Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
The ghost of the slaughter


__ADS_3

Irna masih berada di perjalanan, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. "Iya halo?" Jawabnya seraya menatap keluar jendela taksi.


"Kamu di mana?" Tanya Rian dari seberang.


"Ah, aku sudah dalam perjalanan pulang." Tersenyum mendengar suara Rian, sepertinya pria itu sangat mengkhawatirkannya. Irna melirik jam pada pergelangan tangannya, waktu masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


"Kenapa tidak menungguku, jika Fredian tahu kamu pulang sendirian, dia pasti berpikir aku membiarkanmu pergi." Ujarnya lagi seraya memijit pelipisnya.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Jawabnya lagi. Entah kenapa Rian merasa tidak enak, ada rasa khawatir meletup-letup dalam hatinya. Seakan-akan bahaya sedang mengintai mereka, Irna, Fredian dan dirinya sendiri.


Sesaat kemudian Irna baru merasa panik, taksi yang dia tumpangi tidak melalui jalan biasanya. Taksi tersebut terus berjalan tapi jalanan yang dilaluinya tidak tahu kemana.


"Permisi pak, saya ingin menuju Resort Angel, ini kemana pak?" Tanya Irna pada sopir taksi tersebut. Irna menoleh ke kanan dan kiri ternyata dia baru tahu ketika melihat tanda di depan. Di sana tertulis 'Kuburan Tua'.


"Sialan! apa sopir ini hantu??" Bisiknya dalam hati.


"Irna, halo! halo!" Suara Rian dari seberang mulai panik.


"Halo, Rian. Kamu tahu area pemakaman 'kuburan tua' sepertinya sekarang ini aku menuju ke rumah hantu." Ujarnya lagi melalui ponselnya.


"Pemakaman tua, tempat para iblis akan bangkit, darahmu... mereka menginginkan darahmu.." Ujar Rian, pria itu segera berlari menyambar jasnya.


Fredian sudah mendapatkan pesan singkat dari Rian, dia tahu dimana lokasi pemakannya tersebut. Pria itu secepat kilat melesat ke dalam mobil Rian. "Astaga! buatlah tanda sebelum muncul! mengagetkanku saja!" Keluhnya karena pria itu muncul tiba-tiba di sebelahnya.


"Ini aneh, kenapa Irna tidak menghilang lalu muncul di sisiku seperti biasanya?" Tanya Fredian seraya melirik ke arah Rian.


"Apa? aku hanya menyuntikkan anti gemetar pagi ini. Kakinya terus gemetar, dia tidak bisa menangani operasinya." Kilahnya pada Fredian.


"Lalu kenapa dia tidak menggunakan kekuatan yang ada pada dirinya?" Tanya Fredian lagi pada Rian di sebelahnya.


"Entahlah, aku juga masih tidak mengerti. Apa mungkin itu area bersegel???!" Teriak mereka berdua serempak.


"Siluman mana yang berani menggunakan segel pada bangsa vampir?" Fredian kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Irna bilang dia tidak mencium aroma vampir, tapi dia menduga bahwa sopir yang membawanya pergi adalah hantu." Jelasnya pada Fredian.


Irna tertegun, taksi tersebut berhenti di luar area pemakaman. "Kamu siapa?" Tanya Irna pada sosok pria bertopi yang menjadi sopir taksi tersebut.


"Aku penjaga pemakaman ini." Ujarnya tanpa menoleh. Pria itu kemudian turun dari mobil taksinya, dia membuka pintu penumpang. Irna melihat bibirnya robek sepanjang telinga. Dan juga dia tidak memiliki sepasang bola mata. Lehernya hampir putus, darah berceceran mengeluarkan aroma busuk.


Baru sekarang pria itu menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya.


"Kamu tidak takut melihatku?" Tanyanya pada Irna. Gadis itu masih santai memainkan ponselnya.


"Kenapa aku harus takut padamu? kamu hantu yang baru beberapa hari ini mati kan?"

__ADS_1


"Kamu lihat ini? ini wajah Irna Damayanti artis terkenal itu. Gadis ini sudah mati berpuluh-puluh tahun lalu. Dan kamu lihat wajahku apakah sama dengan dirinya?" Irna tersenyum menunjukkan foto Irna Damayanti melalui ponselnya, lalu menunjukkan gigi taringnya yang tajam. Mata gadis itu merah menyala-nyala, hantu tersebut mendadak melangkah mundur.


