Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Lima Truk Mawar Merah


__ADS_3

"Jangan seperti ini, berdirilah.. jangan memohon lagi." Irna mengangkat tubuh Fredian agar berdiri.


"Kamu tidak seperti ini sebelumnya, kamu bukanlah tipe pria yang akan memohon kepada orang lain." Tambah Irna lagi, mengalihkan pandangan seraya mengusap air matanya.


"Aku harus ke kantor sekarang, kamu baik-baiklah.." Gadis itu melepaskan tangan Fredian. Masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya.


Fredian yang dikenalnya memang sangat lembut, namun keras kepala jika itu menyangkut hubungan antara dirinya.


Berapa banyak luka yang mereka lalui sejak awal hingga saat ini.


Tatapan Irna melayang jauh ke luar jendela mobil, menatap pepohonan di sekitar jalan raya.


"Aku tidak tahu, apakah kami pada akhirnya akan masih bisa bersama.." Bisiknya dalam hati, masih menahan kepedihan dalam hatinya.


Sesampainya di dalam kantor Rini berdiri menyambutnya. Berjalan mengikuti dari belakang.


"Ini berkas yang harus ditandatangani hari ini Bu, dan skema proyek NGM diminta hari ini."


"Iya, kembalilah. Aku akan mengantarkan nanti setelah selesai menandatangani ini."


Irna mengusap keningnya, hari ini akan menemui Rian.


"Bahkan pikiranku masih begitu kalut, dan aku harus kembali menemuinya.." Ujarnya perlahan beranjak berdiri menata berkas memasukkan ke dalam tas.


Irna mengendarai mobilnya menuju NGM, di lobi kantor terlihat Reyfarno duduk sedang mengobrol dengan seorang wanita. Irna melihatnya sekilas, mengabaikannya dan menuju ke ruangan Rian.


"Kenapa sepi sekali kantornya? kemana pria itu? apa aku salah jam?" Melirik kembali arloji di tangannya.


Irna meletakkan berkasnya di atas meja, mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia berniat menghubungi Rian.


"Kamu sudah datang?" Tanya seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.


Irna membalikkan badannya melihat ke arah suara.


Reyfarno, dia masuk ke dalam ruangan.


"Saya kemari mengantarkan berkas yang diminta kemarin." Ujar gadis itu tanpa ingin melihat wajah pria di depannya.


"Duduklah." Perintah Reyfarno seraya menarik kursi untuknya.


Gadis itu menghela nafas panjang kemudian duduk.


Reyfarno beranjak berdiri duduk tepat di sebelah Irna. Dia menunjukkan beberapa ruangan di dalam skema, dan ingin Irna melakukan perubahan sedikit.


Irna hanya manggut-manggut mendengarkan uraian dari Reyfarno. Tidak tahu sejak kapan wajah mereka begitu dekat.


Merasakan hal yang tidak asing, Irna segera menggeser tempat duduknya agak menjauh.


"Aku tidak ingin mencari masalah apapun dengan orang di sekitarku!" Ujar gadis itu dalam hatinya.


"Kamu menjauh dariku?" Tanya Reyfarno tersenyum sinis menatap Irna.


"Saya rasa, saya sudah menyampaikan apa yang seharusnya saya sampaikan. Saya mohon undur diri." Irna segera berdiri.


"Braak!" Reyfarno melemparkan berkas ke atas meja dengan kasar.


"Astaga, apa yang sedang dilakukan pria ini!" Ujar Irna dalam hati masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"Kamu tidak melihat, ini belum beres dan masih harus diperbaiki di sana sini!" Pria itu tiba-tiba berteriak.


"Saya dengan besar hati meminta maaf, dan saya akan memperbaikinya sesuai permintaan anda." Ujar Irna mencoba untuk tersenyum.


Lalu Irna mengambil berkas yang berantakan di atas meja, menatanya kembali satu persatu.


Reyfarno tiba-tiba menggenggam lengan tangannya. Membuat gadis itu berhenti.


Irna terkejut melihat ke arah Reyfarno.


"Apakah kamu dengan sengaja mempersulit pekerjaanku?!" Tanya Irna dengan senyum sinis menarik ujung bibirnya.


Reyfarno menyentakkan tangan Irna hingga mau tidak mau tubuhnya duduk kembali di atas kursi di samping pria itu.


"Kamu mencari alasan untuk pergi meninggalkan rapat ini, dan menuduhku mempersulitmu?!" Ucap pria itu di depan wajah Irna.


Irna segera menjauhkan wajahnya. Jika tidak, orang yang melihat mereka akan berfikir mereka tidak sedang berdiskusi tapi sedang berciuman.


"Ya, cepat selesaikan dan lepaskan lenganku" Perintah Irna mencoba melepaskan genggaman tangan Reyfarno.


Reyfarno melepaskan genggamannya. Kemudian kembali membahas proyek tersebut. Menurut Irna apa yang dibahas pria di sebelahnya itu sama sekali bukan hal yang penting.


Dan bahkan tidak masuk akal sama sekali. Irna tahu jika Reyfarno hanya mencari alasan saja. Tapi Irna tidak tahu apa maksud dan tujuannya.


Rian baru datang ke kantor, mendengar suara langkah kaki Rian, Reyfarno segera meraih kepala Irna dan mencium bibirnya.


