
"Sebenarnya kamu ini wanita seperti apa?" Kelakar Reynaldi mencairkan suasana malam yang tegang itu diiringi gelak tawa penumpang satu mobil.
"Eh nanti turunkan aku di studio saja, mobilku tadi pagi aku parkir di sana." Pinta Irna sambil tersenyum.
"Kamu yakin pulang sendiri dari sana?" Reynaldi masih sedikit hawatir dengan kejadian tadi.
Irna hanya melempar senyum sambil mengangguk. Sampai di studio Irna turun dari mobil Reynaldi, para pengawal juga turun untuk mengemudikan mobil Irna mengantarkan dia pulang ke rumah.
Saat tiba di rumah waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Irna bergegas membersihkan badannya setelah itu membalut luka di tangannya dengan plester.
Gadis itu berjalan menuju kamarnya sambil memukul-mukul kedua bahunya karena terasa pegal.
Irna melihat baju yang di pakai Fredian kemarin sudah kering tergeletak rapi di atas meja kamarnya. Jam tangannya juga tergeletak di meja.
"Mungkin pelayanku yang meletakkan di sini." Bisiknya pada dirinya sendiri.
"Eh! tapi jam tangan itu? bukankah itu tidak pernah terlepas dari tangannya kecuali dia sedang santai-santai di rumah!" Irna terhenyak dan bangkit dari tempat tidurnya.
Irna mendengar sayup-sayup suara debur air di kolam renang lantai atap rumah.
"Malam-malam begini ngapain dia berenang?" Ujar Irna sambil melirik ke arah Fredian yang sedang berada di dalam kolam.
Pria itu tiba-tiba menyelam ke dasar air, kakinya seperti mendadak tidak bisa digerakkan.
"Astaga! pria ini memang tidak pernah berhenti membuat masalah!" Gumam Irna sambil melompat terjun ke dalam kolam.
Gadis itu melihat tubuh Fredian perlahan-lahan tenggelam ke dasar, dia segera meraih lengan tangannya. Menariknya ke atas permukaan air.
"Bagaimana mungkin atlet renang sepertimu tiba-tiba tenggelam! dasar merepotkan sekali! tengah malam buta malah berenang! apa kamu tidak bisa diam dan tidur saja daripada terus membuat masalah!" Gerutu Irna sambil menyeretnya keluar dari kolam renang.
Irna membaringkan tubuhnya di tepi kolam, kemudian menekan dadanya mencoba mengeluarkan air dari saluran napasnya.
Pria itu diam tidak bergeming.
"Masa dia mati sih?" Ujar Irna sambil memiringkan kepalanya mendengarkan detak jantungnya.
"Detak jantungnya cepat sekali, artinya dia masih hidup." Bisiknya lagi.
"Fred! bangun! jangan mengerjaiku! aku sudah lelah! kalau kamu tidak mau bangun ya tidur saja di sini!" Ujar Irna sambil bangkit berdiri, Fredian buru-buru menarik tangannya hingga jatuh di atas tubuhnya.
"Kenapa?" Tanya Irna sambil menahan dada Fredian dengan kedua telapak tangannya.
"Sejak kapan kamu tidak takut air?" Tanyanya pada Irna.
"Sejak aku di tinggal ke perjodohan keluarga tanpa bisa berbuat apa-apa!" Ujar Irna sambil tersenyum dingin lalu menyingkirkan tangan Fredian dari pinggangnya.
"Ha ha ha! hidupku unik sekali!" Ujarnya santai sambil tertawa melangkah masuk turun ke lantai dua meninggalkan Fredian di sana.
Irna mengganti bajunya lalu turun dari lantai dua menuju kamar yang ada di lantai bawah.
"Aku lelah sekali, sangat lelah! bagaimana dia tiba-tiba berada di rumahku lagi. Ah mungkin pelayanku yang membukakan pintunya, pasti mereka berfikir dia tamu istimewa!"
"Padahal dia adalah pengganggu yang selalu membuat masalah dan keributan. Kemudian memintaku untuk menyelesaikan masalah yang dibuatnya!"
Gadis itu merebahkan tubuhnya dan kemudian terlelap.
Fredian sudah berganti pakaian kemudian masuk ke dalam kamar Irna, kamar itu kosong.
"Apa dia keluar rumah lagi? karena aku berada di sini?" Ujarnya sambil menuruni tangga.
