
"Tolong lepaskan saya tuan, dan minggir dari jalan, saya ingin segera pulang." Irna melepaskan pelukannya dan menarik pria itu ke tepi.
"Tunggu sebentar. Mungkin aku salah mengenalimu. Siapa namamu?" Tanyanya pada Irna.
"Nama saya Kaila, saya pekerja paruh waktu." Ucapnya dengan sopan.
"Bolehkah saya menumpang mobilmu, mobil saya tadi saat hujan terperosok ke dalam parit. Kebetulan saya sedang melakukan penelitian di sekitar sini. Saya akan memberikan ongkosnya." Terangnya lagi.
"Tapi mobil saya sangat kotor, dan mungkin akan membuat anda merasa kurang nyaman." Ujar Irna sambil menggaruk kepalanya.
"Ah nona tidak perlu khawatir. Brak!" Langsung naik dan duduk di sebelah kemudi.
"Kamu hanya ingin mengusirku, tidak akan bisa!" Bisiknya di dalam hati.
"Kemana saya harus mengantarkan anda?" Tanya Irna lagi padanya.
"Rumah saya." Ujarnya pendek.
"Di mana rumah anda?" Tanyanya lagi tanpa menoleh ke arah pria yang terus-menerus menatap wajahnya.
"Lurus saja, nanti ada belokan belok kanan. Setelah itu ada perempatan belok kiri. Sekitar empat kilometer belok kanan. Setelah itu satu kilometer belok kiri lagi." Tersenyum masih melihat ke arah Irna.
"Kenapa terlalu banyak belokannya?" Irna menoleh ke arahnya, lalu buru-buru menghadap ke jalan lagi.
Setelah tiga jam di dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Rian. Rumah yang dahulu pernah dia singgahi.
"Turunlah sebentar, aku akan membuatkan minuman hangat untukmu." Ujarnya pada Irna setelah turun dari mobilnya.
"Ah, tidak perlu tuan. Saya buru-buru, ayah saya sudah menunggu sejak sore." Ujar Irna masih tetap memakai maskernya, sambil memutar mobilnya berbalik arah.
"Apakah dia hilang ingatan? atau sengaja menjauhiku? atau dia gadis lain dan bukan Irna?? Astaga aku belum memberikan ongkosnya!" Pria itu masih menatap mobil Irna di tengah jalan. Menunggu mobil gadis itu menghilang dari pandangannya.
Irna sampai di rumah tuan Jend sekitar pukul sepuluh malam.
Gadis itu meletakkan kunci mobil pick up di gantungan kunci, dan menyerahkan amplop pembayaran limun pada ayah angkatnya.
Gadis itu melepaskan jaket dan topinya berjalan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan badannya dia duduk di belakang meja. Melihat daftar pesanan untuk besok.
"Kamu terlambat sekali hari ini?" Tanya pria paruh baya itu padanya.
"Iya tadi ada orang yang meminta diantar, mobilnya terperosok ke dalam parit karena hujan lebat."
Malam itu juga Rian kembali ke toko kelontong kecil yang tadi sore dia datangi. Penjaga toko tersebut bilang jika mereka akan memesan limun setiap seminggu sekali.
Rian mendapatkan nomor telepon perusahaan milik Tuan Jend. Pria itu segera menghubunginya.
"Kriiiing! kriing!" Irna segera mengangkat telepon di atas meja.
"Halo, jasa antar-jemput barang, ada yang bisa kami bantu?!" Ujarnya sambil menunggu jawaban dari seberang.
Rian mematung di tempatnya, dia kembali melelehkan air matanya mendengar suara dari seberang.
"Halo? ada yang bisa kami bantu? apakah ada orang di sana?" Tanya Irna lagi.
"Ah iya maaf, aku butuh jasa sopir pengganti kepalaku tiba-tiba pusing sekali." Ujarnya dengan membesarkan suara agar Irna tidak mengenalinya.
"Oke, bisa tunjukkan di mana anda berada sekarang. Kami akan menjemput anda di alamat tersebut."
"Jalan Angdale nomor 9, kota Z."
"Oke, kami akan segera ke sana."
"Ayah, aku harus pergi menjemput seseorang." Irna tersenyum sambil bersiap-siap untuk pergi.
"Iya hati-hati di jalan, jangan malam-malam pulangnya." Irna mengambil tangan tuan Jend lalu menciumnya dan segera berangkat, mengendarai taksi.
