikkan beberapa obat melalui selang di lengannya.


"Rian.." Panggil Irna dengan suara parau.


"Apa yang kamu rasakan? apakah ada yang terasa sakit?" Tanya Rian sambil menyentuh rambutnya.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Bagaimana dia bisa ada di sini?" Tanya Irna sambil menunjuk Fredian.


"Dia bergegas mencarimu saat kamu pergi meninggalkannya kemarin, Reynaldi juga terkejut tiba-tiba kamu menghilang dari hotel semalam. Dia sudah menghubungiku." Jelas Rian pada Irna.


Fredian terjaga mendengar suara Irna sedang berbicara dengan Rian.


"Irna..?" Fredian meraih telapak tangan Irna dan menciumnya.


"Aku tidak mengenal wanita itu, dia muncul tiba-tiba entah dari mana aku juga tidak tahu." Jelas Fredian sambil menangis.


"Apakah kamu berfikir aku sengaja melakukannya dengan wanita itu?" Tanyanya lagi sambil menatap wajah Irna lekat-lekat.


"Kalian selesaikan masalah kalian, aku akan keluar dulu." Ujar Rian sambil menepuk bahu Fredian.


"Dia berlari memelukmu saat melihatku datang. Dan kamu mematung seperti itu! siapa yang tidak akan salah faham melihatnya?" Ujar Irna masih merasa terluka.


"Aku sangat terkejut tiba-tiba dia berlari memelukku! aku tidak mengenalnya, aku sama sekali tidak mengenalnya." Jelasnya lagi dengan putus asa.


"Jika kamu tidak mengenalnya, pasti ada seseorang yang sengaja membayarnya untuk menggodamu." Ujar Irna sambil berusaha untuk duduk, Fredian membantunya.


"Siapa?" Tanya Fredian dengan raut wajah tidak mengerti sama sekali.


"Jody Winarta, dan orang yang mengirimkan pesan juga menguntitku selama ini adalah dia. Dia semalam menyediakan kamar khusus untukku, dan aku berhasil kabur dari sana tapi saat aku mencarimu, aku malah mendapati dirimu berada di pelukan hangat wanita itu."


Jelas Irna sambil melihat lekat-lekat wajah Fredian. Wajah Fredian terlihat sangat geram mendengar penjelasan dari Irna.


"Pria itu benar-benar tidak bisa dibiarkan!" Ujarnya dengan wajah marah beranjak berdiri.


"Hei! jangan mengambil tindakan konyol, dia menunggu kemarahanmu dan dia akan menyiapkan perangkap lain. Pria itu sangat licik." Irna menahan tangan Fredian agar tidak pergi.


Pria itu segera duduk kembali di kursinya. Irna menatapnya sambil tersenyum.


"Bersabarlah, hem?" Irna memiringkan kepalanya mengerjapkan matanya berkali-kali menggoda Fredian agar tidak berwajah masam.


Pria itu berdiri dan memeluknya dengan erat.


"Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku." Bisiknya sambil menangis di bahu Irna.


Irna menepukan telapak tangannya di punggung Fredian, Rian masuk ke dalam ruangan melihat Fredian menangis di bahu gadis itu dia tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Irna boleh pulang sore ini, imun di tubuhnya sangat luar biasa. Gadis ini selain cantik dia juga sangat kuat."


"Bahkan sel-sel darah merahnya mampu memproduksi kolagen dalam jumlah besar secara alami dan membuat bekas lukanya menghilang dalam sehari." Jelas Rian sambil mengatur tetesan selang infus di sisi tempat tidurnya.


"Berhentilah menangis, kamu terlihat memalukan." Rian terkekeh sambil memegang bahu Fredian yang masih terisak di bahu Irna.


"Terima kasih sudah menemukanku, dan selalu ada di sekitarku dalam waktu yang sangat lama." Ujar Irna sambil menggenggam tangan Rian.


"Aku juga selalu ada di dekatmu, apakah kamu tidak berterima kasih padaku?" Fredian tersenyum melirik ke arah Rian.


"Kamu masih menganggapku rivalmu?" Rian terkekeh melotot pada Fredian.


Mereka berdua tertawa bersama, Irna hanya tersenyum melihat tingkah kocak mereka berdua. Gadis itu menoleh ke arah Rian dan Fredian bergantian.