Irna dengan gaya khasnya turun dari mobil taksi tersebut. Gadis itu berjongkok di depannya. "Bukankah kamu dokter yang bekerja di rumah sakit tadi? bagaimana mungkin iblis sepertimu bisa bekerja sebagai manusia??!" Ujarnya masih dengan wajah penuh ketakutan.


Perlahan-lahan wajah Irna kembali normal seperti sebelumnya, "Apa kamu ingin menunjukkan sesuatu padaku? kamu pasti memiliki sesuatu, hingga kamu datang padaku." Tanya Irna pada sosok tersebut.


"Iya, awalnya aku ingin menunjukkan padamu mayat keluargaku. Ada di sebelah sana." Menunjuk arah kuburan tua.


"Kenapa dengan keluargamu?" Tanya Irna lagi.


"Pembantaian, aku adalah seorang sopir taksi. Keluarga kami menjadi saksi sebuah kasus pembunuhan, dan ternyata kasus itu melibatkan anggota dewan. Dan keluarga kami dibantai habis-habisan."


"Siapa polisi yang menangani kasus tersebut? apakah dia tidak bisa melindungi saksinya dengan baik?" Pria itu menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan darinya.


"Aku hanya ingin keluargaku memiliki pemakaman yang layak. Mereka membuang mayat-mayat kami seperti sampah di kuburan ini. Karena mayat-mayat kami tidak ditemukan dalam waktu yang sangat lama, maka kasus ditutup begitu saja. Karena sudah melebihi batas periode waktu." Ujarnya lagi.


Irna menganggukkan kepalanya, gadis itu segera menghubungi Alfred. Untuk membuka kasus tersebut kembali.


"Kamu adalah iblis? tapi aku masih mencium aroma manusia pada tubuhmu. Kamu juga tidak kejam layaknya iblis, bahkan kamu tinggal seperti manusia pada umumnya. Sebenarnya apa kamu?" Hantu pria tersebut merasa heran dengan Irna, dia mengatakan apa yang dia lihat.


Dia merasakan Irna bisa melihat taksinya, bahkan menyetopnya. Dia awalnya berfikir gadis itu akan membantunya untuk memakamkan keluarganya. Tapi ternyata lebih dari itu, gadis itu malah akan mengembalikan nama keluarganya yang hilang begitu saja.


"Aku memang bukan manusia, kamu bisa menyebutku iblis, atau monster. Aku tidak membunuh manusia, atau memburu hantu! sekalipun aku bisa melihat keberadaan kalian." Jelasnya sambil tersenyum menatap wajah hantu di depannya.


Mungkin sebelum dia menjadi vampir, Irna akan ketakutan melihat wajah mengerikan di depannya itu. Tapi sejak dirinya bangkit dari kematian berkali-kali rasa takutnya sudah lenyap entah kemana.


Fredian melihat hantu di sebelah Irna, melihat wajah netral istrinya Fredian tahu pria itu adalah hantu biasa. Rian tersenyum melihat wajah hantu di sebelah Irna.


"Sejak kapan kamu bisa melihatnya?" Tanya Irna pada Rian. Irna sudah menyimpan banyak pertanyaan untuk pria itu. Dia ingat Fredian bilang bahwa usianya sudah lebih dari lima abad.


"Sudah lama sekali, aku lupa.." Tersenyum menatap Irna.


"Lalu? saat aku masih bekerja sebagai arsitek? kenapa kamu tidak bisa membedakan mana halusinasi dan kenyataan??" Tanyanya lagi menggebu-gebu, Irna ingat pria itu pingsan di dalam kantornya gara-gara melihat hantu yang menyerupai dirinya.


"Itu aku, aku terbawa cinta... jadi tidak bisa menggunakan akal sehatku. Aku lupa siapa diriku, karena terlalu lama berada di dalam segel penahan." Jelasnya pada Irna.


"Kalian berdua berarti mempermainkanku pada waktu yang sama. Seharusnya aku tidak percaya dengan vaksin itu, ah sudahlah pusing sekali kepalaku." Gerutu Irna pada mereka berdua.


Dia benar-benar merasa dipermainkan, Fredian pada saat pertemuan dengan dirinya waktu pertama kali itu juga masih kehilangan sebagian ingatannya. Rian sendiri terlalu lama hidup bersama dengan manusia, hingga melupakan jati dirinya.


"Iya, aku baru tahu kalau itu bukan karena darah perawan. Tapi sebenarnya aroma darah itu berhubungan dengan bunga kristal yang tertanam di dalam tubuhmu." Ujar Rian seraya menggaruk kepalanya.


"Lalu ini selanjutnya bagaimana?" Tanya Fredian sambil menatap wajah mereka berdua.