Sampai di alamat tujuan Irna segera turun dari taksi dan menghampiri mobil tersebut. Rian membeli mobil baru hari itu juga, dia bersembunyi di balik mantel di kursi belakang sambil memberikan kunci padanya.
"Kemana saya harus mengantarkan anda?" Tanya Irna sambil menyalakan mesin mobilnya. Rian menyodorkan sebuah kertas bertuliskan alamat pada Irna.
"Pusat penelitian NGM? sakit apa pria ini sampai harus pergi ke NGM." Bisik Irna dalam hatinya.
Setelah sampai di parkiran NGM, Irna mengehentikan mobil pria tersebut.
"Apakah anda bisa berjalan? atau perlu saya panggilkan seseorang?" Tanyanya lagi, pria di kursi belakang hanya menggelengkan kepalanya.
Irna turun dari mobilnya, dan membantunya keluar dari dalam mobil. Saat memapahnya Irna sedikit terkejut melihat, dia adalah Rian.
"Apakah dia sedang mengerjaiku?" Bisik Irna dalam hatinya.
"Apakah kamu sudah lupa denganku? aku adalah pria yang tadi sore kamu antar pulang." Ujarnya pada Irna.
"Oh, benarkah? sepertinya ingatan saya benar-benar buruk." Irna terus memapahnya sampai di dalam kantornya.
"Ini kunci mobil anda." Gadis itu meletakkan kunci tersebut di atas meja kerjanya. Kemudian mengambil kertas menuliskan ongkos jasa sopir pengganti padanya.
Rian menyodorkan uang ongkos jasa kepada Irna. Irna segera menerimanya dan pergi dari sana.
"Tunggu sebentar nona Kaila. Apa anda mencuri ponselku?!" Teriaknya pada Irna.
__ADS_1
"Apa barusan anda bilang? saya mencuri?!" Tanya Irna terkejut, dia tidak mengerti.
"Jika tidak, biarkan saya memeriksa tas anda." Rian berjalan mendekati Irna, sangat dekat. Irna segera menoleh ke arah lain saat pria itu menatap matanya lekat-lekat.
"Silahkan periksa!" Irna menyodorkan tas selempang miliknya pada Rian.
"Ini apa?!" Rian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas Irna. Membuat gadis itu terperanjat tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Tapi saya tidak mengambilnya." Ujar Irna lagi sambil berjalan melangkah mundur menjauh.
"Tapi buktinya sudah ada di depan mata." Rian melangkah lebih dekat lagi.
"Jika anda meminta ganti rugi, saya akan mencicilnya. Saya tidak bisa membayar penuh sekaligus. Dan saya benar-benar minta maaf sudah merugikan anda."
Irna menundukkan kepalanya menaruh hormat pada pria yang pernah menjadi suaminya itu.
"Buka masker dan topimu nona Kaila! jika kamu menolak saya akan menyerahkan urusan ini pada polisi" Perintahnya pada Irna.
Irna melepaskan topi dan maskernya di atas meja.
"Duduklah!" Perintahnya lagi. Irna mengikuti perintahnya, gadis itu segera duduk di kursi.
Rian mengambil beberapa peralatan dokter juga memakai sarung tangannya. Meletakkan beberapa obat di atas meja di dekat Irna.
"Untuk apa ini?" Tanya Irna terkejut, dia segera berdiri.
"Duduklah atau aku akan memanggil polisi kemari?" Gadis itu mau tidak mau kembali duduk.
"Jika dia memeriksa luka wajahku, dia akan tahu kalau ini bukan luka." Irna kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Anda tidak perlu memeriksa bekas lukaku, aku tidak ingin anda menyentuhnya." Ujarnya pada Rian sambil memegangi kedua tangan pria di hadapannya itu.
"Kamu mau aku memanggil polisi??!" Tanyanya lagi sambil tersenyum.
Irna menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
Rian mengambil antiseptik dan mulai membersihkan luka bakar pada wajah Irna.
Dia terus tanpa henti menatap tajam kearah mata Irna. Irna selalu menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan matanya.
Tapi lagi-lagi dia mengangkat dagunya agar mendongakan kepalanya.
Luka tersebut meleleh dan menghilang sama sekali, wajah bersih Irna ada di depan matanya. Wajah tanpa luka sama sekali.
"Sampai kapan kamu akan terus membohongiku?" Menyentuh kedua pipi Irna dengan telapak tangan.
"Apa yang tuan katakan, saya tidak mengerti. Maaf saya harus segera kembali." Ujar Irna sambil mengambil kembali topi dan maskernya.