Sore itu Fredian membawa Irna pulang ke rumahnya, dari kejauhan Jody berada di dalam mobil mewahnya. Dia menurunkan kaca mobilnya di kursi belakang, melihat ke arah mobil Fredian yang membawa Irna masuk ke dalam rumahnya.


Irna berada di gendongan Fredian masuk ke dalam rumahnya, Jody menatap di balik kaca mata hitamnya, pria itu dengan wajah geram melihat kebersamaan mereka.


"Jalan!" Ujarnya pada sopir yang duduk di depannya. Mobil Jody berlalu meninggalkan rumah Irna.


Irna melirik ke arah jalan, melihat mobil Jody sudah berlalu meninggalkan jalan di depan rumahnya.


"Turunkan aku, dia sudah pergi." Ujar Irna sambil menatap wajah Fredian, pria itu malah tersenyum sambil membawa tubuh Irna naik ke lantai atas.


"Fred?"


"Hem? apa kamu memerlukan sesuatu?" Tanyanya sambil mencium pipinya.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya sambil bergelayut di lengannya. Masih bersandar di bahu Fredian.


"Kamu tidak akan ke kantor?" Ujar Irna lagi masih memeluk erat lengannya.

__ADS_1


"Kamu mengusirku? tapi menahan lenganku, jadi apa maumu?" Tanya Fredian lagi melihat Irna tersenyum sengaja meledek dirinya.


"Ha ha ha! ya aku akan melepaskan lenganmu, berangkatlah. Jika berkasmu menumpuk lagi kamu juga akan kesulitan karena terlalu lama berada di kantor." Gadis itu melepaskan lengan Fredian dan berbaring di atas tempat tidurnya.


Bekas luka dan cakaran mahluk kemarin sudah hilang dari tubuhnya. Dan tidak berbekas sama sekali. Wajahnya juga kembali segar, tidak sepucat kemarin.


"Aku sudah baik-baik saja, dan besok sudah bisa kembali bekerja." Irna mencoba meyakinkan pria yang duduk di sebelahnya itu agar tidak menghawatirkan dirinya sepanjang hari.


"Aku akan meneleponmu nanti, oke?" Fredian kembali mencium pipinya, dan mengusap kepalanya. Di susul anggukkan kecil Irna.


Fredian meninggalkan Irna di rumahnya dan pergi menuju ke Reshort sore itu. Untuk menyelesaikan berkasnya hari itu. Sekitar jam delapan malam dia menghubungi Irna kembali.


Dia bercakap-cakap sebentar, dan Irna sudah berada di dapur untuk mencicipi beberapa kue. Mendengar suara renyah Irna dia merasa lega.


Rian datang ke rumah Irna setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk melihat kondisi gadis itu. Dia juga membelikan sekeranjang buah apel kesukaannya.


Rian langsung masuk ke dalam rumahnya, dia meletakkan buah-buahan di dalam lemari es.


"Aku sudah memasukkan buahnya di kulkas!" Teriaknya pada Irna yang masih menerima telepon dari Fredian.


"Iya letakkan saja di sana." Ujar Irna menjawab teriakan Rian.


Fredian mendengar suara Rian, dan langsung bertanya pada Irna.


"Dia sudah berada di rumahmu?" Tanya Fredian padanya.


"Hem, dia setiap minggu membawakan buah untukku. Dia selalu memenuhi kulkasku dengan buah-buahan." Ujar Irna berterus terang, karena memang selama ini Rian yang selalu membelikan buah untuknya.


"Aku merindukanmu, aku nanti malam akan pergi ke rumahmu." Ujar Fredian sambil tersenyum.


"Iya datanglah, Rian juga ada di sini." Ujar gadis itu sambil tersenyum lalu menutup teleponnya.


"Apakah sudah baik-baik saja?" Tanya Rian sambil duduk di meja makan menghirup kopi di atas meja.


"Iya untungnya lukanya sudah menghilang." Irna tersenyum sambil menunjukkan keningnya pada Rian bekasnya sudah hampir tidak terlihat.


"Syukurlah jika begitu."


Pelayan Irna sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Tak lama kemudian Fredian sampai di rumah Irna sambil membawa setumpuk berkas.