"Tunggu Alfred dan pasukannya datang sebentar lagi." Jelas Irna padanya.

__ADS_1


Dan benar, satu jam kemudian mobil polisi dan beberapa pasukannya datang ke lokasi mereka berada.


"Bagaimana mama menemukan mayat-mayat ini? kasus ini sudah hampir sepuluh tahun berlalu hingga terlupakan begitu saja. Karena tidak ada bukti-bukti yang cukup."


"Selain itu mayat-mayat ini juga menghilang begitu saja. Awalnya kantor kepolisian yang menyelidiki kasus ini, berfikir mereka menghilang karena pergi keluar negeri, tapi tidak ada laporan pasport perjalanan atas nama mereka menuju luar negeri." Jelasnya pada Irna.


"Benar-benar teka-teki yang membingungkan." Jelas Alfred lagi.


"Ma, kenapa mereka berdua juga berada di sini?" Bisik Alfred di telinga Irna seraya melirik ke arah Rian dan Fredian.


Dua pria sibuk itu ikut nimbrung, bercakap-cakap dengan beberapa polisi yang ada di sana.


Rian sendiri membantu petugas forensik untuk memeriksa mayat-mayat di sana, karena kantor forensik berada di bawah naungan keluarga Aditama.


Mayat-mayat tersebut kemudian di bawa ke kantor forensik, Rian turut serta bersama mereka. "Bawa ini!" Rian melemparkan kunci mobilnya pada Fredian.


"Kami kembali duluan," Pamitnya pada Alfred, putra semata wayangnya itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Fredian pulang bersama Irna ke kediamannya, karena rumah Fredian tak jauh dari lokasi kejadian pembunuhan tersebut.


"Aku baru tahu kalau kuburan tua tidak jauh dari lokasi rumahmu." Ujar Irna karena mereka hanya melalui perjalanan sekitar dua puluh menit kemudian sampai di rumah Fredian. Irna turun dari mobilnya melangkah menuju ke dalam rumah.


"Awalnya aku bingung kenapa aku waktu itu membangun rumah besar di tengah hutan. Dan aku tahu setelah bertemu denganmu waktu itu, karena kamu dan Wilson selalu bertemu di hutan. Semua ingatan masa kecilku adalah miliknya. Dan aku yang merebutmu darinya." Fredian tersenyum getir menyadari kenyataan yang sebenarnya.


Irna melihat rasa bersalah tersirat pada wajah pria itu. Dia hanya tersenyum sambil mengusap bahunya. Irna melenggang santai menuju kamar mandi, dia ingin berendam hari ini. Tubuhnya benar-benar terasa penat dan lelah.


"Apa Karin menemuimu lagi hari ini?" Tanyanya pada Fredian ketika mendengar pintu kamar mandinya terbuka dan seseorang melangkah masuk ke dalam.


"Dia hadir saat meeting, tapi aku datang terlambat karena lebih lama bersamamu pagi ini." Jelasnya pada Irna.


Fredian berjongkok di sebelah bath up. Dia mengusap pipi Irna dengan lembut. "Berapa kali kamu melihat hantu di rumah sakit?" Pertanyaan Fredian sedikit mengejutkan dirinya.


Sudah lama sekali mereka berdua tidak pernah membahasnya setelah sama-sama berubah menjadi vampir hingga berpisah berkali-kali.


"Berulang kali, tapi mereka lari ketika mengetahui diriku sama dengan mereka, dan mungkin lebih menakutkan dari mereka sendiri." Irna tertawa mengingat kejadian yang berulang kali terjadi.


Pernah di ruang operasi, hantu tanpa kepala menggangunya. Dan di kamar mandi, ada hantu wanita dengan kedua kaki buntung berjalan merayap di lantai.


"Kenapa? apa kamu pernah menemukan mereka mengganggu tamumu di hotel?" Irna menegakkan badannya yang tadinya bersandar pada bath up.


Fredian tersenyum melihat wajah Irna terkejut, "Tidak sama sekali. Mereka pergi karena mencium aroma iblis di hotel." Kelakarnya seraya menyeringai lebar.


Malam begitu larut, Irna segera keluar dari bath up dan memakai baju mandi miliknya. Fredian sudah terlebih dulu pergi setelah berbicara beberapa waktu yang lalu dengan dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


Note: Jangan lupa like + faforit ya?? terlebih lagi author akan sangat berterima kasih jika di kasih vote!! author akan rajin update!!! terimakasih readers.. i love you..


__ADS_2