Dia memeriksa setiap ruangan, dan ada satu ruangan yang terkunci. Fredian mengintip dari lubang kunci, di lihatnya Irna sedang tertidur pulas di atas tempat tidur.
Seseorang mencolek bahu Fredian, pria bertubuh besar.
"Astaga! siapa kamu?" Tanyanya terkejut sambil memegang daun pintu yang tertutup.
"Aku pengawal nona Irna, aku berjaga shift malam." Ujarnya sambil mengambil tangan Fredian lalu menyerahkan kunci pintu pada tangannya.
"Jangan mengintip nyonyaku lagi! Itu sangat memalukan." Ujarnya sambil berlalu.
"Dia memberikan kuncinya, dan melarangku mengintip. Apa maksudnya dia memintaku langsung masuk saja ke dalam?!" Fredian menggaruk kepalanya lalu mencoba membuka pintu dengan kuncinya.
"Klek!" Pintu terbuka dan Fredian masuk ke dalam.
Irna tidur sangat lelap, Fredian berbaring di belakang punggungnya sambil memeluknya dan terlelap bersamanya.
Pagi itu Irna kembali terjaga, melihat lengan Fredian berada di atas pinggangnya.
__ADS_1
"Bukankah ini lantai bawah? kenapa dia berada di sini dan tidur bersamaku lagi?" Ujar Irna masih belum mengembalikan pikirannya ke tingkat seratus persen.
Irna mencoba menurunkan tangan Fredian dari pinggangnya, Fredian tersenyum melihat Irna sudah terbangun sibuk menyingkirkan lengan miliknya dari pinggangnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Fredian semakin erat memeluk.
"Kamu seperti permen karet." Ujarnya masih berusaha bangun.
"Tapi kan manis!" Sahutnya tanpa peduli.
"Manis kepalamu!" Gerutu Irna sambil turun dari tempat tidur, menuju kamar mandi.
"Kenapa tanganmu?" Tanya Fredian melihat plester di tangan kirinya, saat Irna merias wajahnya di depan cermin.
Irna diam saja tidak peduli, lalu menyambar tasnya dan pergi ke studio meninggalkan Fredian di rumah.
"Dia mengacuhkanku!" Geram Fredian melihat Irna mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.
Fredian bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Setelah sampai di kantor wajah dinginnya dan aura suramnya membuat para karyawan ketakutan.
"Apa lagi yang terjadi pada Presdir? bukannya kemarin wajahnya masih cerah seperti awan putih? sekarang malah gelap gulita seperti malam pekat?!" Ujarnya sambil meremas berkas yang hendak dilaporkan kepada Fredian.
"Ini pasti ada hubungannya dengan nona Irna Damayanti, ah menakutkan sekali wajahnya Presdir hari ini!" Gerutunya dengan tangan gemetar mengetuk pintu kantor Fredian.
"Presdir ini berkas laporan, yang menunggu tanda tangan anda." Ujar Antoni sambil meletakkan berkas di atas meja dengan hati-hati.
"Braaak! Kenapa banyak sekali?!" Teriak Fredian sambil menggebrak meja kerjanya, membuat Antoni melompat sambil memegang dadanya karena terkejut.
"Lalu, haruskah saya mengurangi berkasnya Presdir?" Ujarnya sambil meraba berkas dan hendak menguranginya sampai setengah tumpukan.
"Braaak!" Fredian kembali menggebrak meja.
"Astaga! ada apa Presdir?" Wajah Antoni berubah pucat pasi.
"Tidak perlu! tinggalkan berkasnya di sini saja." Ujarnya lagi.
"Baik Presdir, saya permisi dulu." Ujarnya hendak meninggalkan kantor Fredian.
"Tunggu! kamu coba hubungi Irna Damayanti suruh dia menemuiku di kantor! Harus bisa membuatnya datang kemari!" Teriaknya lagi tanpa ingin di bantah.
"Ternyata benar-benar berguna mencari tahu jadwal artis itu! untung saja aku sudah menghubungi managernya pagi tadi." Bisik Antoni dalam hati.
"Berapa jam dia berada di sana?"
"Saya akan menghubungi managernya dan akan melaporkan kepada anda setelah nona Irna selesai." Ujar Antoni lagi sambil mengusap keringatnya yang bercucuran jatuh dari pelipisnya.
"Tidak perlu! ikuti aku ke sana sekarang!" Geramnya sambil berdiri berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar.