Irna melangkah mendekat ke arah Fredian, dia mengambil berkas dari tangannya dan meletakkannya di atas meja.


"Kenapa kita sekarang lebih terlihat seperti keluarga? ini aneh sekali." Ujar Rian sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Fredian hanya tertawa mendengar kelakar dari Rian.


"Kamu sudah menemukan orangnya?" Tanya Rian pada Fredian.


Fredian melemparkan pandangan kepada Irna.


Membuat Irna tersedak ketika menghirup jusnya.


"Ah, kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanyanya sambil pura-pura tersenyum.


"Irna yang manis, sepertinya masalah kali ini bukan berasal dari sekitarku?" Ujar Fredian sambil mengangkat kedua alisnya.


"Ha ha ha itu, orang yang mengambilku sebagai bintang iklan di perusahaannya, dan sepertinya dia yang sengaja membuat masalah untukku dan dia." Irna menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah Fredian.


"Ha ha ha! aku tahu, pasti dia salah satu dari kami!" Celetuk Rian tiba-tiba, membuat suasana berubah hening seketika.


"Apakah aku salah bicara?" Rian melirik ke arah mereka berdua.


"Tidak ada yang salah, kamu bisa menyebutnya seperti itu. ha ha ha! apa yang salah denganku sebenarnya?" Ujar Irna tertawa lalu kembali meminum jusnya.


"Apakah kamu masih ada pemotretan di perusahaannya?" Tanya Rian lagi sedikit merasa hawatir.


"Ada satu kali lagi." Jawab Irna singkat.


Malam itu berlalu dengan cepat, dilalui bersama obrolan mereka bertiga. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam Rian pamit untuk kembali, Fredian melanjutkan memeriksa berkasnya di ruang tengah.


Irna kembali ke lantai atas untuk beristirahat.


Setelah dua jam Fredian selesai memeriksa berkas, dia melangkah ke lantai atas melihat Irna sudah terlelap.


Dia menyelimuti tubuhnya dengan selimut lalu menutup gorden yang ada di jendela kamarnya.


Matanya tanpa sengaja melihat ke arah mobil yang berhenti tak jauh dari rumah Irna. Dia melihat kilauan teropong dari celah-celah kaca mobil.


"Apa dia benar-benar berencana memantau sepanjang waktu?" Bisik Fredian pada dirinya sendiri. Pandangan matanya beralih menatap gadis yang terlelap di balik selimutnya.


Wajahnya yang tertidur tanpa tahu apapun kesalahan yang dilakukan olehnya. Dan masalah terus menanti di sekitarnya.

__ADS_1


Fredian duduk di tepi tempat tidur mengecup keningnya. Dia menjaga Irna sambil bersandar di sandaran tempat tidur. Dan kemudian tertidur.


Jam lima pagi Irna terjaga melihat pria itu bersandar di sandaran tempat tidurnya.


"Apakah dia menjagaku semalaman? kenapa dia tidak berbaring?" Bisik Irna lalu merebahkan tubuh Fredian di tempat tidur dan menyelimutinya.


Irna beranjak turun dari tempat tidur menuju ke lantai bawah.


Saat turun ke lantai bawah, Irna mendengar suara bel pintu rumahnya berdentang.


"Aneh sekali, siapa tamu pagi-pagi buta begini?" Irna tidak berniat membuka pintu.


Dia tahu jika orang terdekat dengannya memiliki akses masuk ke dalam rumahnya, mereka adalah Reynaldi managernya, Rian dokter pribadinya, dan Fredian karena sering keluar masuk ke dalam rumahnya.


Anita dan Tika juga sering ke rumahnya tapi mereka lebih sering memencet bel daripada masuk langsung tanpa permisi.


Irna melihat ke layar bel, tidak terlihat wajah orang yang terus menerus membunyikan bel rumahnya. Tapi bel terus berbunyi berisik sekali.


Pelayan Irna juga tergopoh-gopoh berlari menghampiri Irna yang sedang santai meneguk air hangat di dalam gelas.


"Bagaimana nyonya, apakah dibukakan atau tidak?" Tanya pelayannya sambil menundukkan kepalanya.


"Biarkan saja, nanti juga akan lelah sendiri." Ujar gadis itu sambil tersenyum kecil.


