Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Fake meeting


__ADS_3

"Aku tahu kamu mencintaiku." Pria itu akhirnya tersenyum mengusap lengan Irna yang berada di atas dadanya.


Mereka berangkat bersama, Fredian mengantarkan Irna ke rumah sakit. Gadis itu melambaikan tangannya sebelum mobil Fredian meluncur pergi dari depan rumah sakit.


Irna melangkah santai menuju lobby, dia melihat mobil Rian masuk ke halaman rumah sakit tersebut menuju ke area parkiran bawah tanah. Pria itu menurunkan kaca mobilnya sesaat, melihat Irna yang tengah mengentikan langkahnya menuju lobby. Rian tersenyum lega, lalu menaikkan kaca mobilnya kembali.


"Akhirnya dia kembali!" Bisik Rian dalam hatinya, pria itu sudah was-was kalau Fredian akan menjadikan dirinya sebagai seorang tahanan.


Saat dia masuk menuju ruangan kerjanya, Rian melihat Irna sudah berdiri di luar pintu ruang kerjanya.


"Ini." Irna mengulurkan berkas-berkas yang dibawanya dari ruangan kerjanya sendiri, sebelum menunggu pria itu.


"Apa ini?" Rian terkejut kenapa Irna tiba-tiba menyerahkan berkas tersebut padanya. Dia tidak mengerti apa maksud Irna.


"Itu berkas pasien penting yang aku tangani selama ini. Bukankah tadi pagi kamu menghubungiku untuk berkas itu??" Tanya Irna balik padanya.


"Ah iya, untuk ini. Kamu benar, hanya untuk ini." Rian tersenyum kecut, lalu membawa berkas tersebut masuk ke dalam ruangannya. Irna melihat semburat kekecewaan dari wajahnya.


Wajah kecewa karena Irna datang hanya untuk memberikan berkas itu padanya. Dia berpikir Irna kembali karena Fredian mengatakan yang sebenarnya bahwa fredianlah yang ingin Rian memecatnya hari itu, bukan keinginan Rian pribadi.


Rian meletakkan berkas tersebut di atas meja kerjanya. Pria itu memijit-mijit keningnya karena pusing sekali. Dia sendiri bingung harus mengatakan apa pada mantan istrinya itu.


Irna sudah kembali ke dalam ruangan kerjanya, gadis itu tersenyum lalu keluar dari dalam ruangan kerjanya membawa tasnya melangkah menuju lobby rumah sakit.


Dia pindah ke rumah sakit lainnya, bukan di rumah sakit dimana Rian berada sekarang. Walaupun rumah sakit tersebut juga di bawah kekuasaan keluarga Aditama, tapi setidaknya Irna tidak akan bertemu dengan Rian setiap hari seperti sebelumnya.

__ADS_1


Karena Irna sudah berprestasi dan namanya cukup melejit di kalangan para dokter. Dia meraih jabatan yang sama di rumah sakit tersebut. Teman Rian bernama Nicolas Anelka yang memegang jabatan Presdir di rumah sakit tersebut.


Dan pagi itu dia segera menghubungi Rian, setahu Nicolas Anelka, hanya Rian-lah yang menjadi wali Kaila Elzana.


"Dia datang ke sini pagi ini." Jelasnya pada Rian melalui ponselnya.


"Biarkan saja." Jawab Rian singkat, sesingkat perasaan dalam hatinya merasa patah karena gadis itu memilih pergi menghindarinya.


Setahu Irna Rian memang memecatnya, dan setahu Irna Rian memang meminta berkas pagi itu ketika menelepon Fredian. Bukan untuk kembali memintanya bekerja di rumah sakitnya.


Pria itu meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerjanya. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya, tidak bisa berbuat apa-apa.


Hari itu kebetulan ada meeting antara presdir di rumah sakit Nicolas Anelka, Rian juga ikut hadir di sana. Entah itu kebetulan atau Nicolas Anelka yang sengaja mengadakan sebuah pertemuan penting tersebut demi sahabat karibnya itu.


Apalagi suara Rian di telepon pagi ini terdengar begitu putus asa! begitu terluka mendengar Kaila Elzana pindah ke rumah sakitnya. Nicolas tahu sahabat karibnya tengah terluka, terluka sangat dalam. Dan hanya dia satu-satunya yang tahu. Dan peduli padanya saat ini.