Fredian melajukan mobilnya seperti seorang pembalap, alhasil setelah sampai di perusahaan Reyfarno, Antoni turun dari mobilnya sambil memegang kepalanya karena pusing kemudian memuntahkan semua isi perutnya.
"Presdir mulai gila. Hoooeekk! hoooeekk!!" Gumamnya sambil muntah-muntah.
Irna melenggang santai bersama dua gadis yang melayani segala keperluannya, matanya menangkap sekretaris Fredian wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya gemetar.
"Tunggu sebentar." Ujar Irna pada pelayannya.
"Antoni, kenapa wajahmu seperti itu? kamu habis dianiaya?!" Ujarnya sambil menatap wajah pucatnya.
Antoni menggelengkan kepalanya, kemudian menunjuk belakang punggung Irna. Membuat Irna tersenyum dan berbalik menoleh ke belakang punggungnya.
"Hai Presdir!" Ujar Irna dengan sedikit canggung sambil melambaikan tangannya pura-pura tersenyum.
"Sejak kapan seorang Irna Damayanti begitu perhatian dengan sekretarisku tapi malah mengabaikan seorang Presdir sepertiku?!" Ujarnya langsung dan berterus terang tidak peduli pada dua gadis yang selalu menggoda Irna karena ulahnya. Wajahnya masih terlihat sangat masam.
"Apa tuan Presdir sedang merajuk? he he he." Tanyanya pura-pura karena ada Anita dan Tika yang masih menunggu dirinya untuk mendadaninya, karena masih ada pemotretan di sana sekali lagi.
Fredian meraih tangan Irna kemudian menciumnya di depan Anita dan Tika. Irna sudah tidak tahan dengan tingkah Fredian yang sengaja dibuat-buat saat itu.
"Ah, maaf Presdir saya masih harus melakukan pemotretan. Permisi." Irna menarik tangannya dari genggaman Fredian dan melenggang meninggalkan pria itu dan Antoni di sana.
"Dia berulah di kantor sehingga mempersulit karyawan Reshortnya! dasar kekanak-kanakan sekali!" Gerutu Irna sambil menjinjing gaunnya menuju lokasi pemotretan.
"Apa yang kamu katakan barusan, hei kami tahu Presdir Fredian sedang gigih mengejarmu!" Ujar Anita menyodok gemas lengan Irna dengan sikunya sambil tersenyum terkekeh.
"Jangan meledekku terus ayo cepat selesaikan, aku masih ada jadwal lain setelah ini." Ujar Irna sambil tersenyum ke arah Reyfarno yang sedari tadi menunggu di depan kamera mencermati proses pemotretan.
"Ayo-ayo cepat lanjut lagi untuk season ke dua!" Teriak seseorang kru yang mengatur proses pemotretan di sana.
__ADS_1
Irna memasang beberapa pose, sesuai arahan dari fotografer dan seseorang yang menata pose juga menunjukkan contoh di sebelahnya.
Pengambilan foto berlangsung selama satu jam. Irna berjalan menuju layar di mana foto-foto dirinya diambil untuk melihat hasil akhirnya.
Dia berdiri bersebelahan dengan Reyfarno. Berbicara tentang kerja sama antara mereka. Fredian duduk agak jauh dari Irna sambil menandatangani berkas-berkasnya.
Sesekali melihat ke arah Irna yang masih sibuk berdiskusi dengan Reyfarno.
"Kenapa dia begitu sibuk bicara dengan Ceo Eagle star! sementara kemarin saat pengambilan foto di Reshort sama sekali tidak membahas apapun denganku!" Geram Fredian melihat mereka sedang sibuk membahas pekerjaan.
"Menurutmu kenapa mereka begitu sibuk sekarang!?" Tanya Fredian tiba-tiba pada Antoni yang masih berdiri di sebelahnya sambil memberikan berkas satu persatu untuk ditandatangani olehnya.
"Mereka sedang membicarakan tentang pekerjaan, dan mereka terlihat serius. Mereka bekerjasama secara profesional tanpa melibatkan masalah pribadi." Jelas Antoni pada Presdirnya.
"Oh jadi seperti itu. Tanpa melibatkan masalah pribadi." Ujar Fredian sambil tersenyum, seperti punya cara untuk menahan Irna berlama-lama untuk urusan pekerjaan antara mereka berdua.