Pelayannya hanya menggelengkan kepala sambil menggaruk keningnya melihat tingkah Irna yang tidak dia mengerti lalu kembali ke dapur menyiapkan makanan pagi itu.


Tak lama kemudian Irna mendengar ponselnya berdering di atas meja. Dia melirik nomor yang terpampang di layar.


Gadis itu hanya mendengus sambil menghabiskan air dari dalam gelasnya.


"Aku tahu kamu akan terus menerus mencari masalah denganku." Bisiknya sambil tersenyum melihat ponselnya terus berdering tanpa henti.


Bel di depan rumah Irna juga terus berbunyi tanpa henti bersahutan dengan suara ponselnya. Fredian terjaga melihat Irna tidak ada di tempat tidurnya dia berlari turun ke lantai bawah mencarinya.


"Kenapa kamu tidak membangunkanku?" Ujarnya sambil menuruni tangga berjalan menuju ruang makan berjongkok memeluk leher Irna dari belakang kursi.


"Aku hanya ingin minum air hangat, kenapa harus membangunkanmu?" Sambil tersenyum mendongak menatap pria dibelakangnya.


"Kenapa berisik sekali?" Fredian mengorek telinganya karena terus mendengar suara bel rumah dan dering ponsel Irna sejak tadi tidak berhenti.


"Aku melihatnya sepanjang malam dia berada di sana." Jelas Fredian padanya.


"Biarkan saja." Jawab Irna singkat.


"Aku akan mengantarkan kamu ke pemotretan hari ini, sekalian pergi ke kantor. Mobilmu juga masih berada di bengkel, belum selesai diperbaiki." Bisiknya.


"Ah, aku terlanjur menghubungi Reynaldi tadi. Dia akan menjemput ke sini." Ujar Irna sambil menatap wajah Fredian lagi menunggu keputusan darinya.


"Ya jika begitu, aku akan berangkat mendahuluimu. Ingat, aku akan selalu menunggumu, segeralah mengambil libur." Bisiknya lagi menatap wajah Irna dengan tatapan mendalam.


"Tapi jauh hari aku masih terikat kontrak kerja beberapa bulan ke depan, dan tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Gerutu Irna sambil meletakkan kepalanya di atas meja.


Fredian menarik kursi di sebelahnya, lalu duduk. Dia ikut meletakkan kepalanya di atas meja melihat wajah Irna sambil tersenyum. Sambil mengusap kepalanya dengan lembut.


"Ha ha ha ha!" Mereka berdua tertawa mendengar suara bel dan dering ponsel Irna yang sedari tadi tidak berhenti.


"Fred?"


"Hum?"


"Kenapa author gak bikin kisah kita bahagia sekarang sih?" Ujar Irna sambil berdiri melihat ke arah Readers yang juga melihat ke arahnya.


Ada anak kecil berlari menuju ke arahnya duduk di pangkuan Fredian.


"Aloo Readers, pelkenalkan namaku alfed!" Melambaikan tangan mungilnya di depan Readers.


"Oh si kecil sayang! mungkin author sedang bingung mengambil keputusan." Fredian menggendongnya dan mencium pipi tembem Alfred sambil melambaikan tangannya pada Readers.


"Jika aku bikin kalian bahagia sekarang kisahnya akan berakhir di sini, dan sebagian juga akan protes kok udah tamat Thor??" Sambil garuk-garuk kepala gara-gara bingung nentuin cerita selanjutnya, nulis seminggu gak keramas.


"Thor aku sangat menyayangi Readers!" Ujar Irna sambil menatap ke arah Readers dengan wajah serius.


"Aku juga!" Rian sedang menghisap lolipop melirik ke arah Readers.


"Aku juga cinta padamu Readers, perkenalkan aku Jody Wiranata, aku tahu kalian tidak begitu menyukai kehadiranku di sini." Menangis sambil memeluk Irna, Irna tersenyum sambil menepuk punggungnya.


"Jangan sedih Readers, kami semua mencintaimu! kami sangat bahagia ketika kalian membaca dan menikmati kisah kami di sini! I love you!"


Ujar mereka bersama-sama, Rian sambil merangkul Fredian yang masih menggendong si kecil Alfred, Irna dan Jody melambaikan tangannya ke arah Readers"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2