Rian yang ketika itu membuka pintu, tidak terkejut sama sekali melihat mereka.


Irna mendorong Reyfarno menjauh. Pria itu masih menahan kepalanya.


Akhirnya Reyfarno melepaskan tangannya, Irna yang sudah sangat emosi.


"Plaaak!" Tamparan Irna mendarat di pipi Reyfarno.


"Kamu yang merayuku, sekarang pura-pura menamparku?? kamu ingin kami menjadi salah faham!" Teriak Reyfarno marah-marah.


"Siapa yang akan salah faham?! bukankah sangat jelas kamu menahan kepalaku??! hanya orang buta yang akan berfikir akulah yang memulai merayumu!" Tandas Irna.


Rian melihat berkas Irna satu persatu, tanpa ingin menoleh menatap kakaknya.


"Kamu percaya dengan yang diucapkan wanita ini?? racun apa yang telah dimasukkan ke dalam minumanmu hingga kamu tidak peduli dengan kata-kata dariku lagi!"


"Racun? mana ada racun? aku seorang dokter ilmuwan ahli dalam bidang penelitian! aku fikir kamulah yang sudah terkena racun depresi!" Sergah Rian.


"Bbua ha ha ha ha!"


Mau tidak mau, ketika mendengar ucapan Rian, Irna menyemburkan gelak tawa.


Dengan wajah merah padam Reyfarno meninggalkan ruangan.


"Sudah puas tertawa?" Tanya Rian menghentikan gelak tawanya


"Hem, he he" Irna mengangguk kecil, masih terkekeh geli.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Rian tiba-tiba.


"Apa?" Tanya Irna tidak mengerti.

__ADS_1


"Ciuman kakakku!" Mengusap bibir Irna dengan ibu jarinya, memandang sinis.


"Huh!" Gadis itu mendengus mendengar pertanyaan Rian. Menurunkan tangan Rian dari bibirnya.


Dia tahu ini akan terjadi, dan Rian sengaja menanyakan hal itu setelah kakaknya pergi.


"Ciumannya, sangat lembut dan manis sekali!" Dengan sengaja Irna menggali luka di hati Rian.


Irna melihat kecemburuan yang sangat besar.


Hanya dengan cara itu Rian akan merelakan dirinya, kini dia tahu bahwa dialah yang membuat Rian berantakan akhir-akhir ini.


Dan Irna tahu tujuan Reyfarno menciumnya, agar Rian salah faham kemudian pergi meninggalkannya.


"Entah kenapa aku jadi sangat jijik mendengar ucapan yang keluar dari bibirmu barusan!" Ujar Rian mengiris hati Irna.


"Jresss!" Luka dalam hati Irna kembali teriris dan mengeluarkan darah, kali ini dia mendengarnya langsung dari orang yang dahulu sangat menyayangi dirinya.


"Entah kenapa aku merasa sangat lebih baik, mendengar pernyataan darimu Rian Aditama, akhirnya kamu sadar seperti apa wanita yang kamu cintai sebelumnya."


Irna mengukir sebuah senyuman tawar, menahan air mata.


"Kakakmu sudah membahas berkas ini sejak pagi, aku rasa kita tidak perlu membahasnya untuk mengulanginya."


"Jika kamu tidak puas dengan ini, kamu bisa memutuskan kontrak kerja sama denganku, aku dengan senang hati akan membayar seluruh pinalti."


"Dan juga uang yang kamu kirimkan padaku aku akan mengembalikan padamu." Ujar Irna mengambil tasnya mengambil card meletakkan di atas meja, gadis itu pergi meninggalkan Rian tanpa ingin menjelaskan apapun padanya.


"Aku sangat membencinya sekarang, tapi hatiku sangat sakit mendengar pernyataan darinya!" Geram Rian setelah Irna keluar dari kantornya.


Jam dua belas siang Irna kembali ke kantor melanjutkan pekerjaanya.


"Halo.." Ujar Irna mengangkat telepon.


"Aku akan bertanggung jawab!" Ujar seorang tiba-tiba dari seberang.


"Apa maksudmu?!" Tanya Irna tidak mengerti.


"Aku akan menikahimu!" Ujarnya lagi.


"Apa kamu bilang? menikahiku?" Irna baru sadar jika yang menghubunginya itu adalah Reynaldi.


"Aku tidak ingin menikah denganmu! menjauhlah dariku, aku tidak ingin terlibat dalam masalah lagi! klak!" Ujar Irna memutuskan pembicaraan.


"Mengingat wajahnya saja sudah membuat diriku merasa hancur! walaupun itu bukan salahnya! tapi lebih baik menjauh sejauh mungkin!" Bisik dalam hatinya.


"Bu Irna.." Rini tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan Irna.


"Ada apa?" Irna terkejut melihat Rini.


"Itu, seseorang mengirim lima truk bunga mawar ke kantor kita!" Ujar Rini seraya mengatur kembali nafasnya.


Irna beranjak berdiri berjalan keluar, dari dalam kantornya. Dia melihat seseorang melambaikan tangannya tersenyum ke arahnya.


"Pria itu benar-benar sudah gila!" Ujar Irna masuk kembali ke dalam ruangan memijit pelipisnya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2