Fredian tidak menunggu lagi, dia dan Antoni meninggalkan perusahaan Reyfarno dan kembali ke Reshort.
Beberapa menit kemudian Irna juga sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dan menuju ke lokasi selanjutnya.
"Masih ada pemotretan berapa tempat lagi?" Ujar Irna sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil bertanya pada Reynaldi di sebelahnya.
"Dua lagi, iklan produk. Dan dilakukan di studio." Ujar Reynaldi sambil tersenyum melihat wajah lelah Irna.
"Oh apa sekarang kamu tidak mengerjakan skema lagi?" Tanya Reynaldi yang sejak awal penasaran karena Irna yang sangat mencintai pekerjaannya tiba-tiba banting stir menjadi artis dan model.
"Semuanya sudah aku serahkan pada Rini sekretarisku, dan aku hanya membahas hal-hal yang penting saja. Juga skema yang sulit untuknya aku yang akan mengerjakannya."
Jawab Irna sambil tersenyum melihat wajah Reynaldi yang tidak percaya jika Irna mengambil semua pekerjaan itu.
"Aku sudah menduganya, kamu tidak mungkin melepaskan karirmu di bidang itu." Ujar Reynaldi lagi.
Mereka sampai di studio dalam waktu setengah jam.
Irna kembali masuk ke dalam kamar ganti, untuk merias dan mengganti bajunya.
Proses pemotretan berakhir selama dua jam.
Irna duduk di kursi ruang tunggu bersebelahan dengan Reynaldi.
"Apa kabar dengan Jesy?" Tanya Irna sambil mencermati wajah di sebelahnya.
"Setelah keluar dari penjara dia memutuskan pergi ke Australia. Kami masih berhubungan baik dan bertukar kabar sampai sekarang." Jelasnya pada Irna di sebelahnya.
"Syukurlah kalau begitu." Sahut gadis itu seraya tersenyum lega.
"Ah sudah larut, aku akan kembali ke rumah." Ujar Irna sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Apakah aku perlu mengantarkanmu?" Tanya Reynaldi menunggu jawaban.
"Aku membawa mobil dan dua orang pengawal. Tidak perlu hawatir." Irna meninggalkan Reynaldi sambil melambaikan tangannya.
"Di balik senyuman manis di bibir gadis itu, menyimpan kepedihan di dalam hatinya. Kepedihan yang sangat dalam, wajah cerah dan senyuman manis itu adalah sebuah topeng untuk menyembunyikan dirinya yang sebenarnya."
"Menyembunyikan kerapuhannya, rasa kehilangannya. Juga sayatan di dalam hatinya. Irna Damayanti sekuat apakah dirimu? Dan sampai kapankah kamu tetap berdiri tegak di atas serpihan kaca yang terus menguras darahmu sampai habis."
"Terus mengabaikan kebahagiaanmu, membuang jauh-jauh rasa yang sebenarnya di dalam hatimu." Bisik Reynaldi sambil menatap kepergian Irna dari studionya.
Irna sampai di rumah, dan membersihkan tubuhnya.
"Beruntung Fredian tidak ada di rumahku malam ini untuk membuat keributan lagi."
Gumam Irna karena tidak melihat jejak-jejak Fredian berada di dalam kamarnya.
"Aku rasa aku harus memberi tahu pelayanku agar dia tidak bisa bebas keluar masuk rumahku lagi." Ujar Irna lagi sambil turun ke lantai bawah.
Dia sangat terkejut melihat Fredian sibuk memeriksa berkasnya di lantai bawah. Di meja kerjanya.
"Sejak kapan ada meja kerja di sini?" Tanya Irna pada pelayannya yang berdiri menunggunya di bawah tangga.
"Ah itu tadi Presdir yang membawanya masuk kemari nyonya, kami pikir anda tidak akan keberatan karena dua malam ini nyonya sudah bersama dengan tuan." Jelas pelayannya dengan wajah sedikit takut melihat Irna memijit pelipisnya sambil berlalu ke ruang makan.
"Aku baru saja ingin meminta pelayanku untuk tidak mengijinkannya masuk! tapi tiba-tiba dia sudah berada di sini lagi!"
"Jika aku menyeretnya keluar dari rumahku, pasti sangat memalukan! membiarkannya tinggal di sini juga bukan hal yang baik mengingat dia bukan suamiku lagi!" Gumam Irna sambil melihat ke arah Fredian dengan wajah geram.
Bersambung....
__ADS_1