Nicolas sengaja mengajak Irna untuk mengikuti meeting tersebut, "Ah, presdir apa peran saya dalam meeting ini? saya hanya dokter baru di rumah sakit ini." Tanya Irna pada Nicolas, mereka berdua tengah berjalan menuju ke ruang meeting.


"Ikut saja, nanti kamu juga pasti akan tahu." Pria itu tersenyum, sambil mendahuluinya melangkah menuju ruang meeting. Di sana para Presdir sudah berkumpul sekitar sepuluh presdir rumah sakit yang memimpin beberapa rumah sakit di London.


"Duduklah," Perintah Nicolas Anelka pada Irna karena gadis itu tengah berdiri di sebelahnya. Dan kursi kosong tersebut berada di sebelah Rian Aditama. Irna bisa mencium aroma parfum dari tubuh Rian yang sedang membolak-balikkan berkas di atas meja.


Selagi mereka melakukan rapat, Irna hanya bisa terdiam mendengar mereka bertukar pendapat. Dia merasa asing berada di sana, tapi kemudian Rian menyodorkan kertas ke samping tepat di depannya.


"Kenapa kamu pindah ke sini? apa aku kurang banyak menggajimu?!" Coretan tersebut membuat Irna menahan tawanya.

__ADS_1


Nicolas Anelka tersenyum melihat wajah mereka berdua saling tersenyum bertukar pandang satu sama lain. Dia tahu tidak sia-sia mengumpulkan sepuluh presdir hari itu.


Kini tiba saatnya Rian mengutarakan pendapatnya, tapi dia malah tersenyum melihat kertas di depannya sekarang. Hingga Irna terpaksa menginjak kakinya untuk mengingatkan dirinya tentang perannya dalam meeting hari itu.


"Apa?" Bisiknya masih tidak mengerti kenapa Irna menginjak kakinya.


Irna hanya bisa membuat isyarat melalui tatapan matanya agar dia mengeluarkan pendapatnya. Tapi Rian malah mendekatkan telinganya ke samping, membuat peserta meeting melotot ke arah pria itu.


"Saya rasa meeting hari ini cukup sekian, terima kasih atas kehadiran para Presdir hari ini! semoga keputusan kali ini bisa membuat kemajuan yang lebih baik untuk kedepannya." Nicolas Anelka segera berdiri menarik para Presdir tersebut keluar satu-persatu dari ruangan meeting tersebut.


Mereka semua hanya bisa bertukar pandang satu sama lainnya, tidak mengerti maksud ucapan Nicolas Anelka. Tapi demi rumah sakit mereka masing-masing, tidak ada yang berani protes padanya. Jika tidak mau gulung tikar dalam waktu satu bulan.


Pria itu keluar dari dalam ruangan meeting tersebut, meninggalkan Irna dan Rian di sana. Kini Irna tahu, begitu istimewanya Rian sampai-sampai harus di adakan acara meeting demi membuatnya datang ke rumah sakit tersebut.


"Kamu minta gaji tiga kali lipat?!" Ujar Rian masih terpingkal-pingkal sambil memegangi kertas hasil jawaban Irna padanya.


"Kenapa? aku dokter berkualitas tinggi. Tentu saja dia tidak keberatan menggaji-ku sebesar itu. Dan dia tidak akan memfrosir-ku kerja rodi sepertimu!" Irna tersenyum manis merasa senang bisa mengejek Rian terang-terangan. Karena pria itu bukan lagi atasnya.


"Dasar! kamu mata duitan! lalu kenapa malah menolak sepuluh rumah sakit sebagai mas kawin waktu itu?" Rian menopang kepalanya menatap wajah Irna di sebelahnya.


"Ah, itu. Karena aku tidak menginginkannya. Aku tidak menginginkan rumah sakit itu." Ujarnya sambil mengambil air minum di atas meja demi mengusir rasa gugupnya, karena kembali mengingat kejadian bertahun-tahun lalu.


*Bersambung...


Tinggalkan like sebelum pergi+ vote juga ya? terima kasih sudah membaca.. tunggu episode selanjutnya ya.. i love you*..

__ADS_1


__ADS_2