"Tuan, saya sudah menurutimu kenapa masih melaporkan bahwa saya adalah pencuri?!" Irna mencoba melepaskan genggaman tangan Rian dari lengannya.
Benar saja lima menit kemudian seorang petugas kepolisian datang dengan baju seragam lengkapnya.
"Alfred!?" Bisik Irna dalam hatinya.
"Inikah orang yang papa sebut sebagai pencuri?" Tanyanya pada Rian.
"Dia bahkan memanggilnya papa? mereka berdua sangat dekat. Ah sudahlah, aku rasa aku tidak akan bisa menang melawan mereka berdua." Bisik Irna lagi dalam hatinya.
Waktu itu Alfred sedang pulang bertugas, dia sudah menelepon Rian untuk mampir mengunjunginya. Dan Rian menyiapkan kejutan untuknya.
"Oke aku akan membawanya pergi." Alfred tersenyum sambil memakaikan borgol di tangan Irna.
"Tidak perlu memborgolku, aku tidak akan kabur." Ujarnya sambil menatap wajah mereka berdua bergantian.
Alfred tersenyum sambil menggandeng tangan Irna, Rian melambaikan tangannya pada Alfred.
Alfred tidak membawa ibunya ke kantor polisi, tapi ke sebuah apartemen. Mereka masuk ke dalam.
"Bolehkah saya meminjam ponselmu, ayah saya sedang menunggu di rumah. Dia pasti akan sangat hawatir jika saya tidak kembali." Ujar Irna pada Alfred.
Dia segera menyerahkan ponselnya pada Irna, dan Irna langsung menghubungi tuan Jend.
"Ayah, mungkin malam ini aku tidak akan pulang. Ada pekerjaan lembur." Ujarnya pada tuan Jend.
"Iya, berhati-hatilah." Tuan Jend mengakhiri panggilan telepon.
Irna menyerahkan telepon tersebut pada Alfred kembali. Alfred menerimanya dan melepaskan borgol dari tangan ibunya.
"Kenapa kamu membawaku kemari?" Tanyanya pada Alfred.
Putranya itu memeluknya erat, dan tidak ingin melepaskan lagi.
"Mama, tidurlah di sini malam ini. Alfred sangat merindukanmu." Gumamnya sambil terisak-isak.
Irna membalas pelukannya sambil menganggukkan kepalanya, tidak sampai hati dia menolaknya lagi.
"Ma, lihat ini.." Alfred menarik tangan Irna di depan sebuah lemari, dan memperlihatkan semua isinya.
Gaun-gaun cantik yang dahulu sering bertengger di tubuhnya saat menjadi model, dan semua perlengkapan untuknya. Bahkan Alfred sangat jeli memilihnya, dia tahu apa saja yang biasa digunakan oleh ibunya.
__ADS_1
"Mama, kembalilah bersamaku! Alfred tidak ingin berpisah lagi."
"Tidak bisa, aku harus membuat Sisilia membayar perbuatannya." Irna menyentuh kedua pipinya.
"Mama tidak bisa kembali sekarang." Irna berjinjit mencium kening putranya, dan Alfred terpaksa merundukkan kepalanya karena Irna tidak sampai.
Alfred menarik Irna di atas tempat tidur lalu tidur di atas pangkuannya. Irna membelai rambut putra satu-satunya itu.
Saat pagi menjelang, Irna sudah tidak berada di sisinya. Alfred tersenyum membaca catatan kecil di atas meja.
"Alfred putraku, maafkan mama.. mama tidak berpamitan denganmu. Mama selalu sayang dan cinta Alfred. Bersabarlah sedikit lagi, kita akan bersama-sama lagi nanti. Salam cinta, dari Mama."
Alfred semakin bersemangat untuk mencari bukti-bukti yang ditinggalkan oleh Sisilia. Wanita kejam itu, seolah-olah telah menghilang seperti asap.
Beberapa bulan kemudian ditemukan jika wanita itu telah berada di Spanyol. Beberapa petugas kepolisian di sana menemukan jejak-jejak keberadaannya.
Akan tetapi mereka belum berhasil menangkap wanita itu. Ada seseorang yang sengaja melindunginya.
Hari ini Irna duduk di atas pasir menatap ke tengah laut. Waktu sudah senja, dan dia juga sudah selesai melakukan pekerjaannya.
Alfred tersenyum melihat ibunya yang masih memakai maskernya. Dia ikut duduk di sebelahnya.
Belakangan ini pria muda itu sering mengunjunginya. Irna tidak perduli dengan pandangan mata orang terhadap dirinya, kebanyakan dari mereka sedang berfikir mereka berdua sedang berkencan.
Karena Alfred adalah putra kandungnya, dan dia juga tidak ingin menjelaskan kebenaran itu pada mereka. Yang Irna pikirkan adalah saat putra satu-satunya itu akan menikah.
Dia juga tidak mungkin menjelaskan tentang kelainan pada darah di dalam tubuh ibunya.
"Apa kamu tidak ingin menikah nak? Usiamu sekarang sudah cukup untuk memiliki sebuah keluarga."
Irna tersenyum di balik maskernya sambil mengerjapkan matanya menatap wajah putra satu-satunya itu.
"Hahahaha, Mama ingin segera memiliki cucu?"
"Tentu saja! Mama akan sangat bahagia memiliki cucu dan menantu!" Ujar Irna bersemangat.
"Mama harus cepat pulang, biarkan Alfred yang mengurus Tante Sisilia." Ujarnya sambil meraih ibunya dalam pelukannya.
"Bersabarlah, mama akan membuat wanita itu segera menunjukkan batang hidungnya. Tidak lama lagi." Irna tersenyum sambil mencium kening putranya.
Kebahagiaan ibu dan anak, hanya mereka berdua yang tahu.
Arya Ardiansyah hendak berjalan mendekat, tapi dia segera membatalkan niatnya. Dia melihat Kaila yang tidak lain adalah Irna. Gadis itu memejamkan matanya berada di pelukan hangat putranya.
"Siapa pria tampan itu, kenapa wajahnya terlihat sebelas dua belas dengan Fredian Derosse???!" Gumamnya sambil terus mengusap kedua matanya agar bisa melihat dengan lebih jelas.
Irna akhirnya berpisah dengan putranya, karena hari semakin gelap.
Alfred melangkah menuju mobilnya setelah Irna pergi mendahuluinya dengan motornya.
"Hei kamu?!" Arya mendekat ke arah Alfred Derosse. Pemuda tampan itu mengeryitkan dahinya menatap pria di depannya.
"Anda memanggilku?" Alfred menunjuk dadanya sendiri.
"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu?!"
"Ada apa?" Tanyanya lagi tidak mengerti kenapa dia memanggilnya, wajah Arya Ardiansyah terlihat tidak senang.
"Apa hubunganmu dengan karyawan restoranku?!" Selidiknya seraya menatap lekat-lekat wajah Alfred.
"Dia pacarku!" Nyengir sambil berlalu dengan mobilnya.
"Woi! aku belum selesai bicara!" Teriak Arya Ardiansyah sambil berkacak pinggang.
Alfred menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil tersenyum menatap wajah Arya dari kaca spion mobilnya.
Irna sampai di rumah tuan Jend, saat itu beliau sedang sakit. Irna yang merawatnya dan dibantu oleh Reno.
Irna membawa tuan Jend ke rumah sakit karena sudah satu minggu keadaan beliau tidak kunjung membaik.
Dia dan Reno bergantian berjaga. Waktu itu tanpa sengaja Rian sedang berdiskusi dengan Presdir rumah sakit tersebut mengenai vaksin.
Pria itu melangkah menuju ruangan meeting, dia melihat Irna dibalik maskernya sedang duduk cemas sambil mendongak menyandarkan kepalanya di kursi tunggu.
Reno sendiri pulang untuk menyelesaikan pekerjaan hari itu. Irna malam itu berjaga sendirian di rumah sakit.
"Siapa yang sakit?" Rian tiba-tiba berjongkok di depan wajahnya.
"Oh, anda mengenalnya?" Tanya Presdir rumah sakit tersebut pada Rian.
"Iya, wanita ini adalah mantan istriku." Ujarnya sambil tersenyum menjawab pertanyaan temannya itu.
"Oke, aku akan menunggumu di ruang kerjaku, kamu selesaikan urusanmu dahulu dengannya."
Pria itu tersenyum melangkah santai meninggalkan mereka berdua, sambil memasukkan kedua telapak tangannya di dalam saku jas putihnya.
Irna membelalakkan matanya mendengar Rian menyatakan setatus masa lalunya. Tanggapan tersebut disambut sebuah senyuman manis yang selalu bertengger di bibirnya setiap saat melihat Irna.
"Papaku yang sakit." Ujar Irna masih bersandar pada kursi.
__ADS_1
Bersambung...
Please like+komentar*